
Mata istri Fatih itu melotot. Bukannya mereka sudah saling sepakat untuk tidak berbagi kamar? ya, karena Ghina yang meminta sendiri. Lalu, mengapa kosannya hanya berisi satu kamar? siapa yang mau tidur di luar?
Ghina berbalik, hendak berjalan entah ke arah mana, mendadak pikirannya kacau membayangkan harus setiap saat berduaan di kamar bersama Fatih.
"Eh, mau kemana?" tahan Fatih, sambil mencekal lengan Ghina.
"Cari udara, gerah rasanya."
"Sory ya, aku cuma bisa sewa yang ini, awalnya mau yang dua kamar, tapi biayanya dobel."
Ghina menghela nafas, ia sedikit kasihan melihat raut wajah suaminya yang meringis.
"Tapi, kita nggak bisa tidur satu kamar," lirih Ghina. "Terus, siapa nanti yang mau tidur di luar? aku gak mau."
"Kamu takut hal yang diinginkan terjadi?" tanya Fatih sinis.
"Fatih!"
"Nggak, aku akan buat kamar di ruang tamu. Tenang aja."
"Aku pegang omongan kamu."
Ghina mendengus pelan. Lantas menyeret koper sambil berjalan duluan di depan Fatih. Ia sudah memegang satu kunci cadangan untuk kos barunya.
"Bentar."
"Apalagi Fath?!"
"Jangan minta uang saku dari Kakakmu kalau aku masih mampu ngasih kamu nafkah."
Ghina terpaku. Matanya bertatapan dengan netra elang milik laki-laki di depannya. Mereka mematung sesaat. Fatih bergerak maju dan mendekat. Membuat tubuh Ghina terpojok dan bersender di depan pintu.
"Awas kalau kamu macam -macam." Ghina mengambil ancang-ancang untuk menjotos Fatih.
"Lambat, aku pengen cepet masuk. Istirahat." Fatih merogoh kunci dari saku celananya, memasukkannya ke lobang kunci dan memutar kenop pintu. Terbukalah kosan sederhana itu, menampilkan suasana yang biasa saja dan tidak ada furniture apapun di sana. Selain meja kecil di sudut ruangan.
"Emang nggak mungkin ada fasilitasnya ya. Syukurlah kita udah bawa dari rumah."
"Ya begitulah. Masuk."
"Kenapa malah tiduran? tuh Pak Udin masih nungguin di depan."
"Oh, aku hampir lupa."
"Kalau Pak Udin berkenan, bisa bantu-bantu masukin benda-benda itu Pak?" tanya Ghina.
"Tentu."
Fatih dan Pak Udin mengangkat lemari, lalu alat-alat masak dan dua kasur. Ghina mengambil barang-barangnya yang juga masih tertinggal di bagian belakang pick up itu.
"Pak Udin, mau dibuatkan kopi dulu?" tawar Ghina.
"Nggak usah Neng. Bapak nanti ngopi di jalan aja. Sambil makan siang."
"Baiklah, terimakasih Pak."
"Iya sama-sama."
Ghina mulai menata barang-barangnya. Mulai dari meja belajar, buku-buku sampai baju-bajunya yang ia susun di lemari yang ia bawa dari rumah. Sedangkan Fatih, laki-laki itu tidak terlalu banyak membawa barang. Memang, laki-laki amat simple dan tidak suka ribet.
Suara murrotal dari Masjid terdengar. Ghina melirik jam di ponselnya. Menunjukkan pukul dua belas pas.
"Akhirnya selesai, tiga puluh menit lagi zuhur." Ghina merebahkan diri. Menatap langit-langit kamar. Ia sebelumnya tidak pernah membayangkan di kos pertamanya bukan dengan teman perempuannya tapi justru dengan suaminya. Renata? apa kabar anak itu. Mungkin, setelah kuliah mulai aktif intensitas bercakap antara dirinya dan Renata akan terpangkas. Oleh waktu dan jarak tentunya.
Klung
[Sudah sampai tujuan Na?]
__ADS_1
[Alhamdulillah sudah. Baru selesai beres-beres.]
[Fotokan, aku pengen liat.]
[lampiran foto]
[Berapa harga sewanya?]
[600 ribu]
[Lengkap sama air dan listrik?]
[Lengkap. Kamu gimana di sana? maaf aku nggak sempat pamitan ke rumahmu sebelum berangkat.]
[Santai aja kali. Aku di rumah baik-baik aja. Berjualan gorengan di pasar, seperti biasa. Na, hati-hati ya di sana.]
[Aku 'kan nggak sendirian di sini]
[Hatimu maksudnya. Di jaga hehe. Kasian Fatih, kalau tiba-tiba kamu ketemu mantan di sana]
[Naudzubillah, semoga nggak.]
[Berarti kamu sekamar sama Fatih?]
[Nggak]
[Kenapa? kalian suami istri?]
[Aku belum siap Ren.]
[Hahaha, rasakan serumah bersama jenius Fatih. Awas hilaf.]
[Ih enggak ah]
[Semoga segera lupa sama Ilham ya?]
[Aku lupa siapa itu]
[Hahaha, pura-pura lupa setelah mencampakkan. Nggak papa, ada aku untuk dia. Peace!]
[Iya, ambil aja sana. Gerogotin sekalian]
[Siap, kalau dia mau haha]
Ghina mendesah berat.
"Aku pamit mau ke masjid." Fatih melongok dari pintu kamar, membuat Ghina refleks melemparkan bantal ke wajahnya.
"Kalau mau masuk, ketok dulu pintu!"
"Yaya, maaf."
"Syukur aku masih berpakaian lengkap." Ghina terbangun dari posisi rebahannya. "Aku harus lebih hati-hati," tekannya lalu beranjak menuju kamar mandi.
Usai shalat Dzuhur dan tiduran sebentar, Ghina merasakan perutnya keroncongan. Ia mendesah, padahal hendak tidur siang. Tapi, jika lapar ia akan sulit untuk memejamkan mata.
Kakinya melangkah ke dapur kosannya yang sederhana. Di sana sudah ada kompor gas di atas meja, lalu wastafel, dan rak piring serta lemari yang berdiri di sudut sebelah kanan yang berisi bahan-bahan makanan.
Ghina menatap laci lemari di dapur yang berisi makanan kemasan instan, mulai dari Mie, Sardencis, Nugget hingga bumbu racik.
"Dia mau makan apa ya?" Ghina masih memindai lemari itu.
"Ah, kenapa aku jadi pusing cuma mikirin dia mau makan apa."
Tangannya mengambil dua bungkus Mie. Lantas menyalakan kompor. Mengambil air dari dispenser yang ia bawa dari rumah.
Dor!!
__ADS_1
Ghina terlonjak dari tempatnya begitu di kagetkan oleh suara menyebalkan itu. Siapa lagi kalau bukan Fatih Rafasya. Laki-laki itu tersenyum sebelah. Bergantian menatap Ghina lalu ke arah air yang mulai mendidih.
"Wah, seorang Ghina Izzati jadi ISIS." Fatih bertepuk tangan, sambil melongok untuk mihat apa yang dimasak istrinha
"Jangan mulai perang sama aku deh Fath. Apa? ISIS? kamu pikir, aku nyalakan kompor untuk ngebom kamu dan kosan ini?!" sarkas Ghina.
"Hahaha, bukan itu maksudku. ISIS, istri solehah idaman suami."
"Nggak lucu. Aku nggak suka gombalan recehmu."
"Baiklah-baiklah. Argh, perutku." Fatih mengaduh, memegang perutnya sendiri. Ghina menoleh setelah memasukkan mie ke dalam wajan.
"Kenapa Fath? mencret?" tanyanha
"Nggak. Perutku minta di elus sama kamu kayaknya Na."
"Bisa nggak, ngomongnya di jaga? kalau kamu mesum sekali lagi, wajan ini yang akan nampol wajah kamu."
"Nggak di sekolah nggak di rumah. Tetep aja ngeri."
Fatih melengos pergi. Akhirnya Ghina bisa dengan tenang memasak Mie yang tidak instan itu.
"Wah makasih Na. Kamu tahu banget perutku lapar."
"Makanlah."
"Terus kamu mau buat kamar model apa?" tanya Ghina di sela-sela makannya. Ia sebenarnya tidak bisa membayangkan bagaimana Fatih akan membuat kamar sendiri di ruang tamu.
"Tuh, aku siapin gorden. Nanti talinya di ikat dari ujung sana ke ujung sana." Fatih mengarahkan jari telunjuk, menunjuk dinding yang akan ia tempeli paku, untuk kemudian di kaitkan dengan tali memanjang, nantinya akan di beri gorden untuk kamar Fatih yang kecil.
Ghina manggut-manggut, seraya memasukkan mie ke dalam mulutnya. "Kapan Kakak mu berkunjung?" tanya Fatih.
"Belum ada ngabarin sih."
"Kalau udah ada, bilang aku."
"Kenapa bilang kamu segala. Kakakku 'kan bukan orang asing."
"Kamu mau kita ketahuan nggak sekamar?" Fatih tertawa mengejek, "terus nanti Kakakmu ngira kamu nggak hidup bahagia sama aku."
"Suuzon. Nanti aku kasih tahu kamu kalau dia kesini."
"Kamu kapan technical meeting?" tanya Fatih lagi
"Rabu."
"Udah punya kenalan?"
"Udah."
"Cewek atau cowok?" selidik Fatih.
"Jangan jadi penyidik dadakan."
"Aku cuma tanya. Seorang Ghina yang alim ternyata pelit informasi."
"Kamu sih, tanya-tanya kenalan aku cewek apa cowok. Dari SMK kamu tau sendiri kebanyakan temenku cewek. Aku nggak punya temen cowok malah."
"Ilham?"
Uhuk!
"Dia ketua rohis."
"Ya, sekaligus temen deket kan?"
"Udahlah gak usah bahas dia," kesal Ghina. Ia mengalihkan topik. "Jadi, besok kamu ke kampus Fath?
__ADS_1
"Iya."