
Fatih mengambil telapak tangan kanan Ibu mertuanya lalu menciumnya dengan takzim.
"Apa kabar Bu?" tanya Fatih dengan senyuman.
"Alhamdulillah sehat. Kamu gimana Nak?"
"Sehat juga Bu."
Narsih tersenyum lalu seperti biasa, menyuruh putrinya untuk membuatkan Fatih minum.
"Udah lama nggak ke sini kamu, Ibu jadi rindu," ucap Narsih dengan kekehannya. "Gimana kabar Kyai dan Ummimu?" tanyanya.
"Alhamdulillah sehat Bu, jamu yang Ibu kasihkan ke Abi sudah ludes, katanya syukron Bu, manjur untuk encok," balas Fatih dengan senyuman. Ia mengangguk pelan ketika Ghina menyodorkan nampan berisi teh dan juga satu kaleng cemilan Kuping Gajah.
"Mau kemana? suamimu lagi bertamu loh," cegat Narsih saat ia melihat anaknya justru hendak pergi dari sana.
"Aku lagi capek banget Bu, pengen istirahat," sahut Ghina dengan matanya yang ia buat sayu.
"Nggak papa Bu, kalau Ghina kelelahan. Dia tadi habis pingsan di pantai," jelas Fatih membuat Narsih terkejut.
"Kenapa kamu bisa pingsan sayang? duduk dulu sini." Narsih menatap khawatir putrinya dan menepuk sisi sofa di sampingnya.
Ghina hanya menghela nafas, ia menyunggingkan senyum. Lalu, ia akhirnya ikut duduk. "Udah nggak papa kok Bu, tadi mungkin mabuk perjalanan."
Sang Ibu memegang jidat Ghina. "Dingin, kamu ngerasa kedinginan?"
Ghina menggeleng, "udah nggak. Ini cuma keringat aja Bu."
"Nanti, Ibu buatkan kamu Wedang Jahe ya biar lebih anget. Kalau kalian mau ngobrol, silakan. Ibu ke dapur dulu. Atau mau ke taman samping, biar silir," saran Ibu Ghina karena ia melihat Fatih sedari tadi mencuri pandang kepada anaknya. Ia menduga mungkin menantunya ingin mengajak Ghina mengobrol.
Ghina melirik ke arah Fatih, laki-laki itu menatapnya. "Kalau kamu bisa, aku mau ngobrol sebentar, mau ngomongin sesuatu."
Akhirnya, mereka berdua pergi ke taman bunga yang terletak tepat di samping rumah. Fatih mendudukkan dirinya di kursi, begitu pula Ghina.
"Apa?" tanya Ghina tak sabar.
Fatih merogoh sesuatu dari kantongnya. Sebuah kertas polos yang terlipat, dengan lekatan penutup di atasnya.
"Amplop? untuk?" tanya Ghina bingung, ia enggan untuk menerima.
Fatih menangkup telapak tangan Ghina, lalu menyelipkan amplop di sana. "Ini buat kamu, pakailah untuk kebutuhan kamu."
Alis Ghina mengernyit, ia sedikit meremas benda yang menggelembung itu. Dugaannya tepat, di dalamnya berisi uang.
"Aku nggak butuh Fath, pemberian dari Ibu dan Kak Imran udah cukup." Ghina kembali menyerahkan amplop putih itu ke Fatih.
Laki-laki itu menggeleng. "Terima aja sih, apa susahnya huh?" tanyanya kesal.
Gadis yang begitu sering menolak pemberian itu mendengus. "Aku nggak butuh Fath! demi Allah, itu uangmu. Ya kamu yang harusnya gunakan."
Ghina yang sudah mengetahui jika Fatih tengah berusaha membayarkan UKT dirinya, membuat ia tidak enak untuk mengambil apapun lagi dari laki-laki itu.
"Kamu lupa? aku suamimu. Ini, adalah nafkah dari aku untuk kamu istriku. Pakai aja, sesuai kebutuhan."
"Kamu beneran mau bayarin UKT aku?" tanya Ghina mengalihkan topik.
"Kata siapa?" tanya Fatih, pura-pura tidak tahu. Matanya menatap lurus ke depan.
"Kak Imran. Kamu beneran sanggup? aku nggak mau buat kamu harus ngeluarin uang dobel. Kamu itu mau masuk swasta, UKTnya pasti gede, mana cukup buat UKT aku juga."
"Ck, kamu ngeremehin aku?" sinis Fatih.
Ghina memukul lengan Fatih. "Bukan gitu, kamu bisa aja mampu. Udah punya bisnis gitu, tapi 'kan pasti susah. Aku paling nggak suka ngerepotin orang."
Fatih menatap Ghina sejenak, wajah putih bersih walau tanpa make up itu merengut, bibirnya sedikit monyong ke depan. Ghina memang serius dengan ucapannya, pasti gadis itu tidak suka jika merepotkan orang lain. Padahal, sebagai suami justru Fatih merasa tidak bisa menjadi suami yang baik ketika tak mampu menghidupi istrinya.
"Kenapa natap aku gitu?" tanya Ghina karena merasa ngeri dengan tatapan yang tidak biasa dari Fatih. Ia menggerakkan wajah ke samping, tapi ditahan oleh tangan Fatih.
"Bentar lagi 'kan acara perpisahan. Wajah kamu, nggak mungkin kamu biarin kayak gini 'kan? setidaknya beli bedak atau pelembab bibir, biar nanti nggak pucat. Aku yakin, teman-teman cewek yang lain bakal bela-belain ke salon biar tampil ngejreng hari itu."
"Aku nggak suka dandan!" tolak Ghina sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"Masa? beneran? setauku cewek paling suka skincare-an?" alis Fatih naik turun. Bibirnya terlihat mencibir.
"Sok tau!" Ghina menepis tangan Fatih dari wajahnya. Posisi seperti ini membuat wajahnya terasa panas.
"Yang penting, ada dulu uangnya. Pakai untuk apapun yang kamu butuhkan. Aku nggak nyuruh kamu dandan menor, cuma sedikit kasih polesan di wajah kamu, biar nggak pucat," jelas Fatih.
"Cepet terima, atau kamu mau aku lebih lama lagi di rumah kamu hm?" tanya Fatih sambil menyodorkan amplop.
Mau tak mau, dengan ragu Ghina menerimanya membuat Fatih tersenyum dan reflek mengacak kerudung istrinya.
"Tanganmu!" interupsi Ghina dengan pelototannya.
"Ampun sengaja." Fatih tertawa pelan.
Tidak terasa, acara perpisahan sekaligus pengukuhan kelas XII sudah tiba. Dibalik rasa haru yang mendera semua siswa tingkat akhir itu, tapi ada terselip kesedihan pula di sana. Mereka ternyata tidak akan lama lagi berada di sekolah tercinta, hanya tinggal menghitung jam. Oh, betapa waktu berjalan begitu cepat, meninggalkan setiap cerita yang berbeda di setiap detik, menit dan jamnya.
Ghina sudah siap dengan gamis Sasirangan berwarna biru bermotif bunga-bunga bergaris yang terlihat begitu menawan. Ia dan teman-teman sekelas memang sudah janjian untuk membeli kain dengan motif yang sama, sehingga ketika nanti mereka foto, kesannya terlihat kompak. Bahkan, Bu Ratih pun ikut pula membeli kain Sasirangan yang sama, sebagai bentuk kecintaan dia kepada murid-muridnya.
Kelinci Nyebelin : Hei istri, sudah siap belum?
Me : Apa sih!
__ADS_1
Kelinci Nyebelin : Udah beli make up 'kan? aku jadi nggak sabar liat penampilan istriku.
Me : Gombalan basi!
Kelinci Nyebelin : Hari ini, akan banyak cowok ganteng gentayangan. Em, apalagi ketua Rohis, kemarin kami jahit kain di tempat yang sama. Bisa aku pastikan dia keren banget hari ini, kamu jangan tergoda ya.
Me : Bodo amat!
Kelinci Nyebelin : Mau di jemput nggak?
Me : Kamu pengen pamer sekaligus umumin ke semua orang kalau aku istri kamu huh?
Kelinci Nyebelin: Hehe, ya udah, selamat bertemu nanti di sekolah.
Ghina mencebikkan bibirnya melihat chat terakhir dari Fatih, ia kembali melihat pantulannya di cermin. Setelah di rasa sudah oke, ia keluar dari kamar. Ternyata, pria yang memakai celana Chino di padukan dengan Hem berwarna biru sudah menunggunya di ruang tamu. Siapa lagi jika bukan Imran.
"Sudah siap, tuan puteri?" tanya Imran sambil menaik turunkan alis.
"Pagi-pagi udah lebai aja," sahut Ghina mencibir.
"Ya 'kan mau nganter tuan puteri ke pesta, harus sudah siap lah, gimana ganteng 'kan?" tanya Imran.
Narsih yang tengah menata makanan di meja makan, menggeleng kecil melihat interaksi kedua anaknya. Ia tidak bisa menghadiri acara perpisahan hari ini, karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan. Tapi, syukurnya ada sang anak laki-laki yang menggantikan untuk mendampingi Ghina di sana.
"Ayo sarapan dulu," ajak Narsih yang sudah mendudukkan dirinya. Ia tak mengambil piring, hanya menyeruput teh hijau di depannya. Sarapan pagi, tak cocok untuk dirinya yang malah sering merasa mual ketika makanan berat masuk ke tenggorokannya di jam seperti ini.
Ghina dan Imran tersenyum, mereka langsung berjalan ke meja makan. "Pokoknya, pulang dari sekolah, Ibu udah harus dandan rapih, kita foto di rumah ya?" pinta Ghina.
"Iya sayang."
"Ingat, Ibu nggak boleh kelelahan, tunggu Ghina sambil tiduran di kasur aja."
Imran berdecak kecil, "ni anak, suka banget ya ngatur-ngatur sekarang."
"Ih biarin, aku nggak mau Ibu masuk rs lagi," katanya ketus sambil memakan nasi goreng di hadapannya.
"Asli, kamu kok tambah jutek sih Na? Fatih udah tau kamu kayak gini? atau jangan-jangan suami kamu itu udah kamu giniin?" tanya Imran dengan tatapan tak percaya. Terakhir kali, ia melihat Fatih dan Ghina berinteraksi memang tidak bersahabat saat di rumah sakit.
"Ck, biarin. Suka-suka lah, toh nggak ngerugiin orang."
"Innalillah, katanya hijrah, mau perbaikin akhlak, tapi kalau ketus kayak gini ya gimana," komentar Imran sambil melahap sesendok nasi goreng.
Ghina mendengus pelan mendengar nasihat Kakaknya. "Iya, ini lagi belajar Kakakku tersayang."
"Gitu dong, kalau sama suami jangan sampai jutek apalagi bentak-bentak, bisa di laknat malaikat loh."
"Ih pagi-pagi udah ngomongin laknat aja sih? 'kan ngeri. Belum juga punya istri, udah nasihatin istri orang aja."
"Udah, fokus sarapan. Nanti kalian kesiangan ke sana," lerai Narsih yang melihat perdebatan kedua anaknya.
Saat Imran sudah memarkirkan sepeda motornya. Ia dan Ghina berjalan berdampingan, namun tatapannya tertuju kepada laki-laki yang melepar senyum ke arah Ghina.
"Siapa?" tanya Imran pada Ghina.
"Ketua Rohis," balas Ghina. Matanya melirik ke arah Ilham yang berjalan ke arah panggung, di sana sudah ada anak-anak KSI yang siap tampil.
"Oh, kamu suka?" tanya Imran langsung, dan membuat Ghina menepuk lengannya.
"Ih apaan sih. Sana, Kakak duduk di bagian sana, aku ke sana." Ghina menunjuk posisi kursi yang terletak di sebelah kiri sedangkan untuk wali murid si sebelah kanan.
"Oke deh adikku. Btw, kok Kakak nggak liat suamimu?" tanya Imran sambil melihat ke sekeliling.
"Mana ku tahu!" balas Ghina dan mendorong tubuh Imran untuk segera menjauh.
"Na!" panggil Renata heboh. Ternyata gadis itu sedari tadi terlalu asyik mengobrol bersama teman-teman lain, sehingga tak menyadari Ghina sudah datang.
"Hei, assalamualaikum," sapa Ghina dan di balas oleh beberapa temannya di sana.
"Wih, keren model pakaianmu," komentar Renata yang meraba-raba gamis Ghina. Mereka memang memakai kain yang sama, namun untuk model jahitan di serahkan kepada masing-masing orang. Ghina sebenarnya mendesign sendiri, Ibunya yang membantunya menjahit. Sedangkan Renata lain lagi, dia menyerahkan semuanya kepada penjahit sebelah rumahnya.
"Punyamu juga bagus, keliatan elegan," komentar Ghina pada penampilan Renata.
"Iyakah? aku kira biasa aja hihi," kata Renata malu-malu. "Btw, Kakakmu di mana duduknya?" tanyanya celingukan.
"Tuh, pakai hem biru," tunjuk Ghina, membuat Renata segera mengikuti kemana arahnya.
"Gila, pesona yang sulit di tolak," ucap Renata tanpa sadar. Ia bahkan hampir ngiler jika Ghina tak menegurnya.
"Hush, tundukan pandangan."
"Hihi, khilaf liat orang ganteng. Habisnya, udah lama nggak liat dia. Sibuk banget ya Kakakmu itu Na?"
"Iyalah, 'kan dia kerja."
Renata manggut-manggut. "Btw, aku tadi liat Fatih di bawa sama cewek-cewek."
"Dia 'kan banyak fans."
"Iya, tapi di berodong terus di bawa entah kemana, sama Riki juga. Ih, kalau aku jadi istrinya, cemburu lah aku."
Ghina berdecak, "ya udah jadi istrinya sana."
Renata melotot dengan mulut terbuka lebar. "Ya kali, aku jadi istri kedua. Tega banget jadi pelakor diantara kamu dan Fatih haha."
__ADS_1
"Meysa mana?" tanya Ghina yang tidak melihat keberadaan gadis manis bersuara merdu itu di atas panggung.
"Dia mau sarapan dulu di kantin katanya. Memulihkan suara," balas Renata. "Tadi, aku ketemu Ilham, dia nanyain kamu."
"Apa katanya?"
"Ciye penasaran," goda Renata yang membuat Ghina menyenggol lengannya.
"Aku 'kan cuma tanya."
Renata mendekatkan mulutnya ke kuping Ghina. "Inget, udah punya suami hihi."
"Renatul!" kesal Ghina.
Acara pengukuhan pun dibuka oleh MC, lalu di lanjutkan dengan pembacaan kalam Ilahi oleh salah satu personil Rohis. Setelahnya, barulah Meysa dan kawan-kawan tampil.
Dari satu acara ke acara terus berlanjut hingga tak terasa, tibalah ketika dua orang cewek dan cowok, perwakilan kelas XII untuk maju ke atas panggung. Kepala sekolah sudah menantikan mereka di sana dengan senyuman haru dan duka sekaligus.
Dua orang itu menyalimi kepala sekolah dengan takzim. Lalu, perlahan, atribut mereka satu persatu di lepaskan sebagai tanda bahwa telah usailah peran mereka di sebagai siswa di sekolah ini. Namun, tetap saja setelah ini, di luar sana pun, mereka sejatinya harus tetap berusaha menjaga nama baik sekolah.
Setelah perwakilan itu turun dari panggung, menggemalah suara dari personil paduan suara yang telah di pilih dan di latih untuk melantukan lagu ciptaan Husein Mutahar yang berjudul 'Syukur' setelahnya terus bersambung dengan 'Hymne Guru' karya Sartono.
Air mata dari siswa dan siswi tak hentinya mengalir deras, sepanjang nama mereka satu persatu di sebut dan langkah mereka pasti menaiki panggung. Saking terbawa suasananya, ada yang menangis keras hingga hampir oleng ketika telah berdiri di depan kepala sekolah.
Pundak mereka di pasang sebuah selendang dengan format nama juga tanda 'Lulus' membuat mereka tidak bisa lagi menahan deraian air mata.
Setelah turun dari panggung, siswa mau pun siswi saling berpelukan sesama mereka. Renata menangis dengan tersedu, ia memeluk Ghina erat diiringi lagu yang semakin lama terdengar pedih di telinganya.
"Na, kita bentar lagi berpisah," isaknya. Ghina tersenyum, bukan berarti ia tak sedih. Hanya saja, di situasi begini justru ia paling anti mengeluarkan air mata.
"Iya, tapi kita masih bisa ketemu. Jarak rumah kita nggak terlalu jauh juga. Kapan-kapan masih bisa main," ucap Ghina sambil membalas pelukan Renata. Mereka kini sudah kembali ke daerah tempat duduk mereka.
Semua teman-teman sekelas mereka juga melakukan hal yang sama. Fitri the geng juga berurai air mata sambil berpelukan seperti Teletubis.
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa
Lagu tersebut, terus mengalun di sela kata-kata perpisahan yang Renata ucapkan.
"Tapi, kamu kuliah Na. Pasti sibuk banget, terus dapat temen baru di sana, lupa deh sama aku." Renata masih sesegukkan. Ia memang sudah bulat dengan keputusannya untuk tidak lanjut ke perguruan tinggi, karena harus membantu Ibunya mengurus sang Ayah yang tengah sakit.
"Ya nggak lah, kamu itu sahabat aku yang paling beda. Nggak tergantikan."
"Beneran? tapi, aku nggak rela kamu pergi hueee."
"Astaga! mak lampir bisa juga nangis." Riki yang barusan turun dari panggung dan berniat kembali ke kursinya, langsung mencibir Renata yang tengah sesegukkan.
"Apaan sih kamu, jangan ngejek. Mentang-mentang kamu bisa buntutin Jeniusmu kemana-mana itu!" sentak Renata dengan nada kesal, ia melepaskan pelukannya dengan Ghina dan menatap nyalang ke arah Riki.
Laki-laki dengan postur tubuh setinggi Fatih itu terbahak. "Ya elah gitu aja baper. Sekarang tuh zaman canggih, kalau pun pisah pulau, masih bisa VC-an huh."
"Aku tau Lamtur. Tapi, asal kamu tau, ketemu langsung sama ketemu online itu beda rasanya. Sana pergi! liat mukamu bikin aku badmood."
Riki hanya nyengir, lalu segera menghampiri tempat duduknya tepat di sebelah Fatih.
"Btw, bonus foto kemarin, malam ini aku tagih," ucap Riki begitu sudah duduk di sebelah Fatih.
Fatih hanya bergumam malas, ia lebih tertarik melihat siswa dan siswi berlalu lalang di panggung.
"Tapi, setelah ini, nggak ada kompensasi lagi," ucap Fatih setelah terdiam.
"Hah? mana bisa? kamu mau aku bocorin beneran?" ancam Riki dengan seringaiannya.
"Nggak berlaku ancaman kamu. Bentar lagi aku adain resespi."
"Hah beneran? huee akhirnya ustadzah sama Gus Fatih nikah beneran."
Pletak!
Satu sentilan mendarat di dahi Riki, pelakunya ya Fatih.
"Kamu kira aku nikah boongan."
"Habisnya, kalau sekarang nggak kayak suami istri. Huhu, tapi aku sedih, itu berarti ada orang lain di hati kamu."
"Belajar dewasa Rik, kamu yakin, kelakuanmu gini terus walau sudah kuliah nanti?" cibir Fatih.
Riki meringis. "Ya iyalah, aku 'kan emang gini. Btw, kamu beneran nggak mau ke UIN aja Fath? aku sama Ilham, ustadzah, juga di sana. Kok, kamu milih UNISKA sih?"
"Apa urusanmu huh?"
"Ih Fatih mah, aku 'kan pengen terus sama kamu. Ya walau jarak UNISKA ke UIN nggak jauh-jauh banget tetep aja nggak enak kalau beda kampus."
"Makanya cari istri, biar nggak rinduin aku, sana jauh." Fatih mendorong wajah Riki yang condong terlalu dekat ke arahnya.
Huhu.... otor nulis sambil nostalgia masa-masa SMA 😁 btw, udah ada kemajuan 'kan hubungan Fatih-Ghina?
__ADS_1
adalah yaaa...
yang suka ceritanya jan lupa like, komen, cote, SHAREE YAAA