Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Acara Syukuran


__ADS_3

Noted: Mengandung unsur 18


Hampir saja bibir mereka bersentuhan saat pintu kemudian di ketuk dan suara salam terdengar dari luar.


"Uy!" teriak yang di luar. Fatih menjauhkan diri, Ghina juga demikian, ia malah salah tingkah sendiri.


"Biar aku yang bukain, itu kayaknya Riki," ucap Fatih beranjak dari duduknya setelah menjilat bibirnya sendiri. Padahal ia tadi benar-benar akan mencium Ghina tapi situasinya tidak tepat. Riki memang pengganggu ulung, bisa-bisanya di saat momen mendebarkan tadi malah datang.


"Woi bro! apa kabar?" Riki langsung nyeruduk, merangkul bahu Fatih dan memeluknya. Melani ternyata ada di belakang Riki.


"Sehat, kamu berangkat sama Melani?" tanya Fatih, ia tersenyum kepada mantan teman sekelasnya itu.


"Iya, karena dia di undang juga, jadi sekalian kami janjian datang bersama-sama," ucap Riki sembari melepas pelukan dan menggaruk tengkuk.


"Janjian?" Fatih menautkan alis, ia baru tahu jika Riki dan Melani sedekat itu, hingga bisa melakukan janjian untuk sama-sama datang di tengah kesibukan mereka yang berbeda.


"Masuklah," ucap Fatih kemudian karena tidak ingin bertanya lebih, ia bisa melihat Melani menunduk, entah malu atau apa.


Riki dan Melani masuk, mereka kini duduk bersila di ruang tamu. Kursi dan meja sudah disingkirkan oleh Fatih di bantu oleh Riki beberapa menit yang lalu.


Ghina yang sibuk di dapur mulai mengangkut gelas-gelas minuman. Melani yang merasa tidak nyaman, izin ke dapur pada dua pria yang asyik bercanda.


"Aku ke belakang ya," kata Melani. Fatih dan Riki mengangguk bersamaan.


Tidak lama, salam dan ketukan kembali terdengar. Tidak ada panggilan apapun. Sehingga Fatih maupun Riki tidak bisa menebak siapa yang datang.


Saat Fatih membuka pintu, ada Sella dan Ilham yang datang bersamaan. Sella, Fatih tidak mengundang tapi istrinya, ia masih tidak suka dengan perbuatan Sella beberapa waktu lalu yang kelewat batas itu, sehingga ia hanya menatap datar wanita itu. Sedangkan Ilham, ia sengaja undang karena pria itu bagaimana pun adalah temannya Ghina dan pria yang sudah menjaga istrinya saat ia tidak ada.


"Masuk," ucap Fatih dengan senyum ramah. Riki langsung menyambut girang Ilham, tidak dengan Sella.


"Di undang juga kamu Sel?" tanya Riki sinis, Sella mengangguk cangung. Bahkan bingung akan duduk di mana.


"Rik, dia temen kita, masa nggak di undang. Cuma kita-kita aja yang kuliah lo, nggak semuanya. Jadi karena kita semua merantau di kota ini harus selalu menjaga hubungan baik," jelas Fatih dengan bijak. Riki terkekeh.


"Kenapa kamu jadi semakin bijak ya Fath? kayaknya istrimu sangat berperan penting dalam perubahan ini," tebak Riki sembari menggaruk dagunya.


"Dari dulu aku ini bijak, karena temenan sama kamu aja jadi begitu," cibir Fatih. Ghina dan Melani datang dengan tangan yang membaw nampan makanan dan minuman.


"Duduk Sel, deket aku." Melani menaruh gelas-gelas yang di bawanya tepat ke depan setiap orang yang duduk, kecuali Sella di pojokkan yang tampak canggung. Melani menyuruh wanita itu mendekat.


"Iya Sel santai aja, jangan di pojokkan gitu," timpal Ghina dengan senyum, ia sudah memaafkan kelakuan Sella tempo hari.


"Makasih," ucap Sella dan mendekat ke arah Melani.


"Btw, siapa lagi ini yang belum datang?" tanya Riki sembari celingukan. Yang ia tahu, memang hanya segini teman sekelasnya yang lanjut kuliah di kota.

__ADS_1


"Fitri?" tanya Melani, ke arah Sella.


"Dia nggak bisa ikut, sibuk katanya sama tugas kuliah," jelas Sella. Semua yang ada di sana mengangguk.


"Mira, temenku satu itu belum datang," celetuk Ghina yang memang tidak mendapati kehadiran teman sekelasnya.


"Mira? temen sekelas?" tebak Riki, Ghina mengangguk. Ia tersenyum menatap teman-temannya, tanpa sengaja netra-nya bersitatap dengan Ilham. Ghina tersenyum canggung.


Kedatangan Mira, membuat mereka berseru riang karena acara syukuran bisa di mulai. Terutama Riki yang perutnya sudah keroncongan dari tadi, ia sesekali menyesap teh hangat di hadapannya untuk menutupi rasa laparnya.


"Baiklah, karena kita kehadiran mantan ketuan rohis disini, saya sebagai tuan rumah, dengan takzim memohon Mas Ilham untuk memimpin do'a selamat, untuk kita semua dan untuk green house yang insyaa Allah isinya akan dibuat untuk memberi kemanfaatan." Fatih berucap sembari menatap Ilham.


Ilham yang tidak ada persiapan apa-apa terkejut karena permintaan itu, namun sedetik kemudian ia menganggukkan kepala. "Baiklah, saya akan memimpin doa untuk acara syukuran ini."


Ghina tersenyum yang bisa ditangkap oleh Ilham. "Bismillah," kata Ilham.


Semua yang hadir pada acara syukuran itu menunduk khusyu sambil menengadah tangan, mengaminkan doa yang di lafazkan oleh Ilham dengan lancarnya.


Setelah usai berdoa, mereka langsung menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh Ghina yang dibantu oleh Fatih.


"Kalian masa sendiri? menu sebanyak ini?" tanya Riki tidak percaya. Menu ayam santan, ayam goreng, bakwan, sambal, lalapan, belum lagi kue basah. Rasanya terlalu banyak jika hanya di kerjakan oleh dua orang suami istri ini, apalagi jika Ghina yang mengerjakan seorang diri.


"Enak lagi ini makanannya," komentar Riki.


"Ini aku semua yang masak," ucap Fatih membuat Riki seketika tersedak-sedak. Yang lain ikut mendongak, saling menatap satu sama lain, tidak percaya jika semuanya adalah Fatih yang memasak.


"Biasalah teman kita ini suka berdusta juga walau anak kyai," cibir Riki yang mendapat jitakan pelan di kepalanya oleh Fatih. Bukan ia tersinggung, hanya saja menyuruh agar Riki bisa menjaga bicaranya.


"Aw, kebiasaanmu menjitak kepalaku emang nggak pernah usai ya, sebel deh," keluh Riki.


Usai makan, mereka mengobrol sejenak tentang kesibukan kuliah masing-masing. Saling menimpali walau tidak se-riuh saat Riki berbicara. Pria itu selalu saja melucon, ditambah Fatih juga, makin klop. Ghina hanya geleng-geleng melihat kelakuan suaminya.


"Saat-saat seperti ini belum tentu bisa terjadi, karena di masa depan mungkin kita akan lebih sibuk," ucap Ghina dengan mimik sedih. "Makasih ya, kalian udah datang, setidaknya ini adalah acara syukuran sekaligus reuni untuk kita-kita."


"Iya Na, kamu tepat banget sih mau adain acara syukuran begini, kalau nggak, kita mungkin malah udah lupa satu sama lain. Kebanyakan ya, walau temenan di sd, smp, sma, tapi pas kuliah, apalagi beda jurusan, itu bisa jadi renggang. Kecuali, rumahnya deketan, kaya aku sama Fatih," timpal Riki.


"Sama-sama Na, aku juga ngerasa seneng, padahal bukan bagian dari kelas kalian, tapi diundang juga," ucap Ilham.


"Jangan begitulah Mas Ilham, kayak kita bukan temen aja mentang-mentang beda kelas. Kita itu 'kan sering ketemu kalau lagi futsal, dari dulu, kita tuh udah temenan," sahut Riki, sembari mengigit bakwan.


Ilham tersenyum, Sella yang sedari tadi diam ikut menimpali, ikut senang. "Terlepas dari apa yang terjadi sama kita, aku juga makasih Na, kamu masih anggap aku temen dan ngundang aku ke acaramu, aku seneng banget. Terus, khususnya untuk fatih, aku minta maaf, kalau selama ini banyak ngebuat kamu nggak nyaman, terus untuk kesalahanku di masa lalu juga, aku minta maaf." Sella menunduk, suasana mendadak hening.


"Sudahlah, semua udah berlalu. Masa lalu buruk itu bukan untuk di kenang tapi untuk dilupakan." Ghina mengutip kata-kata suaminya, ia menepuk bahu Sella. Wanita itu duduk antraa dirinya dan Melani.


"Iya, yang penting kita akur lagi, kaya pas masa-masa SMK," timpal Melani merangkul bahu sahabatnya itu.

__ADS_1


"Makasih ya kalian semua," ucap Sella dengan mata berkaca-kaca.


Fatih dan Ghina menghela nafas lega, setelah mengaja teman-temannya tour di green house dan setelah itu pulang, barulah mereka berdua bisa saling tersenyum.


"Alhamdulillah ya Mas, akhirnya udah selesai acaranya," ucap Ghina, ia menatap gelas-gelas yang sudah bersih, juga piring-piring yang tertata rapi, karena Melani, Sella dan Mira membantunya membereskan semua


"Iya, alhamdulillah, eh Mas? kamu panggil aku Mas? em, kesambet apa nih?" goda Fatih dengan menaik turunkan alis.


"Kamu itu kan katanya lebih tua dari aku. Masih inget kamu pernah bilang itu, saat kita di rumah Abi," jelas Ghina. Fatih terlihat berfikir.


"Oh iya lupa."


Ghina menggelengkan kepalanya, "masih muda kok udah pikun," cibirnya. Fatih yang gemas langsung memencet hidung istrinya.


"Pikun-pikun gini tapi 'kan ganteng." Fatih berkata dengan percaya diri.


Mereka akhirnya masuk ke kamar, Ghina merapikan kasurnya, menepuk-nepuknya pelan. Ia melirik suaminya yang tidur di bawah. "Mas, sebaiknya kamu tidur di atas, aku ngeliat kamu tidur di bawah nggak nyaman, masa aku enak-enakkan disini, suamiku tidur di lantai," ucap Ghina yang membuta Fatin seketika terlonjak.


"Beneran?" tanyanya tidak percaya.


Ghina memutar bola matanya, "hoax," jawabnya asal. Fatih tertawa.


"Oke deh, kalau diizinin mah, langsung gas," ucap Fatih dengan cekikikan. Ghina merebahkan diri di dekat dinding. Fatih membawa bantalnya, ia menaruhnya di samping istri, lalu tiba-tiba sudah berada di atas Ghina saja.


"Fath!" pekik Ghina yang terkejut, sampai-sampai lupa panggilan Mas yang sebelumnya ia gunakan untuk suaminya. Habisnya, Fatih tiba-tiba sudah berada di atasnya saja. "Kamu mau a...pa?" tanya Ghina gugup.


"Katanya udah kasih izin, boleh dong, aku emm..." Fatih menunda bicaranya, menatap lekat mata wanita yang ia cintai di bawahnya. Sudah sejak lama ia menahan ini, tapi malam ini rasanya ia semakin menggebu saja.


Ghina menutup matanya sendiri, ia berfikir mungkin Fatih akan melanjutkan aksinya yang sempat terputus gara-gara kedatangan Riki tadi. Benar saja, bibirnya kini sudah disapu dengan lembut. Fatih menciumnya perlahan. Walau tidak membalas sama sekali, Ghina sebenarnya sangat berdebar. Baru kali ini, merasakan sensasi yang berbeda saat dicium oleh suaminya. Ia merasa senang, perutnya seperti di hiasi kupu-kupu. Apa ini yang dirasakan orang yang sedang jatuh cinta?


Fatih menghentikan aksinya, membiarkan istrinya bernafas, walau hasratnya sudah menggebu tidak karuan, tapi mengingat Ghina tadi siang sudah kelelahan karena masak banyak untuk acara syukuran, ia tidak tega.


"Tidurlah sayang, besok dilanjut ya, kita pelan-pelan aja," ucap Fatih dengan suara serak. Matanya sudah sayu.


Ghina yang tadinya berfikir Fatih akan melakukan lebih, hanya meneguk ludah, mengangguk perlahan. Sensasi tadi benar-benar membuatnya kehilangan akal, bisa-bisanya berharap lebih. Fatih mengecup pipi kirinya, lalu beralih dari atasnya. Tidur di sampingnya sambil menghadap ke arahnya.


Ghina yang masih kaku karena kejadian beberapa menit lalu, hanya menatap langit-langit kamar. Ia malu sekali. "Boleh ku peluk?" tanya Fatih.


Ghina menoleh perlahan, wajahnya sudah memerah, lalu mengangguk pelan.


Author:


waduh, makin iya aja nih si couple. Haha, buat yang menanti-nanti cerita ini, otor mon maaf karena baru sempat up lagi. Otornya lagi sibuk sama Dinikahi Dosen dan Hijrah Cinta Bryan di aplikasi merah dan ijo, maklum yaa.


Komen-komen lah, biar otor ada tenaga buat lanjut. Jangan diem-diem bae🤧 Mau ending nih sudah, setelah malam pertama eaa

__ADS_1


bentar2 ini lama banget reviewenya, gara-gara ada adegan kamar😂


__ADS_2