
"Cukup!"
semua orang yang berada di sana menoleh ke sumber suara.
“Apa yang kalian lakukan huh? Kalau aku laporkan ke BK, senin nanti bisa ku pastikan kalian akan berdiri di tengah lapangan!” Ghina berteriak garang. Memandang satu-satu wajah-sajah mereka yang lebam karena berkelahi.
Renata masih menarik-narik tangan Ghina. "Na, walau aku jago silat, kalau harus ngadepin mereka, ya nggak sanggup juga," bisik Renata, nyalinya seperti ciut begitu saja.
"Biarkan aku Ren. Aku harus menghentikan kelakuan kekanak-kanakan mereka," lirih Ghiha tanpa merasa takut dengan tetapan para laki-laki di ruangan kelas.
Ayolah, kelas dua belas semester akhir bukanlah usia yang dikatakan anak-anak lagi. Mereka hampir dewasa. Harusnya bisa lebih jernih memandang permasalahan.
“Cewek nggak usah ikut campur. Ini urusanku dengannya!” semprot Lukman sembari mengelap sudut bibirnya berdarah.
“Aku akan berpura-pura nggak mendengar pecakapan kalian. Jadi ku mohon hentikan perkelahian kalian! Atau saat ini juga aku akan menelpon wali kelasku!" ancam Ghina. Lukman dan teman-temannya tertawa-tawa.
“Cemen banget, bawa-bawa wanita. Urusan kita belum selesai Fath," tukas Lukman dengan memberi kode kepada teman-temannya untuk pergi dari sana.
Ia berjalan melewati Ghina, "eh bentar-bentar, bukannya ini cewek yang ciuman sama kamu itu Fath?" tanya Lukman dengan mengejek, seketika membuat wajah Ghina memerah.
PLAK
"Na!" Renata memekik, ia tidak menyangka Ghina akan menampar laki-laki itu.
"Jaga mulutmu!" ucap Ghina tajam, matanya mengkilat-kilat melihat Lukman.
"Jalang kamu! berani ya!" Lukman menarik tangannya untuk membalas Ghina. Namun, tangan Fatih dengan cepat menghentikannya.
"Aku tahu kamu nggak secemen aku Man," ucap Fatih dingin dengan tatapan yang tajam.
"Brengsek, lepaskan!" Lukman berkata dengan gerah, "aku nggak akan lepasin kalian!" ancamnya.
“Beri aku permen karet Rik," titah Fatih membuat Riki yang meringkuk di ujung ruangan mulai melangkah mendekat. Wajahnya yang biasa tampak pecicilan seperti ketakutan.
Riki menyodorkan satu permen karet ke arah Fatih yang matanya masih menyimpan amarah.
“Kamu nggak papa Rik?” tanya Fatih
“S-santai, aku oke kok.” Riki seperti sok kuat, mungkin karena ada Ghina dan Renata yang menatap mereka.
"Fatih!" panggil Ghina. Langkah Fatih terhenti.
"Jangan suka ikut campur! kali ini, aku nggak akan membalasmu!" katanya dingin. Membuat mulut Ghina terkatup. Sepertinya tidak tepat jika ia mengajak berbicara laki-laki itu.
"Na, kamu nggak papa?" tanya Renata khawatir karena Ghina terdiam. "Aku takut, ancaman cowok tadi," gusar Renata sembari menggigit jarinya.
"Nggak papa," lirih Ghina. Walau entah mengapa kepalanya justru mengingat saat Ayahnya menyiksa Ibunya. Dadanya tiba-tiba sesak. Matanya berkaca-kaca. Ia akui, trauma lama memang sulit untuk ia hilangkan.
"Na." Renata mengguncang pelan tubuh Ghina yang gemetaran. "Ayo pulang," ajak Renata seolah mengerti apa yang dialami Ghina, walau sahabatnya itu sangat jarang menceritakan persoalan yang dihadapinya.
"Aku antar pulang ya?" tawar Renata yang masih khawatir ketika melihat wajah Ghina yang memucat.
__ADS_1
"Nggak, kamu pulang duluan aja," tolak Ghina halus. "Aku mau beli minuman," ucap Ghina dan menarik telapak tangan Renata untuk bersalaman.
"Ayo kita beli minuman bareng," ajak Renata riang, ia ingin lebih lama menemani Ghina.
Saat mereka menyeberang jalan, terlihat Fatih dan Riki tengah berbincang dengan Alim - pegawai toko ATK - milik Fatih. Ghina hanya membuang wajahnya saat Fatih tiba-tiba melihatnya dari sana.
"Aku mau air mineral dingin Ren," ucap Ghina. Renata mengiyakan, lalu mengambil sebotol air mineral dan teh pucuk. Mereka kini mendudukkan diri di kursi warung Mpok Sarni yang terletak berhadapan dengan sekolah SMK. Jaraknya hanya terpaut sepuluh meter dari toko ATK milik Fatih.
Toko ATK
Toko itu hanya berukuran 3x4 meter yang di di dalamnya terdapat etalase yang menyimpan berbagai alat tulis, di samping etalase ada kursi dan meja yang diatasnya terdapat komputer.
Tembok berbahan triplek itu di cat putih, dengan hiasan foto-foto pahlawan bersorban di dalamnya. Gambar-gambar itu bertuliskan Al-khawarizmi, Al-farabi dan Al-Gazali.
Tiga orang laki-laki sedang berbincang.
"Astaghfirullah Gus, dia masih nggak mau ngaku?" tanya Alim yang terkaget ketika melihat kondisi Fatih dan Riki yang babak belur. Umur Alim memang lebih tua dari Fatih. Dua tahun lalu ia baru lulus dari SMK dan Fatih menawari dirinya untuk membantu usahanya membangun toko ATK tepat di depan sekolah.
Alim memang selalu memanggil Fatih dengan sebutan Gus, selain karena anak Kyai juga karena ia begitu menghormati laki-laki yang lebih muda darinya itu.
"Dia bener-bener nggak tertarik tawaranku," kesal Fatih. Riki masih sibuk mengaca dan meraba-raba luka di bibirnya. Lalu memberinya hansaplas.
"Kita cari cara lain Fath," ucap Riki dengan meringis. "Dia punya pacar nggak sih?" tanya Riki.
"Mana ku tahu." Fatih menggedikkan bahunya.
"Maksudku, kalau dia punya pacar. Kita ancam pacarnya, siapa tahu Lukman jadi mau ngaku, iya nggak?" usul Riki yang mendapat lemparan pulpen ke arahnya.
"Dia nggak akan mempan. Lukman nggak pernah tulus suka sama cewek, dia cuma mau mempermainkan Rik!" tukas Fatih.
"Apa kamu bilang?" Fatih melotot tajam ke arah Riki yang cengengesan. "Cewek-cewek itu yang mempermainkan diri sendiri. Udah tahu aku nggak bakal suka. Tapi namanya fans, susah." Fatih menggedikkan bahunya.
"Kalau aku jadi kamu, udah aku pacarin fans-fansku semua," ucap Riki yang lagi-lagi mendapat lemparan dari Fatih.
"Jangan coba-coba jadi buaya," ancamnya. Riki tertawa memegangi perutnya.
"Kasian tadi Ghina, wajahnya takut banget kayaknya ngeliat Lukman," cerita Riki. "Tapi dia keren, berani nampar laki-laki brengsek itu."
"Terus keadaan Mbak Ghinanya gimana?" tanya Alim dengan tatapan polosnya, seolah dia adalah yang paling muda di antara Fatih dan Riki.
"Ya gitulah, hampir di tampar balik. Tapi, untunglah ada pahlawan kita." Riki mengerling ke arah Fatih.
"Jenius Fatih!" serunya.
"Nggak usah berlebihan." Fatih menampol mulut Riki yang membuat si empunya kesal.
"Hih, dari tadi kamu udah mukul aku tiga kali loh," kesalnya tidak terima. Pasalnya Fatih sedari tadi terus memukulinya. Alim tertawa melihat aksi keduanya.
"Jadi, kapan kita mau tutup?" tanya Alim kemudian. Ini sudah melewati jam kerjanya, bukan karena apa. Ia ingin segera pulang untuk kembali merawat Ibunya yang tengah sakit di rumah.
"Kamu pulang aja Lim, biar aku yang nutup toko," ucap Fatih yang membuat mata Alim berbinar-binar.
__ADS_1
"Makasih Gus," katanya dan menyambar tas selempangnya, lalu berlari menaiki sepeda gunungnya.
"Alim memang anak yang polos ya, jangan-jangan dia juga takut cewek," tebak Riki. Fatih hanya berdecak mendengar Riki yang mulai mengajaknya bergosip seperti perempuan.
"Ibu, kayaknya mulai sibuk lagi ya?" tanya Ghina seusai salat Maghrib. Ia menghampiri Ibunya yang belum beranjak dari mesin jahit.
"Iya, Ibu lagi banyak pesanan. Kamu mau makan?" tanya Narsih lembut. Ghina tersenyum.
"Iya, aku laper. Yuk, makan Bu," ajak Ghina. Narsih mengiyakan, sikapnya kembali lembut kepada Ghina karena ia sudah memaafkan putrinya itu.
"Kamu masih dibuli di sekolah?" tanya Narsih dengan tatapan sendu kali ini. Ghina mendongak, ternyata diam-diam Ibunya mengkhawatirkannya.
"Nggak, teman-teman Ghina percaya kalau Ghina nggak melakukannya."
"Baguslah." Narsih menarik nafas lega. "Kamu kapan try out?" tanya Narsih lagi.
"Bulan depan Bu," Ghina menghela nafas, sebenarnya ia ingin bercerita perihal kejadian tadi di sekolah, namun ia tidak ingin menambah beban kepada Ibunya.
"Ibu jangan banyak pikiran ya?" Ghina menggenggam tangan Ibunya. "Aku nggak pengen Ibu sakit lagi," ucapnya.
"Sekarang Ibu sudah lega. Ibu jadi nggak merasa bersalah lagi sama keluarga Kyai."
Mendengar perkataan Ibunya, Ghina terdiam.
"Kalau Ghina menikah, itu berarti Ibu harus bertemu dengan dia?" tanya Ghina lirih. Narsih terlihat mengerutkan kening, namun berusaha tersenyum.
"Sudah Ibu bilang, jangan terjebak masa lalu. Mau nggak mau, karena dia masih hidup," ujar Narsih dengan berusaha setegar mungkin. Sebagai seorang Ibu, seharusnya ia tidak menampakkan luka masa lalu pada anaknya, walau itu sulit baginya. Pertahanan dirinya amatlah lemah.
"Ibu." Ghina menghentikan aktivitas makannya. Ia berjalan menghampiri kursi makan sang Ibu dan memeluknya. "Aku sayang Ibu, jangan sakit lagi," katanya pelan. Narsih hanya mengusap-usap tangan Ghina dengan senyuman.
Lantunan nasyid Islami yang dibawakan oleh salah seorang anggota KSI laki-laki terdengar merdu. Saat tabuhan perpaduan alat-alat rebana mengiringi, semakin membuat syahdu suaranya.
Anggota ekstrakulikuler tampak duduk berhadap-hadapan dengan jarak cukup jauh antara barisan laki-laki dan perempuan. Ghina, gadis itu sesekali menggigit bibir bawahnya. Sungguh, bukan gayanya seperti ini. Tapi, karena tatapan itu yang mampu membuat bibirnya seperti bergetar.
Siapa lagi jika bukan laki-laki bernama Ilham. Dengan peci berwarna hitam, baju hem berwarna biru yang di linting sesiku, membuat laki-laki itu terlihat lebih mencolok daripada anggota yang lainnya. Ghina sangat sadar, jika sedari tadi dirinya menjadi pusat perhatian laki-laki itu. Bukan karena dirinya terlalu percaya diri. Hanya saja, Ilham terlalu terang-terangan menatap, lalu mencuri pandang dan ketika Ghina balas menatap, laki-laki itu seperti pura-pura memperhatikan anggota yang tengah menepuk rebana.
"Ada apa Na?" tanya Renata berbisik ketika matanya menangkap kegelisahan temannya itu. Ghina menoleh ke samping kirinya. Lantas menghela nafas, "aku nggak suka jika dia ngeliatin aku."
Mendengar perkataan Ghina, refleks mata Renata menatap salah satu laki-laki di seberang sana.
"Pantes. Menurutku dia terlalu terang-terangan Na," jelas Rena, lantas berucap lirih, "aku jadi prihatin dengan hubungan diam-diam kalian."
Satu cubitan mendarat di tangan kanan Rena, membuat si empunya meringis.
"Aw, kenapa Na kok nyubit sih?" kesalnya pada Ghina.
"Jaga omongan kamu. Aku nggak berhubungan apapun sama dia Rena. Astaghfirullah, kalau sampai ada orang yang denger kamu terus nanti nanya macam-macam gimana. Kamu mau aku dan dia di ta'aruf kan sama pembina Rohis?!" Ghina berucap kesal. Terkadang mulut Renata yang ceplas ceplos membuatnya dalam bahaya. Bisa jadi jika ada yang mendengar omongan mereka, justru curiga jika si ketua Rohis dan sekretaris memiliki suatu hubungan. Lagi pula, Ghina tidak ingin jika di dalam esktrakulikuler Rohis ada yang menjalin hubungan diam-diam.
"Iya maaf," sesal Rena dengan cengegesan. "Tapi, justru jadi kabar baik kalau kalian di taarufkan hehe."
Mendapat delikan dari Ghina yang begitu menakutkan, bibir Rena mengatup rapat.
__ADS_1
"Setelah bubar, jangan pulang dulu. Temenin aku nemuin dia," bisik Ghina. Bukan permintaan tapi lebih kepada perintah. Renata mendengus kecil, "tuh kan? kalau cinta jujur aja," katanya. Dan lagi, satu cubitan mendarat di lengan kanannya. Renata meringis lagi.
"Setidaknya ngucapin terimakasih lah," batin Ghina dengan senyuman kecil yang terbit di wajahnya.