Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Copet


__ADS_3

Ghina terdiam mendengar penuturan Fatih dalam posisi mereka saat ini.


"Kalau bukan istriku yang percaya padaku, siapa lagi yang akan percaya?" lirih Fatih yang tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Ghina.


Fatih tersenyum penuh arti saat Ghina tak memberontak dalam pelukannya. Apa gadis itu juga tengah menikmati momen ini?


"Kamu deg-degan juga ya?" pertanyaan dari Fatih mampu membuat Ghina secara refleks menjauhkan dirinya. Wajahnya memerah dan ia tidak tahan untuk di sana berlama-lama.


Fatih tertawa keras saat Ghina kabur begitu saja tanpa menatapnya lagi. ia merasa puas melihat wajah Ghina yang seperti buah semangka tadi.


Ghina mempercepat langkahnya, ia berkali-kali menepuk dadanya pelan. Merasa tidak suka dengan getaran yang terus menerus ada di sana hingga ia sampai di daun pintu kelasnya.


Bel istirahat berbunyi. Renata yang masih tiduran di bangkunya langsung terperanjat. Wajahnya sumringah saat melihat Ghina sudah kembali.


"Na, gimana tadi?" tanya Renata penasaran.


"A-ku dimarahin Ren," lirih Ghina dengan wajah sedih. Melihat ekspresi Pak Sohib menimbulkan rasa kesal sekaligus malu. Tak menyangka jika Kepala jurusan itu sangat pedas mulutnya.


"Eh?" kaget Renata. "Kenapa bisa?"


Ghina kembali berkaca-kaca, perkataan Pak Sohib kembali terngiang.


"Temenin aku ketemu Pak Arman sekarang Ren," ajak Ghina tanpa menjawab pertanyaan Renata. Ia beranjak dari duduknya seraya menyeka bulir bening yang jatuh di pipinya.


"Lah? kenapa Pak Arman?" tanya Renata yang masih di abaikan Ghina.


"Nanti aku ceritakan," balas Ghina saat mereka sudah berada di depan kelas.


Ghina dan Renata bergegas masuk ke sebuah ruangan kecil yang terletak di sebelah Lab besar setelah diizinkan.


"Ghina, ada apa?" tanya Pak Arman yang matanya fokus menatap layar. Lalu sekian detik kemudian ia alihkan pada dua siswi yang tengah menatapnya.


"Sibuk ya Pak? maaf ganggu," sesal Ghina karena melihat Pak Arman yang tampaknya sibuk itu.


"Oh nggak, ada apa? kayaknya penting."


"Input data itu Pak," lirih Ghina.


"Sini kalian, duduk dulu," titah Pak Arman. Ghina dan Renata akhirnya terduduk di kursi berhadapan dengan Pak Arman.


"Tadi sebelum istirahat saya di panggil Pak Sohib ke ruang TU Pak. Beliau tanya, siapa yang nyuruh saya input data. Saya nggak bilang, takutnya Bapak kena masalah," jelas Ghina.


"Ya Allah Ghina, padahal kamu mending bilang aja. Pak Sohib memang belum tau tentang ini, apa kata beliau kemarin?" tanya Pak Arman.


"Katanya, perbuatan saya itu ilegal, bisa dilaporkan polisi. Terus, beliau juga nyinggung-nyinggung saya nggak punya atitide Pak." Ghina menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.


Wajah Pak Arman terlihat iba. "Mungkin beliau emosi sesaat aja, kalian juga udah tahu 'kan bagaimana biasanya omongan beliau. Nggak papa Ghina, nanti Bapak yang coba luruskan ya?"


"Tapi, kalau Bapak kena masalah gimana?" tanya Ghina khawatir.


Pak Arman menggeleng. "Nggak papa, ini sudah konsekuensi. Lagian, kita juga udah minta izin Pak Wakasek, insyaa Allah apa yang kita lakukan nggak ilegal. Cuma Bapak kemarin tuh memang meragukan aja, soalnya yang bertugas input nilai itu seharusnya TU, tapi apalah daya, mereka nggak bisa. Terus, kamu 'kan kemarin ke ruangan TU, emang mereka nggak ada yang bilang ke Pak Sohib yang sebenarnya?"


"Nggak Pak, diam aja. Kemarin ada dua dua guru di sana, mereka B aja ngeliat saya. Saya malu sendiri Pak di permalukan gitu."


"Iya nggak papa. Mungkin mereka diam karena ada alasannya juga. Yang penting, kita semua udah berusaha. Dua hari lagi, kalian bisa isi SNMPTN. Nanti, infokan aja yang mau masuk kampus umum."


"Iya Pak, saya cuma sedih aja dibilang nggak ada atitude."


"Nggak apa. Orang lain memang nggak tau kita seutuhnya dan penilaian mereka seharusnya nggak berpengaruh apapun bagi kita. Lakukan aja yang terbaik."


"Iya Pak, terimakasih sudah bantuin kami."


Pak Arman tersenyum manis. "Iya sama-sama, semangat bejuang!"


"Iya Pak, do'akan semoga kami semua lulus di PTN yang kami inginkan."


Ghina dan Renata memutuskan untuk ke kantin. Tidak ada lagi pria yang selalu mengganggu penglihatan Renata hari ini.


"Dia nggak ada Na," lirih Renata yang membuat Ghina terkekeh pelan.


"Belum apa-apa udah rindu aja kamu," cibir Ghina.


"Nggak lah ya, 'kan cuma nanya," kilah Renata.


Mereka memesan dua mangkuk Mie goreng dan es teh. Namun, nafsu makan Ghina menurun begitu mendengar ocehan Sella the geng yang juga hadir di sana pada istirahat kali ini.


"Kayaknya, hidupnya selalu berurusan sama guru ya? masalah emang," komentar Fitri. Sedangkan Sella hanya terdiam. Melani begitu juga. Entah mengapa, kini Fitri yang menunjukkan rasa bencinya terhadap Ghina.

__ADS_1


"Aku denger-denger kabar, ada yang menginput data Ilegal ya?" tanya Fitri.


"Mungkin," balas Sella malas. Ia tak tertarik lagi untuk membuli Ghina, karena sekarang, hubungan ia dan Fatih membaik.


"Ilegal gitu tapi keren, lumayan aku bisa masuk PTN ku modal nilai rapot," balas Melani enteng.


"Iya sih bener juga haha, pasti mampus tuh anak sekarang."


Ghina yang mendengar pembicaraan itu dengan jelas, lantas berdiri dan mendekat ke meja Sella the geng.


"Kamu tau darimana Fit?" tanya Ghina dengan tatapan curiga.


Fitri tertawa sinis, "menurutmu tau dari siapa?"


Ghina menghela nafas pelan, ia tersenyum sumir. "Jadi, kamu yang laporin aku sama Pak Sohib?" tanyanya.


Fitri menahan tawanya dengan telapak tangan. "Kalau iya kenapa? mau protes?"


"Tega kamu Fit. Gimana bisa? padahal, aku tau kalian semua pengen masuk PTN dengan jalur rapot, tapi kenapa? saat aku berusaha memperjuangkan untuk kita semua, kalian seenaknya laporin aku ke Pak Sohib. Siapa yang beritahu kamu tentang data itu Fit?" tanya Ghina lagi.


"Coba kamu ingat-ingat, orang-orang yang tau tentang itu," balas Fitri enteng.


"Ingat Na, kamu boleh jadi pahlawan saat ini karena membantu murid yang akan masuk PTN. Tapi, jangan pernah berharap terlihat keren di mata seseorang."


"Maksudmu Fit?" tanya Ghina tak mengerti.


Ia menatap Sella dan juga Melani bergantian. Namun, kedua perempuan itu membuang wajah.


Ghina kembali ke kursinya dan terdiam dengan pikiran yang berkelana. Siapa sebenarnya yang telah memberitahu Fitri?


Setelah menyelesaikan makannya. Ghina dan Renata kembali ke kelas mereka.


"Yang tau tentang itu, cuma aku, kamu, Ilham, Fatih, karena dia dengerin kita kemarin, terus Pak Arman. Nggak ada lagi 'kan Ren?" tanya Ghina.


Renata tampak berfikir. "Kalau Fatih tau, bisa jadi, Riki tau. Dia 'kan ember."


"Riki?" ulang Ghina tak yakin.


"Iya, Fatih bisa aja udah cerita sama Riki. Terus si lamtur itu bocorin ke yang lain, bisa 'kan?" tebak Renata dengan wajah yang begitu yakin.


Matanya melirik Fatih yang nampak santai di kursinya dengan tanpa beban.


"Apa memang bukan Fatih yang ngelaporin?" batin Ghina.


Seperti biasa, Ghina berdiri di bahu jalan untuk menunggu angkot. Kini, tidak ia dapati Fatih atau pun Ilham yang menawarinya untuk nebeng. Ya, ia tidak berharap pada keduanya. Jika Fatih, jelas ia akan menolaknya dan jika Ilham, walau ia ingin, tetap tidak bisa karena mereka belum halal.


Angkot yang ingin ditumpanginya pun datang. Tapi, kali ini penumpang tampak sepi. Hanya ada seorang laki-laki yang mungkin seumuran dengannya yang duduk di pojokan namun matanya menatap Ghina dengan aneh.


Ghina yang merasa diawasi dan dilirik berkali-kali oleh lelaki itu merasa tidak nyaman. Ia menggenggam erat tas ranselnya yang ia lepas dan ditaruh di atas pahanya.


Saat Ghina lengah, benar saja orang asing itu bermaksud macam-macam dan dengan gerakan cepat keluar dari angkot sambil menyambar tas ransel miliknya.


"Astaghfirullah, copet!" pekik Ghina panik.


"Pak, tolong berhenti!" titahnya pada Pak Sopir yang juga kaget dan ikut menengok ke belakang kemudi.


Ghina langsung keluar dari angkot dan mengejar laki-laki yang larinya belun jauh dari sana. Untunglah, ia selalu memakai celana panjang di dalam roknya sehingga tidak sulit baginya untuk berlari kencang sembari sedikit mengangkat rok seragam berwarna abu-abu miliknya.


"Copet!" teriak Ghina sambil menunjuk-nunjuk orang di depannya yang ngos-ngosan sambil berlari, sama seperti dirinya.


Akhirnya, Ghina menyerah dan mencoba mengatur nafas. Ia mendengus kesal saat tak bisa menangkap copet itu. Jika saja ranselnya tidak berisi sesuatu yang penting, mungkin ia tak akan mau berlarian mengejarnya, tapi ada di dalamnya sesuatu hal yang bukan sekedar uang.


"Ya Allah, kalau aku boleh doain dia tertabrak, aku mau berdoa itu," lirih Ghina yang berusaha mengatur nafasnya.


Ia kembali menyusul ke arah yang dituju pencuri itu. Namun, ia melihat kerumunan di dekat sebuah taman bermain.


"Astaga!" pekik seorang perempuan tertahan.


"Bentar lagi ada polisi ke sini, itu lagi patroli di sana," ujar salah seorang yang berada di sana juga.


Ghina yang penasaran, langsung melihat apa yang terjadi. Laki-laki itu sudah tersungkur dengan wajah lebam dan meringis sambil memohon ampun untuk di lepaskan.


"Bukan kepada saya Bang, tapi sama orang yang Abang copet," ujar seorang laki-laki yang memakai seragam persis seperti Ghina.


"Ilham," panggil Ghina dengan wajah sumringah. Ternyata Ilham yang telah melumpuhkan pencopet itu.


"Mbak, Mas, terserah kalian mau di apakan Abang ini. Tugas saya udah selesai," kata Ilham sambil menatap satu persatu orang yang mengerumuninya. Ia memang tidak ingin memperpanjang urusan itu. Tangannya meraih tas ransel yang tergeletak di tanah.

__ADS_1


"Ham, gimana kamu tau itu tasku?" tanya Ghina tak percaya saat Ilham menyodorkan ransel berharganya itu.


"Aku tadi ikutin angkotmu."


"Ngapain?"


"Memastikan kalau kamu selamat," balas Ilham dengan nada biasa saja, tapi cukup membuat Ghina bersemu. Ia menggeleng keras, tidak boleh merasa baper dengan perlakuan Ilham padanya.


"Kamu nggak papa?" tanya Ghina yang merasa Ilham berkelahi tapi tidak tampak tanda-tanda kesakitan atau goresan-goresan di wajahnya.


Ilham tersenyum tipis. "Kamu khawatir?" tanyanya yang membuat Ghina mendengus.


"Ketua!" pekiknya tertahan. "Jangan bicara sembarangan."


Ilham tertawa. "Kamu 'kan tadi tanya aku gitu, jadi aku simpulkan aja kamu khawatir sama aku."


"Pede banget ketua. Tapi, makasih udah bantu," ucap Ghina tulus. Mereka terus berjalan beriringan hingga Ghina akhirnya tersadar.


"Loh, motormu mana?" tanyanya.


"Tuh di sana," tunjuk Ilham pada sepeda motor bermerek Beat miliknya.


Ghina manggut-manggut. "Ya udah aku balik ke tempat angkot tadi, semoga Pak Sopir masih ada."


"Aku temenin ke sana," ucap Ilham yang membuat Ghina menggeleng.


"Nggak usah, aku bisa sendiri."


"Nanti, kalau angkotnya udah nggak ada gimana?"


"Masa sih?" Ghina segera berlari lebih dulu dan ternyata benar dugaan Ilham, angkot yang ditumpanginya sudah melenggang pergi.


"Yah, tega banget Pak Sopir nggak mau nungguin," keluh Ghina.


"Tuh 'kan? udah nggak ada. Jadi, kamu mau gimana pulangnya?" tanya Ilham.


"Aku nunggu aja, barangkali ada angkot selanjutnya lewat. Ini juga udah di jalan besar," ucap Ghina.


Ilham yang lagi-lagi hendak menawari, mengurungkan diri. Ia ikut berjongkok saat Ghina mendudukkan dirinya di atas sebuah batu bata di pinggir jalan.


"Kok masih di sini? pulang duluan aja," suruh Ghina karena ia tidak nyaman juga jika berduaan dengan Ilham.


"Nggak, rame juga banyak orang lalu lalang. Aman," ucap Ilham yang mengerti kekhawatiran Ghina.


Ghina terdiam, ia juga masih merasa takut jika copet itu balik lagi. Walau kemungkinannya kecil, tapi siapa yang tahu copet lain datang juga.


"Kamu pernah tanya 'kan waktu itu, kenapa aku bisa buat Lukman ngaku?" tanya Ilham saat mereka hanya terdiam dengan pikiran masing-masing.


Ghina mengangguk. "Iya, aku masih penasaran."


"Lukman itu masih termasuk saudaraku. Saudara sepupu lebih tepatnya. Sella juga sama. Dia sering datang ke rumahku. Dulu, kami teman baik. Tapi, semakin kami bertumbuh, dunia kami semakin berbeda. Dia yang sering kesepian dan kurang kasih sayang dari orang tua dari kecil, membuat dia menjadi anak nakal. Beberapa kali, aku harus nyeret dia dari hotel."


"Innalillah, beneran? hotel? ngapain?" tanya Ghina dengan mata membesar.


"Dia main cewek, juga bisa minum-minum di sana. Orang tuanya nggak ada yang tau kelakuan dia. Sekolah kita juga tampaknya belum mengendus keburukan saudaraku itu. Aneh, padahal setiap ada siswa SMK yang keluar masuk hotel, pasti aja ketangkap. Ya, karena Lukman menggunakan identitas milik temannya yang udah kuliahan gitu untuk masuk."


"Kok bisa? 'kan beda lah wajahnya."


"Intinya dia bisa aja masuk. Toh, dia punya duit juga."


"Aku ngancam dia, kalau nggak mau mengakui kesalahannya, akan aku laporkan semuanya ke orang tuanya, biar sekalian dia di pindahkan sekolah ke luar negeri. Dia emang nggak mau sekolah diluar negeri."


"Oh gitu, pantesan. Sella 'kan sepupumu juga, kamu udah tau kalau dia suka sama Fatih?" tanya Ghina.


"Mungkin, aku nggak terlalu tau hidup dia."


"Tapi, dia ngaku ngelakuin itu karena dia suka sama Fatih."


"Bisa jadi. Aku nggak ngerti pokoknya sama jalan pemikiran kedua sepupuku itu. Semoga mereka di beri hidayah."


"Aamiin."


Dari kejauhan, dua pasang mata menatap mereka. Sebenarnya, ia sudah sedari tadi mengikuti Ghina. Hanya saja, ia kalah cepat dengan seseorang yang lebih dulu menolong gadis itu.


Yuhuu, aku datang lagi🤗


Siapa yang ngeliatin mereka berdua coba?

__ADS_1


__ADS_2