Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Ujian di UKS


__ADS_3

Mata Ghina dan Ilham saling bersitatap sekilas dengan masing-masing bibir yang mengembangkan senyuman sebagai bentuk sapaan.


"Kita seruangan sama Ilham juga?" tanya Ghina yang memang belum tahu jika Ilham ternyata di ruangan yang sama dengannya.


"Iyap, sama Fatih juga," balas Renata semangat. Ia merasa antusias untuk mengisi soal ujian karena ada moodboster cogan di sekelilingnya.


"Aku nggak tanya tentang dia," ucap Ghina datar yang membuat Renata meringis.


"Tadi pagi, heboh banget ciwi-ciwi yang nggak seruangan sama Fatih dan Ilham. Mereka iri katanya, di ruangan kita bisa ada dua cogan sekaligus," cerita Renata dengan semangat.


"Terus?"


"Ya gitu deh. Lebay aja gitu. Tapi, aku juga seneng sih, bisa cuci mata. Eh, astaghfirullah." Renata menutup mulutnya sendiri yang salah bicara itu.


Ghina hanya berdecak tidak peduli. Matanya sempat melirik ke arah bangku Fatih. Pria itu hanya diam membaca buku di tangannya. Tidak ada Riki yang biasa menemaninya. Sepertinya mereka terpisah ruangan.


Dua orang pengawas berjenis kelamin laki-laki masuk. Satu dari mereka berwajah ramah, satunya lagi sedikit cemberut. Yang jelas, semua murid yang ada di kelas tidak mengenal dua pria itu karena mereka diambil dari sekolah tetangga. Setiap tahun memang selalu diadakan pertukaran pengawas antara SMK Angkasa dengan sekolah lain yang sederajat.


Waktu berlalu dengan cepat, jika semua peserta ujian fokus mengerjakannya. Hanya saja, tidak bagi Ghina. Ia merasa kakinya sedikit ngilu karena hampir satu jam duduk dan mengerjakan soal-soal yang narasinya sepanjang rel kereta api. Mungkin terdengar berlebihan, tapi cocok sekali melukiskan soal Bahasa Indonesia yang rata-rata berisi cerita.


"Argh," ia melenguh pelan saat ngilunya bertambah. Semoga tidak ada siswa yang terganggu karena sakitnya. Pingganggnya sedikit ia geser untuk mencari kenyamanan.


"Pak!"


Seseorang bersuara, Ghina langsung menoleh dan ternyata Fatih. Semua orang menoleh ke arahnya, termasuk Ilham yang duduk dua bangku di depannya.


"Saya liat, temen saya kesakitan, dia baru aja kecelakaan. Bisakah mengerjakannya di ruangan yang lebih nyaman? semisal UKS? di sana ada kasur, dia bisa sambil rebahan," jelas Fatih serius menatap kedua pengawas yang saling berpandanganan.


"Oh yang pakai tongkat itu ya?" tanya salah satu pengawas.


Fatih mengangguk, sedangkan Ghina hanya menatap tajam pada Fatih. Sebenarnya, pihak sekolah sudah menanyakan sehari sebelumnya perihal kondisi Ghina dan menanyakan apakah Ghina sanggup untuk duduk berlama-lama di ruang ujian tanpa mengganggu sakit yang dideritanya. Tapi, ia dengan mantap mengatakan, bahwa dirinya bisa ikut ke ruangan dan menyelesaikan soal hingga akhir. Walau kenyataannya tidak demikian.


"Pihak sekolah memang ada menginfokan bahwa ada siswa yang habis kecelakaan. Siapa namanya?" tanya pengawas yang wajahnya ramah.


Ghina menjawab, "Ghina Izzati Pak. Tapi saya baik-baik aja." Ia menolak pernyataan Fatih.


"Beneran? kalau nggak, biar ke ruangan UKS, nanti ada yang ngawas di sana," ucap pengawas itu.


"Saya merasa baik-baik aja," tolak Ghina. Masih dengan keputusannya.


"Tadi saya denger dia mengaduh, khawatirnya mengganggu konsentrasi yang lain." Fatih memberi alasan agar Ghina mau menuruti permintaannya kali ini.


Dan skakmat, Ghina tidak bisa lagi protes saat teman-temannya yang lain menganggukkan kepala. Bukan berarti membenarkan bahwa Ghina mengganggu konsentrasi, tapi merasa iba karena Ghina terlihat kesakitan di tempatnya.


Ghina menatap nanar ke arah Renata yang juga mengiyakan. "Gapapa, kamu di UKS aja Na. Demi kesehatan kamu," ucap Renata seraya meraih tangan Ghina yang menumpu di mejanya.


"Tapi Ren, aku pengen di sini," ucapnya, tapi matanya melirik ke arah Ilham yang membuat Renata mendesah pelan.


"Besok, masih ada kesempatan satu kelas sama dia 'kan?" tanyanya, bukan berniat menggoda padahal. Tapi Ghina merasa Renata tengah melakukannya. Renata tiba-tiba seperti cenayang yang mengerti tatapan Ghina.


"Ih apaan sih kamu," protes Ghina dan mencoha berdiri dan akhirnya di bantu oleh Renata.


Ghina akhirnya pasrah, ia mengerjakan soal ujian terpisah dari yang lain. Ah, mengapa tiba-tiba ia menyesal karena sakit yang dia alami saat ini. "Ya allah, ampuni aku," lirihnya.


Setelah satu jam berlalu, Ghina akhirnya menyelesaikan semua butir soal yang cukup memusingkan kepalanya.


Tak lama, Renata datang dengan segudang rasa penasaran. Bukan karena ingin mengetahui bagaimana keadaan Ghina selama di UKS, tapi ingin segera mencocokkan jawaban soal Ujiannya dengan Ghina.


"Gimana Na, soalnya tadi?" tanya Renata ngos-ngosan. Ia menyeka peluh di dahinya seraya mendudukkan diri di kasur.


"Gimana apanya? udah selesai 'kan?" Ghina malah balik bertanya. Ia hendak beranjak dari sana karena sudah bosan dengan aroma obat di UKS.

__ADS_1


"Eit, tunggu dulu. Kita bahas jawaban dulu. Aku kesulitan di beberapa nomor," tahan Renata dengan menatap Ghina serius. "Ya, please? biar aku nggak penasaran lagi."


"Nomor berapa emang?" tanya Ghina malas.


"Nomor dua belas. Itu tentang kalimat utama. Bingung aku jawabannya semua sama haha." Renata tertawa sendiri membayangkan lima pilihan jawaban itu menurutnya semua sama. Akhirnya ia pilih jawaban E, semua jawaban benar.


"Jawabanku A, karena itu yang paling tepat, sesuai dengan tips menjawab soal kalimat utama dengan mudah. Seringnya di awal kalimat," jawab Ghina.


"Beneran jawabannya itu? astaghfirullah." Renata mendesah berat. "Yah, salah satu udah."


Mereka membahas soal yang Renata merasa ragu didalamnya hingga beberapa menit kemudian. Setelah di rasa Renata sudah dapat semua jawaban dari rasa penasarannya. Ghina mengajak pulang.


"Ayo pulang, angkotku adanya jam sepuluh, ini tinggal beberapa menit," ucap Ghina dan beranjak dari duduknya dengan hati-hati. Ia meraih tongkatnya di bantu oleh Renata.


"Aku anterin aja," tawar Renata. Tapi lagi-lagi selalu di tolak oleh Ghina.


"Nggak usah. Kamu langsung pulang aja, sayang, waktu belajar kepotong cuma gara-gara anterin aku, 'kan kamu jadi lebih lama di jalan," papar Ghina yang membuat Renata mendesah.


"Selalu aja, ih. Aku pengen main kerumahmu kali. Sekalian belajar," gerutu Renata yang membuat Ghina terkekeh pelan.


"Kasian Ibumu Ren--" perkataan Ghina terpotong saat Renata menyela dengan mengulang perkataan Ghina yang biasa dikatakan padanya sebagai dalil setiap kali menolak ajakan tumpangan.


"Kasian Ibumu Ren, kamu itu mau nggak mau harus jadi anak yang betah di rumah, gitu 'kan pasti," tebaknya dan benar saja, Ghina mengiyakan.


"Tenang aja, aku anak kuat, tubuhku sehat," ucap Ghina sembari menirukan gaya lagu anak gembala. "So, calm. And let's go home."


Renata mendesah, saat mereka keluar. Terlihat Fatih tengah berjalan di koridor kantor dan melihat Ghina dari sana. Dengan cepat, Fatih menghampiri mereka.


"Na, ayo pulang sama aku," ajak Fatih. Ghina menggeleng, tanda jika ia menolak.


"Udah sepi juga sekolahan," ucap Fatih lagi.


"Iya bener Na, lagian udah sepi juga. Kalian bebas aja mau pulang sama-sama. Fath, Ghina sama kamu aja, aku kasian kalau dia kesusahan di angkot. Pas nanti sakit," papar Renata dengan wajah khawatirnya.


"Kejar Fath, aku tawarin tadi juga nggak mau. Heran aku," keluh Renata. Ia berjalan pelan menyusul langkah Ghina.


"Na, aku nggak bisa pulang nih sampe kamu bener-bener aman naik angkot," ucap Renata saat mereka sudah berada di pinggir jalan.


"Pulang aja, bentar lagi angkot lewat kok. Tenang aja." Ghina tersenyum untuk menenangkan Renata. Menandakan bahwa dia baik-baik saja.


"Susah banget luluhin hati kamu Na," gumam Renata. Ia tidak habis pikir, mengapa ada manusia sekeras batu seperti Ghina. Tapi, tetap saja, ia merasa nyaman berteman dengan gadis itu.


"Aku mau nungguin kamu pokoknya." Renata mencoba untuk membuat Ghina mau menumpang dengannya.


"Ya udah, gitu aja sampe angkotku datang, kalau kamu mau. Tapi, konsekuensinya, ya kamu tega sama Ibu kamu. Nanti, kalau Ayah kamu di rumah butuh apa-apa gimana?" Ghina malah menakut-nakuti Renata dan membuat gadis itu lagi-lagi mendesah.


"Ya udah deh, kalah aku huuu." Renata pura-pura menangis. "Beneran, kamu nggak papa? masalahnya toko ATK nya Fatih tutup hari ini, nggak ada mereka yang biasa nongkrong di sana."


"Yap, nggak papa. Rame aja kok orang lalu lalang."


"Iya, aku pulang ya. Assalamualaikum," pamit Renata akhirnya.


Tidak berselang lama, Fatih menghampiri Ghina dengan sepeda motornya. "Ayo naik," titahnya.


"Kamu nggak denger tadi aku bilang apa?" tanya Ghina kesal. Tentu, ia masih merasa marah karena kelakuan Fatih di ruangan ujian tadi. Gara-gara laki-laki itu, ia harus mengerjakan soal di UKS, sendirian.


"Masih marah gara-gara tadi?" tebak Fatih. Namun Ghina hanya terdiam dan cukup membuat Fatih mengetahui alasan Ghina yang bersikap dingin padanya.


Mereka terdiam. Hanya deru mesin motor Fatih yang terdengar.


"Aku minta --" perkataan Fatih terpotong saat seseorang datang.

__ADS_1


"Na, kok masih di sini?" tanya seseorang yang menghentikan sepeda motornya. Dia Ilham, matanya melirik Fatih sekilas.


"Aku nunggu angkot," balas Ghina singkat. Namun tidak dengan nada dingin. Beda sekali ketika berbicara dengan Fatih.


"Ini Fatih, lagi apa di sini?" tanya Ilham kepada Ghina.


"Dia cuma nawarin tumpangan, ya aku nggak mau lah. Emang aku fansnya yang mudah di gaet kemana-mana," ucap Ghina terdengar kesal. Memang, Ghina tidak berbohong. Fatih memang menawari tumpangan dan ia menolak.


Ilham terlihat tidak suka. "Ngapain masih di sini Fath, kalau tau Ghina nggak mungkin mau kamu ajak?" tanya Ilham yang terdengar menyindir.


Fatih menyeringai. "Bebas dong, ini wilayah umum. Mau aku rebahan di sini kek, joget di sini kek, ya terserah 'kan?"


Ilham tersenyum sedikit sinis, "Kamu ternyata pintar cari alasan. Oh ya, untuk pemilihan kemarin, kita jadi satu tim 'kan? aku perlu membicarakan sesuatu sama kamu," ucap Ilham.


"Harus sekarang ya bro bicarainnya?" tanya Fatih dengan mata memicing.


"Ya," balas Ilham mantap.


"Oke, karena kamu ketua tim, suatu kehormatan tersendiri, bisa ngomongin strategi tanding, berdua sama kamu. Oh ya, kita belum pernah ngopi bersama, yuk ke tokoku," ajak Fatih enteng dan memutar sepeda motornya.


Ilham mengiyakan setelah melirik dan tersenyum sekilas pada Ghina. Tidak lama, angkot yang Ghina tunggu sudah datang. Ia naik dengan perlahan, dan aktivitasnya itu tidak luput dari perhatian dua orang lelaki di toko ATK.


"Nah, silakan di minum." Fatih menyuguhkan segelas kopi Moccachino.


"Makasih," balasnya singkat dan dingin.


"Jadi, mulai dari mana ketua?" tanya Fatih sopan, sambil menyesap teh hijau miliknya.


"Kamu yang mulai. Mau ngasih opsi strategi seperti apa," balas Imran. Ia menatap ke depan. Tepatnya ke jalan raya.


Fatih terlihat berfikir. "Strategi pertandingan nanti, aku pikir lebih baik membicarakannya langsung sama tim. Tapi, aku nggak keberatan, kalau kita ngomonginnya sekarang." Fatih berusaha memancing dan menebak-nebak, apa maksud Ilham tiba-tiba ingin membicarakan tentang latihan futsal. Padahal, teknik atau pun strategi harusnya langsung saja di bicarakan bersama tim. Fatih tidak bodoh, Ilham pasti sengaja membuat dirinya pergi dari tempat Ghina tadi. Atau ada sesuatu yang memang ingin di sampaikan laki-laki itu.


"Baiklah, sebaiknya bersama tim," ucap Ilham yang membenarkan dugaan Fatih sebelumnya. Pasti, ada sesuatu yang mau Ilham sampaikan padanya.


"Hahaha, oke, santai aja." Fatih tertawa. Ia kembali menyesap tehnya.


"Fath, aku tau gimana kamu selama ini walau kita nggak saling kenal dengan baik." Ilham memulai pembicaraannya.


Fatih manggut-manggut. Membenarkan ucapan Ilham, siapa yang tidak tahu dengan Fatih anak Futsal, suaranya merdu, ganteng, anggota OSIS, anak Kyai lagi.


"Kalau kamu cuma mainin Ghina, aku saranain, berhenti dari sekarang."


Entah ancaman atau apa, tapi Fatih merasakan nada suara Ilham tegas dan tajam.


Fatih tertawa pelan. Dari dulu hingga sekarang, tak pernah terbersit dalam pikirannya untuk memainkan cewek sebaik Ghina, justru kini ia langsung mengambil tindakan serius dengan menikahinya. "Ya nggak lah, aku kenal Ghina dengan baik. Hampir, satu tahun kami sekelas."


"Kita sesama lelaki Fath. Tau yang mana modus yang mana nggak," ucap Ilham yang membuat Fatih justru semakin terbahak.


"Hahaha, ketua. Kamu nggak lagi ngakuin perasaanmu sama Ghina 'kan di depanku?" tanya Fatih dengan seringaiannya.


Ilham tampak terhenyak sesaat. Tapi, detik berikutnya ia tersenyum santai. "Aku cuma ingetin aja. Dia cewek baik-baik. Kalau sampai terjadi hal yang diluar kebiasaan dia, atau melenceng istilahnya. Ya, nama dia jadi buruk. Cukup, peristiwa kemarin, membuat dia di buli dan merasa sedih."


Fatih berdehem pelan. Matanya melirik ke arah Ilham yang sedari tadi tidak mau menatapnya. Hanya menatap ke depan.


"Kenapa?" tanya Fatih ambigu. Tapi, ia tahu, jika Ilham memahami pertanyaannya.


"Apanya?" Ilham balik bertanya. Oh ternyata Imran pura-pura tidak mengerti dan hal itu lucu menurut Fatih.


"Kamu peduli sama dia?" tanya Fatih dengan alis yang terangkat sebelah.


Ilham menoleh, tatapan mereka yang sama-sama tajam bertemu.

__ADS_1


Wah, Fatih sama Ilham mulai panas nih? aduh, author yang gregetan malah🤭


Yang suka ceritanya, yuk vote, like, komen. Oh ya, jan lupa share cerita ini ke yang lain yaaa🤗


__ADS_2