Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
09


__ADS_3

"Keluarga Kyai Zafran diluar," ucap Imran memberitahu.


"Ya sudah, Na kamu beresin ini, terus buatin mereka minuman dan ambil cemilan di bupet," titah Ibunya yang kembali berbicara kepada Ghina. Gadis itu hanya mengangguk.


“Assalamualaikum.” Suara salam terdengar sayup dari luar. Ghina ikut menoleh, memperhatikan Ibunya yang membuka pintu depan.


“Wa’alaikumussalam, masyaa Allah Bu Nyai dan Pak Kyai, silahkan masuk." Narsih menyambut kedatangan keluarga Kyai Zafran dengan senyuman mengembang, berbeda sekali dengan ekspresinya beberapa menit yang lalu di meja makan.


“Terimakasih," balas Bu Nyai sembari bercipika-cipiki dengan Narsih.


Di belakang Kyai dan Bu Nyai, menyusul seorang laki-laki dengan postur tubuh jangkung dan hidung mancung tersenyum, lalu menyalami Imran. Juga ada seorang lagi yang dari wajahnya terlihat lebih tua beberapa tahun dari laki-laki pertama.


"Apa kabar?" tanya Imran basa-basi pada Maheer yang masuk belakangan.


"Alhamdulillah, seperti yang terlihat," balasnya dan tersenyum. "Padahal baru tadi pagi kita ketemu,"


"Jangan sok canggung, nggak banget Her," ucap Imran dengan seringaian. Maheer terkekeh pelan seraya menepuk bahu Imran.


"Loh, kalian ini udah saling kenal?" tanya Narsih pada Imran dan Maheer yang kini sudah duduk berdampingan di sofa.


"Iya Bu, satu alumni. Man Jorong," balas Imran.


"Oalah, pantesan. Eh, monggo Pak Kyai dan Bu Nyai, duduk."


Kya Zafran dan Bu Nyai mengangguk dengan senyuman ramah. Mereka berbincang basa-basi. Tak lama Ghina datang membawa nampan berisi empat gelas teh hangat dan dua toples cemilan berisi nastar dan keripik singkong balado.


"Ghina, duduk," titah Ibunya. Ghina mengangguk sembari menangkup nampannya di perutnya. Tatapannya sempat bertemu dengan Fatih sekilas, namun dengan segera ia membuang muka.


“Nggak nyangka hari ini kedatangan tamu istimewa. Jadinya ya seadanya bu Nyai, saya belum bersiap apa-apa.” Narsih mengerutkan kening dengan senyum tidak nyaman.


Kyai Zafran hanya tersenyum, sembari terduduk dengan penuh wibawa di kursi ruang tamu. Baju koko yang dikenakannya tampak sederhana, namun tetap memancarkan kharisma luar biasa. Garis wajahnya terlihat sekali jika beliau kebapakan dan tegas.


“Iya Bu, santai aja. Maafkan kami juga kalau terlalu tiba-tiba. Tadi, saya sempat minta tolong sama mantu saya buat sampaikan ke wali Nak Ghina di sekolah bahwa kami akan bertamu. Kami nggak ingin merepotkan, hanya untuk meluruskan sesuatu," jelas Kyai Zhafran lalu menyesap teh hangat pelan dan kembali menaruhnya di atas meja.

__ADS_1


"Eeh iya Pak Kyai, tadi Imran juga udah bilang sama saya. Cuma tetep aja rada kaget, kok tiba-tiba Kyai berkunjung ke rumah saya yang sederhana ini," ucap Narsih yang merasa keluarganya tidak ada kepentingan apapun untuk dikunjungi keluarga Kyai.


"Nggak papa, ini sekalian silaturrahmi Nar. Aku biasanya datang ke sini cuma buat jahit. Sesekali ya resmi gitu," ucap Bu Nyai Zainab.


"Inggih Bu Nyai. Saya malah senang, keluarga Kyai bersilaturrahmi. Silahkan di minum teh hangatnya. Nak Fatih juga dan ini..." Narsih berhenti berbicara saat matanya menangkap teman Imran.


"Maheer Bu," sela Imran. Narsih tertawa pelan.


"Iya Nak Maheer, silahkan diminum."


Maheer tersenyum dengan anggukan kepala.


“Baiklah Bu. Sebelumnya maaf sekali jika kami mendadak bertamu. Tapi ini semua demi kebaikan putra dan putri kita. Mengenai permasalahan yang kini menimpa keduanya. Sebagai orang tua, tentu kita khawatir jika anak kita terjerumus pada maksiat. Oleh karenanya, saya disini sebagai figur ayah ingin memastikan dengan jelas dan bertindak mengambil langkah untuk solusi dari permasalahn yang tidak hanya melibatkan keluarga kami tapi juga keluarga ibu,” jelas Kyai Zafran dengan nada lembut. Ghina menunduk semakin dalam ketika mendengar perkataan Kyai Zhafran. Ia begitu malu.


“Iya Pak Kyai, saya paham. Sebagai orang tua tentu kita khawatir terhadap apa yang dilakukan anak kita yang melanggar syariat. Tapi kembali lagi, berkaca, bahwa ternyata diri belum bisa mendidik amanah Allah dengan baik. Jujur, saya amat malu Pak Kyai. Sebagai ibu di pihak perempuan, jelas saya merasa melahirkan anak yang membawa aib bagi keluarga sendiri dan orang lain," ucap Narsih dengan tatapan mata ke bawah. Ia merasa bersalah karena putrinya bermasalah dan melibatkan keluarga Kyai.


“Bu, jangan menyalahkan diri sendiri. Kita disini bukan menentukan siapa yang salah. Semua dari kita intinya ingin solusi terbaik. Tapi, akan saya izinkan anak saya terlebih dahulu menceritakan semua yang terjadi, mungkin Nak Ghina juga nantinya bisa menceritakan dari sudut pandang Nak Ghina," jelas Kyai Zhafran.


“Sebenarnya, semuanya fitnah. Saya dan Ghina juga sudah menceritakan kejadian sebenarnya pada guru-guru di sekolah. Tapi pihak keluarga masih belum percaya. Saya hanya meminta, tolong beri kami berdua kesempatan untuk mengklarifikasi bahwa foto itu hanya fitnah. Beri kami waktu untuk itu," jelas Fatih dengan memohon.


“Tetap aja, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu Nak. Seorang laki-laki pantang mundur dari tanggung jawab." Kyai Zhafran menepuk bahu Fatih.


"Bukankah kamu udah bilang akan bertanggung jawab?" tanya Kyai Zhafran yang kembali mengingatkan.


“Tapi Bi, bukan aku nggak mau tanggung jawab. Tapi ini adalah fitnah. Aku harus membuktikan bahwa kejadian itu adalah fitnah," Fatih tetap kekeh. Walau sebenarnya ia sudah mengatakan pada Abinya untuk siap dengan konsekuensi dari perbuatannya, tetap saja ia belum bisa sepenuhnya untuk itu.


Bu Nyai menepuk pelan bahu Fatih, mengusapnya, seperti mengisyaratkan agar Fatih tidak emosi menghadapi Abinya. Aku menunduk.


“Aib ini sudah tersebar ke seantero pesantren. Dan aibnya tentu keluarga kita. Maka, saya dan bu Nyai ingin mengusulkan agar Ghina dan Fatih segera dinikahkan agar semua persoalan tidak lagi terdengar. Kita bisa koordinsikan nanti dengan pihak sekolah. Inilah jalan terbaik, menghindari fitnah.” Kyai Zhafran menghela nafas berat. "Bukankah kamu di rumah tadi udah setuju kalau di nikahkan?" tanya Kyai Zhafran. Fatih menghela nafas. Sedangkan Ghina mendongak dengan mata membesar.


"Apa? dinikahkan dengan Fatih?" batin Ghina. Ia memejamkan mata, semoga apa yang didengarnya barusan salah. Tidak mungkin dirinya harus menikah dengan Fatih Rafasya hanya gara-gara fitnah itu.


"Pak Kyai, bolehkah saya berbicara?" interupsi Ghina yang membuat sang Ibu menatapnya tajam.

__ADS_1


“Bukankah jika saya dan Fatih menikah itu membenarkan tuduhan mereka? menurut saya nggak adil, kita berhak untuk menunjukkan bahwa kita tidak salah," Ghina mengutarakan pendapatnya. Kyai Zhafran tersenyum sedangkan Narsih nampak tidak enak.


"Ghina, kamu jangan bicara gitu kepada Pak Kyai, kamu nggak sopan," larangnya.


"Tapi Bu, Ghina dan Fatih itu di fitnah. Dan hanya gara-gara itu masa' kami harus nikah?" tanya Ghina dengan tatapan sendu.


"Awalnya Fatih juga nggak setuju," lirih Pak Kyai Zhafran, suaranya masih lembut. "Tapi saya jelaskan pada dia bahwa dengan menikahkan kalian adalah akhlak, seorang anak Kyai ketahuan tengah berzina dengan seorang wanita disekolah, seperti apakah pandangan masyarakat nanti. Bukan saya mempedulikan pandangan orang, tapi mencegah dari perbuatan dosa berulang, yakni gibahan yang dilakukan orang lain sebab aib keluarga kita. Setidaknya, kita mampu menghentikan mereka." Perkataan Kyai Zhafran mampu membuat Ghina mengatupkan mulutnya.


“Saya akan ikut apa yang Kyai dan Bu Nyai putuskan. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa," ucap Narsih tiba-tiba dengan senyuman hangat. "Jika itu pilihan terbaik, ayo kita nikahkan anak-anak kita," katanya lagi.


"Apakah Fatih setuju menikah dengan saya?" tanya Ghina


Fatih mengangguk, "saya setuju."


Ghina menatap Fatih dengan gelengan kepala. Bagaimana bisa Fatih setuju dengan ide yang tidak main-main ini? menikah? ayolah, mereka masih SMK. Perjalanan mereka masih panjang dan tentunya menikah muda tidak ada dalam list target yang ingin Ghina capai.


Matanya lalu beralih memandang Imran, dengan pancaran mata yang mengisyaratkan, "kak Imran tolong bantu aku."


Sedangkan Imran hanya mengusap wajahnya pelan. Ia juga terkejut dan merasa bingung secara bersamaan. Ia kira, solusi dari keluarga adalah dengan saling memaafkan dan melupakan adanya berita fitnah itu. Namun ternyata justru berujung pada nasib sang Adik yang harus menikah dengan anak Kyai.


“Bu, percayalah aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Fatih.” Ghina menatap Narsih, memelas. Memegang tangannya lembut. Mencoba menyelami netra hitam dan lembut itu, semoga Ibu percaya padaku. Namun, beliau tetap bergeming.


“Maaf Pak Kyai, Bu Nyai. Tapi alangkah lebih baiknya kita memang mempercayai mereka, bahwa semuanya bisa jadi cuma fitnah, walau foto itu menunjukkan jelas sekali perbuatan mereka.” Imran, menengahi. Mencoba membantu Ghina.


"Imran!" Narsih menatap tajam Imran.


"Ini demi kebaikan Ghina dan Fatih Nak," ucap Narsih. "Pak Kyai dan Bu Nyai tentu lebih mengerti daripada kita. Mereka ingin kebaikan bagi Ghina dan Fatih."


"Kami nggak ingin memaksa, hanya saja. Itu adalah solusi yang tepat menurut keluarga kami. Selanjutnya saya serahkan saja kepada keluarga Bu Narsih," ucap Bu Nyai. Narsih mengangguk pelan.


"Saya sangat setuju Bu Nyai. Justru, saya merasa sangat bersyukur," ucapnya yang lagi-lagi membuat Ghina menggeleng.


"Maafkan atas sikap anak saya Kyai. Saya akan berusaha nasihatin dia setelah ini."

__ADS_1


__ADS_2