Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Terjatuh


__ADS_3

Suami dan istri itu pulang ke kos dengan menggunakan jasa Grab Car. Mau tidak mau, karena Fatih memang dibawa oleh Riki ke rumah sakit, alhasil tentu tidak membawa sepeda motor.


Fatih mengamati Ghina yang duduk tenang di sampingnya. Matanya menghadap ke depan, tidak memulai pembicaraan sama sekali. Tangan Fatih ingin rasanya menggenggam telapak tangan Ghina yang bebas, tapi ia ragu. Khawatir Ghina tidak suka dengan apa yang ia lakukan.


"Na, kamu nggak pengen beli apa gitu?" tanya Fatih akhirnya. Ghina menoleh, mata beningnya berbinar.


"Aku pengen Batagor," ucap Ghina. Fatih tersenyum.


"Oke, kita minta berhenti sebentar. Pak, beberapa meter ke depan nanti ada penjual Batagor, bisa berhenti dulu ya Pak?" tanya Fatih.


"Bisa." Pak Supir menjawab.


"Btw, kamu udah mulai kuliahnya?" tanya Fatih.


"Udah, baru perkenalan-perkanalan," balas Ghina. "Kamu gimana?" tanya Ghina.


"Aku lupa. Terlalu sibuk mengingat kamu," balas Fatih dengan guyonannya. Hal itu sontak membuat Ghina menepuk pelan lengan suaminya.


"Ditanya malah jawab ngawur!" kesal Ghina yang dihadiahi tawa oleh Fatih.


"Iya udah mulai masuk, sama aja, perkenalan. Lagian, jurusan Ekonomi bisnis itu emang terkenal dengan kesantuyan-nya, jadi ya kami santai-santai aja," jelas Fatih. Matanya masih tidak lepas dari menatap istrinya, bertanya-tanya dalam hati, mengapa sikap Ghina lebih berubah, tidak terlalu jutek lagi padanya. Apakah istrinya sudah cinta?


Ghina diam-diam tentunya merasakan Fatih yang terus menatapnya. Ia risih, juga salah tingkah. Namun, ia tahan. Hendak menegur, ia tidak nyaman kepada Pak Supir yang pasti melihatnya. Apalagi, beberapa kali ia memergoki Bapak-bapak itu melihat ke belakang, mungkin menduga ia dan Fatih adalah anak ABG yang masih pacaran.


"Suamiku, aku juga pengen beli rujak, boleh ya?" tanya Ghina tiba-tiba, membuat Fatih sedikit geli dengan kata 'suami' yang baru pertama diucapkan oleh istrinya.


"Baiklah istriku, beli apa yang kamu mau. Yang penting kamu bahagia dan kenyang bersamaku," balas Fatih, membuat Ghina tersenyum. Entah Fatih tahu maksudnya atau tidak.


Ghina mendekatkan wajahnya, membuat jantung Fatih seketika hampir copot. Belum pernah istrinya berinisiatif seperti ini, baru kali ini dan membuatnya berdebar tidak karuan. Ternyata, dugaannya salah, saat Ghina mendekatkan mulutnya ke telinganya. "Jangan geer, aku tadi manggil suami, karena Pak supir terus ngeliatin kita. Takutnya duga yang macam-macam. Nanti dikira kita anak ABG baru pacaran, mesra-mesraan di belakang orang tua. Biar nggak jadi fitnah, aku panggil kamu suamiku," jelas Ghina, membuat Fatih meneguk ludahnya sendiri. Selain karena tidak sesuai ekspektasi pikirannya, nafas halus sang istri yang menyentuh kulitnya membuat tubuhnya bergetar. Posisi ini, begitu intim dan Fatih sangat suka.


Fatih tertawa pelan setelah Ghina menjauhkan wajahnya. "Kenapa ketawa?" tanya Ghina.


"Takut banget kamu dikira kita bukan siapa-siapa. Dulu kamu nggak mau orang-orang tau kalau kita suami istri, sekarang, malah pengumuman terang-terangan," ejek Fatih yang membuat Ghina mendelik.


"Itu dulu, beda cerita sama sekarang," kilah Ghina. Ia memilih membuang wajah. Pak Sopir akhirnya berhenti, tepat di depan penjual Batagor. Dan ternyata di sampingnya, memang ada penjual rujak, tepat sekali Ghina memesan keduanya.


Sesampainya di kos, Ghina langsung dibuat terkejut dengan bak sampah yang isinya semua bungkus Mie instan. Ia langsung memungut salah satu kemasan yang jatuh ke lantai. Sedangkan Fatih, ia santai-santai saja sambil duduk di sofa dan memainkan ponsel.


"Jadi, kamu sakit gara-gara ngonsumsi mie instan setiap saat?" tanya Ghina mendatangi Fatih dengan satu piring, dua gelas dan satu cerek air ditangannya.


Fatih mendongak. "Sakit udah takdirku aja," balas Fatih. Ghina berdecak.


"Ya 'kan pasti ada sebab akibatnya," kesal Ghina. "Bukannya kamu pernah bila nggak boleh keseringan makan mie ke aku?" tanya Ghina.


"Hehe, khilaf. Aku terlalu galau kehilangan kamu," balas Fatih yang menatap Ghina lekat. Namun, Ghina tidak menggubrisnya. Ia mengambil duduk di samping Fatih. Tangannya cekatan membuka plastik yang isinya Batagor.


"Wah, udah lama banget nggak makan ini," ucap Ghina dengan senyuman. Tangannya langsung mengambil tusuk bambu, dan mengambil Batagor yang sudah dibumbui itu.


"Emm, enak," komentar Ghina, ia kembali menyuap. Hingga tidak ingat menawari Fatih yang terus menatap ke arah makanan.


"Kamu nggak nawarin aku?" tanya Fatih tidak percaya. Ia hanya meneguk air putih di gelas dengan cepat. Ghina menoleh, tersenyum tipis.


"Ya makanlah kalau mau," ucap Ghina dengan wajah tidak bersalahnya, membuat Fatih berdecak pelan.


"Aku habis sakit loh, masih lemah, liat!" Fatih memamerkan tangannya yang terdapat bekas infusan.


"Aku habis di infus, tanganku masih sakit," keluh Fatih, membuat Ghina memutar bola matanya jengah.


"Manja banget, udah gede juga. Laki harus kuat lah," katanya ketus, yang dihadiahi cubitan pelan di pipinya.


"Aw!" Ghina meringis dengan mulut penuh. Menatap Fatih dengan melotot.


"Hahaha, rasain, melawan suami," ejek Fatih yang membuat Ghina tidak terima, ia membalas dengan mencubit lengannya Fatih.


"Apanya yang melawan huh? sampe sini, aku udah jadi istri yang baik tau, udah jemput, terus nemenin sampe pulang. Ck."

__ADS_1


Fatih mengulurkan tangan, mengelus rambut Ghina yang tidak memakai penutup apapun. Rambut istrinya itu panjang dibawah bahu. "Hehe, iya, istriku emang the best. Makasih ya."


Ghina menjauhkan kepalanya, ia kembali menekuni makanannya. Namun, tangannya terarah untuk menyuapi Fatih. "Aa!" titahnya. Fatih yang melihat itu, tersenyum lebar dan dengan semangat melahap suapan dari istrinya.


"Oh ya!" kaget Ghina yang membuat Fatih juga terkejut. "Kenapa?" tanya Fatih.


"Kita belum ngasih tau keluarga, kalau kita nggak jadi pisah," ucap Ghina. Ia mengambil ponsel, untuk menghubungi Imran.


Setelah terhubung, Ghina berdehem sejenak, menatap Fatih sekilas. "Kak, aku sama Fatih nggak jadi pisah," ucap Ghina.


"Apa? gimana bisa? kamu maafin dia Na?" tanya Imran di seberang. Nada suaranya meninggi.


"Tunggu dulu, biar aku jelasin. Foto-foto yang Kakak terima, itu settingan. Ulah temenku sendiri yang suka sama Fatih," jelas Ghina.


"Tapi, dia jelas-jelas suami kamu. Di ranjang sama wanita lain. Gimana bisa settingan?" tanya Imran masih tidak yakin.


"Itu settingan, di rencanakan oleh temenku. Dia sengaja minta bantuan Fatih untuk angkat lemari ke kamar, nah pas dikamar, dia pura-pura jatuh, terus menarik Fatih ke pelukannya dan mereka jatuh di kasur," jelas Ghina.


"Ck, nggak mungkin. Laki-laki itu pasti bohong Na. Dia itu punya banyak selingkuhan. Terakhir kali, aku ngeliat dia di cium sama wanita yang berbeda, di cafenya," jelas Imran.


"Kak, tolong. Percaya sama aku. Kejadian yang Kakak liat pun, semuanya rekayasa. Nama ceweknya Sandra, kekasih Mas Bram, partnernya Fatih, ternyata mereka berdua penipu. Sekarang, usaha Fatih harus bangkrut karena mereka membawa kabur semuanya," jelas Ghina. Terdengar helaan nafas di seberang.


"Kamu yakin Na?" tanya Imran.


"Sangat yakin. Jadi, jangan kasih tahu ibu apapun. Biarkan seolah nggak terjadi apa-apa sama rumah tanggaku kak," pinta Ghina.


"Aku mau ngomong sama suami kamu," pinta Ilham. Ghina melirik ke arah Fatih, yang ternyata tengah menatapnya.


"Kak Imran, mau ngomong sama kamu," ucap Ghina, dan diangguki oleh Fatih.


"Hallo Bang, apa kabar?" tanya Fatih ramah.


"Karena aku percaya sama Adikku, aku akan membiarkanmu dulu. Tapi lain kali, kalau aku temukan kesalahanmu dan menyakiti adikku, aku nggak akan segan memberi pelajaran sama kamu," jelas Imran tegas.


"Baik Bang. Maafkan aku atas semua yang terjadi," ucap Fatih lirih. Wajahnya berubah sendu.


"Insyaa Allah Kak," balas Fatih.


"Baiklah, aku mohon, jaga Ghina. Adikku trauma dengan sosok pria jahat seperti ayahnya. Maka kamu jangan jadi sosok pria jahat kedua di hidupnya Fath," ucap Imran serius. Namun dengan nada memohon. Ia sangat menyayangi Ghina, tidak ingin siapapun menyakitinya.


"Aku akan berusaha Bang," balas Fatih.


"Awas kalau kamu berkhianat," ancam Imran dari seberang. "Lehermu aku pastikan, patah. Bukan cuma pinggang," lanjutnya. Kembali mengingatkan Fatih, saat tempo hari ia menghajar pinggang pria itu dengan keras.


"Iya Bang. Mohon do'anya aja," ucap Fatih.


Setelah telepon di matikan. Suami dan istri ktu terdiam. Ghina fokus makan dan Fatih beberapa kali menghela nafas. Ia menatap sang istri, bibirnya terlihat sudah belepotan.


Ghina menoleh, karena merasa di perhatikan. "Sejak kapan makanmu jadi kayak anak kecil?" tanya Fatih, ia menjulurkan tangannya ke bibir Ghina. Mengelus pelan bumbu kacang yang belepotan di bibir mungil sang istri.


"Fatih!" kesal Ghina, ia menjauhkan kepalanya. Fatih tersenyum manis.


"Na, kalau di pikir-pikir, kenapa kamu masih mau jadi istri aku?" tanya Fatih. "Walau kamu bilang, ini demi keluarga kita. Apa itu artinya, kamu juga mau belajar mencintai aku?" tanya Fatih, matanya jatuh ke dalam netra Ghina. Mereka saling bertatapan lama.


"A-aku nggak tau. Kita liat aja nanti," balas Ghina sedikit terbata. Ia membuang wajah. Lalu menyodorkan satu suapan ke arah Fatih.


Fatih menerima dengan senang hati. Tersenyum manis. "Kamu kayaknya suka banget sama Batagor, makanan favorit ya?" tanya Fatih, mengalihkan pembicaraan sebelumnya.


"Iya, aku suka banget Batagor, di samping empek-empek."


"Suka empek-empek juga?" tanya Fatih. Ghia mengangguk. "Kalau buah, kamu suka apa?" tanya Fatih.


"Buah naga, suka banget," balas Ghina.


"Kamu masih inget 'kan sama green house punyamu?" tanya Fatih. Ghina sumringah.

__ADS_1


"Iya baru ingat. Gimana ya nasibnya sekarang?" tanya Ghina sembari menatap ke arah Fatih.


Laki-laki itu tersenyum. "Aman kok."


Malam harinya, Ghina dan Fatih berencana untuk sedikit memberi siraman ke tanaman bunga yang beberapa sudah Fatih pindahkan ke pot-pot mini berwarna hitam. Green house berukuran sedang itu kini sudah di terangi dengan lampu.


"Makasih ya Fath, udah jagain green house-ku," ucap Ghina, ia menyentuh-nyentuh benih bunga Pacar yang masih kecil.


"Kalau kita jadi pisah, ini mau kamu apain?" tanya Ghina. Fatih yang berada di sampingnya tersenyum.


"Tetap aku pelihara. Sayang dong, aku beli pakai duit," ucap Fatih. Ghina terkekeh.


"Terus, gimana bisnismu Fath? ada rencana ke depan?" tanya Ghina. Fatih mengangguk mantap.


"Pastilah. Aku harus mampu memberikan nafkah bagi istriku. Nggak ingin jadi pengangguran," ucap Fatih tulus. Mendengar hal itu, entah mengapa pipi Ghina menjadi bersemu di balik remangnya lampu.


"Kamu nggak tidur? seharian udah nemenin aku, nggak pengen istirahat?" tanya Fatih yang malah tidak sadar dengan perubahan istrinya. Ghina mengangguk.


"Iya, aku mau tidur," ucap Ghina. Fatih melangkah lebih dulu. Namun, tangannya tiba-tiba ada yang mencekal.


"Kenapa Na?" tanya Fatih heran.


"Kamu boleh tidur di kamar," lirih Ghina. Ia membuang wajah ke arah lain, tidak ingin ditatap Fatih.


"Apa? coba ulangi?" tanya Fatih geli. Ia menyadari istrinya sedang salah tingkah.


"Kita tidur sekamar. Nggak papa kok, lagian kasian kamu lagi sakit, nanti kedinginan diluar," jelas Ghina, lagi-lagi membuat Fatih ingin menggodanya.


"Kamar apa tadi? ulangi?" tanya Fatih, yang membuat Ghina mendadak kesal.


"Telingamu itu udah berapa lama nggak dibersihkan?" tanya Ghina membuat Fatih seketika tertawa. Ia terkejut karena Ghina mengizinkannya untuk tidur sekamar. Apa wanita itu tidak takut jika dirinya melakukan yang 'iya iya'?


Fatih membawa kasurnya ke kamar. Ternyata setelah sekamar, mereka masih beda kasur. Ghina yang ada dipannya, sedangkan Fatih, dibawah. Nelangsa sekali.


"Kamu jangan naik ke sini, awas aja," ancam Ghina. Fatih hanya terkekeh.


"Awas kenapa hum?" goda Fatih, membuat Ghina memekik.


"Pokoknya awas aja! aku jamin kamu nggak bisa jalan besok!" ancam Ghina, membuat Fatih tertawa-tawa dibuatnya.


"Iya iya, tenang aja. Tidur sana," ucap Fatih. Ia sudah merebahkan diri di kasur miliknya yang lumayan empuk, walau tidak di atas dipan.


Ghina menatap waspada ke bawah, tepat dimana Fatih sudah memejamkan mata. Setelahnya, ia bisa terlelap. Sengaja tidak mematikan lampu, karena ia tidak suka itu.


Malam harinya, Ghina mendengus kesal karena tiba-tiba mati lampu. Mencari ponselnya di kasur namun tidak ada. Ah, ia lupa menaruhnya dimana. Walau ia merasa takut, tapi hal itu berkurang mungkin karena ada Fatih juga di kamar itu. Kakinya turun dari ranjang, tangannya meraba-raba angin. Kakinya melangkah hati-hati. Ia berniat mencari hape di atas meja, namun tidak ada. Ia kembali melangkah, mungkin di atas meja rias, namun sayang, kakinya tersandung sesuatu.


Bruk!


Ghina terjatuh menimpa sesuatu. Bukan bantal, bukan lantai tapi empuk. Oh siapa lagi kalau bukan suaminya. Kaki Fatih yang menyebabkannya tersandung.


Lampu tiba-tiba menyala terang. Dan kini, menyisakan dua orang yang sama-sama terkejut karena posisi mereka. Jantung keduanya bergetar tak karuan. Apalagi Fatih yang saat membuka mata, sudah ada wajah sang istri diatasnya.


Matanya menatap intens mata, hidung, hingga bibir merona sang istri. Tiba-tiba pikirannya sudah liar. Maklum, saat malam begini, hormon prianya pasti meningkat.


Ghina segera mengangkat tubuhnya, matanya malah sempat terhipnotis tatapan suaminya sendiri.


"Kamu kenapa Na?" tanya Fatih, mencoba menormalkan detak jantung.


"Tadi, lampu mati, aku mau cari lilin. Eh malah jatuh," ucap Ghina. Ia membetulkan baju. "Maaf udah ganggu kamu tidur," lirihnya lalu segera kembali ke kasur.


Diam- diam keduanya memegang dada masing-masing. Masih terasa desiran aneh didalamnya.


Yuhuuu, YMM back!


Makasih yg udah nunggu ni cerita, walau udah Jamuran kali ya😂kelamaan up

__ADS_1


Otor minta maaf banget. Insyaa Allah selama LIKE KOMEN jalan, otor bakal semangat up kok ya. Selamat membaca..


__ADS_2