
"Minggat nggak?!" ancam Ghina seraya menimpluk Fatih dengan bantal. Matanya menyalang tajam ke arah Fatih. Semenjak menikah, Fatih semakin berani. Bukan menyakiti atau mengejeknya seperti dulu, tapi menggodanya.
"Ampun ustadzah," ringis Fatih geli dan berhasil menangkap lemparan bantal dari Ghina.
"Udah makan siang belum?" tanya Fatih setelah mereka terdiam beberapa detik.
"Udah."
"Coba aku liat lukanya," pinta Fatih dan menggapai lengan Ghina yang lecet-lecet itu.
"Argh, sakit!" pekik Ghina menatap tajam ke arah Fatih.
"Hehe, sorry." Fatih nyengir sendiri. "Besok aku nggak bisa ke sini, sorenya harus tanding futsal soalnya," ucapnya.
Walau pun di minggu-minggu rentan ini ia sibuk, tapi untuk terakhir kalinya, ia ingin kbali mengharumkan nama sekolah bersama teman-temannya.
"Loh, bentar lagi kalian mau UN, kok tanding sih?" tanya Ghina. Heran saja mengapa mereka yang suka Futsal itu tidak melupakan hobi mereka sejenak saja.
Ayolah ini menjelang UN, siapa yang tahu jika saat latihan terjadi kecelakaan yang mengakibatkan terhambatnya untuk mengerjakan ujian nasional, sama seperti dirinya dan Renata yang terkena musibah. Cukup sudah, kejadian yang menimpanya dijadikan bahan pelajaran bagi murid-murid kelas dua belas yang lain.
"Eh khawatir ya sama aku? aku nggak bakal kenapa-napa kok," goda Fatih dengan mata mengerling jahil.
"Aku cuma tanya," ketus Ghina dan kembali merebahkan diri.
"Pertandingan di adakan setelan UN, aku harus jadi bagian dari pionir untuk melawan SMA."
Ghina manggut-manggut. Rambutnya tiba-tiba terasa gatal. Ia ingin sekali keramas, tapi keadaan tak memungkinkan.
"Tuh 'kan udah kayak nggak mandi seminggu? rambutmu pasti bau," tunjuk Fatih pada rambut Ghina yang sedikit berantakan karena di garuk.
"Iya kayaknya. Nanti aja, biar Ibuku yang ngeramasin."
"Tadi, Ibu bilang mau masak sesuatu dulu di rumah, untuk nanti malam kamu makan, pasti lama," jelas Fatih yang memang sempat bertemu Ibu mertuanya sebelum kembali ke ruangan Ghina tadi.
"Ya udah sini biar aku bantu keramas daripada gatel, kalau nunggu Ibu kamu keburu sore, dingin," tawar Fatih.
"Ogah, nanti kamu macem-macem lagi," tolak Ghina sarkas.
"Aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu," ucap Fatih. "Suer, beneran." Fatih mengangkat dua jari telunjuk dan tengahnya.
Ghina memicing. "Awas aja kalau berani."
"Yok, cepetan. Ashar aku mau pulang."
Fatih membantu Ghina untuk turun dengan hati-hati. Lalu, menuntun Ghina hingga ke kamar mandi.
"Di sini nggak ada bathub, duduk aja di kursi," titah Fatih.
"Iya aku tau." Ghina duduk dengan pelan-pelan.
"Sini kepala kamu." Fatih menunjuk ke arah kepala Ghina. "Kamunya nunduk aja, biar aku yang keramasin."
Fatih mengambil gayung, lalu menciduk air dari ember dan dituangkan perlahan ke rambut Ghina. Setelahnya, ia menaruh shampoo dan jemarinya mulai memijat dengan lembut rambut Ghina.
"Kamu kok kaya udah biasa ngurusin orang sakit Fath?" tanya Ghina di sela-sela aktivitas keramasnya.
"Aku pernah bilang, Kakakku pernah sakit. Dia pernah minta aku keramasin rambutnya."
"Oh. Enak ya punya Kakak cewek?" tanya Ghina.
"Ribet banget. Udah gitu, buang waktu, lambat, suka rengek nggak jelas, kadang mau sesuatu harus di turutin dan lain-lainnya," balas Fatih. "Tapi, dari Nafisah aku belajar tentang perempuan."
"Tuh 'kan? pantes ahli banget," cibir Ghina.
"Hei, seharusnya kamu Ahli juga dong untuk urusan laki-laki. 'Kan Imran, Kakakmu laki-laki," papar Fatih.
"Iya, aku banyak belajar dari sosoknya. Dia pengganti Ayah bagiku. Pria yang lembut, baik, ramah, nggak kasar, marahnya dingin, ya walau kadang nyebelin." Ghina mengingat-ingat momen kebersamaannya dengan Imran dari kecil hingga mereka tumbuh besar.
"Aku boleh tanya tentang Ayahmu?" tanya Fatih. Sebenarnya, ia penasaran mengapa Ayah Ghina bisa berada di balik jeruji. Dan apa yang terjadi di masa lalu, sehingga Ghina terlihat sangat membenci sang Ayah.
"Nggak!" tolak Ghina.
Fatih menghela nafas, Ghina jelas saja tidak akan mempercayainya untuk menjadi salah seorang yang tahu tentang kehidupannya.
"Kalau aku gimana menurutmu?" tanya Fatih serius. Ia hanya ingin tahu, bagaimana pandangan Ghina selama ini terhadapnya selain mencap Fatih sebagai anak playboy, nakal, dan nyebelin.
"Au ah, meles bahas kamu," balas Ghina malas. "Setelah lulus, kamu mau kemana Fath?" tanyanya.
"Ke UNISKA, kamu mau kemana?" tanya Fatih balik.
__ADS_1
"Tuh 'kan kami bakal beda kampus, yes," batin Ghina senang.
"Ke UIN," jawabnya.
"Oke nggak papa, beda kampus 'kan masih bisa tinggal bersama," ucap Fatih yang mendapat cubitan dari Ghina.
"Aw, ya bener 'kan? bukannya kita bakal tinggal bersama setelah lulus SMA?"
"Nggak tau!"
"Pasti kamu masih nggak terima pernikahan ini 'kan?"tanya Fatih memicingkan mata. Dan benar saja, Ghina mengiyakan.
"Ya iyalah, kita di paksa," ketus Ghina. Tangannya memainkan air dalam bak.
Fatih mendesah pelan, sudah ia duga Ghina masih belum bisa menerima pernikahan yang telah terjadi. Padahal, walau awalnya Fatih juga merasa hal yang sama, tapi lambat laun ia akan berusaha menerima.
Jika terus-terusan menolak dan merasa marah dengan keadaan, mau sampai kapan? apalagi dirinya sebagai kepala rumah tangga, nahkoda dalam sebuah kapal yang akan mengarungi samudera kehidupan, harusnya bisa memimpin. Seharusnya, ia berusaha agar pernikahan ini kedepannya semakin baik.
"Iya betul, perlu waktu," lirih Fatih.
Keesokan harinya, saat mentari pun masih enggan menampakkan diri. Fatih sudah menginjakkan kaki ke rumah sakit untuk mengantar sesuatu yang di titipkan oleh Ummi untuk Ghina.
"Wa'alaikumussalam," balas orang di dalam ruangan saat Fatih mengucap salam.
"Apa kabar Bu?" tanya Fatih sambil menyalami Bu mertuanya.
"Sehat, loh kok pagi-pagi ke sini? 'kan pulang sekolah bisa."
"Iya Bu, soalnya sore nanti nggak bisa jenguk. Mau ada pertandingan futsal di sekolah. Ini Bu, ada bingkisan dari Ummi, untuk Ghina."
"Oh gitu, eh repot-repot Nak."
"Nggak papa Bu. Ghina masih tidur ya?" tanya Fatih saat matanya menatap ke arah seorang gadis yang meringkuk dalam selimut.
"Iya, habis solat subuh, eh ketiduran dia."
Fatih manggut-manggut. "Kalau gitu, saya pamit Bu," ucap Fatih dan mengucap salam lalu pergi dari sana.
*****
Satu Minggu telah berlalu. Ghina sudah tidak sabar ingin pulang. Apalagi hari Senin ia harus segera menjalankan Ujian Nasional. Di rumah sakit pun ia sebenarnya tidak total istirahat, otaknya tetap di pakai untuk belajar mengerjakan soal-soal dan menghafal perintah-perintah Instalasi Debian dan Windows.
"Iya tau orang sibuk."
Imran terkekeh. "Ya udah, ayo kita go home."
Imran sengaja pagi-pagi sekali langsung jemput Ghina ke rumah sakit. Ia juga membawa mobil operasional tambang milik perusahaan yang bisa dia gunakan untuk mengangkut barang Ghina juga.
"Emang boleh ya, pakai mobil ini bukan untuk kerja?" tanya Ghina saat mereka sudah duduk di mobil. Sedangkan Narsih, Ibunya Ghina memilih menyusul, karena ia ada janji temu dengan temannya.
"Boleh lah, aku udah izin."
"Gitu ya? kirain, menyalahgunakan jabatan."
"Eh, mulut adikku ini emang pedes ya. Nggak dong, Kakakmu orang jujur, adil, dan ganteng nggak bakal ngelakuin itu."
"Mulai lagi pedenya," cibir Ghina.
"Kangen nggak? kangen ajalah masa nggak."
Ghina hanya memutar bola matanya. "Kalau mau gombal, tunda aja dulu, buat istrimu Kak."
"Belajar lah dari sekarang. Fatih, suka gombalin kamu nggak?"
"Nggak tau."
"Masa'? tuh, mukanya merah gitu, malu ya?" goda Imran.
"Apaan sih, ini karena kena sinar matahari, panas tuh," tunjuk Ghina menyalahkan cahaya matahari yang baru nampak di ufuk timur.
"Haha, tanda-tanda kejangkit virus jambu pink ini," celetuk Imran yang dibalas delikan tajam oleh Ghina.
"Bodo amat!" ketus Ghina dan memejamkan matanya seraya bersender di kursi mobil.
Sesampainya di halaman rumah, Ghina memakai tongkat di bantu oleh Imran. "Suamimu katanya mau ke sini," ucap Imran.
"Hah? kapan dia bilang?" tanya Ghina.
"Tadi ada sms masuk."
__ADS_1
"Kak Imran habis ini nggak langsung balik 'kan?" tanya Ghina.
"Langsung dong, ada klien perusahaan yang harus aku temui."
"Lah, terus aku sendirian dong di rumah," kesal Ghina.
"Nggak, suamimu 'kan mau ke sini. Ibu juga mungkin segera pulang."
"Kalau gitu mah aku nggak mau pulang dari rs. Mending di sana."
"Biasanya juga bisa sendirian di rumah," papar Imran. "Kan ada suami kamu, nggak usah takut lah."
Ghina hanya berdecak sebal, ia menepis rangkulan sang Kakak, lalu berjalan patah-patah dengan tongkatnya.
"Ngambek nih ceritanya?" tanya Imran yang berjalan mengekori Ghina hingga ke kamarnya.
"Tau ah, gerah." Ghina berkata dengan nada kesal. "Ya udah sana pergi, klien memang lebih penting dari keluarga!"
"Uh sayang, bukan gitu lah. Ini perintah atasan, aku nggak boleh nolak. Kok adikku sekarang mudah merajuk ya?" tanya Imran heran.
Ghina hanya diam. Bukannya ia takut sendirian di rumah, tapi ia merasa khawatir jika Fatih datang, di rumah hanya ada dirinya dan laki-laki itu. Siapa yang bisa menjamin, Fatih tidak akan berbuat macam-macam?
Ghina berjalan ke arah jendela, ia jadi teringat bunga Lilynya yang bisa di pastikan rontok gara-gara Fatih yang mengambilnya. Tapi, ada yang aneh, bunganya tetap seperti semula. Ia mendesah lega, Fatih jelas berbohong padanya.
"Mau Kakak belikan sesuatu?" tanya Imran. "Nanti sore, Kakak balik ke sini kok ya?" bujuk Imran.
"Aku pengen mangga madu," ucap Ghina membuat Imran tersenyum.
"Yakin cuma itu?"
"Yap, hati-hati," katanya kemudian lalu berjalan pelan menghampiri Imran lalu menyalaminya.
Imran yang gemas mengacak kerudung adiknya itu. "Oke, hati-hati juga ya adikku," kata Imran dan berpamitan.
Tak berselang lama, pintu rumahnya di ketuk. Terdengar salam dari sana. Dan suaranya tentu tidak asing di telinganya. Siapa lagi kalau bukan Fatih.
Ghina melihat ke arah jam dinding yang bari menunjukkan pukul sembilan pagi. Sang Ibu juga belum kunjung kembali.
"Wa'alaikumussalam, mau ngapain? aku udah sembuh, nggak usah di jenguk," ucap Ghina tanpa mempersilakan Fatih untuk masuk ke dalam rumahnya. Ia menghadang di ambang pintu dengan tangan yang memegang tongkat.
"Ada tamu Nana Bobo," ucap Fatih tanpa menjawab pertanyaan Ghina.
"Aku nggak terima tamu hari ini." Ghina hendak berbalik, namun lengannya di tahan Fatih.
"Aku mau jenguk kamu lah, Kak Imran mana? dia 'kan yang anter kamu?" tanya Fatih.
"Dia keluar sama kliennya."
"Ibu?"
"Ada acara sama temen-temennya."
"Jadi sendirian?"
"Iya, makanya kamu nggak boleh masuk. Sana pulang lagi," usir Ghina.
"Eit, nggak bisa dong. Aku harus jagain kamu di sini, kalau terjadi apa-apa gimana hayo? apagi kamu pakai tongkat gini."
Fatih mencekal tongkat Ghina.
"Lepas nggak?!" ketus Ghina. Fatih menggeleng, ia ikut masuk ke dalam rumah dengan santai.
"Fatih?!" teriak Ghina kesal, lalu menutup pintu rumahnya.
"Aku kesini juga untuk belajar. Besok 'kan UN, jadi siap-siap dong hari ini. Biar nanti malam, ada porsi cukup untuk tidur dan istirahat, bukan sks," papar Fatih dan mendudukkan dirinya di sofa. Memang benar, rata-rata murid kelas dua belas ketika akan menghadapi UN justru belajar kebut-kebutan hingga malam menjelang UN besoknya, padahal malam sebelum UN seharusnya di gunakan untuk istirahat, banyak berdoa dan merileks pikiran agar tidak terlalu tegang menghadapi hari esok. Dengan catatan, walau santai, tapi tetap tidak di benarkan sambil main game. Itu namanya bukan istirahat.
"Beneran, buat belajar aja?" tanya Ghina curiga.
"Ya iyalah, emang mau ngapain?" tanya Fatih santai.
"Udahlah, lupakan. Kamu di sini aja belajarnya. Aku mau masuk kamar," ucap Ghina dan berjalan tertatih menuju kamarnya.
Dengan segera, Fatih mengejarnya.
"Eh, belajar bareng dong," ajaknya. Ghina menggeleng.
"Kamu berisik, nanti aku keganggu. Mau fokus," tolak Ghina.
"Nggak akan berisik, suer."
__ADS_1
"Nggak mau, kalau maksa, pulang sana!" ancam Ghina.