
Sesuai kesepakatan antara suami istri itu tempo hari yang akan mengunjungi rumah keluarga, Ghina dan Fatih kini tengah bersiap-siap mengemas pakaian dan apapun yang di butuhkan untuk menginap selama di rumah keluarga.
Rencananya mereka akan menginap bergantian, mulai dari rumah Ghina dulu, kemudian ke pesantren. Ghina sudah memasukkan semua pakaian miliknya dan Fatih ke dalam ransel.
"Mas!" panggil Ghina, ingin memberitahu bahwa ia telah mengemas semua barang. Namun tidak ada sahutan apapun. Akhirnya Ghina bangkit, menuju ruang tamu tidak ada siapapun dan ia kembali ke dapur, melewati jalan belakang, ia pergi ke green house-nya. Ternyata suaminya masih sibuk menyiram.
"Mas, aku udah selesai packing, kamu belum selesai dengan pekerjaanmu?" tanya Ghina, sembari berjalan menghampiri Fatih yang memunggunginya.
"Bentar! berhenti sayang!" interupsi Fatih, pria itu langsung berbalik, namun kedua tangannya di belakang. Ghina yang merasa aneh tetap menuruti perintah suaminya.
"Kenapa?" tanya Ghina.
Fatih tersenyum, wajahnya terlihat cerah akibat pantulan sinar matahari yang mulai meninggi. Kicau burung yang berada di pepohonan yang letaknya tidak jauh dari green house terdengar begitu merdu. Ah, Ghina merasa sedang tinggal di daerah asri yang menyejukkan.
"Tutup mata dulu dong!" titah Fatih, membuat Ghina penasaran apa yang akan dilakukan oleh suaminya. Akhir-akhir ini ia merasa suaminya penuh dengan kejutan.
"Sayang ayo dong, tutup katamu, janji aku nggak bakal macam-macam," ucap Fatih yang menduga bahwa istrinya akan berfikir dirinya akan melakukan hal-hal aneh.
Ghina tersenyum, lalu menutup matanya perlahan, ia menunggu dengan sabar.
"Tadaa!" Fatih menyodorkan bunga Lily yang terlihat mekar dan segar. "Buka matamu sayang!"
Ghina membuka mata, menatap bunga itu tanpa respon apapun. Justru bibirnya kini menganga, membuat Fatih menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan meras heran, kenapa istrinya terlihat tidak senang dan malah syok begitu.
"Mas, kamu teganya! kenapa bungaku di petik?!" kesal Ghina dengan nada meninggi. Fatih mengangkat alisnya, ia bingung. Padahal, ia mau memberikan bunga cantik ini untuk istrinya, main romantis-romantisan begitu loh, ngasih bunga ke ceweknya, bukannya cewek biasanya suka begitu.
"Akh!" Ghina menjerit tertahan, meremas gamisnya sendiri, lalu menatap kesal ke arah suaminya. "Apa kamu nggak inget? waktu kamu berkunjung ke rumahku dan malah merusak bunga-bunga Lilyku? bagaimana responku saat itu? marah?" Ghina bertolak pinggang.
Fatih memejamkan mata, bisa-bisanya ia tidak ingat jika Ghina sangat tidak suka jika ada orang lain memetik bunga kesukaannya, yang berarti sama dengan merusak dan memancing amarah wanita itu.
"Sayang, aku minta maaf, nggak inget. Maaf!" Fatih mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu bingung akan meletakkan bunga bunga yang terlanjur ia petik itu. "Ini, bagaimana? aku terlanjur memetiknya, ya Allah." Fatih mendadak panik sendiri, apalagi melihat wajah istrinya sudah memerah.
Ghina menatap langit yang cerah, nafasnya ia atur sedemikian rupa, suaminya memang orang yang menyebalkan, tapi tidak sepatutnya ia marah-marah seperti tadi hanya gara-gara suaminya melakukan kesalahan sepele, sepele? Ghina merasa itu persoalan besar, ia tidak suka bunganya di rusak.
__ADS_1
"Oke-oke, baiklah, berikan padaku!" titah Ghina dengan nada datarnya. Fatin nyengir sendiri, lalu memberikannya.
"Bagaimana pun, kamu yang menanam semua ini, kamu berhak memetiknya Mas, emmm... harum." Ghina mencium bunga-bunga Lily yang di berikan suaminya.
Fatih yang terkaget karena perubahan emosi yang tiba-tiba dari istirnya, mendesah lega, lalu tersenyum manis karena sang istri bisa menghargai usahanya untuk semata membuat wanita itu bahagia di pagi hari. Sebelum kepulangan mereka ke rumah keluarga besar, ia merasa harus membuat istrinya menikmati hasil tanaman di green house mereka.
"Maaf ya, udah marah-marah," ucap Ghina sembari mengulurkan tangan, lalu menyalami suaminya, menciumi telapak tangan imamnya itu. Fatih yang mendapat perlakuan itu seketika menatap haru, jika tidak sadar dirinya adalah Fatih, bukan Riki yang cengeng, mungkin ia akan menangis.
"Peluk Mas," pinta Ghina dengan nada suara yang manja, belakangan ini, ia memang merasakan kehangatan tubuh suaminya saat memeluknya sewaktu tidur, walau mereka sama sekali tidak melakukan hal lebih selain peluk memeluk dan sesekali mencium.
Mereka saling berpelukan di dalam green house itu, lalu saling berbisik. "Kamu udah cinta kah sama aku?" tanya Fatih lirih. Ghina menggeleng, sebenarnya alasan suaminya belum menyentuhnya sampai sekarang adalah pria itu menunggu Ghina membalas ucapan cintanya.
"Belum, hehe."
Fatih tersenyum maklum, lalu mengusap kepala istrinya. Padahal, tanpa perlu kata terucap sebenarnya mereka bisa merasakan bahwa satu sama lain telah saling jatuh cinta, namun Fatih tidak ingin terburu-buru, ia ingin perlahan menjalin hubungan asmara dengan istrinya yang keras kepala, yang kepercayaannya pada lelaki mudah hancur, apalagi ia sempat membuatnya semakin buruk, ia hanya tidak ingin memaksa Ghina untuk mempercayai dalam-dalam seseorang, termasuk dirinya.
Walau Fatih telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah menyianyiakan wanitanya ini. Wanita yang mampu membuat dirinya menjadi dewasa, wanita yang mampu membuat Fatih belajar sabar karena sifatnya.
"Ibu," lirih Ghina sembari menatap bangunan yang menjadi tempatnya lahir.
"Ghina ya?" suara seorang wanita, membuat Fatih dan Ghina menoleh. Wanita itu begitu cantik dengan kerudung instannya, tangannya melepas selang air yang biasa digunakan untuk menyiram tanaman.
"Iya Mbak Naj, assalamualaikum!" Ghina menyalami kakak iparnya. Sedangkan Fatih menangkupkan tangannya.
"Ayo masuk, sudah disiapin segalanya di dalam," ujar Najwa dengan senyuman. Ghina dan Fatih saling berpandangan. Sebenarnya Fatih sudah tahu apa yang akan terjadi, berbeda dengan Ghina, ia tidak tahu apa-apa dan merasa aneh, padahal ia sengaja ingin membuat kejutan sehingga tidak bilang-bilang bahwa akan pulang akhir pekan ini.
"Selamat ulang tahun!"
Saat kakinya menyentuh tepat di ambang pintu, suara seseorang yang sangat Familiar di telinganya mengagetkan Ghina. Imran terlihat riang sembari membawa dua balon di tangannya. Ibunya tengah duduk di sofa sambil tersenyum menatap ke arahnya.
Oh tidak lupa, ada Nafisah dan suaminya juga Syameela, putri kedua pasangan itu. Mata Ghina melebar, ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan hari ini, apa suaminya juga tidak tahu?
"Mas, bagaimana bisa? padahal 'kan kita nggak bilang-bilang mau pulang ke sini?" bisik Ghina. Fatih merangkul bahunya, tersenyum penuh arti, membuat Ghina memicingkan mata.
__ADS_1
"Atau jangan-jangan kamu--"
"Happy milad adikku yang ke dua puluh satu tahun!" seru Imran lalu segera menarik tangan adiknya menuju ruang tengah. Najwa yang mengekor di belakang, juga ikut bertepuk tangan melihat suaminya menyeret adik iparnya.
"Ya allah, kalian gimana bisa disini?" tanya Ghina ke arah Nafisah dan suaminya serta si kecil Syamila yang begitu menggemaskan karena memakai kerudung. Sedangkan Fatih, selesai bersalaman dengan Imran dan Maheer, ia langsung meraup keponakannya, menggendongnya dan bertanya kabar.
Syamila terlihat senang, anak kecil itu menciumi Fatih sambil berbicara dengan nada lucu. "Paman bawa oleh-oleh buat mila?" tanyanya.
Fatih mengangguk, ia lalu membuka ransel. Sedangkan Ghina, kini duduk di dekat sang Ibu, lalu memeluknya dengan berlinang air mata, saking rindunya. Tangan Ghina mengelus wajah yang mulai keriput itu, dari senyum yang terukir di wajahnya, Ghina menduga ibunya selama ini baik-baik saja dan memang sepertinya kabar tentang dirinya dan Fatih yang cerai, tidak sampai terdengar oleh wanita itu.
"Wah boneka kecukaan Mila!" seru anaknya Nafisah saat Pamannya mengeluarkan boneka Doraemon lalu menyerahkannya pada si kecil itu. "Maacih paman," katanya. Nafisah tersenyum melihat kelakuan putrinya.
"Turun dulu sayang, paman masih capek, belum saliman juga sama Nenek tuh," tunjuk Nafisah kepada Narsih yang ia anggap sudah seperti ibunya. Syamila mengangguk patuh, Fatih menurunkannya dan menyalami Ibu mertuanya.
Ghina yang melihat itu terharu, tidak ada raut kebencian dari Ibunya, itu berarti kabar perceraiannya tidak sampai kepada sang Ibu. Ia lalu melirik Imran yang seolah mengisyaratka bahwa semua aman terkendali.
"Gimana kabar kalian selama disana anak-anakku?" tanya Narsih sambil menepuk-nepuk bahu menantunya yang berjongkok di depannya.
"Alhamdulillah baik dan sehat selalu Bu. Kami lagi disibukkan dengan tugas kuliah," jelas Fatih dengan senyuman.
"Duduk Nak," titah Narsih pada Fatih, yang mengangguk pelan dan menuruti titah Ibu mertuanya yang ia hormati itu.
"Ibu mendengar bisnis kamu sedang nggak baik-baik saja di sana, apa benar?" tanya Narsih khawatir. Fatih mengangguk, tersenyum.
"Lalu, bagaimana kamu mengatasinya Nak? apa anakku banyak menuntut kamu selama ini?" tanya Narsih, membuat Fatih seketika menggeleng cepat, ia tidak pernah merasa Ghina menuntut apapun padanya. Walau bahkan dirinya bangkrut sekali pun dan hidup dengan pas-pasan, Ghina tidak pernah mengeluh.
"Dia wanita yang kuat seperti yang Ibu pernah bilang," jawab Fatih jujur. Narsih tersenyum sembari memeluk dua anaknya itu.
"Ayok! kita lanjut acaranya!" interupsi Imran dengan semangat. Maheer dan Nafisah menyetujui dengan semangat pula.
"Ayuk!" kata Nafisah. Mereka akhirnya makan bersama tumpeng yang telah tersedia dengan Ghina yang pertama menyerahkan bagiannya untuk sang suami. Fatih jelas terharu dan merasa diistimewakan.
Mereka terlibat berbagai obrolan, mulai dari hal sepele hingga hal besar mengenai bisnis. Bahkan mengobrol dengan saudara dan Iparnya membuat Fatih tercetus ide untuk memulai bisnis baru lagi. Maheer juga sebagai Kakak iparnya, akan memperkenalkannya dengan seseorang yang terpercaya yang nantinya akan membantu Fatih dalam bisnis.
__ADS_1