Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Takut


__ADS_3

"Tidur duluan kalau kamu ngantuk," ucap Fatih karena sedari tadi ia memperhatikan Ghina yang berkali-kali menutup mulutnya karena menguap.


Ghina sebenarnya bimbang, apakah harus tidur lebih dulu, lalu nanti takutnya Fatih melakukan hal yang aneh-aneh, atau ia tidur di akhir saja, menunggu Fatih mengantuk? tapi sampai kapan? sampai semua kado selesai dibuka?


Apalagi tadi pagi ia seharian duduk di pelaminan, hanya ketika waktu salat tiba, ia mengambil istirahat. Dan tentunya sangat melelahkan.


"Cepetan, mau aku gendong ke kasur?" tanya Fatih saat istrinya hanya melamun di tempat.


"Jangan! aku bisa sendiri," tolak Ghina. Ia menatap Fatih. "E-e aku izin tidur di kasurmu ya?"


"Tidur di mana pun boleh, di luar juga silakan."


"Ih Fatih!" kesal Ghina, membuat suaminya terkekeh pelan.


"Iya sana tidur di kasurku."


"Em, kita nggak sekasur 'kan?"


"Terus, aku di mana? masa' di sofa, ini 'kan kamarku? atau kamu mau tidur di sofa?"


"Ih, pegel lah badanku. Awas aja kalau macam-macam."


"Kamu mau aku macam-macam?"


"Dibilang jangan."


"Iya sana, tenang aja, kamu aman," ucap Fatih. "Aman untuk hari ini, tapi nggak tau malam-malam besok hehe."


Ghina berdecak kesal, lalu segera berjalan ke arah ranjang dan merebahkan dirinya di sana. Suasana kamar ini benar-benar berbeda dengan kamarnya. Di dindingnya terpajang figura besar dengan gambar bunga Lily. Tunggu, bunga Lily? itu kesukaan Ghina?


"Kamu suka Lily juga Fath?" tanya Ghina yang kini sudah berbaring.


"Nggak."


"Kenapa ada fotonya di situ?"


"Karena istriku suka, maka aku akan menyukai apa yang istriku suka."


"Basi!"


"Apanya yang basi?"


"Nggak papa."


Setelah percakapan singkat itu, Ghina akhirnya tertidur juga setelah menyetel alarm, ia tidak ingin bangun kesiangan di rumah mertuanya. Malam pertama di tempat asing, pasti selalu seperti ini, tidak pulas dan akhirnya gusar sendiri. Menghadap kanan tidak nyaman begitu pula sebaliknya. Dulu, saat ia pertama kali menginap di rumah Renata juga sama.


Ternyata, tidak membutuhkan alarm pun Ghina bisa terbangun sendiri. Ia dalam posisi menghadap ke sebelah kiri dan benar-benar di buat terkejut oleh tingkahnya sendiri yang tanpa sadar, kepalanya kini berada di atas dada Fatih. Laki-laki itu tidur terlentang, tak bergeser sedikit pun dari tempatnya.


Kepalanya ia angkat perlahan untuk melihat suaminya apakah sudah terbangun atau tidak, ternyata belum dan hal itu membuat Ghina menghela nafas lega.


"Kalau orang tidur itu 'kan nggak bisa tenang? kok dia kalem banget?" batin Ghina.


"Syukurlah dia nggak macem-macem," ucap Ghina dan bangkit dari posisinya.


"Hah? kerudung mana? ya Allah." Ghina mendadak panik saat tidak merasakan di kepalanya ada penutup, ia melihat ke atas nakas, di sana terdapat kerudungnya.


"Jangan-jangan dia yang ngelepasnya?" batin Ghina curiga. "Dasar Fatih!"


Ia langsung bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Saat dirinya keluar, mulutnya terbuka kecil melihat Fatih yang tengah menatapnya di atas ranjang.


"Istri solehah ya, bisa bangun tahajud tanpa di bangunin," ucap Fatih dengan suara serak.


Ghina tidak ingin membalas ucapan Fatih, ia berjalan ke arah lemari dan mengambil mukenanya.


Fatih berjalan mendekat dengan senyuman yang mengembang. Menatap lekat-lekat istrinya yang kini malah mematung di depan lemari.


"Apa?" tanya Ghina dengan matanya yang melotot.


"Aku pegang ya? biar batal hehe," goda Fatih dan mengarahkan tangannya ke wajah Ghina.


"Fatih! jangan!" sentak Ghina yang berusaha menghindar, ia menggeser tubuhnya ke samping. Fatih juga ikut.


"Aku pengen cium kamu."


"Nggak mau Fath!" Ghina segera berlari menjauh dan hal itu membuat Fatih tertawa puas dan melenggang masuk ke kamar mandi.


"Kamu mau kemana?" tanya Ghina saat Fatih sudah mengenakan gamis berwarna hijau botol dengan kopiah putihnya dan berjalan menuju pintu.


"Salat bersama santri."


"Oh, rutin ya seperti ini?"


"Iya. Kamu mau aku imamin salat tahajud ya?"


"Ogah!"


"Beneran?"


"Ih, aku mau salat, sana pergi."


"Lain kali ya, masih banyak kok waktu kita untuk salat bersama. Assalamualaikum."

__ADS_1


Ghina diam-diam menatap kepergian suaminya. Satu lagi fakta yang ia ketahui dari Fatih, selain bersuara merdu ketika mengaji, laki-laki itu juga bisa mengerjakan salat malam. Padahal, kelakuannya saat di sekolah, tidak mencerminkan kesolehan sama sekali.


Diam-diam, bibirnya melengkung ke atas. Apa hatinya kini sudah mulai menerima Fatih sebagai suami? benarkah perkataan orang-orang di sekelilingnya bahwa Fatih dapat menjadi imam yang baik baginya? entahlah, Ghina masih ragu.


Walau canggung dan tidak terbiasa dengan suasana rumah Kyai. Ghina tetap ke luar dan berjalan menuju dapur setelah ia melaksanakan salat Subuh. Dan benar saja, Ibu mertuanya sudah berkutat di sana dengan celemek yang terpasang rapi di tubuh rentanya.


"Ummi, ada yang bisa di bantu?" tanya Ghina lembut.


"Eh sayang, gimana keadaan kamu?" tanya Ummi Zainab yang membuat Ghina mengernyitkan alis. Namun, istri Kyai Zhafran itu akhirnya paham dan hanya terkekeh kecil.


"Ghina sehat Bu, kemarin pegel banget duduk lama di pelaminan, pagi ini kerasa remuknya."


"Oh iya wajar aja. Bisa bantu Ummi irisin sayurannya?" tunjuk Ummi Zainab pada beberapa sayuran yang tergeletak di atas meja. Dengan semangat, Ghina mengangguk.


"Wah, penganten baru rajin sekali," komentar Nafisah yang baru saja tiba di dapur dan melihat adik Iparnya sudah di sana.


Ghina hanya membalas dengan senyuman. "Kalem ya Bu, istrinya Fatih ini," ucapnya sambil mencium Ummi Zainab.


"Malu Fisah, kamu juga pasti pas di rumah mertua nggak banyak omong 'kan?" Ummi Zainab mengingatkan momen saat dimana Nafisah juga pasti mengalami hal yang sama ketika menginap di rumah ibu mertuannya.


"Hehe." Nafisah meringis. "Gimana tadi malam? sakit? Ummi punya jamu buat redain."


Ghina menghentikan aktifitasnya. Kenapa semua orang menanyakan keadaannya? ayolah, dirinya baik-baik saja.


"Iya remuk Mbak," jawab Ghina dan kembali melanjutkan acara memotongnya.


"What!" Mata Nafisah melotot. "Anak zaman sekarang, pinter kalau masalah gituan ya, heran." Nafisah menggelengkan kepala.


"Pasti nih, langsung jadi. Fatih mintanya berapa ronde?"


Wajah Ghina memerah, sebenarnya pembicaraan Nafisah kemana sih tadi? apa jangan-jangan, maksudnya Kakak Iparnya menanyakan bagaimana malam pertamanya dengan Fatih?


Ya, Ghina mengerti saja. Di umurnya yang menginjak dewasa, sudah memahami itu. Tapi, ia tidak pernah menduga bahwa Nafisah dan Ibu mertuanya akan menanyakan hal privasi itu. Malu, jelas ia merasa wajahnya panas sekarang.


"Fisah, dibilangin jangan suka godain Ghina. Kasian dia, malu tuh." Ummi Zainab memperingatkan anaknya yang suka jahil dan cerewet itu.


"Assalamualaikum!"


Suara salam terdengar cukup nyaring. Mereka dapat menebak itu suara Fatih. Kyai Zhafran langsung masuk ke Mihrab miliknya untuk membicarakan sesuatu dengan sang anak.


"Tuh, suamimu datang Na. Ayo samperin," ucap Nafisah sambil mendorong bahu Ghina.


"Ngapain Mbak? aku lagi bantuin masak nih."


"Kali aja dia minta di pijit hihi," goda Nafisah lagi. "Fatih itu manja, suka di peluk cium."


"Ih Mbak, nggak ah."


"Kamu harus bisa menjaga istrimu dengan baik. Sekali kamu membuat Ghina tersakiti. Abi yang akan turun tangan!"


"Insyaa Allah Bi." Fatih memang menjadi anak yang menurut jika sudah berhadapan dengan Abinya. Walau, sejatinya di luar sana ia sering berbuat ulah. Tapi, setelah ia menikah dengan Ghina, ia akan berusaha untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh lagi.


"Abi tau kamu nikah sama Ghina terpaksa. Kalian sama-sama belum rela menjalankannya, tapi Abi harap kalian bisa saling belajar dan berusaha mempertahankan rumah tangga kalian. Kamu udah jadi pemimpin Nak, tinggalkan kebiasaan lamamu yang nggak bermanfaat."


"Iya Bi, aku akan berusaha."


"Janjimu Abi pegang. Allah yang menyaksikan."


Fatih menelan ludahnya susah. Tugas yang diembannya ternyata begitu berat. Mempertahankan rumah tangga yang terpaksa ini? apalagi dengan keadaan Ghina yang masih saja belum menerimanya karena mencintai laki-laki lain?


Fatih tidak masalah ketika dirinya harus mencari uang banting tulang untuk memberi nafkah. Tapi, yang jadi masalah adalah perilaku sang istri yang harus membuatnya banyak bersabar.


Ia melihat Ghina yang berjalan dari arah dapur. Wajah istrinya itu terlihat jutek seperti biasa.


"Woi, nggak mau cium tangan suami?" tanya Fatih yang berjalan mendekat.


Ghina yang hendak memutar kenop pintu, hanya melihat ke sekeliling. Lantas berbicara pelan. "No!"


Fatih terkekeh, lalu ikut masuk ke kamar. Ia mendudukkan diri di ranjang, sedangkan Ghina mengambil handuk untuk siap-siap mandi.


Fatih hanya menatap punggung istrinya yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Ia mengecek ponsel miliknya, ternyata di sana ada sebuah pesan untuknya dari partner bisnis yang ia ajak bekerja sama.


Abang Bram : Selasa, kita rapat lagi. Kita bicarakan perihal tambahan investor baru.


Me : Oke


Setelahnya Fatih melihat chat dari teman sekelasnya. Sella.


Sella : Fath, kapan pengumuman lulusnya?


Me : Jam delapan nanti.


Sella : Fath, kamu 'kan udah banyak temen di Banjarmasin. Aku minta tolong carikan kosan dong. Yang murah dan aman.


Fatih : Bisa, nanti aku infokan tempatnya Sel.


Sella : Makasih Fath😘


Fatih sebenarnya tidak ada perasaan khsusus pada Sella, hanya menganggap perempuan itu sebagai teman. Dan niatnya hanya membantu mencarikan kosan untuk Sella saja. Walau ia tahu, bisa jadi Sella menganggap ini bentuk perhatian darinya. Ya, wanita memang begitu, mudah baper. Hanya istrinya yang berbeda. Tidak mudah, membuat Ghina baper.


Tiba-tiba mata Fatih tertuju pada ponsel

__ADS_1


ponsel sang istri yang tergeletak di atas nakas. Awalnya ia menduga, Ghina sudah memberi pola pada smartphonenya itu, ternyata tidak.


Mata Fatih menajam begitu ia melihat chattan istri dan ketua Rohis selama ini. Ternyata, seperhatian itu Ilham pada istrinya. Apa selama ini Ghina baper dengan perhatian-perhatian semu dari Ilham? Fatih menyeringai, lalu menghapus semua riwayat chat yang tertera di layar.


"Ternyata dia udah ngakuin perasaannya pada Ghina. Pantes, mereka berani foto-foto segala kemarin," lirih Fatih. Ia kembali menggulir jemarinya, ingin mencari tahu dengan nama apa Ghina menamai kontaknya.


"Kelinci nyebelin?" alis Fatih terangkat. "Oh, jadi panggilan dia ke aku, dibawa-bawa juga jadi nama kontak di wa. Ck, istri solehah," umpat Fatih.


Suara pintu kamar mandi terbuka. Fatih masih sengaja menggenggam ponsel istrinya, agar si empunya tahu bahwa kini ponselnya berada di genggaman Fatih.


"Fatih! hape ku!" bentak Ghina begitu ia melihat Fatih yang mengotak-atik ponselnya.


"Minjem dong," ucap Fatih.


"Udah di pegang baru minta izin, nggak sah."


"Kita udah sah kok."


"Ih kembaliin," pinta Ghina, tadi malam Fatih sudah membajak ponselnya dan pagi ini juga sama. Dan hal itu membuat Ghina geram bukan main, ia berjanji setelah ini akan memberi pola di smartphonenya.


"Dia nggak tau malu ya," sindir Fatih saat menjulurkan ponselnya pada sang istri.


"Maksud kamu? siapa?" tanya Ghina


"Ilham, alim aja di luar tapi di dalem suka chat sama yang bukan mahrom."


"Jangan kayak cewek deh Fath, kamu tuh udah gibahin orang, fitnah lebih tepatnya. Ilham laki-laki baik-baik."


"Yakin?" Fatih menyeringai. "Dia suka pegang-pegang tangan kamu 'kan?"


"Fatih! jangan nuduh sembarangan, aku masih bisa jaga diri. Kamu itu, nggak secara langsung rendahin aku."


"Nyatanya kamu gitu. Sama suamimu nggak mau di sentuh, sama laki-laki lain malah seneng."


Ghina yang mendengar omongan pedas dari suaminya itu membuang nafas kasar. "Ini yang sampai sekarang aku nggak suka dari kamu. Omongan tajam yang nggak dipikirin dulu Fath," lirih Ghina dengan nada dingin.


"Jika aku boleh katakan menyesal, aku nyesel sama pernikahan ini. Aku nyesel nikah sama laki-laki yang bisanya godain cewek, nakal di sekolah, nyakitin aku, omongannya pedes. Kalau bukan karena Ibuku, aku nggak bakal setuju sama pernikahan ini."


"Kamu kira aku mau?" Fatih terpancing emosi juga. Ia menarik tangan Ghina hingga si empunya jatuh ke ranjang. "Na, kamu itu alim, kalian berdua sama-sama alim. Tapi, kelakuan kalian, nggak menampakkan itu. Bahkan, setelah bersuami pun, kamu masih chat mesra sama Ilham, wajar aku sebagai suami, ngelarang kamu."


"Lepas Fath, minggir!" Ghina berusaha mendorong tubuh Fatih yang berada di atasnya.


"Aku nggak bakal lepasin kamu. Sadar Na, aku suami kamu sekarang. Udah saatnya kamu lepasin dia! lupakan dia! kamu pasti ngerti hukumnya, bahwa hubungan kalian itu nggak halal!" ucap Fatih dengan nadanya yang dingin.


"Lepasin Fath, tolong!" Ghina menitikkan air matanya begitu melihat mata Fatih yang memerah, ia merasa takut. Dan bayangan akan kekerasan yang dilakukan sang Ayah pada Ibunya berkelebat.


"Ibu," lirih Ghina. Tubuhnya bergetar hebat. Tangannya tak mampu lagi berontak, selain meremas kuat kaos Fatih. "Ibu hiks."


Fatih tertegun sesaat saat melihat wajah Ghina yang ketakutan. Fatih bangkit, lalu menarik Ghina untuk duduk.


"Maaf, aku buat kamu takut Na. Aku cuma terpancing emosi tadi."


"Hiks, hiks, kamu jahat Fath. Aku takut." Ghina memukul berkali-kali dada suaminya.


"Ghina, aku minta maaf. Aku nggak bakal lagi ngelakuin hal tadi."


"Ibu hiks." Fatih membawa Ghina ke pelukannya. Ia merasa menyesal sudah membuat Ghina kembali mengingat kejadian mengerikan dalam hidupnya. Dapat ia rasakan, tangan Ghina meremas baju miliknya di belakang.


"Cup cup, kamu tenang Na. Aku nggak bakal nyakitin kamu," ucap Fatih sembari mengusap pelan pucuk kepala istrinya.


"Jam berapa KSI berangkat ke Banjarmasin?" tanya Fatih setelah tangisan Ghina mereda. Gadisnya itu segera mendorong tubuh dirinya menjauh dan menyeka wajahnya.


"Habis Zuhur."


"Masih lama juga ya, aku mau siap-siap. Jam sembilan berangkat."


"Secepat itu?"


"Iya, walau acaranya malam. Tapi, aku ada urusan lain di sana. Para Kyai juga memang memutuskan untuk berangkat pagi ini."


Ghina manggut-manggut. "Apa yang harus aku siapin, untuk keperluan kamu?"


Fatih tersenyum mendengar pertanyaan Ghina. "Beneran istriku mau menyiapkan kebutuhan aku?"


Ghina mendelik, emosinya kembali stabil. "Ya udah nggak usah, biar aku balik ke dapur bantu Ummi."


"Eeh jangan dong. Tasku ada di lemari, siapkan dua pakaian aja. Aku cuma nginap satu malam di sana." Fatih menahan tangan Ghina.


"Iya nanti aku siapin, sana kamu mandi aja." Ghina mendorong tubuh Fatih untuk segera beranjak.


"Mandiin mau?"


"Tendang nih?"


"Ampun istriku hehe."


Yuhu, otor datang lagi....


Masih ngebahas malam-malam pertama mereka berdua hihi.


Setelah ini, baru masuk konflik eh hihi

__ADS_1


Jan lupa like, komen, vote dan share ceritanya ke yang lain yaaa😘


__ADS_2