
Jantung Ghina semakin berpacu cepat. Ia rasanya bulir keringat yang mengalir dari pelipisnya. Bahkan AC ruangan pun tak mampu membuat badannya rileks. Pak Adam, pasti tahu tentang persoalannya ini.
"Silakan duduk Pak Adam," ucap Ibu Masyitah dengan senyuman ramah. Pak Adam menggeser kursi plastik yang berada di pojok ruangan. Lalu duduk di dekat sofa yang di duduki Fatih.
Ternyata tidak hanya Pak Adam yang ikut ke BK. Tapi juga Pak Malik, guru pendidikan agama Islam. Rasanya Ghina hendak kabur saja jika dirinya tidak memiliki sopan santun lagi. Ghina benar-benar merasa seperti seorang tersangka di sini. Ia melirik Imran yang nampak tenang.
Imran menjabat tangan Pak Adam dan Pak Malik bergantian dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Silakan Pak Adam," ucap Ibu Masyitah. Pak Adam menatap Ghina yang tengah menunduk.
"Ekhem, bismillah. Ghina apa kabar?" tanya Pak Adam sembari menatap Ghina, masih dengan senyuman.
"Alhamdulillah sehat Pak," lirih Ghina. Wajahnya bahkan tak berani untuk menatap mata guru-guru yang kini seolah tengah menghakiminya.
"Fatih, gimana kabarnya?" tanya Pak Adam, matanya kini beralih ke Fatih.
"Baik Pak," ucap Fatih dengan senyuman.
"Saya disini mau ikut mendengar penjelasan dari kalian tentang berita itu. Jujur, kami pihak guru sangat kaget sekali mendengarnya. Tapi, insyaallah, jika ada penjelasan yang dapat diterima dari kalian, mungkin kita bisa menemukan solusi untuk permasalahan ini," ucap Pak Adam. Semua yang berada di ruangan manggut-manggut.
Saking cepatnya berita tentang Ghina dan Fatih yang berbuat mesum di sekolah tersebar, membuat guru-guru turut menjadikan isu itu menjadi bahan 'trending topic' mereka di ruang guru.
Setelahnya Ibu Masyitah mengungkapkan maksud dari di undangnya wali murid ke sekolah. Tentunya membicarakan perihal berita itu.
"Tenang aja Na, Bapak nggak bakal ngapa-ngapain kamu. Adanya Bapak di sini cuma mau minta penjelasan kamu tentang berita itu. Karena namamu juga bagian dari anggota eskul yang Bapak bina," ucap Pak Adam yang melihat gelagat Ghina tidak baik-baik saja dan wajahnya yang memucat. Wajah Pak Adam yang teduh itu membuat Ghina setidaknya sedikit lega.
Ghina mengangguk, ia sadar telah mencoreng nama baik Rohis KSI (Kelompok Studi Islam) yang dibina oleh Pak Adam dan di ketuai oleh Ilham Pradipta.
"Jadi, mungkin bisa kalian ceritakan kejadian sebenarnya," ucap Pak Adam sembari menatap Fatih dan Ghina bergantian. Akhirnya Fatih maupun Ghina bercerita untuk kedua kalinya di depan guru. Tentunya dengan kejujuran dan tidak ditambah atau di kurangi.
"Jadi, persoalan ini memang serius. Dan sekolah harus bertindak untuk menyelesaikan. Dan sesuai apa yang dikatakan keduanya, kalau itu adalah fitnah semata. Biasa, kalau anak murid saling musuhan, ya masing-masing cari cara untuk menjatuhkan. Tapi, masalahnya saya juga nggak bisa berbuat apa-apa, soalnya pelakunya nggak tahu. Dan Fatih nggak mau bilang juga," ucap Pak Malik sembari tersenyum.
"Saya sebagai guru agama tentunya sangat terkejut mendengar berita itu. Apalagi di kantor juga guru-guru ribut membicarakan itu. Jadi, daripada mendengar berita yang belum tentu kepastiannya, lebih baik saya langsung mendengar klarifikasi dari kalian berdua," tambahnya.
"Jadi permasalahan jelas ya. Ini ketidaksengajaan. Alhamdulillah pihak sekolah pun jadi lega," ucap Pak Adam diamini oleh orang-orang yang berada dalam ruangan. Ghina merasa lega karena pihak sekolah memberikan kepercayaan mereka.
"Saya sempat percaya jika Fatih memang melakukannya Bu dan tentunya pesantren yang dapat citra negatif dari masyarakat. Apalagi Fatih juga salah satu pengajar di pesantren Abi Zafran," jelas seorang laki-laki yang setelah berkenalan beberapa menit lalu ternyata adalah Kakak Ipar dari Fatih.
"Iya, nanti biar pihak sekolah yang meluruskan kesalahpahaman di area sekolah Pak Maheer. Semoga rumor yang tersebar di pesantren juga mereda ya Pak. Saya juga turut menyayangkan hal tersebut," ucap Ibu Masyitah pasti.
Setelahnya berlanjut dengan obrolan-obrolan membahas tentang aturan sekolah juga nasihat-nasihat kepada Fatih dan Ghina.
Ghina menghela nafas lega, ia pikir tadi dirinya akan di sidang oleh guru-guru itu, ternyata tidak.
Setelah pertemuan itu selesai tepat di jam mata pelajaran kedua. Ghina dan Fatih langsung menuju kelas, sementara Imran meneruskan pembicaraan dengan Kakak Iparnya Fatih yang bernama Maheer dan mereka memutuskan untuk mengadakan pertemuan keluarga.
__ADS_1
"Gimana tadi Na?" tanya Renata begitu melihat Ghina masuk ke kelas dan duduk tepat di sampingnya.
"Alhamdulillah, sekolah percaya kalau aku sama Fatih nggak ngelakukan hal itu."
"Terus, pelakunya sudah di tangkap?" tanya Renata dengan kerjapan matanya berkali-kali.
Suara salam dari seseorang menghentikan percakapan mereka. Guru bahasa Indonesia, masuk kelas. Renata mendengus.
"Nanti ceritanya," ucap Ghina dan mulai mengeluarkan alat tulisnya
Jam istirahat pertama, Renata dan Ghina tidak pergi ke kantin. Mereka hanya menghabiskan waktu bercerita tentang keadaan Ghina saat diruangan BK.
"Aku pikir Pak Adam dan Pak Malik akan menyidangku," cerita Ghina.
"Lah kamu nggak baca berarti chat di grup KSI?" tanya Renata terkejut. Karena tadi malam Pak Adam dan beberapa anggota membahas hal tersebut, salah satunya Ilham.
"Emang kenapa? aku langsung tidur tadi malam, nggak sempat ngecek grup," tutur Ghina tak mengerti.
"Mereka membahas kasusmu itu. Ilham yang mengawali. Dia minta agar melakukan tabayun dulu beritanya," jelas Renata.
"Hah? beneran? astaghfirullah." Ghina menepuk pelan pipinya. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa malu, terhadap Ilham. Jadi laki-laki itu justru membantunya agar anggota Rohis tidak percaya begitu saja perihal berita fitnah itu. Ghina, sungguh dirimu keterlaluan. Makinya dalam hati.
"Kenapa Na?" Renata mengangkat alisnya, tangannya mengetuk-ngetuk pulpennya ke depan dagu, menunggu penjelasan Ghina.
"Nggak papa, aku bersyukur mereka percaya. Pak Adam juga percaya," ucap Ghina dengan senyuman yang terbit di wajahnya. Renata turut menyungging senyum lebar, ia juga turut senang.
"Mereka cuma ngasih nasihat-nasihat gitu."
"Syukurlah. Yang penting, sekolah udah percaya kalau berita itu hoax. Emang ya, berita yang penyebarannya banyak dan terus menerus, kalau pun itu hoax tetep aja bakal ada orang-orang yang percaya," ujar Renata miris. Namun ia menepuk dadanya menandakan bahwa dirinya lega saat ini.
Ia melihat ke sekeliling. Di kelas, masih ada Fitri the geng yang tengah bersolek ria di kursi-kursi ujung ruangan kelas. Mereka memang paling hobi duduk di belakang.
"Teman-teman semua. Dengarkan!" Renata berdiri dari kursinya. Ia meneliti satu-satu wajah teman-teman sekelasnya. Ia melipat bukunya menjadi seperti toa, lalu melanjutkan, "sekolah udah percaya kalau berita Ghina dan Fatih adalah hoax! jadi, stop suuzon sama Ghina dan stop menggibah dia!" tekannya.
"Alhamdulillah," ucap beberapa teman sekelas mereka.
"Sekolah cuma kasian aja tuh sama Ghina, kalau membenarkan berita itu, Ghina dan Fatih 'kan bisa di tendang dari sekolah!" celetuk Fitri yang membuat beberapa teman sekelasnya geleng-geleng. Sedangkan Renata menatap tajam ke arah perempuan itu.
"Bukannya seneng temen kita selamat dari ancaman DO, kamu malah dengki. Makananmu apa sih Fit? jadi manusia kok nggak punya hati!" hardik Renata dengan gebrakan di bangkunya. Ghina menepuk pelan lengannya dan menggeleng.
"Sudah Ren, nggak usah di gubris," nasihat Ghina. Ia lelah menghadapi bulian. Hanya ingin diam. Membiarkan pembicaraan negatif apapun tentang dirinya. Yang terpenting, sekolah sudah percaya dan akan mengklarifikasi di depan semua murid SMK Angkasa.
Renata duduk, ia menahan nafas. Fitri the geng selalu saja membuat amarahnya mengepul.
"Nanti Pak Adam juga mau klarifikasi sama anak Rohis yang lain sore ini," lanjut Ghina.
__ADS_1
"Iya itu harus, biar anggota rohis pada percaya kalau kamu bukan cewek yang nggak bener," ucap Renata. "Juga biar Ilham tahu kebenarannya, dan tentunya dia memang merasa janggal dengan berita itu."
"Tadi aku ketemu dia," ucap Ghina, saat berjalan di koridor depan kantor, ia sempat berpapasan dengan Ilham yang membawa tumpukan buku.
"Dia ngomong apa?" tanya Renata.
"Aku yang duluan ngomong."
Ghina mulai bercerita kilas balik saat dia bertemu dengan Ilham di koridor.
Fatih sudah melenggang pergi. Ghina hanya berjalan pelan, seperti mengulur waktu untuk ke kelas. Matanya menangkap dari kejauhan seseorang yang berjalan semakin mendekat. Mendadak angin yang bersemilir terasa dingin dan menusuk kulit.
"Ham."
Ilham menghentikan langkah. Tersenyum sumir.
"Ada apa?" tanyanya dingin.
"Kamu percaya sama berita itu?" tanya Ghina lirih, namun Ilham tetap bisa mendengarnya. Jarak mereka hanya sekitar lima meter. Berhadapan.
"Sepanjang nggak ada klarifikasi, aku hanya ingin mempercayai apa yang aku ingin percaya," ucap Ilham yang membuat hati Ghina merasa tertohok. Apakah Ilham tidak mempercayainya?
"Maksudmu, kamu percaya kalau aku ngelakukan itu?" tanya Ghina dingin.
"Menurutmu?" Ilham justru bertanya balik yang membuat Ghina membuang muka.
"Baiklah, apapun yang ada dalam pikiranmu. Aku nggak berhak tau," tukas Ghina kemudian melangkah lebih dulu meninggalkan Ilham.
Tangan Ghina terkepal erat, entah mengapa rasanya hatinya terluka ketika mengetahui bahwa Ilham tak mempercayainya. Padahal ia berharap, Ilham percaya padanya dan membantunya menyelesaikan kasus jika perlu. Segera menangkap orang yang dengan tega memfitnahnya.
"Tapi kamu ketua Rohis Ham! harusnya cari tahu dulu berita yang benarnya! jangan langsung nuduh!" Ghina berbalik dengan wajah kesal. Ia melampiaskan marahnya pada Ilham, membuat laki-laki itu mundur beberapa langkah dan mengangkat alisnya heran.
"Hubungannya aku sebagai ketua Rohis dan kasusmu apa?" tanya Ilham seolah menguji kesabaran Ghina, ia memperbaiki tumpukan buku-buku yang berada ditangannya.
"Setidaknya, kamu bisa bicarakan baik-baik sama anggota, kalau berita tentang aku itu bisa jadi hoax semata, nyatanya kamu nggak gitu dan justru mempercayainya," jelas Ghina dengan penuh tekanan.
"Kapan aku bilang percaya?" Ilham seperti hendak tertawa melihat wajah Ghina yang merah padam.
"Kamu! sudahlah, aku lelah." Ghina berbalik lagi dan kini benar-benar pergi dari hadapan Ilham.
"Aku malu Ren." Ghina menutup wajahnya mengingat kejadian saat ia marah-marah pada Ilham.
Hai teman-temans...
Btw karya ini aku ikut sertakan lomba yang diadakan oleh noveltoon, yuk dukung aku dengan vote + like dan coment.
__ADS_1
Makasih....