Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Visi Misi


__ADS_3

Gadis itu mengerjapkan mata. Bukan cahaya yang ia dapatkan, tapi kegelapan. Ghina berusaha mengambil nafas secara teratur, ia tidak boleh panik.


"Ibu," panggilnya dengan suara lirih karena matanya tak mampu menangkap apapun. Bahkan cahaya dari luar pun seolah tak masuk ke dalamnya.


Walau ia sudah menginjak usia delapan belas, tetap saja belum terbiasa dengan kegelapan yang tiba-tiba ketika ia tertidur. Beda halnya ketika ia benar-benar sengaja mematikan lampu. Kejadian itu, kembali terngiang.


Badannya gemetaran, berusaha menyibak selimut, lalu mencari-cari ponsel miliknya yang ia biarkan di kasur. Tangannya meraba, namun tak menemukan apapun. Nafasnya makin sesak rasanya.


"Ibu, hiks, Kak Imran, hiks." Ghina sesegukkan, ia memilih meringkuk. Hingga seseorang yang juga tidur di sana namun ditempat berbeda terbangun.


Fatih merasa terusik dengan suara orang yang menangis pelan. Ia menyibak selimut, meregangkan tubuhnya, lalu mengecek ponsel yang menunjukkan pukul tiga pagi.


"Ibu," panggil Ghina. Ia memang tidak ingin berteriak, sudah kebiasaannya mulai ia SMK, ketika takut, ia hanya akan memanggil-manggil nama sang Ibu dengan lirih. Jika ada Imran, biasanya laki-laki itu yang akan datang ke kamarnya. Atau jika Ibunya mendengar, maka wanita itu yang akan menenangkannya.


Fatih berusaha untuk melihat siluet seseorang yang meringkuk di atas kasur. Ia menyalakan lampu, lalu melihat wajah Ghina yang berkeringat dingin.


"Na, kamu kenapa?" tanga Fatih khawatir. Ia berjalan ke arah ranjang, lalu duduk di tepinya. Dapat ia lihat, air mata istrinya bercucuran. Rautnya menampakkan ekspresi yang sama ketika dirinya mengungkung tubuh istrinya itu beberapa waktu lalu.


Tidak menapat jawaban, Fatih menepuk pelan bahu Ghina. "Hei, kamu kenapa Na?" tanyanya ulang.


Ghina menatap wajah Fatih, ia baru sadar jika ada sang suami bersamanya. "Aku cuma ..." mengatur nafas. "Takut. Kamu kebangun karena aku ya? maaf."


Untuk pertama kalinya, ia mendengar Ghina meminta maaf. Wanita itu menunduk dalam sambil mendekap lutut.


"Jangan ceritakan sama siapa-siapa, cuma kamu dan keluargaku yang tau."


"Kamu trauma gelap?"


Ghina mengangguk, lalu menyeka air matanya. "Sejak kecil."


"Maaf karena aku nggak tau. Tadi malam, kamu 'kan tidur duluan. Jadinya lampu aku matiin."


Ghina menggeleng. "Nggak. Aku aja yang cengeng, sampai sekarang nggak mampu lawan rasa takut."


Fatih mengusap pucuk kepala Ghina, perlahan tangannya turun ke wajah. "Ya udah, ini masih jam tiga Na, kamu mau salat, atau tidur lagi? subuh masih dua jam lagi."


"Kalau udah gini, aku susah tidur Fath."


Ghina hendak beranjak, namun lampu kembali padam. Membuatnya seketika memeluk suaminya erat.


Fatih yang terkejut dengan tingkah spontan sang istri hanya terdiam kaku di tempatnya. Getaran di dada itu selalu menemaninya, ketika ia berdekatan dengan Ghina.


"Pemadaman listrik," ucap Fatih berusaha dengan nada normal. Ghina yang sadar dengan posisi mereka, menjauhkan tubuhnya, namun sayang usahanya gagal, tangan Fatih kembali menariknya dalam dekapan.


"Fath, lepas. Aku tadi gak sengaja. Nyalakan lampu baterai aja tuh di meja belajarku."


Fatih menggelengkan kepala. Ia sudah merasa nyaman di posisi itu. Kapan lagi bisa memeluk Ghina?


"Iya aku tau. Nggak papa, kalau kamu takut peluk aku. Gratis kok."


"Bukan gitu." Ghina berontak, berusaha melepaskan diri.


"Diem, biar aja gini. Tenangin diri kamu dulu." Fatih mengelus rambut sang istri. Mereka terdiam dalam kegelapan.


Lama mereka terdiam, hingga Fatih merasakan tubuhnya mulai berat. Ghina seperti menyandarkan kepala di dadanya. Lampu menyala kembali, kini ia dapat melihat wajah Ghina yang bersender padanya dengan mata terpejam.


"Na, kamu tidur?" tanya Fatih lirih. Ia hendak mencolek pipi sang istri, namun urung karena tak tega membangunkan Ghina.


"Kalau tidur gini 'kan nggak keliatan ini juteknya." Fatih tersenyum sendiri, sambil perlahan merebahkan kepala Ghina di atas bantal. Kini, bukan sang istri yang tak bisa tidur, tapi dirinya.


Akhirnya, ia memilih untuk mengambil wudhu dan melaksanakan salat malam sesuai kebiasaannya saat di rumah orang tuanya. Setelahnya, ia tadarus ria dengan suara pelan, lalu sambil menunggu azan, ia pandangi wajah istrinya di ranjang.

__ADS_1


Hingga mata lentik itu terbuka, mulutnya pun sama.


"Ih Fatih, jam berapa ini? kok udah ngaji aja di masjid itu?" tanya Ghina, sebenarnya ia salah tingkah karena sewaktu membuka mata, malah wajah suaminya yang pertama kali terlihat.


"Hampir jam lima. Kurang dua puluh menit."


"Kenapa nggak bangunin sih?" gerutu Ghina dan menyibak selimut. Sedangkan Fatih, hanya terkekeh.


"Salah siapa, udah bangun malah tidur lagi." Si suami tak mau kalah, membuat Ghina mendengus dan mengambil wudhu.


Azan Subuh berkumandang, Ghina hanya diam setelahnya. Ia tidak ingin meminta terlebih dahulu kepada Fatih untuk jadi imam salatnya. Biarlah laki-laki itu berinisiatif.


"Mau aku imamin 'kan?" tanya Fatih dan menghampiri tempat salat.


Ghina mengangguk saja, tanpa menatap. Setelahnya, mereka larut dalam munajat berjamaah untuk pertama kalinya di barengi dengan kokokkan ayam sesekali.


Setelah mereka salat berjamaah dan berzikir, mereka terdiam. Ghina menatap punggung laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu walau secara terpaksa. Matanya membesar sesaat ketika mendapati Fatih berbalik dan menatapnya dalam.


"Kenapa kamu?" tanya Ghina dengan nada gugup yang bisa ditangkap Fatih.


Laki-laki itu meraup nafas, tersenyum tipis melihat tingkah Ghina yang jarang terlihat itu. Ingin sekali ia mencubit pipinya, tapi hal itu pasti membuatnya marah-marah.


"Aku lupa bilang. Hari ini, jam tiga sore, aku mau ke Batulicin sama Abi untuk agenda dakwah, menggantikan Mas Maheer sementara."


"Berapa lama?"


"Seminggu. Kamu nggak papa 'kan ditinggal?"


Ghina mencebik, "lama juga nggak papa. Eh, selamanya makin baik."


"Oh, beneran ya? kamu mau jadi janda muda?"


"Ya nggak lah, jangan sampe." Ghina bergidik membayangkannya tapi ia ingat lagi dengan pernikahan mereka yang kurang berjalan begitu baik. "Fath, kita omongin visi pernikahan kita kedepannya yuk, biar jelas. Jadi, aku nggak khawatir lagi."


"Sebagai cewek, pihak yang paling akan di rugikan, jika pernikahan kandas. Maka, aku harus siap-siap untuk meng-" Fatih maju beberapa senti, ia menaruh jari telunjuk di bibi Ghina.


"Ssst! jangan pernah ngomong kalau pernikahan ini bakal kandas. Kita berusaha sama-sama sampai tiba waktunya salah satu dari kita dipanggil. Aku gak pernah membayangkan, pernikahan ini berakhir."


Mereka saling tatap, menyelami kejujuran lewat mata masing-masing. Ghina bertanya-tanya dalam hati. "Apakah Fatih bisa setia padanya?"


Tapi yang jadi persoalannya adalah dirinya. Ya, Ghina sendiri yang bahkan hingga saat ini masih menaruh nama laki-laki lain di hatinya.


"Hei bengong lagi." Fatih menepuk pelan pipi istrinya. Ia menjadi heran, akhir-akhir ini sang istri sering melamun, apa memang ini kebiasaan Ghina yang ia baru ketahui. "Gimana? jadi gak ngomongin visi misi?"


Ghina mengangguk. Lalu melepas mukena dan berjalan ke arah meja belajar. Lalu mengambil buku diary miliknya.


"Sini Fath," panggil Ghina pada sang suami yang tengah memeriksa ponselnya. Fatih mengangguk dan duduk di sebelah Ghina, berbagi kursi yang lumayan lebar itu.


"Mulai dari mana dulu nih?" tanya Ghina meminta pendapat. Fatih tersenyum, baru kali ini nada bicara Ghina ramah dan bersahabat.


"Mau ngomongin apa dulu? cita-cita kita? kuliah kita? anak-anak kita?" tanya Fatih sambil memberi beberapa pilihan.


Ghina sebenarnya sedikit geli mendengar kata 'anak' apakah harus di bicarakan juga? apakah mereka bisa berumah tangga hingga beranak pinak?


"Cita-cita kita deh," putus Ghina. "Kamu mau jadi apa? mau ngapain aja? beberapa tahun ke depan?" tanya Ghina. Baru kali ini, ia mewawancarai Fatih seperti ini.


Suaminya membenarkan rambut yang acak-acakkan, lalu menatap lurus ke arah taman bunga yang terlihat dari balik jendela. "Kamu dulu, karena kamu prioritasku."


Jawaban Fatih membuat Ghina tersedak, di saat-saat mau serius, suaminya itu masih saja menggombal. "Ini beneran Fath, jangan bercanda," kesal Ghina.


Fatih menoleh, kepalanya manggut-manggut. "Iya bener, aku gak bercanda. Kamu duluan."

__ADS_1


Ghina menghela nafas, "oke, dengerin." Tangannya mulai menulis, namanya sendiri.


"Setelah kuliah nanti, aku pengen jualan Bunga. Jadi gak sekedar melihara, tapi dapat juga hasil darinya. Ini jangka pendek bisa dibilang. Karena bentar lagi 'kan kita masuk kuliah. Untuk jangka panjang, lima tahun ke depan, aku pengen punya beberapa toko cabang gitu. Kayak kamu yang punya toko ATK, harapannya ya berlangsung cepat. Tapi, namanya sambil kuliah, bisa jadi banyak hambatan. Menurutmu gimana?"


"Em, boleh. Aku gak nyangka, sesederhana itu impian kamu Na. Aku pikir, kamu mau jadi ibu negara."


Ghina tertawa mendengar perkataan Fatih, untuk pertama kalinya. Tanpa menyadari, betapa berdegupnya hati sang suami menyaksikan itu. "Berat Fath, emang kamu mau jadi presiden? ngurusin banyak hajat orang? kalau gak mampu, urusannya bukan dunia aja masalahnya, tapi akhirat. Ngeri, bayanginnya. Kalau sekali korup, sekali kebijakan melenceng, ya tanggung jawab tuh di akhirat."


Ghina menjeda ucapannya, mengatur nafas karena tertawa barusan.


"Tapi, kamu nggak ada cita-cita mau jadi presiden 'kan Fath?" tanyanya.


Menggeleng, lalu mengusap rambut istrinya. "Nggak lah, aku tau kamu bakal stress kalau aku maunya gitu."


"Kamu do'ain aku gila?" mulut Ghina manyun, oh apakah sekarang wanita itu bermanja-manja pada sang suami.


"Oi, kondisikan bibirmu, jangan sampai aku cium nanti." Peringatan dari suami membuat Ghina segera menghentikan bibirnya, ia tak sadar sekarang bukan sedang bersama Kakaknya tapi sama sang suami. Hampir lupa.


Terkekeh pelan menyaksikan Ghina yang hanya terdiam, namun ia bisa melihat rona merah di wajahnya. Apa gadisnya tengah malu saat ini?


"Udah?" tanya Fatih.


Mengangguk setelah mencatat cita-citanya. "Iya sementara itu. Kamu lagi."


"Aku pengen punya usaha cafe, di dekat kampus. Tapi, aku juga pengen punya toko ATK di kampus, lumayan lah, kalau mahasiswa mah pasti lebih banyak urusan sama hal itu. Jadi, bisa di perkirakan keuntungannya banyak."


"Fath, kamu emang suka bisnis ya? sejak kapan? kamu 'kan dari pesantren, gak niat jadi guru atau pengajar TPA gitu?"


"Eh jangan remehin lulusan pesantren. Mereka juga sama seperti kalian yang lulusan SMP atau SMA, punya cita-cita. Gak mesti jadi guru ngaji. Aku suka bisnis, sejak SMP. Niatnya dari sana, dulu aku suka bermain kelereng sama temen-temen, eh karena aku menang banyak, aku jualin tuh. Aku 'kan mondoknya di Bati-bati, waktu itu. Pesantrennya cukup ketat, gak boleh banyak main. Jadi, kalau jualan kelereng, diem-diem tuh. Nanti, kalau hari libur baru bisa main. Padahal mah, di kamar kami yang luas juga bisa mainan. Hafalan mah diakhir aja."


Mendengar cerita sang suami waktu kecil, Ghina jadi antusias, ia menopang dagunya sendiri. "Terus?"


"Ya sejak itu, jadi suka jualan. Terus, aku tuh suka ngegame. Dulu, banyak temen-temen yang minjem laptopku, dengan bayaran tentunya. Kan nggak banyak tuh yang punya laptop. Lumayan lah duitnya. Aku pakai untuk nabung. Soalnya aku mau buka toko ATK, nah jadi udah ada rencana tuh. Terus, aku izin sama Abi buat masuk SMK, alhamdulillah diizinkan, dan sekalian aku bisa realisasikan cita-cita aku."


"Jadi, modal sendiri?"


Mengangguk, Fatih ikut melihat apa yang ditulis Ghina di buku diary gadis itu.


"Udah?"


"Sementara itu dulu. Em, tadi udah ngomongin tentang visi satu sama lain. Kalau tentang kita, gimana?" tanya Fatih dengan wajah yang serius, membuat Ghina berdehem pelan untuk menetralkan suasana yang ya seperti itulah.


"Kalau kita, menurut kamu?" Ghina melimpahkan balik pertanyaan itu pada Fatih.


Sang suami menghela nafas, "aku maunya kita berumah tangga sampai surga. Visi yah pengen dapet ridho Allah, misinya bisa kita lakukan sama-sama, ibadah, saling mengingatkan, dan lain-lainnya. Aku pikir, kamu juga paham Na. Kamu bisa jadi lebih paham dari aku."


Ghina terdiam mendengar jawaban Fatih, memang benar, untuk apalagi pernikahan selain 'mengharap ridha Allah?' jawaban yang dalam itu membuat dirinya tiba-tiba takut. Bisakah itu terwujud? bukankah ia inginnya bersama Ilham mewujudkan itu?


Tidak ia sangka, Fatih ternyata mengerti. Mungkin karena itulah, laki-laki itu memutuskan setuju untuk menikah karena memang sudah paham apa tujuannya. Bukan untuk bermain-main atau mengecap manisnya surga pernikahan, tapi juga siap menerima gejolak api yang membakar juga kerikil-kerikil yang nantinya bakal di hadapi ke depan, dalam sebuah ikatan yang tidak hanya dijalani oleh satu orang, tapi dua orang.


Jika di pikir-pikir, semenjak mereka menikah. Ghina bisa melihat sisi lain dari laki-laki yang dulu sangat ia benci karena kenakalannya. Fatih, seolah menjelma menjadi pria dewasa dan imam rumah tangga sekarang. Ya, walau terkadang ada saja kelakuan atau perkataanya yang menyebalkan, tetap saja. Ini lebih baik dari Fatih yang dulu.


"Kalau kamu gimana Na? maukah bersama-sama wujudkan visi itu?"


Deg!


Entah mengapa, pertanyaan itu lebih menyeramkan dan sulit dibanding soal-soal ujian nasional kemarin. Mata Ghina mengerjap pelan, mengulur waktu, walau otaknya berfikir keras. Padahal tinggal mengiyakan, tapi mengapa begitu susah. Apa sebenarnya yang menghalangi mulutnya untuk berkata 'ya' saja?


Yuhuuuu.... otor balik lagi. Btw, doain otor, mau nulis cerita baru huhu, ini masih siapin fisik dan mental ciyaah.


Yang suka ceritanya jan lupa like, koment, vote, follow juga boleh.

__ADS_1


Ig otor Najma Afsheen


Barangkali, ada yang mau dm, eh kepedean🙄


__ADS_2