
Entah mengapa, Ghina merasa kekesalannya kepada Fatih sedikit berkurang. Jika benar obat kemarin dari laki-laki menyebalkan itu, bukankah Ghina setidaknya mengucapkan terimakasih?
"Bisa jadi, emang Fatih yang ngasih obat kemarin itu." Renata nyeletuk setelah menghabiskan dua butir pentol.
Ghina menghentikan aktivitas makan Sotonya. "Mungkin," ucapnya menggedikkan bahu. Walau sedari tadi pikirannya di sibukkan dengan itu.
"Gitu-gitu dia perhatian ya sama kamu. Jangan-jangan--"
"Aww." Renata meringis saat tangannya mendapat cubitan dari Ghina.
"Jangan-jangan apa? nggak usah mikir macem-macem," ancam Ghina dengan mata melotot.
"Macem-macem gimana? maksudku, jangan-jangan Fatih itu mau minta maaf sebenarnya ke kamu, cuma gengsi. Jadinya, pas kamu pingsan dia bantuin beli obat," jelas Renata yang memasukkan kembali satu pentol ke mulutnya.
Ghina tidak membahas lagi karena suara berisik dari mikrofon sekolah menyentuh gendang telinganya. Renata juga ikut diam.
"Selamat siang, diumumkan kepada nama-nama berikut untuk menghadap ke kantor Bimbingan Konseling pada jam istirahat Ilham Prasetya, Fatih Qarni Rafasya, Lukman Sadewa, Sella Trisnawati, dan Ghina Izzati." Lantunan dari pengeras suara itu terdengar. Ghina dan Renata saling berpandangan.
"Na, namamu di sebut. Ilham dan Fatih juga. Sella juga, ada apa lagi?" tanya Renata.
"Nggak tahu. Kalau urusan fitnah itu pasti cuma ada namaku sama Fatih. Tapi tunggu, Lukman? dia anak TAB kemarin."
Ghina dan Renata berpandangan.
"Jangan-jangan?" Renata menebak-nebak. "Ah nggak usah nebak-nebak. Yok, aku mau ikut anter kamu ke sana Na. Udah selesai?" tanya Renata yang melihat ke arah mangkok yang berisi Soto.
Ghina berjalan beriringan bersama Renata. Saat kakinya hampir melangkah dari pintu, Fatih mendahuluinya bersama Riki yang cekikian di belakangnya.
"Kami duluan," ucap Riki dengan tatapan mengejek ke arah Renata.
"Hai Na!" Riki menyapa mewakili Fatih yang hanya menatap Ghina tanpa senyuman.
"Kalian, nggak usah masuk!" cegat Ghina sebelum Riki dan Renata masuk ke ruangan BK. Fatih yang sudah lebih dulu, menoleh.
"Lah?" Riki mendadak bingung. Renata paham dan menganggukkan kepala.
"Iyalah, kita 'kan nggak punya kepentingan di dalam Rik," ucap Renata yang mundur dari pintu ruangan. Riki meringis dan melambai ke arah Fatih.
"Dah Fath, baik-baik ya di dalam," kata Riki dan hanya dihadiahi senyum miring oleh Fatih.
"Assalamualaikum," Ilham masuk ke ruangan yang bagi sebagian warga sekolah adalah angker itu. Siapa yang ingin masuk kandang singa itu? dan barangsiapa yang sudah mencelup kedalamnya pasti tak akan luput dari interogasi memuakkan yang bisa-bisanya membuat jantung berirama.
Mata Ghina bersitatap sekilas dengan Fatih yang sudah duduk di sofa, berhadapan dengan Bu Maysitah.
Di sebelah kanan Fatih ada Lukman, dan di sebelah Lukman, Ilham duduk. Sedangkan Ghina memilih duduk di sofa lain, tepatnya bersebelahan dengan tempat duduk Lukman.
"Kalian pasti udah tahu 'kan kenapa Ibu kumpulkan di sini?" tanya Ibu Masyitah dengan senyuman.
Ghina hanya terdiam. Sedangkan Ilham tampak menyeringai dari tempat duduknya.
"Langsung aja, Lukman apa yang mau kamu akui di sini?" tanyanya dan kini menatap laki-laki yang bernama Lukman.
"Saya yang nyebar broadcast foto yang berisi Fatih dan Ghina," jelas Lukman. "Tapi, saya nggak sendirian."
Terdengar keributan kecil di luar, tak lama Sella muncul dengan wajah cemberut dan kesal.
Ibu BK menghela nafas, kepalanya menggeleng. Badannya ia sandarkan ke kursi.
"Silakan duduk Nak," perintah Ibu Masyitah kepada Sella yang kini menunduk. Fatih menatap Sella bingung, sama dengan Ghina yang tidak mengerti mengapa Sella ikut di panggil juga ke ruangan BK.
"Sella, coba ceritakan kenapa kamu sama Lukman bisa bersekongkol untuk nyebar berita hoax tentang Fatih dan Ghina?" tanya Bu Masyitah. Sella yang tengah bertatapan dengan Ilham segera menoleh ke arah guru BK itu. Matanya berair, ia begitu takut jika gara-gara ini, orang tuanya di panggil ke sekolah.
"Saya..." Sella seperti tidak mampu melanjutkan perkataannya. Ghina yang posisi duduknya dekat Sella, menyentuh pundak gadis itu. Matanya menatap Sella dengan teduh.
"Maafkan aku Na," isak Sella akhirnya. Ia tersedu dengan bahu bergetar.
"Bu, saya ngaku salah," lirih Sella yang kini menatap Bu Masyitah.
__ADS_1
"Waktu Lukman berkunjung ke rumah Imran, saya nggak sengaja denger dia ngomongin soal foto sama temennya di telpon. Terus, pas Lukman lagi ke WC, saya langsung liat foto apa. Ternyata fotonya Ghina dan Fatih. Terus, pas Lukman mau pergi, saya tanya foto itu ke dia. Dan pokoknya terjadi kesepakatan, kalau kami bakal nyebarin foto itu."
"Sebenarnya kenapa kalian ngelakukan itu Nak?" tanya Bu Masyitah miris.
"Jujur saya nggak suka sama anak di sebelah kiri saya ini," ucap Lukman dingin. Sedangkan Sella menunduk.
"Saya, kurang suka sama Ghina. Maaf. Seharusnya saya nggak ngelakuin itu," lirih Sella. Ghina meraih tangan Sella yang bergetar.
"Aku tahu kamu khilaf Sel. Nggak papa," ucap Ghina. Walau dalam hati ia merasa begitu sakit mendengar perkataan Sella. Kenapa Sella setega itu kepadanya? apakah gara-gara Fatih? bukankah Sella menyukai Fatih, kenapa justru membuat Fatih mendapat masalah?
"Kalian tahu 'kan kalau kelakuan kamu nggak bisa di benarkan?" tanya Bu Masyitah menatap Lukman dan Sella bergantian.
"Entah Bu," balas Lukman cuek.
"Kalian sudah besar, bahkan bentar lagi meninggalkan sekolah ini. Calon mahasiswa, harusnya bisa bersikap dewasa. Jika ada konflik, maka selesaikan dengan baik-baik bukan dengan saling memfitnah." Ibu BK itu memijat keningnya, menghirup udara yang masuk lewat celah jendela, matanya melihat siswa dan siswi yang berlalu lalang di luar. "Ibu enggak menyalahkan siapapun di sini. Tapi, Ibu ingin kalian sebagai remaja yang menginjak dewasa, bisa bertanggung jawab bagi diri kalian sendiri. Belajarlah untuk hidup berdampingan dengan sesama. Belajar menerima dan belajar untuk memberi. Nanti, setelah dewasa kalian akan mengerti apa yang Ibu katakan."
Bu Masyitah menatap teduh ke arah murid-murid di depannya yang hanya bisa menunduk dalam
"Beberapa hari lalu, wali dari Fatih dan Ghina sudah Ibu panggil ke sini. Mereka tentu kecewa dengan apa yang terjadi. Besok, Ibu juga akan memanggil orang tuamu Lukman dan Sella," jelas Bu Masyitah.
"Tapi Bu, bukannya kasus ini sudah selesai? saya udah ngaku," protes Lukman. Sella hanya menyeka air matanya, kepalanya menggeleng. Membuat Ghina iba pada teman sekelasnya itu.
"Nggak, tetap aja. Ini urusannya dengan orang tua. Setidaknya mereka tahu, kelakukan kalian di sekolah. Kalian itu diamanahkan pada sekolah, tapi perbuatan kalian kali ini, Ibu rasa orang tuamu harus tahu."
Lukman membuang muka, ia justru lebih tertarik menatap pohon Cemara yang menjulang tinggi di dekat lapangan multiguna. Jika di singgung mengenai orang tua, ia begitu muak sehingga ingin rasanya mengobrak-ngabrik apa yang ada di sana.
"Jadi, nanti bilang ke orang tua kalian ya? oh ya, nanti Ibu bikinkan suratnya."
"Tapi, saya nggak janji Bu," tandas Lukman.
"Kamu kayanya harus lebih lama tinggal di ruangan Lukman," tukas Bu Masyitah. Ia menghela nafas pelan.
"Sekarang, karena kalian udah mengakui kesalahan kalian. Apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya pada Lukman dan Sella.
"Minta maaf 'kan yang Ibu inginkan?"tanya Lukman dengan seingaian.
"Lukman!" kesal Bu Masyitah
"Fatih, Ghina, aku minta maaf," sesal Sella. Fatih dan Ghina hanya terdiam.
"Maaf mungkin mengembalikan rasa pertemanan, tapi nggak akan bisa mengembalikan aib yang tercecer di sepanjang jalan," ucap Fatih. Matanya menatap ke arah Lukman yang membuang muka ke arah lain.
"Waktu nggak akan bisa di ulang. Apa boleh buat?" tanya Fatih miris.
"Fatih!" kini Bu Masyitah melempar tatapannya pada murid yang sudah beberapa kali masuk BK itu karena ulahnya sendiri.
"Saya sangat berterimakasih, karena Lukman saya belajar untuk berjuang sebelum menghadang. Perlu kekuatan extra untuk mengalahkan lawan," ujar Fatih diakhiri dengan senyum kemenangan yang membuat Lukman harus menahan nafas.
"Ghina ada yang mau kamu katakan?" tanya Bu Masyitah.
"Apapun yang terjadi, biarlah jadi masa lalu. Saya hanya berharap, Lukman ke depannya bisa berubah."
"Ilham, kamu yang telah melaporkan bahwa Lukmanlah pelakunya. Apa yang mau kamu sampaikan?"
"Bersainglah secara sehat. Kata-kata itu mudah, tapi sulit jika di lakukan. Dan pahamilah hati orang lain, dengan begitu kamu akan tahu akan seperti apa dalam bersikap. Saya cuma bantu Fatih dan Ghina untuk ngungkap pelaku di balik foto aib itu. Alhamdulillah, ternyata saya dengan mudah nemuin."
Ilham memamerkan deretan giginya yang putih, matanya mengarah ke Lukman yang lagi-lagi membuang muka. "Saya harap, Lukman ke depannya bisa belajar dari peristiwa ini," ucapnya.
"Nah begitu. Kalau nggak ada lagi yang mau di sampaikan, kalian boleh pergi. Maaf ya, Ibu udah motong jatah istirahat kalian," ucap Bu Masyitah dengan senyumnya.
"Santai aja Bu. Terimakasih," ucap Fatih dan beranjak.
"Lukman? kamu nggak ingat yang saya bilang tadi?" tanya Bu Masyitah begitu melihat Lukman yang juga ikut berdiri.
"Iya, tinggal lebih lama," dengus Lukman pelan.
Saat Fatih membuka pintu, muncullah wajah Riki dengam cengirannya. "Gimana Fath meeting tertutupnya?" tanyanya antusias. Fatih mendengus dan melewati laki-laki itu begitu saja.
__ADS_1
"Na, kasih bocoran dong di dalam kalian ngomongin apa aja," Riki merengek pada Ghina yang wajahnya ia buat datar.
"Apa sih Rik? tanya sama koncomu aja. Jangan halangi jalan, atau aku tendang kakimu," ancam Ghina tajam.
"Hahaha, ampun-ampun. Fatih!" Riki berlari terbirit, tangannya penuh dengan snack di sebelah kanan dan tangan kirinya memegang cangkir plastik berisi pop ice.
"Jadi?" Ilham mengimbangi langkah Ghina. Gadis berwajah tirus itu menoleh, berusaha memberi jarak sejauh mungkin dari Ilham. Ia bergeser, untunglah koridor kantor luas.
"Jadi apanya? jangan buat aku bego," kesal Ghina. Dan terus berjalan.
"Hahaha, sadar nggak sih kamu tu lucu tau Na kalau jutek gitu. Ya Allah." Ilham memamerkan deretan giginya.
Ghina menghentikan langkah.
"Nggak ada yang lucu. Kalau nggak penting, nggak usah ngomong."
"Berkat aku loh dua pelakunya bisa di seret ke BK," ucap Ilham bangga. "Masa' nggak ada apresiasi buat aku?" tanya Ilham dengan nada serius. Ghina menoleh, tersenyum tipis.
"Terimakasih."
"Hah itu doang?" tanya Ilham tak percaya.
Ghina mengangguk, matanya berkeliling mencari Renata, namun gadis itu tidak ada. Ia tidak ingin di buntuti Ilham selama perjalanan menuju ke kelasnya.
"Aku minta sesuatu. Ini sebagai apresiasi aja sih, buat kerja kerasku, kamu jadi PJ acara khataman ya?" pinta Ilham.
Ghina berhenti, menatap Ilham dengan tanda tanya.
"Karena, aku harus persiapan buat masuk pionir lomba futsal nanti. Ini pertandingan terakhirku di SMK, jadi aku pengen ikut."
"Kamu melimpahkan tugas pada bawahanmu, padahal itu tanggung jawabmu?" ejek Ghina.
"Aku nggak manfaatin jabatan Na. Aku cuma minta tolong sama kamu. Kayaknya sekretaris nggak banyak gerak juga untuk acara khataman. Juga, anggaplah itu barter antara kita. Aku berhasil nemuin pelaku sampe ngaku, dan balasannya kamu gantiin aku jadi PJ. Ya?" Ilham menaik turunkan alisnya.
Ghina terdiam sejenak.
"Okelah. Tapi, tetap koordinasi dengan kamu kan?" tanya Ghina.
"Iya dong, segala urusannya kita bicarakan bersama. Yang penting tugasku lebih ringan. Terimakasih Na."
Mereka berjalan beriringan sepanjang koridor kantor. Langkah Ghina lebih santai dari sebelumnya.
"Gimana caranya kamu buat mereka ngaku?" tanya Ghina yang sedari tadi penasaran.
"Aku dapet kartu As Lukman sama Sella."
"Apa itu?" desak Ghina yang membuat Ilham serasa ingin tertawa.
"Rahasia."
Ghina mengalah, rasanya tidak penting juga mengorek alasan mengapa Lukman dan Sella mengakui perbuatannya. Yang terpenting, namanya dan juga Fatih benar-benar bersih di sekolah. Tentunya, ia bisa batal menikah dengan Fatih.
Setelah bel pulang sekolah, Ghina masih terdiam di kelasnya karena Fatih juga tak kunjung beranjak dari bangkunya.
Renata sudah pulang lebih dulu. Penyakit mencret yang menimpanya membuat Renata uring-uringan semenjak di usir Ghina dari ruangan BK sampai mata pelajaran selesai. Pantas saja, saat Ghina keluar dari BK, tidak ia dapati Renata menunggunya.
"Kamu yang beliin obat pusing kemarin?" tanya Ghina to the point. Fatih yang sibuk dengan ponsel miliknya mendongak.
"Sama-sama," katanya yang membuat Ghina mendengus.
"Makasih," ucap Ghina jutek dan beranjak meninggalkan ruangan. Namun, langkahnya harus terhenti saat Fatih yang mengekor di belakangnya memanggil namanya.
"Na, aku mau ngomong penting."
Ghina melihat ke luar kelas dimana kelas tetangga baru keluar dari sarangnya. Mereka begitu berisik sehingga Ghina harus berbalik dan melangkah lebih dekat ke arah Fatih.
"Apa?"
__ADS_1
"Kita tetep harus nikah."
"Hah?!"