Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Manis


__ADS_3

"Sudah kuduga, kalian pasti nikah terpaksa. Tiba-tiba gitu." Sella berbalik, menatap Ghina dengan seringai jahatnya.


"Emang apa urusanmu Sel?" Ghina balik menyeringai. Ia tidak ingin kalah dari mantan teman sekelasnya itu.


"Bagus dong. Aku jadi tau, kalian nggak saling cinta," jelas Sella sambil memperbaiki kerudung pashminanya. "Em, dengan gitu 'kan kesempatan aku sama Fatih, terbuka lebar."


Ghina tersenyum santai. "Kalau kamu bisa."


"Oh, nantang ya?" tanya Sella. "Kita emang temen, tapi kalau masalah ini, aku nggak akan kasih kendor Na. Siapkan hati kamu, akan aku pastikan Fatih membencimu dan meminta pisah dari kamu."


Mendengar penuturan Sella, Ghina sedikit terhenyak, namun sedetik kemudian ia tersenyum. Tidak penting sebenarnya, slaing bertarung hanya untuk memeperebutkan seorang laki-laki. "Kita liat nanti Sel. Kalau nggak ada kepentingan lagi di kosanku, silakan keluar," usirnya dengan nada dingin sambil telunjuknya mengarah ke pintu membuat Sella mencebik kesal.


"Lain kali, aku ke sini lagi," ucap Sella dan berjalan melewati Ghina begitu saja. "Oh, iya. Fatih perhatian banget ke aku, sampe nyariin aku kos. Uh makin sayang," tambahnya setelah berbalik sesaat dan benar-benar hilang dibalik pintu tanpa salam lagi.


Ghina mengusap wajah, menggelengkan kepala, apa-apan ini, baru saja ia menginjakan kaki di Banjarmasin, sudah ada saja ujian yang harus ia hadapi.


Ponselnya yang berada di kamar berdering. Ghina segera berlari kecil untuk mengangkatnya. Tenyata, dari Ilham.


"Kosanmu di mana Na?" tanya Ilham setelah berbasa basi.


"Belakang UIN aja, di Manunggal ketua."


"Panggilanmu itu loh, ketua terus. Kebiasaan."


"Hehe, Ilham? Ham? rasanya kayak nggak hormat gitu, kamu 'kan lebih tua dari aku."


"Em, kakak mungkin?"


"Asli geli. Nggak biasa Ham."


"Ya udah terserahmu aja. Btw, nggak ngadain acara syukuran kosan baru gitu? terus undang aku ke sana."


"Belum ada sih Ham, Fatih nggak ngomongin. Oh ya, kamu tau kosan Sella di mana?"


"Kami satu gang, Pala gang itu. Kenapa emang?"


"Em, dia tadi datang ke kosan."


"Wah yang bener? kalian udah akrab ya sekarang?"


Ghina terdiam, ia menimbang apakah harus membicarakan perihal maksud Sella yang tidak baik tadi pada Ilham. Tapi, ah tidak jadi, ia khawatir Ilham malah melabrak sepupunya sendiri gara-gara dirinya.


"Ya gitulah. Mungkin, karena teman-teman dia nggak ada. Jadinya nggak ada temen."


"Iya, Melani sama Fitri 'kan milih ke ULM. Em, ya udah kalau gitu, aku cuma mau tanya alamat kosanmu. Siapa tau nanti mau berkunjung."


"Iya Ham, pintu kami terbuka menerima tamu."


Mendengar kata 'kami' yang diucapkan Ghina, hati Ilham mencelos sesaat. Di balik telpon, ia tersenyum masam.

__ADS_1


Fatih baru pulang ke kosan setelah Dzuhur Ghina yang bermain ponsel di ruang tamu sampai ketiduran di sana.


"Na, bangun."


Ghina melenguh pelan, mengerjap mata, lalu segera bangkit. "Jam berapa ya?" tanyanya sambil melihat ponsel.


"Udah zuhur, kamu udah solat?" tanya Fatih.


Ghina menggeleng, ia berdiri lalu menatap Fatih sekilas. "Gimana techical meetingnya tadi? lama banget dari pagi?"


"Techical meetingnya cuma dua jam, setelahnya aku ada urusan lain." Fatih berkata sambil menaruh tasnya di atas sofa minimalis yang memanjang di sana. Juga ada meja kecil di depannya. Di pinggirnya, barulah ada sekat yang menuju kamar pribadinya.


Ghina manggut-manggut, ia berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah melaksanakan salat, ia dan Fatih langsung bergegas merapikan kamar pribadi Fatih, membongkar tirai dan mengangkat kasur.


"Jauh-jauh dong." Ghina menggeser posisi kasur Fatih yang malah di taruh merapat dengan kasurnya.


"Lah, masa kepisah? nanti Kakakmu curiga lagi kita tidur jauhan?"


"Aduh, ribet deh," gerutu Ghina. Ia akhirnya membantu Fatih merapatkan lagi kasur mereka. Hingga terlihat lebih luas tentunya.


"Na, kalau ada yang ketuk-ketuk pintu, jangan dibukain dulu ya, liat-liat orangnya."


"Kenapa emang?"


"Ya takutnya orang asing. Lingkungan ini, belum tentu aman. Paling ujung gini."


"Udah ada makhluk astral yang datang tadi," batin Ghina mengingat kunjungan Sella beberapa waktu lalu.


"Nanti malam aku langsung pulang kok, nggak nginep di pesantren."


"Kalau ada keperluan di sana, nggak papa kalau mau nginep," ucap Ghina santai. Malah ia senang mendengarnya.


"Nggak, aku nggak pengen ninggalin kamu di kos."


Ghina menghela nafas, ia mendengar bunyi sesuatu. Ah, ia baru ingat, Fatih pasti belum makan siang. Tugas istri, kata sang ibu, salah satunya mempersiapkan makanan untuk suami.


"Mau makan apa?" tanya Ghina. Fatih cengengesan sendiri sambil mengusap perutnya. Persis seperti anak kecil, di mata Ghina.


"Em, apapun, aku suka semua masakan kamu."


Ghina mencebik, "bantu aku masak."


"Oh tentu, suami idaman itu, ya yang gentle, bantu-bantu istri ya 'kan?" tanya Fatih sambil menaik turunkan alisnya. Ia mengekori Ghina hingga ke dapur.


"Btw, sekalian bikinin cemilan kek buat Kakakmu Na."


Ghina seolah mendapat ide. Benar juga apa kata Fatih, ia harus menyiapkan jamuan untuk Kakaknya.


"Em, karena tepung terigu ada, sayuran juga ada, aku mau bikin bakwan."

__ADS_1


"Aku bisa juga."


"Masa?"


"Nggak percaya? mau aku buktikan?"


Ghina tersenyum tipis, ia mengangguk.


Fatih maju ke dekat kompor. Ia mulai mengambil mangkok berukuran sedang, lalu menuang tepung.


"Na, kamu irisin sayurannya. Aku yang membuat bumbu rahasia untuk ini," tunjuk Fatih pada mangkok yang berisi tepung.


Ia mulai mengambil bahan-bahan untuk dijadikan bumbu bakwan, bukan sekedar memakai penyedap rasa saja.


Ghina sesekali mengamati Fatih yang mengiris bawang, sesekali mengucek matanya.


"Jangan sambil ngucek mata Fath, perih lah."


"Iya bener, aku lupa terus kalau ngupas bawang. Malah nafas. Padahal tahan nafas ya, biar nggak pedih dimata."


Ghina mengangguk. Ia mendekat ke arah Fatih, lalu menarik lengan pria itu ke arah wastafel. "Cuci dulu, nanti kamu lupa lagi. Ngucek ke mata."


Oh, perlakuan Ghina begitu manis dirasakan oleh Fatih. Ada apa dengan istri juteknya ini? kesambet apa setelah ia tinggalkan di kosan sendirian?


"Manis," ucap Fatih pelan yang dapat di dengar Ghina.


"Apanya yang manis?" matanya melotot.


Fatih menggeleng, lalu kembali dengan aktifitasnya. Ia sedang tak ingin merusak momen, padahal ingin sekali menggombal, tapi Ghina pasti membalasnya dengan sarkas.


"Fath, kamu kok bisa masak sih? jarang loh laki-laki yang bisa. Ummi ngajarin kamu?" tanya Ghina yang kini sudah selesai mengiri sayuran, ia tengah mencucinya di wastafel.


"Sejak smp aku mondok, biasanya ada piket santri masak, dari situ belajar masak. Ya, asal-asalan sih. Terus, pas udah SMK ini, di pesantren abi ku 'kan ada dapur khusus untuk masak makanan santri, kalau suntuk, aku biasanya nimbrung," jelas Fatih.


"Sama ibu-ibu?"


"Iya, Bibi Ranah, kalau kamu tau, enak banget masakannya. Umurnya nggak jauh dari ummi, tuaan beliau, udah aku anggep kaya ibu sendiri."


Ghina manggut-manggut, entah mengapa semakin kesini, ia seperti menemukan berbagai keunikan baru dari suaminya.


Dari tempatnya berada, ia bisa melihat wajah sang suami begitu serius sambil menuangkan adonan ke wajan dengan minyak yang sudah panas.


"Woi, hati-hati terpesona," interupsi Fatih, membuat kekaguman sedikit yang diraskaan Ghina menguap begitu saja. Tingkat percaya diri Fatih memang tinggi. Wajarlah, idol bagi hampir semua siswi SMK. Ngomong-ngomong tentang idol, apakah di kampus nanti Fatih juga akan diidolakan? Bagaimana kalau Fansnya nanti lebih fanatik daripada yang di sekolah? ah entahlah, Ghina tidak ingin ambil pusing.


Terdengar ketukan pintu dan seseorang yang mengucap salam samar.


"Kayaknya Kak Imran," ucap Ghina dan beranjak dari dapur untuk membukakan pintu.


"Oh eh, siapa ya?" tanya Ghina begitu melihat seseorang berpenampilan modis. Celana jeans ketat, kaos tipis yang membalut tubuh, juga rambut yang di semir orange.

__ADS_1


"Fatihnya ada?"


Ghina tercengang begitu tahu siapa yang dicari wanita itu. Ada apa lagi ini? apakah wanita di depannya adalah salah satu penggemar Fatih?


__ADS_2