Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Rumah Sakit


__ADS_3

"Ya Allah ... Ibu," lirih Ghina sembari memijat keningnya yang berdenyut. Matanya terbuka perlahan, ia berusaha untuk berganti posisi menjadi duduk.


Dia tidak sendirian. Ada Nafisah dan juga Ummi Zainab yang melihatnya dengan tatapan iba. Sedangkan Fatih, tengah menatapnya dari posisinya yang duduk di atas sofa.


"Kamu udah sadar Nak?" tanya Ummi Zainab dan mengusap pelan kerudung Ghina.


"Ummi, aku mau ketemu Ibu," pinta Ghina dengan air mata yang mendesak untuk keluar.


"Iya sayang, kamu yang tenang ya. Yuk, pelan-pelan Ummi bantu."


Nafisah juga ikut membantu, ia mengelus punggung adik iparnya dengan sayang. "Yang sabar ya Ghina sayang, Allah pasti sembuhkan Ibu kamu."


"Aamin Mbak."


Fatih yang melihat Ghina dalam kondisi acak-acakan dan wajah sembab itu hanya menghela nafas. Ia juga turut mengikuti langkah tiga wanita itu ke ruangan Ibu mertuanya.


"Ibu, bangun. Ibu selalu kuat," lirih Ghina dengan tangannya membelai wajah sang Ibu yang dingin. Beberapa alat medis terpasang, membuat hati Ghina berdenyut melihatnya.


"Apa kata dokter Kak? kapan Ibu bisa sadar?" tanya Ghina dengan terisak.


"Kata dokter, Ibu masih terpengaruh obat bius. Insyaa Allah, malam atau besok sudah bisa siuman," balas Imran berusaha tetap tegar di hadapan sang adik. Seragam perusahaan tambang bahkan masih melekat di badan atletisnya, karena ia juga baru mendapat kabar mengenai Ibunya dan segera menuju ke rumah sakit.


"Kak, Ibu pasti bangun 'kan?" tanya Ghina lagi. Imran mengangguk mantap, ia menarik Ghina ke dalam pelukannya.


Ummi Zainab, Nafisah dan Fatih hanya menyimak pembicaraan dua kakak beradik itu. Terlihat sekali Imran amat menyayangi Ghina sebagai adiknya, seolah menjadi pengganti Ayah bagi gadis itu.


"Cup cup, nanti matamu tambah besar kalau nangis terus. Ibu juga pasti nggak suka liat kamu cengeng," ucap Ilham yang bergurau untuk membuat Ghina kesal padanya. Tapi sayang, adiknya itu hanya menggeleng di dalam dekapan dadanya.


"Kak, aku sayang Ibu," lirihnya sendu. Ia memeluk Imran erat-erat.


"Iya, kita berdua sayang Ibu. Makanya, jangan cengeng lagi, yang dibanyakin itu doanya. Semoga Ibu segera pulih."


Ghina mengangguk pelan, ia melepaskan pelukan lalu menatap Ummi Zainab dan juga Kakak Iparnya.


"Ummi, Mbak Nafisah, makasih udah ngunjungin Ibu." ucap Ghina yang berusaha menyeka air mata dengan tangannya. Kerudungnya sudah ringsek.


"Sama-sama Nak, kami akan mendoakan untuk kesembuhan Ibu kamu. Oh ya, Ummi udah bawakan sesuatu untuk kalian makan malam nanti ya." Ummi Zainab melirik ke arah meja yang sudah ditempati beberapa bungkusan plastik.


"Terimakasih Bu Nyai," ucap Imran.


"Ummi Nak," ralat Ummi Zainab kepada Imran yang membuat pria dengan tatapan elang itu terkekeh pelan.


"Iya terimakasih Ummi."


"Ya udah, kalau gitu ummi sama Nafisah pamit ya."


Ghina menyalami Ibu mertuanya dan juga Kakak iparnya, sedangkan Imran menangkupkan tangannya dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


"Fath, kamu nggak ikut pulang?" tanya Ghina yang melihat Fatih masih setia duduk di sofa.


"Nggak, mau nemenin kamu di sini," balas Fatih santai.


Imran tersenyum mendengar penuturan Fatih. "Gimana bisnismu Fath?" tanya Imran yang kini sudah ikut duduk di sofa.


"Alhamdulillah lancar Bang. Gimana kerjaan Abang? tadi langsung dari perusahaan ke sini?" tanya Fatih yang mengamati pakaian Imran.


"Iya, kaget denger kamu nelpon, ya langsung ke sini. Untuk masalah kerjaan ya seperti biasa," jelas Imran. "Kapan kalian lulus?" tanya Imran.


"Tanggal 28 ini acara pengukuhan sekaligus perpisahan Bang."


"Loh, cepet ya berarti. Rencananya, kalian mau kuliah di mana?" tanya Imran yang menatap Ghina dan Fatih bergantian.


"UIN."


"UNISKA."


Ghina dan Fatih menjawab berlainan, membuat Imran mengernyitkan alis. "Loh, kok beda? kalian 'kan suami istri, emang nanti tahan nggak satu kampus?"


Ghina dan Fatih hanya diam. Namun, Fatih segera menjawabnya dengan senyuman. "Walau suami istri 'kan nggak harus satu kampus Bang, yang penting satu rumah hehe."


Imran tertawa pelan. "Iya bisa, tapi kenapa beda? kamu mau ambil jurusan apa Fath?"


"Insyaa Allah komputer, maunya linear sama jurusan waktu SMK. Di UNISKA, akreditasi jurusannya sudah A."


Imran manggut-manggut. "Oh pantes, di UIN emang belum ada ya?"


"Ada Bang, cuma masih baru. Akreditasinya B. Jadi, menurutku lebih baik milih yang A sekalian."


"Lah kamu Na, mau ambil apa?"


Ghina yang tengah tercenung sambil menatap wajah sang Ibu menoleh. Ia sebenarnya malas meladeni pertanyaan Imran, menurutnya bukan saat yang tepat membahas jurusan kuliah.


"Ambil bisnis."


"Kenapa nggak di UNISKA aja, bareng suami kamu, 'kan ada fakultas bisnis juga, ya Fath?" tanya Imran.


"Ada Bang, tapi ya itu pilihan orang sih Bang."


"Kalian ini kenapa coba? mending kalian bicarain aja, gimana caranya biar se kampus. Hemat juga biaya bensin kalau kampus sama-sama deket. Misal kalian kos di deket UIN, Fatih yang jauh ke kampus dan sebaliknya. Kalau sama-sama deket 'kan bisa berangkat bersama-sama."


"Suka-suka aku lah Kak," timpal Ghina, ia agak kesal dengan saran yang diajukan Imran. "Biaya swasta itu mahal. Bisa-bisa boke kalau suami istri kuliahnya di swasta."


Imran hanya menggeleng pelan. "Tenang aja masalah biaya, semua beres. Yang penting kamu mau, ya kan Fath?" Imran melihat ke arah Fatih.


Fatih menggaruk lehernya yang tak gatal. "Iya Bang."


"Fath, kamu di sini masih lama 'kan? aku mau ke rumah dulu, mandi sama ganti pakaian."

__ADS_1


"Iya Bang, tenang aja. Aku masih lama di sini."


"Oke, titip adikku tersayang," ucap Imran sembari menepuk bahu Fatih lalu berjalan ke arah Ghina.


"Kakak tinggal dulu ya adekku sayang," ucap Ilham dan mencubit pelan pipi Ghina, ia lalu menciumi kening Ghina dengan sayang. "Tenang aja, Ibu pasti sembuh."


Ghina hanya mengangguk dan menyalami Imran. Kini, tinggallah mereka berdua di ruangan Ibunya Ghina.


Tidak ada percakapan berarti, karena Ghina memilih untuk diam sambil sesekali mengelus wajah Ibunya. Bahkan hingga azan Maghrib berkumandang, mereka tetap tak bersuara. Fatih membiarkan saja karena ia tahu Ghina pasti masih merasa tidak baik-baik saja.


"Na, udah Maghrib." Fatih mengingatkan. Ghina yang tengah memegang tangan Ibunya dalam posisi kepalanya yang ia taruh di samping tubuh Ibunya akhirnya mengangkat kepala.


"Iya," balasnya singkat lalu beranjak dari sana dan bersiap untuk pergi ke Mushalla yang berada di dekat rumah sakit. Fatih mengekornya dari belakang.


Setelah mengikuti salat berjamaah, Fatih dan Ghina keluar bersamaan dari Mushalla. Dapat ia lihat wajah istrinya itu seperti lesu.


"Kamu laper?" tanya Fatih dan menyamakan langkahnya dengan Ghina.


Gadis itu tak bersuara, hanya menggelengkan kepala.


"Kamu harus kuat, biar bisa liat Ibumu siuman malam ini atau besok. Makan ya? Ummi tadi udah bawakan kamu makanan."


Ghina terus berjalan, hingga mereka melewati taman rumah sakit yang tidak terlalu ramai orang. Di sana terdapat beberapa kursi kayu berwarna putih. Ia memilih duduk, untuk sekedar menenangkan hatinya.


Fatih mengikuti, ia duduk di samping Ghina, untunglah gadis itu tak mengusirnya.


"Kenapa, ketika kita sudah sangat menyayangi seseorang dan menyadari betapa berharganya dia, tapi justru dunia seolah mau mengambilnya dari kita?" tanya Ghina, ia menoleh ke arah suaminya yang tampak berbeda. Tidak banyak menggoda seperti biasanya. Mungkin, Fatih juga mengerti kondisi.


"Itu ujian. Manusia itu, pasti di uji dengan kehilangan. Kenapa? karena Allah ingin menunjukkan bahwa tiada tempat harap dan tiada sandaran, selain kepadaNya semata. Manusia, lambat laun akan pergi dan menghilang, tapi Allah akan selalu nemanin kamu."


Ghina terkekeh pelan, ia tak menyangka Fatih bisa berkata sebijak itu.


"Kenapa ketawa? ada yang lucu?" tanya Fatih yang mengembangkan senyumnya. Ia senang melihat Ghina tertawa karenanya, walau pelan.


"Sok bijak," komentar Ghina dan hanya dibalas tawa oleh Fatih.


"Siapa coba tadi yang tanya? ya aku jawab lah. Bijak dikit gak papa lah. 'Kan sekarang udah jadi suami, harus bisa bimbing dan hibur istri ketika sedih."


Deru angin menyentak keduanya, namun perasaan hangat yang barusan tercipta tidaklah lenyap. Satu sama lain, saling bertatapan dalam diam. Sadar, karena dirinya menatap Fatih lama, Ghina segera membuang wajah.


Fatih menarik bahu Ghina dan menyandarkan kepala istrinya itu di pundaknya, membuat si empunya terkejut.


"Fath!"


"Nggak usah protes, kita suami istri. Kalau ada orang yang tanya bilang aja udah nikah."


"Ini tempat umum."


"Ini biasa, yang penting nggak berlebihan," kilah Fatih. Ia membiarkan kepala Ghina bersandar di pundak kokohnya.


Fatih mengelus kerudung Ghina, untunglah gadis itu tidak protes sama sekali. Hingga bunyi perut salah satu dari mereka membuat Fatih menghentikan aktivitasnya mengusap.


"Laper?" tanya Fatih.


Ghina menggeleng.


"Jangan boong, bilang aja. Ayo masuk, kita makan bekal dari Ummi."


Fatih berdiri dari kursi, namun Ghina tidak. Gadis itu seperti masih betah menatap kerlip bintang di atas sana.


"Jangan bandel, tubuh itu juga butuh hak untuk diberi asupan. Kalau kamu sakit, siapa yang susah? Ibumu nanti khawatir loh."


Ghina berdecak. "Nggak usah ngatur-ngatur!" sentaknya kesal. Oh ternyata sifat keras kepalanya telah kembali.


Fatih hanya menggelengkan kepala, berusaha sabar menghadapi istrinya. "Bukan ngatur, aku cuma ngasih saran. Kalau nggak mau makan ya udah, aku makan bekalnya."


Fatih melenggang pergi, meninggalkan Ghina yang menatapnya sebal. Akhirnya, Ghina mengikuti langkah Fatih ke dalam rumah sakit.


Mereka kini tengah menikmati bekal dari Ummi Zainab dalam keheningan. Ponsel Ghina terus berdering sedari tadi, namun si empunya tampak abai.


"Nggak diangkat?" tanya Fatih.


"Males," balas Ghina dan kembali menyuir potongan paha ayam.


Fatih dengan cepat meraih ponsel Ghina yang memang tak jauh dari jangakauannya. Melihat itu, Ghina mendelik.


"Balikin!" pintanya.


Fatih melihat nama yang tertera. Ternyata nama Ilham yang muncul.


"Kalian sering telponan?" tanya Fatih di sela-sela makannya.


Ghina mendengus. "Nggak, dia baru kali ini nelpon. Biasanya itu cuma miscall, mungkin ada ngirim pesan Wa. Tadi 'kan aku langsung kabur ke sini, nggak bilang lagi."


Fatih manggut-manggut. Dia menekan tombol merah untuk menolak panggilan Ilham, hingga ponsel itu kembali mati. Tak lama, terdengar lagi bunyinya. Tapi, kali ini dari Renata.


"Renata tuh," tunjuk Fatih.


Ghina hanya mendesah. Lalu menggunakan jari telunjuk kiri untuk menggulir layar ponselnya.


"Iya Ren. Aku baik-baik aja. Tadi, Ibuku mendadak di bawa ke rs."


"..."


"Nggak usah, udah malam. Besok 'kan bisa Ren."


"..."

__ADS_1


"Iya, katanya dokter malam ini atau besok bisa siuman kok."


"..."


"Iya, waalaikukumussalam."


Ghina telah menyelesaikan acara makannya, begitu juga Fatih.


"Kak Imran kok lama banget ya?" tanya Ghina heran, pasalnya tadi Imran mengatakan hanya akan pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian. Tapi, bahkan Isya sudah tiba, batang hidung laki-laki itu tidak muncul.


"Dia 'kan pulang ke rumah tadi," balas Fatih.


"Kamu nggak pulang Fath?" tanya Ghina yang seperti mengusir. Fatih yang tengah mengotak-atik ponselnya berhenti.


"Nanti aja, anak cowok juga. Pulang malem biasa udah."


"Ck, awas kalau mampir ke tempat nggak jelas," ancam Ghina.


"Ciye, mulai bawel ya istri. Tenang aja, aku bukan tipe-tipe suami yang suka jajan di luar."


Ghina melotot, lalu menimpluk Fatih dengan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengelap wajahnya.


"Heh, sama suami kayak gini kelakuan?" heran Fatih dan mengusapkan handuk itu ke wajahnya pula.


"Ih, handukku, jangan di pake!" larang Ghina.


"Salah siapa lempar-lempar."


"Fatih!"


"Shuut, nanti tidur Ibumu keganggu kalau suaramu cempreng gitu."


"Kamu yang bikin gara-gara sih," sebal Ghina dan mendudukkan dirinya di sofa.


"Ada benernya kata Kakakmu, kita harus bicarain tentang kuliah kita, dan kita ke depannya," ucap Fatih serius. "Bukannya kamu pernah bilang, mau bicarain ini juga 'kan?"


Ghina menatap suaminya, sebenarnya ia sendiri tidak ada masalah tentang kampus yang berbeda dengan Fatih. Hanya saja, yang menjadi gangguan di pikirannya adalah hubungan ia dan Fatih ke depannya. Apakah mungkin bisa di katakan kini mereka benar-benar suami istri?


"Aku nggak akan ubah keputusan. UIN titik! terserah kamu mau berubah apa nggak," kekeh Ghina sambil melipat tangannya di dada.


"Oke, berarti aku yang harus mikirin itu. Terus, hubungan kita?" tanya Fatih.


"Kita ..." ucapan Ghina tergantung, ia juga bingung harus menjawab apa. "Kita ya suami istri."


"Kamu nggak ada niatan untuk cerai dari aku 'kan?" tanya Fatih dengan tatapan matanya yang tajam. "Walau, mungkin ada seseorang yang kamu tunggu."


Netra Fatih beralih ke dada Ghina, ia tersenyum getir begitu sadar akan fakta bahwa di dalam hati Ghina tidak ada nama dirinya.


"A-ku masih mikir," balas Ghina setelah mereka saling terdiam. Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok Imran di sana.


"Lama banget sih dandannya," protes Ghina. Imran hanya terkekeh.


"Kalau dandan simple aja, udah ganteng duluan kok. Kakak ada urusan tadi, jadinya lama. Maaf ya adikku tersayang," ucap Imran dan berjalan ke arah sofa. Ia menghempaskan tubuhnya sambil membawa beberapa bingkisan.


"Apa ini?" Ghina penasaran dan hendak membuka plastik.


"Buah kesukaanmu."


"Beneran?" tanya Ghina dengan mata yang berbinar.


Imran mengangguk. Fatih tersenyum melihat ekspresi Ghina yang seperti anak kecil, benar-benar menggemaskan. Belum pernah ia melihat wajah istrinya seperti itu.


"Ya udah Bang, udah malam, maaf aku nggak bisa ikut nginap Bang." Fatih beranjak dan berpamitan.


"Iya nggak papa, makasih ya udah nemenin Ghina. Oh ya, salam untuk Kyai dan Ummimu."


"Iya Bang."


Fatih melirik Ghina sekilas, pembicaraan tadi sebenarnya belum memuaskan dirinya, tapi sepertinya Ghina juga masih bingung untuk membicarakannya. Ah sudahlah nanti saja.


Imran mengisyaratkan dengan matanya agar Ghina mengantar Fatih hingga keluar.


"Hati-hati Fath," ucap Imran saat Fatih sudah berada di ambang pintu dan di susul oleh Ghina.


"Besok, kamu mau minta di bawakan apa? nanti biar aku minta Ummi masakkan buat kamu," ucap Fatih ketika mereka berjalan di lorong rumah sakit.


"Nggak usah repot-repot, kasian Ummi," tolak Ghina halus.


"Kamu tuh, paling pinter kalau nolak," keluh Fatih.


"Emang aku nggak mau aja ngerepotin. Udah ah, kamu nggak kesini juga nggak papa besok. Pasti sibuk juga 'kan di pesantren?" dalih Ghina.


"Nggak tuh, aku masih punya waktu luang kalau untuk istri," kilah Fatih.


"Ck, terserahmu."


"Iya dong, masa aku biarin istri sedih di sini. Maaf ya nggak bisa nginep bareng kamu di sini, padahal pengen deh, sekali-kali tidur bareng," goda Fatih yang membuat Ghina mencubit lengannya.


"Gombalan basi!"


"Aw, canda lah."


"Hati-hati di jalan," ucap Ghina saat mereka sudah berada di teras utama rumah sakit. Fatih mengangguk dan melambaikan tangannya sebelum benar-benar pergi menuju parkiran.


Yuhuu.. maaf ya otor baru bisa up lagi, karna kondisi belum fit betul. Tapi yang penting, hubungan Ghina dan Fatih ada kemajuan hihi


yang suka ceritanya jan lupa share ke yang lain

__ADS_1


__ADS_2