
"Mau ngapain kamu?!" sentak Ghina dan mendorong tubuh Fatih dengan keras hingga si empunya hampir terjungkal jika tidak kuat menahan tubuhnya sendiri.
"Hahaha, su'uzon, emangnya aku mau ngapain coba?" Fatih tertawa dan justru malah balik bertanya.
"Tadi, mukamu deket banget gitu. Pasti mau macem-macem 'kan?" mata Ghina memicing, ia menutup mulutnya sendiri. Khawatir jika Fatih akan melakukan hal semacam itu.
"Kalau aku mau, ya pas kamu tidur lah. Kalau lagi sadar, ya nggak lah. Bisa-bisa aku di damprat," ucap Fatih dengan santai. Ia mendekatkan dirinya lagi ke arah Ghina. "Sini, sabun di mukamu itu belepotan," ucap Fatih.
"Stop!" Ghina menepiskan tangannya di depan. "jangan maju lagi, biar aku sendiri, sini gayungnya." Ghina menengadahkan tangan, ia tidak ingin terlalu dekat dengan Fatih.
"Ck, playboy kayak kamu itu pasti udah sering bodohin fansmu, mencuri-curi kesempatan," ujar Ghina sambil menyiram wajahnya dengan air. Ketika habis, Fatih yang menyidukkannya dari ember, lalu di berikan lagi kepada Ghina.
"Nggak lah, ternoda dong aku." Fatih tidak terima, jelas ia masih dalam keadaan suci. Tidak akan menimpukkan bibirnya ke sembarang cewek.
"Ternoda, kayak judul novel aja," cibir Ghina. "kamu suka bacain novel drama rumtang ya?" tanyanya memicing.
"Nggak lah, ngapain bacain itu. Nanti, bikin kamu kebelet nikah," balas Fatih.
Ghina manggut-manggut membenarkan. Memang, di sadari atau tidak, banyak mengonsumsi novel drama rumah tangga, membuat orang bisa kebelet nikah, ya walau validitasnya tidak sampai seratus persen. Karena ada juga yang membaca hanya sebagai hiburan dan pencarian wawasan saja.
"Emang beda ya cewek solehah sama yang nggak."
"Maksud kamu?"
"Di tawarin cium, pasti nolak. Beda, kalau ceweknya kurang solehah, mereka pasti nerima aja, apalagi cowoknya ganteng," ucap Fatih.
"Ya iyalah, cewek baik-baik akan menjaga diri sampai nanti ada yang menikahi."
"Berarti, kamu nggak perlu jaga diri lagi dong?"
"Hih, apaan coba. Oh iya, kalau di bantu kamu, nanti batal dong wudhunya. Panggilkan siapa kek di luar, bantu aku."
Fatih memanggil salah seorang suster dan meminta bantuannya. Setelah menuntun Ghina ke ranjang, suster itu berpamitan.
Fatih menyerahkan mukena yang dibawa oleh Ibunya Ghina. Setelah Ghina mengenakannya, mereka mulai melaksanakan salat dengan Fatih yang menjadi imam.
Mereka terdiam dalam keheningan. Walau Ghina sebelumnya tidak pernah berduaan dengan Fatih, tapi di sini, ia merasa biasa-biasa saja. Tidak gugup atau apapun. Mungkin, karena status mereka yang sudah halal.
Tak lama, suster yang tadi membantu Ghina membawakan nampan berisi makanan serba hijau.
"Pasti hambar," lirih Ghina dan menatap makanan di hadapannya dengan malas.
"Nggak boleh mencela makanan, ini rizki loh," komentar Fatih.
"Iya tau. Tapi, 'kan lidahku sehat. Makanan yang sedikit pedas kayaknya enak."
"Nggak boleh, makan yang ada lah."
"Kenapa sih kamu nggak pulang aja Fath?" tanya Ghina kesal. Fatih seperti mengatur-ngaturnya dan ia tidak suka itu.
"Kamu mau tinggal sendirian di sini huh? Ibu kita masih di luar. Entah kemana."
Ghina hanya mendesah pelan. Ia mulai menyendok makanan berbahan sayuran ke dalam mulutnya setelah sebelumnya membaca bismillah.
Fatih mengambil gitarnya yang ia taruh di sudut pintu. Lalu duduk di sofa. Ia mulai memainkan gitarnya dengan santai dan tenang.
"Mau request lagu?" tanya Fatih sambil menatap ke arah Ghina.
Ghina menggeleng. "sakit telingaku nanti denger lagu kesukaan dinyanyiin kamu," ketus Ghina.
"Hahaha, masa' sih? di kelas, kamu nggak pernah protes suaraku tuh," papar Fatih.
"Terpaksa, kalian 'kan biang keributan," cibir Ghina. Ia memandangi makanannya, baru dua suap saja rasanya sudah kenyang. Tapi, ada hal yang membuat ia terkejut, saat melihat rambutnya menghalangi matanya.
"Hah?! kenapa kamu nggak bilang, kalau aku nggak pakai kerudung Fath?!" pekik Ghina kalang kabut. Ia mencari kerudungnya, yang ternyata berada di sofa. Ia hampir lupa, sebelum wudhu, tadi ia melepasnya.
"Dari tadi emang udah kayak gitu," ujar Fatih santai, ia mulai memetik gitarnya. "Santai aja kali, aku nggak bakal curi rambut kamu," tambahnya.
Ghina mendesah pelan. Ia menjadi kesal karena Fatih sudah bisa melihat rambutnya.
__ADS_1
Dirimu selalu, selalu ada di hatiku
Tak bisa diriku, diriku untuk melupakan
Aku tak bisa menjauh darimu begitu saja, begitu saja, lupakan dirimu, lupakan dirimu
Saranghae
Ghina akui suara Fatih menyanyi memang merdu. Laki-laki itu memang cocok saja banyak di idolakan kaum hawa, selain wajahnya yang lumayan, juga suaranya yang enak di dengar.
"Terpesona ya?" goda Fatih saat Ghina hanya diam sambil melihatnya bermain gitar.
"Narsismu itu kelinci."
"Kok kamu panggil aku pakai julukan itu sih? nggak ada yang lebih bagus gitu?" protes Fatih.
"Iya kayak kelinci, cepat tanggap kalau masalah cewek doang," jelas Ghina dengan senyum puas karena melihat wajah Fatih yang kesal.
"Hahaha, tapi 'kan istri cuma satu. Aku nggak bakal pindah ke cewek lain kok." Fatih mendadak tertawa sendiri mendengar penjelasan Ghina. Ternyata hanya gara-gara dirinya cepat tanggap dalam masalah cewek, gadis itu menjulukinya 'kelinci'?
"Nggak usah gombal. Aku nggak bakal mempan."
"Masa?" tanya Fatih. "Kalau di gombalin Ilham mau?"
Seketika Ghina menatap Fatih dengan tajam. Padahal suasana hatinya sedang baik-baik saja, tapi mendengar Fatih menyebut nama lelaki itu, membuat dadanya terasa sesak.
"Jangan sebut nama dia." Ghina berkata dengan dingin.
"Kenapa? nggak salah 'kan aku?" kilah Fatih.
"Fatih!" pekik Ghina.
"Rasa suka itu bebas aja, yang jadi bahan pertanggung jawaban adalah cara kita mengekspresikan rasa itu," jelas Fatih serius dan beranjak dari kursi.
"Kamu mau nitip apa? aku mau beli minuman ke luar." Fatih tidak melanjutkan pembicaraan lagi, ia tahu Ghina sedang dilanda badmood.
"Nggak!"
Keesokan harinya, berita mengenai kecelakaan yang menimpa Ghina dan Renata sudah tersebar luas di saentero jurusan TKJ. Seharian penuh, yang menjadi bahan obrolan adalah tentang peristiwa nahas itu. Menyayangkan sekali, karena Ghina dan Renata adalah kelas dua belas dan sebentar lagi mengerjakan UN, tapi malah di landa musibah.
Sumbangan-sumbangan pun di gencarkan oleh anggota OSIS sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap murid yang tertimpa kecelakaan. Anggota OSIS berkolaborasi dengan KSI, nanti siang sepulang sekolah akan berkunjung ke rumah sakit.
Fatih merogoh ponselnya, mengetikan pesan Whatsapp.
Me : Siap-siap, nanti siang OSIS sama KSI datang ke rs berkunjung
Nana Bobo : Beneran? pasti satu sekolah udah tau tentang kejadian yang aku alami.
Me : Ya iyalah, jadi trending topic.
Nana Bobo : Makasih infonya.
Me : Itu doang?
Nana Bobo : Jangan macam-macam!
Me : Kasih ucapan sayang kek, cinta kek, atau puisi yang indah kek.
Nana Bobo : Nggak peduli.
Me : Tapi aku peduli, sama kamu. Honey.
Nana Bobo : Jangan panggil aku dengan sebutan itu! jijik
Me : Terus? jauzati?
Nana Bobo : Lebay
Me : Eh, tumben bales terus, padahal chatnya nggak penting loh. Hayo, kamu kesepian ya?
__ADS_1
Nana Bobo : read
Pukul tiga sore, Ghina mengajak Renata mengobrol di ruangannya. Mereka begitu asyik mengobrol sampai Ibunya Ghina mengetuk pintu. Mengatakan bahwa ada teman-teman satu sekolah yang ingin berkunjung.
Benar saja, mereka adalah teman sekelas, satu ekstrakulikuler dan ada juga anggota OSIS yang didalamnya termasuk Fatih.
"Kami mohon terima ini, sebagai bentuk, turut berduka cita atas apa yang menimpa kalian. Tetap semangat dan kuat ya." Ketua Osis yang baru menginjak kelas sebelas itu menjulurkan beberapa bingkisan kepada Ghina dan Renata.
"Terimakasih teman-teman semua. Ketua Osis juga, yang menyempatkan hadir berkunjung. Kami sangat senang. Mohon do'anya aja, semoga lekas sembuh dan bisa mengikuti UN," ucap Ghina.
Semua yang hadir di sana mengamiinkan. Kini, Ilham yang maju, ia berjalan mendekat ke ranjang tempat dimana Ghina dan Renata duduk.
Ilham menyororkan bingkisan ke arah Ghina. "Ini khusus dari KSI, untuk kalian."
"Terimakasih ketua," ucap Ghina dan Renata bersamaan.
Ilham mengangkat tangan, mendo'akan Ghina dan Renata dan diamiinkan pula oleh yang lainnya.
Setelah semua yang hadir pamit pulang. Kini, tinggal Fatih, Ilham, Ghina dan Renata. Mereka sama-sama terdiam.
"Hei bro, kenapa belum pulang juga?" tanya Fatih sambil menepuk bahu Ilham.
"Kamu kenapa juga masih di sini?" Bukannya menjawab, Ilham justru bertanya dengan nada tajam.
"Hahaha, iya ya? ngapain di sini? nggak ada yang di apel juga. Ghina? Renata? nggak lah ya. Bukan tipe fans aku. Ya udah, kamu juga nggak ada keperluan 'kan sama mereka?" tanya Fatih yang spontan membuat Ilham terlihat kesal.
"Aku ada keperluan sama Ghina," ucap Ilham dan menatap Ghina.
"Ada apa ketua?" tanya Ghina.
"Bisa nggak, ngobrolnya jangan di sini?" tanya Ilham.
"Hei hei, main berduaan dong? ngobrollah di sini, aku juga mau ikut denger," ujar Fatih daj menepuk-napuk bahu Ilham.
Renata yang melihat kelakuan Fatih hanya terkekeh geli. "Iya ngobrol aja di sini, emang kenapa ketua? rahasia negara ya?" tanya Renata.
"Ya begitu lah orang menyebutnya," balas Ilham sekenanya. "Ya udah, nanti aja di sampaikan lewat chat. Aku pamit ya, assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Fatih ikut mengekor di belakang Ilham dan mereka sama-sama keluar dari ruangan Ghina. Tak lama, Fatih kembali lagi dengan senyum sumringah.
"Ren, kamu nggak capek di sini terus?" tanya Fatih yang membuat Renata mendengus. Ia paham bahwa Fatih tengah mengusirnya secara halus.
"Iya, aku mau istirahat. Mau mandi juga, lengket badan." Renata beralasan. "Na, aku balik dulu ya."
Ghina mengangguk pelan, matanya tak lepas dari menatap Fatih dengan tajam.
"Kenapa nggak ikut pulang sekalian sama Ilham?"
"Kamu kesel karena nggak bisa ngobrol berdua sama dia?"
"Ih bukan itu. Kamu itu loh, nanti ketahuan nggak pulang dan malah di sini. Gimana, kakau Ilham balik lagi dan ngeliat kamu?"
"Udah aku pastikan dia pulang dengan selamat. Nggak usah khawatir gitu lah," ujar Fatih santai. Ia meletakan tas ranselnya di atas sofa.
"Kata Ibu, tadi malam kamu demam ya?"
"Hm."
"Sekarang gimana?" tanya Fatih.
"Nggak lagi. Ya udah kalau mau pulang sana, ada Ibu juga di sini," balas Ghina dan kembali merebahkan dirinya.
"Ibumu nggak ada. Tadi, bilang mau pulang."
Ghina mendengus mendengar perkataan Fatih. Laki-laki itu berjalan mendekat.
"Ayo," ajaknya.
__ADS_1
"Kemana?" Alis Ghina bertaut.
"Udah sore, ya aku mandiin lah."