
Ghina menatap seseorang yang tengah menyeringai di ambang pintu. Matanya beralih ke arah Ilham yang juga sedang menatap laki-laki itu.
"Kaget ya? aku tau tentang ini?" tanya Fatih dengan senyumannya.
"Kita bicarakan di luar Fath," ucap Ilham dingin, seraya beranjak dari duduknya.
"Oh, nggak perlu repot-repot," tahan Fatih sambil menepiskan tangannya di depan wajah. "Aku cuma memastikan aja, setelah ini mau pulang."
Ilham berdecak kecil saat Fatih dengan cepat menutup pintu. Ghina hendak beranjak dari duduknya, namun tangannya di tahan oleh Renata.
"Aku harus susul dia Ren," panik Ghina. Ia takut jika Fatih tahu tentang ini, kemungkinan saja laki-laki itu akan membocorkannya kepada yang lain. Jangan-jangan, kemarin Fatih mendengar pembicaraannya dengan Pak Arman.
"Fatih pasti mendengarnya," batin Ghina curiga.
"Dia nggak mungkin bocorin Na. Kalau gitu, dia tega banget sama temen sendiri," ucap Renata menenangkan.
"Ren, dia pasti nguping pembicaraan kita kemarin. Kamu tau dia orangnya gimana? aku takut dia macam-macam."
"Insyaa Allah nggak Na, kita huznuzon sama dia. Kayaknya tadi dia nggak terlalu peduli juga." Kini, Ilham yang berujar untuk menghentikan tuduhan tak berdasar Ghina.
Ghina akhirnya pasrah, walau hatinya sama sekali tidak tenang. Entah mengapa, berbagai kemungkinan buruk bermunculan di kepalanya. Di tambah, akhir-akhir ini Fatih tidak pernah menghubunginya walau untuk sekedar mengganggu. Tadi pagi juga, Fatih dengan santainya mengabaikan Ghina dan berlalu tanpa kata.
"Jangan-jangan dia marah? terus, kalau dia balas dendam, lalu melaporkan penginputan data ilegal itu gimana?" batin Ghina bertanya-tanya.
Saat dewi malam menyembul di peraduannya, Ghina tetap resah dan cemas. Ia menggigit jarinya dan mondar-mandir di depan jendela yang masih ia biarkan terbuka, sehingga hawa dingin menelusup ke kamarnya. Ia yang hanya mengenakan piyama tidur, sedikit merasa kedinginan.
"Gimana, kalau dia ngelaporin?" tanyanya dengan pelan. "Ya Allah, semoga dia nggak sejahat itu.
"Aku chat aja kali ya? ingetin dia?" tanyanya lagi.
"Ah males." Ghina merasa gengsi memulai duluan. Padahal, sedari tadi ia berharap Fatih memberi pesan Whatsapp padanya tapi nihil sampai jam menunjukkan pukul sepuluh malam, laki-laki itu tampaknya tidak tergerak untuk mengganggu Ghina.
Ghina menyambar ponselnya yang terletak di atas meja. Jari tangannya bergulir di atasnya dan mencari kontak Fatih. Saat ia mengkliknya, ternyata status Fatih sedang online.
"Chat nggak? chat nggak?" timbangnya sambil menggigit bibir bawahnya. Namun, betapa terkejutnya saat jarinya yang bergerak tak beraturan di atas layar itu menekan tombol calling.
"Innalillah!" pekik Ghina terkejut, ia segera menekan layar bericon merah. Ia sempat mendengar nada tunggu di sana. Ghina menggerutu sendiri, entah mengapa ia merasa bego sekarang.
Di seberang sana, Fatih tersenyum saat mendapati miscall dari istrinya. Ia sudah menduga, lambat atau cepat Ghina akan menghubunginya. Gadis itu pasti takut, jika ia membuka suara perihal penginputan data ilegal itu.
Me : Kalau kangen bilang aja, nggak usah miscall segala, langsung aja telpon.
Nana Bobo : Siapa yang bilang? tadi kepencet.
Me : Berarti diam-diam lagi mandangin nomir wa ku ya?
Nana Bobo : Sotoy
Me : Oh ya udah, aku mau tidur.
Nana Bobo : Fath, kamu nguping obrolan aku sama Pak Arman?
Me : Nguping nggak ya?
Nana Bobo : Aku tanya bener-bener Fath.
Me : Kalau iya, kenapa?
Nana Bobo : Kamu nggak berniat ngelaporin kamu 'kan?
Benar saja, Ghina memang mencurigainya. Fatih menyeringai sambil membiarkan lama chat terakhir dari Ghina.
Nana Bobo : Fath, balas!
Me : Entah. Jangan ganggu, mau tidur.
Fatih merebahkan diri dan mematikan data selulernya dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Ia jamin, Ghina tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini.
"Balasan untuk kamu istriku," lirihnya.
Keesokan harinya, berjalan seperti biasa. Ghina turun dari angkot dengan bibir yang komat-kamit melantunkan zikir. Benar, chat terakhir dari Fatih tadi malam membuat ia sedikit mengalami insomnia. Padahal, baru tiga hari yang lalu ia sudah merasa terbebas dari mimpi yang mengganggunya, tapi malam ini, justru ia kedatangan mimpi baru yang tidak kalah buruk dari mimpi yang biasa ia alami hampir setiap Minggunya.
Jam istirahat berbunyi, Ghina sebenarnya ingin sekali mengajak Fatih bicara, tapi keadaan sangat tidak memungkinkan. Di sekolah, ia harus berhati-hati dan menjaga jarak, takut rumor aib yang kemarin kembali mencuat.
Fatih menyeringai saat Ghina menatapnya dengan tatapan kesal. Ia tetap meneruskan petikan gitarnya dengan Riki sebagai vokalisnya kali ini. Kelas dua belas, memang tengah menjalani masa-masa santai, wajarlah karena semua mata pelajaran sudah usai.
"Aku pengen bicara sama dia Ren," lirih Ghina.
__ADS_1
"Ya udah, bicara aja." Renata menanggapi santai.
"Bukan gitu Ren. Masalahnya, susah kalau tiba-tiba datengin dia, ngajak bicara. Nanti, temen-temen duga kita bener-bener pacaran."
"Hehe iya sih, susah ya kalau pun suami istri tapi masih sekolah, ya nggak bisa deket-deket."
Mendengar ucapan Renata yang mengandung godaan itu, membuat Ghina mendelik kesal.
"Ya udah, pas pulangan aja nanti. Biasanya, Fatih 'kan pulang di akhir-akhir juga? lagian, kita udah menyelesaikan semua input data kemarin, jadi sore ini nggak lagi 'kan?"
Ghina mengangguk seraya menghela nafasnya berat. Namun, tiba-tiba suara speaker mengejutkannya. Namanya seorang diri di sebut, membuatnya menatap ke arah Renata dengan bingung.
"Panggilan kepada saudari Ghina Izzati, silakan datang ke TU."
"Ren, kenapa aku di panggil?" tanya Ghina gusar, ia menatap ke arah Fatih dengan curga. Tapi, si empunya malah tertawa-tawa santai bersama Riki.
"Aku juga kurang tau. Atau, mungkin ada tugas dari guru mapel yang nitip tugas buat anak-anak yang nggak tuntas nilainya?" tanya Renata.
"Penilaian udah selesai Ren. Buktinya kemarin kita input nilai rapot. Bukan itu Ren."
"Iya juga sih." Renata meringis sendiri. "Aku temenin ya?"
Ghina menatap Renata sejenak. "Bentar lagi jam istirahat, nanti kamu kelaparan. Tetep di kelas dan kalau mau ke kantin, duluan aja. Biar aku sendiri yang ke kantor."
"Beneran kamu nggak papa?" tanya Renata khawatir.
"Iya, lagian 'kan kamu nggak di panggil."
"Oke deh siap."
Ghina berjalan dengan tenang menuju ruangan yang beberapa kali di kunjunginya saat meminta tinta atau spidol untuk pembelajaran dikelas. Hatinya berdebar, tapi ia berusaha untuk tidak terlihat cemas.
"Ya Allah, semoga bukan apa-apa. Atau pemberitahuan tentang beasiswa kuliah aja," ucapnya dalam hati.
Ghina mengucap salam dan masuk ke ruangan Tata Usaha. Terdengar jawaban serempak dari dalam. Jantung Ghina seperti di pompa dengan keras. Telapak tangannya dingin.
"Masuk, silakan duduk."
"Ghina," panggil Pak Sohib yang merupakan ketua program jurusan TKJ. Tatapan matanya tajam. Selain beliau yang ada di sana, ada pula beberapa guru TU yang masing-masing fokus dengan pekerjaan mereka.
"Apa maksudnya ini?" batin Ghina.
Ghina mengangguk pelan, tak berani menatap.
"Terus, kamu yang input data semua siswa kelas dua belas?" tanya Pak Sohib lagi, benar-benar seperti sesi interogasi.
Ghina melirik ke kanan dan ke kiri, sejak kapan Pak Sohib tahu perihal itu. Bukankah, rahasia itu hanya ada antara Pak Arman dan Ghina dkk? atau guru-guru TU yang memberitahu Pak Sohib langsung?
"Iya Pak."
"Di suruh siapa?" tanyanya tajam.
"Saya yang pengen sendiri Pak, jangan salahkan siapapun," balas Ghina gemetar. Ia takut, jika mengatakan bahwa Pak Arman yang menyuruhnya, nanti malah akan menjadi runyam urusannya.
"Saya tanya, siapa yang suruh kamu? nggak mungkin kamu bekerja sendirian? itu buktinya, bisa login PDSS, bisa dapet semua rapot anak kelas dua belas, pasti ada guru yang nyuruh kamu 'kan?"
Ghina terdiam bingung. Dua guru TU yang berada di sana juga diam sedari tadi. Seolah tak peduli dengan Ghina yang tersiksa dengan pertanyaan Pak Sohib yang mengintimidasi itu.
"Kamu tau? kelakuan kamu itu ilegal. Rapot itu, rahasia sekolah. Nggak boleh asal di input ke sana kemari tanpa izin yang jelas. Kalau kamu di laporkan sudah menyebar nilai secara ilegal, urusannya langsung polisi."
Ghina menahan nafas mendengar pernyataan Pak Sohib. Apakah dirinya salah? apakah menginput data siswa demi kepentingan bersama walau caranya Ilegal adalah salah? Lalu, bukankah Pak Arman sudah mendapat persetujuan dari Wakasek Kurikulum? kenapa pula masih di sebut ilegal?
"S-saya nggak tau Pak," balas Ghina gugup.
"Emang kamu mau kuliah dimana?" tanya Pak Sobib dingin.
"UIN Pak. Tapi, bukan saya aja yang mau kuliah, banyak juga temen-temen lain. Terus, kami pengen masuk jalur gratis."
"Iya, tapi kalau kaya gitu caramu ilegal. Apalagi, kamu input dengan membulatkan nilai 'kan? itu tambahan buat kelakuan kamu yang nggak baik. Tidak bisa sembarangan, masukin nilai, membulatkan nilai, kalau bukan guru."
"Maafkan saya Pak, saya nggak tau kalau itu masalah." Mata Ghina berkaca-kaca, rasanya ingin sekali dia menangis saat ini.
"Ya udah, kamu boleh pergi. Lain kali, kamu harus berhati-hati dalam berbuat. Sebaik apapun dari luar kamu terlihat, tetap saja, atitude baik atau buruk, akan terlihat, kalau kamu nggak waspada."
Mendengar penuturan Pak Sohib, membuat hatinya tertohok. Apa tadi? atitude? apakah Ghina selama ini kurang dalam atitude? kurang beretika? kurang sopan? mengapa baru kini Pak Sohib menegurnya dan dengan cara di depan guru-guru lain?
Apakah, Pak Sohib saat mendengar berita aib itu sebenarnya sudah mencap dirinya sebagai anak yang tidak baik? jangan-jangan, dia percaya jika Ghina melakukan hal tidak senonoh di sekolah, dan itulah mengapa, hari ini adalah saat yang tepat menasihati Ghina dengan cara yang menyakitkan?
__ADS_1
"Tapi Pak, kalau boleh saya tau, Bapak tau dari mana tentang hal ini?" tanya Ghina penasaran dengan wajah menunduk. Walau wajahnya terasa panas karena harga dirinya serasa terinjak-injak saat di permalukan oleh Pak Sohib dengan cara seperti tadi, tapi ia memberanikan diri bertanya untuk tahu siapa yang telah membuka rahasia itu pada Pak Sohib.
Ghina bisa menerima, jika Pak Sohib menasihatinya, tapi seharusnya, sebagai guru, ia harus memaklumi kesalahan siswa dan meluruskan dengan baik bukan dengan ancaman akan terlibat polisi dan sebagainya. Entah mengapa, Ghina merasa, Pak Sohib sedang menyerang mentalnya.
"Nggak penting saya tau dari mana," balas Pak Sohib yang wajahnya memang datar dan suaranya begitu dingin itu.
"Ada siswa yang ngelapor ke bapak?" tanya Ghina lagi.
Pak Sohib hanya terdiam. Membuat Ghina akhirnya keluar dengan derai air mata. Ia merasa seperti tengah di kriminalisasi, padahal perbuatannya tidak ada yang salah. Semua dia lakukan, demi kebaikan semua siswa kelas dua belas. Ia harus segera melaporkan hal ini pada Pak Arman.
Saat keluar dari ruangan TU, ia melihat Fatih yang melewatinya. Ghina segera mengejarnya hingga mereka kini berada di depan toilet laki-laki.
"Fath, tunggu!" panggil Ghina dari belakang.
"Kamu ikutin aku Na?" heran Fatih. Ia tak jadi masuk ke wc.
"Denger," Ghina menarik tangan Fatih untuk lebih mendekat. Ia ingin sekali membuat Fatih benar-benar mendengarkan perkataannya.
"Kamu yang ngasih tau Pak Sohib tentang input data itu 'kan?" tanyanya dengan nada menuduh.
Fatih tersenyum. "Kamu nuduh aku?"
"Cuma kamu yang tau rahasia ini Fath. Siapa lagi kalau bukan kamu yang ngasih tau Pak Sohib huh?" hardik Ghina dengan tajam.
"Kalau aku bilang bukan aku, kamu percaya?" tanya Fatih dengan seringaiannya yang membuat mata Ghina berkaca-kaca.
"Tega kamu Fath," lirihnya yang akhirnya membuat air matanya mengalir. Fatih tertegun melihatnya, tangannya terulur untuk mengusap air mata itu.
"Stop! jangan sentuh aku," larang Ghina. Ia menatap Fatih dengan sendu. "Aku tau Fath, kamu nggak akan di untungkan apa-apa kalau tetap diam tentang itu. Karena kamu mau masuk PT swasta. Tapi, tolong, jangan kayak gini. Aku nggak nyangka, kamu setega itu sama temen-temenmu yang lain."
"Apa maksud kamu Na?" tanya Fatih
"Aku tadi udah di interogasi sama Pak Sohib, aku di permalukan di hadapan guru-guru TU. Dan semuanya, karena Pak Sohib tau kalau aku yang menginput data itu. Beliau bilang, itu perbuatan ilegal. Bisa di laporkan polisi. Selain itu, beliau juga nyinggung kelakuan aku yang nggak tau etika. Sakit Fath," jelas Ghina dengan nafas memburu.
"Dan itu, gara-gara kamu yang nggak bisa jaga mulut," tunjuk Ghina tepat ke dada suaminya.
"Na, dengerin aku." Fatih memegang bahu Ghina, menatapnya dengan serius. "Bukan aku yang bilang ke Pak Sohib, aku sama sekali nggak ada niat--"
"Terus, maksud kamu 'entah' tadi malam apa? bukannya kamu udah niat mau ngelaporin aku? kamu marah 'kan sama aku? dendammu yang dulu masih ada 'kan?" todong Ghina tajam seraya menepis tangan Fatih dari bahunya.
"Ghina, aku nggak seburuk apa yang kamu pikirkan. Terserah, kamu mau nuduh aku atau apapun. Tapi yang jelas, aku nggak lakukan itu," tandas Fatih dingin. Matanya menatap Ghina dengan tajam. Ternyata memang semudah itu Ghina menuduhnya tanpa bukti. Sebenci itukah Ghina padanya? sehingga setiap apa yang dilakukannya selalu dipandang buruk oleh gadis itu? setiap kesalahan pasti biangnya adalah dirinya?
"Hiks, hiks." Ghina menangis lirih. Wajahnya basah. Ia sulit percaya omongan Fatih. Laki-laki itu pasti sengaja ingin mempermalukannya, karena ingin membalas dendam akan perlakuan dirinya pada laki-laki itu.
Fatih hendak beranjak meninggalkan Ghina karena dalam hati kecilnya, ia merasa kecewa mengetahui fakta bagaimana sang istri menilai dirinya. Namun saat ia melihat Ilham yang berjalan menuju toilet dengan segera ia menarik Ghina ke gudang tepat di sebelah toilet laki-laki, karena Ghina tadi mengikutinya hingga Fatih hampir masuk ke dalam toilet.
"Fath, kamu apa--" perkataan Ghina terpotong saat Fatih meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri.
"Shuut! diam, ada orang mau ke sini."
"Aku mau pergi." Ghina berusaha keluar dari gudang yang berisi alat-alat pel, kursi tak terpakai dan benda-benda lainnya.
"Diam, bisa nggak? kamu mau ketauan ada di toilet cowok?" ancam Fatih dengan nada pelan.
"Astaghfirullah aku--"
Ghina menggeleng tak percaya, saking ia ingin memarahi Fatih sampai tidak sadar jika langkahnya menuntunnya ke toilet laki-laki.
"Shuut diam Na!" bisik Fatih yang kini menempelkan jari telunjuknya di bibir Ghina. Dan hal itu mampu membuat Ghina menatap Fatih dengan dadanya yang bergemuruh. Ayolah, posisi mereka tidak bisa di katakan aman. Saat ini tubuh mereka hampir menempel dan saling berhadapan karena gudang yang sempit itu. Ia bisa merasakan dahinya hangat, karena hembusan nafas Fatih.
Mereka terdiam dalam posisi itu. Sampai Ghina akhirnya menyerah dan merasa begitu gerah di sana.
"Udah 'kan Fath?" tanyanya dan hendak berbalik, sampai kemudian bahunya di cekal oleh Fatih.
"Kalau ternyata, orang yang ngelaporin bukan aku? kamu bakal lakuin apa? bagaimanapun kamu udah nuduh aku sembarangan," tanya Fatih dengan nada tajam yang membuat Ghina merinding sesaat.
"A-ku, mau pergi!" sentak Ghina namun tangannya justru di cekal dan membuat Ghina terbanting ke pelukan Fatih.
"Astaghfirullah, lepasin Fath!" Ghina memberontak saat Fatih justru memeluknya.
"Percayalah, aku nggak mungkin tega ngelakukan itu."
Huhu, siapa dong yang ngelaporin? hihi🤭
Author kasian sama Fatih, selalu aja salah di mata Ghina, kudu gimana dong😕
Yuk yuk yang suka ceritanya jan lupa share ke yang lain, like, koment dan vote.
__ADS_1
Makasih☺️