
Ghina yang tidak melewati ruang tamu saat menuju ke halaman belakang, tidak tahu jika di sana Kyai Zhafran dan beberapa orang tengah mengobrol. Orang-orang itu masih kerabat Kyai Zhafran.
Fatih terlihat tertawa, lalu mengangkat sesuatu tinggi-tinggi, seperti amplop. Keduanya lebih tepatnya yang tertawa.
"Siapa sih cewek itu?!" kesal Ghina, ia menginjak teras dengan sedikit keras, merasa kesal karena ia sedari tadi menunggu kedatangan suaminya, ternyata pria itu malah mengobrol ria dengan seorang wanita yang tidak dikenal.
Fatih masuk ke dalam kamarnya, ia melihat istrinya berbaring sambil memainkan ponsel. "Kamu nggak tidur siang?" tanya Fatih.
"Males," jawab Ghina sewot, membuat Fatih mengernyitkan dahinya.
"Kenapa? kamu sebel? nungguin aku?" tebaknya. "Aku tadi silaturrahmi ke rumah Kyai pesantren sebelah sama Mas Maheer, maaf aku nggak sempet bilang."
"Tau," jawab Ghina cepat. Fatih menghela nafas, ia mendekat ke ranjang.
"Wajah kamu makin cantik loh kalau senyum," goda Fatih, namun istrinya malah membuang muka, membuatnya bingung saja. "Kamu pms?" tanya Fatih.
Ghina diam saja, membuat Fatih lagi-lagi menghela nafas, tidak paham apa yang terjadi kepada istrinya.
Usai mandi karena badannya terasa lengket, Fatih kembali mendekati istrinya yang masih cemberut. "Bentar lagi zuhur, masih ada waktu buat tidur Na," ucap Fatih sembari mengusap-usap rambutnya yang basah.
"Iya tau," sahut Ghina lagi. Fatih masih tidak mengerti ada apa dengan istrinya kini. Sepertinya sedang tidak mood sekali. Marah karena ditinggalkan kah?
"Maaf aku nggak ajak kamu tadi, karena pertemuannya memang khusus para santri."
Ghina menatap wajah suaminya yang salah menduga itu. Ia bukan marah karena Fatih tidak mengajaknya untuk berkunjung ke pesantren lain, ia hanya tidak suka sikap friendly suaminya pada wanita asing yang ia lihat tadi.
"Kamu kenapa Na? jangan buat aku bingung," ucap Fatih, berusaha meraih tangan istrinya.
"Katanya udah janji nggak main cewek, apa itu tadi? siapa yang kamu godain di taman belakang?" tanya Ghina akhirnya, suaranya meninggi. Ia tidak tahan karena suaminya masih tidak mengerti penyebabnya bisa sewot begini.
"Hah? taman belakang?" ulang Fatih, sedetik kemudian ia tersenyum. "Dia sepupuku, lulusan dari gontor, baru dua bulan ini pulang ke rumah. Anaknya pamanku. Kamu nggak liat keluarga pamanku ada di ruang tamu," jelas Fatih. Ghina terdiam, ia memang tidak melihat.
"Kok deket begitu? kayak ganjen gitu dia sama kamu. Pas kita nikahan aku nggak liat dia datang," ucap Ghina.
"Ya karena dia lagi di pesantren, nggak bisa pulang karena harus narget hafalan. Dia pulang bawa-bawa undangan, ngundang aku, terus minta ngobrol di halaman belalang, katanya kangen teman masa kecil. Dulu aku sam dia akrab banget emang."
"Ya tapi 'kan nggak gitu juga."
"Gitu apa?" tanya Fatih, ia merengsek mendekati istrinya yang masih memasang tampang garang dan tidak mengenakan. Wanitanya ini terlihat kesal bahkan telah menyebut wanita yang tadi mengobrol dengannya ganjen? ganjen?
"Dia sepupuku, bukan ganjen sayang," koreksi Fatih.
"Cantik sih dia, kamu emang suka goda yang cantik-cantik 'kan?" tuduh Ghina. Fatih tertawa dibuatnya.
"Ya iyalah, siapa laki-laki yang nggak suka wanita cantik? tapi bagi aku, kamulah wanita cantik satu-satunya yang mampu mengikatku." Fatih menggombal membuat Ghina seketika mencubit lengannya.
"Kamu cemburu karena aku sama sepupuku ngobrol?" tanya Fatih setelah meredakan tawa.
__ADS_1
"Mana ada? aku cuma ingetin kamu jangan jadi cowok yang suka tebar pesona ke semua wanita," kesal Ghina. Membuang wajahnya ke arah lain.
"Cemburu atau ingetin? awas loh kalau kamu cemburu berarti tandanya udah cinta hehe," goda Fatih yang semakin mendekatkan dirinya ke tubuh sang istri. Menjawil-jawil dagu Ghina dengan tatapan menggoda. Ghina menepis.
"Cinta apanya ck." Ghina berdecak kecil, ia mendorong dada Fatih agar menjauh. "Jangan deket-deket, aku mau tidur."
"Biasanya juga di peluk kalau mau tidur," sahut Fatih, masih berusaha mendekati istrinya.
"Sekarang panas, nggak mau," sewot Ghina yang langsung memposisikan dirinya rebahan. Fatih seketika langsung mengungkungnya, membuat wanita itu terkaget-kaget, bisa-bisanya di siang bolong begini suaminya malah membuat jantungnya berdebar. Apalagi, harum badan suaminya yang habis mandi itu sungguh membuat Ghina betah berlama-lama menguhirupnya.
"Ngaku, kalau kamu nggak cinta masa cemburu gitu?" tanya Fatih masih mengungkung istrinya. Ghina membuang wajah.
"Nggak."
"Ngaku ayo, atau aku bakalan emm..." Fatih mulai mengancam, menyentuh pelan bibir istrinya.
"Fatih, nggak usah macam-macam, katanya kamu nggak bakalan ngelakuin aneh-aneh kalau aku nggak izinin!" kesal Ghina mendorong kuat-kuat dada suaminya.
"Argh, sakit Na. Aduh dadaku." Fatih beranjak, mengelus dadanya sendiri. Ghina mengernyitkan alis. Wajah suaminya terlihat benar-benar kesakitan, apa tadi ia mendorong terlalu kuat?
"Sakit?" tanya Ghina khawatir, reflek bangkit dan menyentuh dada suaminya yang ternyata bisa ia rasanya debarannya. Mereka saling tatap dalam diam, menyelami netra masing-masing.
Fatih menggenggam tangan istrinya yang menyentuh dadanya. "Berdebar 'kan? inilah cinta," katanya dengan tatapan menghipnotis. Ghina hanya diam, ia juga merasakan jantungnya sendiri berdebar. Apa ia juga sudah jatuh cinta sama suaminya?
Fatih menarik Ghina ke dalam pelukannya, mengusap-usap pelan rambut istrinya yang halus dan memanjang sampai pinggang itu.
"Dia cuma sepupuku, aku nggak bermain-main sama dia, setelah aku mencintai wanita yang cemburuan ini, aku nggak pernah melirik wanita manapun," jelas Fatih membuat Ghina terdiam. "Tapi aku senang, karena istriku cemburu, itu berarti ada cinta dihatinya."
"Nggak papa nggak ngaku, keliatan kok," godanya.
"Fatih!"
"Iya sayang," jawab Fatih yang perlahan meraih tangan istrinya, lalu mengecupnya.
"Pekan depan aku mau ke bogor Na, jadi kita tidak bisa pulang kampung. Tadi, aku ditawarin mengajar kitab di pesantren Bogor, untuk acara dauroh. Akan sangat sayang jika melewatkan." Fatih mulai bercererita.
"Ke bogor?" ulangnya. Ghina menjadi tiba-tiba khawatir akan sendirian di kos.
"Kamu nanti nginap di rumah Mira, agar aman, jangan sendirian di kos. Pekan depannya lagi, baru kita pulang kampung lagi kalau kamu pengen," jelas Fatih.
"Berapa lama kamu ke Bogor?" tanya Ghina dengan mimik sedih.
"Lima hari, setelah itu aku kembali pulang ke kosan, kalau kamu pekan itu juga mau pulkam, kita langsung gasskeun."
Ghina menghela nafas, entah mengapa ia akan merasa rindu pada suaminya karena akan berpisah. "Kamu nggak pengen aku pergi?" tanya Fatih.
"Eh nggak lah, itu 'kan dakwah, tentu aku akan mendukung penuh," ucap Ghina dengan diiringi senyum, matanya berbinar. Fatih ikut senang, karena istrinya tidak menghalangi dirinya untuk berbagi ilmu walau ke tempat yang jauh sekali pun. Di luar kota dan selama hampir seminggu.
__ADS_1
Setelah makan malam dengan keluarga besar yang diisi dengan obrolan keluarga mulai dari membahas pesantren, penambahan tenaga pendidik, pernikahan sepupu Fatih, hingga perjalanan Fatih ke Bogor. Semua anggota keluarga senang, hanya Ghina yang diam-diam tidak rela suaminya akan pergi.
"Itu berarti, setelah kamu antar aku ke kos, kamu langsung berangkat ke Bogor?" tanya Ghina, setelah mereka kini kembali ke kamar. Lampu telah menyala terang, dari balik jendela kaca terlihat di luar begitu gelap, para santri yang sehabis isya tadarus, sudah tidak terdengar lagi, karena jam menunjukkan pukul sepuluh.
"Iya, langsung pergi," balas Fatih, ia membereskan pakaiannya yang akan ia bawa ke Bogor.
"Kamu biasa ya perjalanan dakwah jauh begini?" tanya Ghina.
"Biasa, sedari kecil ikut, dulu hanya ikut saja, tidak pernah jadi pengajarnya. Di luar kota banyak diadakan dauroh-dauroh, Abi yang ngisi, kalau Abi berhalangan, di gantikan sama Mas Maheer, kini karena aku juga sudah mampu dan dipercaya oleh Abi, giliranku yang mengisi, walau Mas Maheer ikut juga kesana."
"Oh begitu." Ghina manggut-manggut. Ia menekuri ponselnya tanpa jelas melakukan apa, hanya menatapnya saja. Kebersamaannya dengan sang suami tinggal beberapa jam saja, besok ketika matahari terbit, mereka akan pulang ke Banjarmasin, lalu sang suami pergi ke Bandara dan setelah itu mereka akan berpisah.
"Mas," panggil Ghina. Fatih yang masih menata isi ranselnya menoleh.
"Iya Na," sahutnya.
"Jaga kesehatan ya selama di sana," ucap Ghina lirih. Namun, Fatih masih bisa mendengarnya.
"Iya pasti, bismillah dan doakan aja yaa," ucap Fatih, kini telah selesai beberes dan hendak merebahkan tubuhnya yang sebenarnya lelah.
Fatih langsung berbaring, tangannya memainkan ponsel, membalas pesan-pesan whatsapp yang belum ia baca apalagi balas. Kakinya mendadak seperti kesetrum saat merasakan sentuhan dingin.
"Na, apa yang kamu lakukan?" kaget Fatih. Ghina tersenyum, mulai memijat kaki suminya.
"Gantian, aku pijitin kamu," jawab Ghina. Fatin menggeleng, meletakkan ponselnya.
"Jangan, kamu juga capek, sini mending kita tiduran, aku nggak lelah-lelah banget kok, kakiku juga nggak pegel," jelas Fatih.
"Masa sih? kamu habis perjalanan jauh pasti pegal, sini nggak papa aku pijitin," paksa Ghina. Fatih meringis.
"Disini aja, pegal dikit," tunjuk Fatih pada bahunya. Ghina beralih memijat bahu suaminya.
Setelah dirasa Fatih puas dan malah hanya terdengar dengkuran halus dari mulut pria itu, Ghina berhenti memijat. Ia ikut merebahkan diri, miring ke samping untuk menatap wajah lelah suaminya.
"Makasih ya Mas, atas kebaikanmu selama ini padaku," lirih Ghina, sembari memindai wajah Fatih yang memang ia akui tampan itu. Garis rahangnya yang tegas begitu mirip dengan Kyai Zhafran. Fatih sebenarnya bisa berwibawa ketika berbicara serius, tapi terlihat tengil ketika pria itu menggoda dan menggombal. Ghina tersenyum sendiri mengingat betapa dirinya sebenarnya diam-diam tersipu begitu suaminya menggombalinya.
Tangannya malah bergerak nakal untuk menyentuh pipi yang masih kencang itu. Jelas, ia dan sang suami masih muda, belum ada keriput apapun yang tercipta. Alis Fatih tebal dan lebat, bibirnya yang kemerahan yang beberapa kali bersentuhan dengan bibir miliknya juga tebal dan kenyal.
"Lima hari, aku nggak bisa bersentuhan dengan ini," batin Ghina. Entah keberanian dari mana atau ia memang merindukan Fatih menciumnya, karena sudah lama rasanya mereka tidak melakukannya, akhirnya ia menempelkan bibirnya.
Tanpa sadar, perbuatan Ghina itu seketika membuat Fatih tersadar, ia terkejut dan juga berdebar.
Hingga keduanya kehabisan nafas, terengah-engah dalam posisi saling menatap. Fatih kembali menyentuh bibir istrinya yang serasa candu baginya.
**Bikin deg-degan otor aja pasangan iniš¤
ciye Ghina mulai terang-terangan tuh
__ADS_1
btw, untuk visualnya, bakal aku post di Ig-ku, follow2 dulu lah @teh_najma
masih mencari2 visual yang cocok gitu buat mereka**