
Wanita itu memindai Ghina dari atas ke bawah dan tersenyum samar. "Fatihnya mana?"
Tanpa menjawab pertanyaan Ghina, sang wanita langsung bertanya. Dan hal tersebut kembali mengingatkan Ghina pada kelakuan temannya, Sella. Benar-benar, akhlak less sekali orang-orang yang berhubungan dengan suaminya ini.
"Maaf, kamu siapa?" tanya Ghina dingin. Ia tidak akan membukakan pintu, sampai tahu identitas si wanita.
"Saya partner bisnisnya. Kamu, adiknya ya?" tanyanya.
Ghina terperanjat, apa dia tidak salah dengar. Adik? apakah Fatih tidak mengatakan bahwa dia sudah memiliki istri pada partner bisnisnya ini?
Ghina tersenyum tipis. "Dia ada di dalam, bentar saya panggilkan."
"Kamu nggak menyuruh saya masuk?" tanyanya yang terdengar menyebalkan di telinga Ghina. Ia kembali berbalik, tersenyum paksa, dan akhirnya mempersilakan wanita itu untuk duduk di sofa minimalis ruang tamu.
"Siapa Na?" tanya Fatih yang masih sibuk menggoreng bakwan. Terlihat, keringat di dahinya. Laki-laki itu bertanya tanpa menatap Ghina.
"Partner bisnismu katanya," jawab Ghina malas. "Sini, biar aku yang lanjutin, kamu temuin dia."
Fatih mengangkat alis. "Em, partner bisnis yang mana? laki-laki?"
"Cewek, cepet temuin sana!" titah Ghina ketus. Fatih hanya manggut-manggut, lalu berjalan meninggalkan dapur.
Ghina berdecak kesal karena partner bisnis Fatih itu seperti tidak menganggapnya ada bahkan tidak menanyai nama atau pun dia yang memperkenalkan nama. Diam-diam ia penasaran, apa yang di bicarakan suaminya di ruang tamu.
"Fatih emang seperti magnet," gerutu Ghina dalam hati. "Setiap cewek, pasti mudah lengket."
Akhirnya, Ghina berinisiatif membuatkan minuman. Lalu pelan-pelan berjalan menuju ruang tamu. Sebelum sampai di sana, ia melambatkan langkah dan menguping di balik tembok.
"Padahal nggak papa di simpan di cafe aja. Besok aku bisa ke sana lagi."
"Iya awalnya gitu. Tapi, aku kira kamu bakal butuh catatan ini. Mas Bram tadi mau nganterin, tapi dia mendadak ada urusan, jadi sekalian aku ngantar sambil mau pulang ke rumah."
Wanita itu memberikan sebuah buku catatan milik Fatih yang didalamnya tentu berisi tulisan-tulisan penting menyangkut bisnis laki-laki itu.
"Barangkali, malam ini kamu harus menghitung keuangan, kayaknya ada beberapa catatan penting di sana."
"Kamu baca?"
Wanita itu meringis, "em iya dikit. Sory, bukan aku mau bongkar rahasiamu loh. Tadi, penasaran."
Fatih mendengus, ia membawa catatan itu ke kantongnya. "Oke lah, yang penting lain kali jangan asal baca catatan orang. Soalnya kalau dibuku ini, isinya catatan terbaru, ide terbaruku. Kalau pun keuangan cafe kita, ada tersendiri di laptopku."
"Oh ya," gadis itu tersenyum. "Kamu laki-laki pekerja keras. Beruntung cewek yang bisa dapetin kayak kamu ini."
Fatih tersenyum menanggapi. "Mau minum dulu Dra?" tanya Fatih yang merasa teman bisnisnya yang bernama Sandra itu tak kunjung pamit.
__ADS_1
Perempuan itu menggeleng, lalu bangkit berdiri.
Ghina yang merasa sudah lama menguping, langsung menampakkan diri.
"Di minum dulu Mbak," ucapnya ramah, walau dalam hati masih dongkol.
"Iya Dek, makasih," ucap Sandra dengan memanggil Ghina 'Dek'. Oh, apa Fatih belum juga memberitahu wanita itu, jika yang berdirj kini istrinya
"Makasih ya Na, padahal aku baru aja mau bikinin dia minum. Sandra, duduk dulu, diminum, setelah itu baru pulang."
Ghina menatap wanita tidak sopan dan jutek bernama Sandra itu. Ia tersenyum paksa, lalu menaruh segelas teh hangat di meja.
"Aduh, aku pusing," lirih Sandar yang tiba-tiba saja langsung menyender di bahu Fatih, seolah tubuhnya oleng ketika hendak berdiri, tentu membuat Ghina yang menyaksikan itu melotot. Kegatelan sekali Sandra ini.
Fatih yang terkejut, mendorong pelan kepala Sandra, dan menyenderkannya ke sofa. "Kamu mungkin terlalu bekerja keras Dra. Tadi kita habis rapat, terus harusnya langsung pulang ke rumah, ini malah ke kosanku."
"Iya, aku cuma kepikiran kamu aja."
Ghina bergidik ngeri mendengarkan perkataan Sandra. Seolah memberitahu Fatih, jika wanita itu merindukan laki-laki yang kini jadi suami Ghina.
Belum usai keterkejutannya, kini matanya harus melihat setengah badan Sandra terbuka, karena bajunya yang memang pendek. Alias hampir tidak sampai ke celananya.
Fatih sontak juga melihat ke sana. Membuat Ghina ingin sekali menggetok kepala sang suami.
"Em, Mbak, maaf aja nih. Tolong di tutupi ya pusarnya, nggak enak diliat," sindir Ghina tajam. Ia menunjuk tubuh Sandra yang tersingkap. Lalu bergantian menatap wajah suaminya yang membuang wajah ke arah lain.
"Kalau aku tinggal, jangan-jangan mereka malah macem-macem," batin Ghina. "Huh, pasti Fatih ngiler liat itu," katanya lagi. Tiba-tiba hatinya menjadi sangat kesal. Ingin sekali segera menendang wanita bernama Sandra.
"Aku belum kenalkan kalian. Ini Ghina, dia -" Fatih merasa Ghina tengah menatapnya terus menerus, sehingga ia ingat, bahwa dirinya blum memperkenalkan istrinya itu.
"Oh, Ghina namamu Dek? em, kalem emang," ucap Sandra dengan senyuman.
"Kuliah juga?"
Ghina mengangguk malas. Ia merasa tidak minat untuk berbicara basa-basi dengan Sandra. Apalagi, tadi berani sekali wanita itu memotong Fatih yang ingin bicara jika dirinya adalah istri dari laki-laki itu.
"Ya udah, kalau kalian mau ngomongin bisnis, silakan lanjut saja."
"Na, di sini aja," titah Fatih. Ghina menggeleng, ia merasa tak nyaman dengan suasana itu.
Terdengar salam sekaligus ketukan dari luar. Ghina senang bukan main, kali ini tebakannya pasti benar.
"Kakak!" pekiknya setelah menjawab salam. Terlihat Imran sendirian di sana. Tidak membawa istrinya.
"Loh, mana Kak Najwa?" tanyanya.
__ADS_1
"Dia lagi nggak enak badan, jadi nggak bisa ikut. Makanya Kakak juga nggak jadi pakai mobil, pakai motor aja. Nanti 'kan Fatih mau ikut ke Jorong."
Ghina membenarkan, lalu mempersilakan Kakaknya masuk. Mata pria itu tertuju pada Sandra yang tengah meminum teh dengan santai.
"Siapa? teman kalian?" tanyanya sambil menatap Ghina dan Fatih bergantian.
Mereka berdua mengangguk. Sandra yang melihat tamu lain di sana segera pamit. "Eh ada tamu juga, kalau gitu, aku permisi ya. Pamit."
Fatih tersenyum tipis dan mengangguk. "Iya hati-hati Dra."
"Siapa tadi?" tanyanya.
"Sandra Bang, pacarnya Bang Bram. Yang aku ceritain itu."
"Oh itu." Imran manggut-manggut. Sedangkan Ghina hanya diam menyimak, sepertinya hanya dirinya yang tidak tahu apa yang sudah di bicarakan dua orang pria di hadapannya.
"Duduk Kak, aku udah buatin sesuatu buatmu," ucap Ghina.
Imran menatap sang adik, "buat apa sih? kayaknya semenjak jadi istri, jadi rajin memasak ya?" goda Imran yang membuat Ghina mencubit lengan Kakaknya gemas.
"Ih apaan sih, dari dulu juga rajin."
Ghina segera berjalan menuju dapur. Membuatkan Imran minuman, juga menaruh bakwan di piring.
"Gimana keadaan Ibu Kak?" tanya Ghina, kini mereka duduk lesehan.
Fatih ikut mencomot bakwan di piring, perutnya sedari tadi sudah keroncongan.
"Alhamdulillah sehat. Semenjak ada Najwa, nggak pernah masak lagi, selalu diambil alih dia."
"Emm, ciye, muji istri sendiri."
"Ya iyalah, masa muji istri orang lain," kesal Imran, lalu meneguk tehnya.
"Jadi ikut ke Jorong Fath?" tanya Imran beralih menatap adik iparnya. Fatih mengangguk dengan mulut masih memakan bakwan.
"Iya Bang, soalnya urgent. Kasian juga kalau Ghina udah masuk kuliah harus jalan kaki."
Imran manggut-manggut. "Deket banget ya kamu sama Sandra?" tanyanya.
Fatih menjawab santai. "Ya gitu Bang, sesama partner bisnis."
Imran menatap Ghina yang juga santai sambil mengunyah bakwan. "Kakak cuma ingetin kalian aja, untum hati-hati. Jangan sampai ada orang ketiga yang masuk. Paham 'kan?" tanya Imran.
Ghina manggut-manggut saja. Sedangkan Fatih, menatap Kakak Iparnya kikuk. Sepertinya, interaksi ia dan Sandra tadi sudah menimbulkan kesalahpahaman.
__ADS_1
"Iya Bang. Insyaa Allah, kami akan jaga diri baik-baik. Ya 'kan Na?" tanya Fatih, ia juga memastikan bahwa Ghina melakukan hal yang sama. Walau jelas-jelas tidak secara langsung Ghina sudah menghadirkan pihak ketiga di pernikahan mereka, siapa lagi jika bukan Ilham.
Ghina mengangguk, samar. Ia tersenyum meyakinkan sang Kakak. Imran mengelus kepala Ghina sayang. Melihat adiknya bisa tersenyum di samping suaminya, sudah cukup menjadikan hatinya tenang, melepas Ghina bersama Fatih.