
Mata Ghina membesar mendengar pertanyaan dari Renata. Tangan Fatih yang bertumpu pada meja akhirnya menjadi sasarannya.
"Aw!" ringis Fatih saat merasakan kulitnya ngilu karena di cubit oleh Ghina.
"Nanti aku jelaskan di sekolah Ren. Aku masih sibuk, asaalamualaikum!"
Ghina langsung mematikannya, raut wajahnya sangat geram.
"Aku nggak nyangka kamu berkhianat Fath," ketusnya dan pergi meninggalkan gazebo.
"Na tunggu!" cegah Fatih dan ikut menyusul Ghina yang berjalan cepat. Mereka kembali melewati jalanan berbatu menuju halaman rumah utama.
Mereka melewati jalan sempit yang di sampingnya ada kolam keruh yang tidak terlalu luas. Di dalamnya berisi ikan-ikan yang sengaja di tanam untuk memberi makan para santri itu. Ghina yang masih dikuasai amarah itu berjalan cepat dan tak sengaja kakinya terpeleset.
Byur
"Ghina!" Fatih memekik kaget saat tubuh Ghina tercebur ke kolam ikan milik keluarganya itu.
Ghina meronta di dalam, ia memang tidak bisa berenang.
"Tolo-" Ghina megap-megap mencoba keluar dari dan memanjat dari dalam danau kecil yang terasa seperti sumur itu.
Walau pun ruangnya cukup bebas untuk ia bergerak dan menepiskan tangannya, tapi tetap saja. Kedalamannya membuat tubuhnya sulit untuk keluar.
Mau tidak mau, Fatih harus merelakan basah kuyup demi menyelamatkan Ghina yang sudah tenggelam beberapa detik lalu.
"Na, sadar!" Fatih menggoncang tubuh Ghina yang ia baringkan.
Tempat mereka kini tepat di belakang bangunan pesantren, sehingga cukup sepi. Fatih menoleh ke kanan dan kiri, tak ia dapati seorang pun santri yang lewat. Ia tentu akan merasa keberatan jika harus menggendong Ghina seorang diri.
"Heh, bangun! aku nggak mau angkat tubuh kamu yang berat," keluh Fatih sambil kini tangannya menepuk-nepuk pipi Ghina.
"Apa aku tinggal aja kamu di sini, nanti balik lagi," putus Fatih dan ia berdiri hendak meninggalkan Ghina. Dua langkah setelah berjalan, ia berbalik.
"Ngeribetin banget ya ternyata."
Fatih meletakkan telapak tangannya hati-hati di dada Ghina. Lalu menekan-nekannya berkali-kali. Tapi, mata Ghina tak kunjung terbuka membuatnya mendesah frustasi.
"Kalau ketauan, bisa aku yang di omelin. Mana baru hari pertama jadi suami, udah nyiksa istri aja," gerutunya.
Namun wajahnya berubah cerah saat mendapati ide brilian di kepalanya.
"Maaf loh ya Na, aku nggak sengaja ini."
Fatih mulai mendekatkan wajahnya untuk membuat nafas buatan. Perlahan dan jarak semakin terkikis. Hidung mereka berdua hampir bersentuhan saat tiba-tiba.
Uhuk! uhuk!
Semburan air tepat mengenai wajah Fatih, membuat si empunya memejamkan mata.
Ghina yang terbatuk-batuk memegangi perutnya, namun betapa terkejutnya saat matanya terbuka justru hal pertama yang ia lihat adalah wajah Fatih yang begitu dekat.
"Fatih! ngapain kamu?!" pekik Ghina dan langsung mendorong dada Fatih hingga tubuh laki-laki itu hampir terjungkal.
Fatih mengelap wajahnya kasar, lalu menggesekkan bajunya di sana. Sungguh, ia tak pernah membayangkan wajah tampannya terkena muntahan seorang Ghina Izzati.
"Udah di tolongin malah ngelunjak," cibir Fatih yang langsung berdiri.
"Jangan macam-macam ya Fath. Mentang-mentang aku lagi lemah, kamu berbuat nggak senonoh," todong Ghina yang membuat Fatih mendengus keras.
"Iya terserahmu lah, yang penting udah melek. Ayo balik ke halaman utama."
"Ya Allah kenapa Ghina bisa basah-basahan gini Fath?" tanya Ummi Zainab dan langsung berhambur menyentuh bahu Ghina.
"Dia kecebur kolam tadi Mi," balas Fatih malas. Ia hendak melenggang pergi dari sana, namun di tahan oleh Umminya.
Narsih dan Imran juga turut keluar halaman karena mendengar percakapan di luar. Mereka terkejut melihat keadaan Ghina yang seperti kedinginan dan bibirnya pucat.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Narsih khawatir. Sedangkan Imran justru menahan tawa.
"Kecebur di kolam Bu, nggak papa kok. Ayo kita langsung pulang aja," ajak Ghina apalagi melihat ekspresi menyebalkan Kakaknya.
"Eh, buru-buru amat. Kamu harus ganti baju dulu sayang," cegah Ummi Zainab.
"Fatih mau kemana? tunggu, ih kamu mah istri di tinggal gitu aja. Sana, anterin dia ke kamarmu. Ambil baju Ummi dulu di lemari."
"Argh." Fatih mengacak rambutnya lalu di susul Ghina menuju kamar.
"Gini nih, gara-gara grasak-grusuk, jadi ngerepotin," gerutu Fatih sembari terus berjalan melewati pintu lain yang tidak terlihat dari ruang tamu.
"Gara-gara kamu yang mulai." Ghina membela diri dengan tangan yang menangkup tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Rumahmu panjang banget, mana kamarnya?" tanya Ghina yang sedari tadi hanya berjalan di lorong gelap.
"Ikut aja, jangan bawel."
Fatih masuk ke kamar sang Ummi dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia menahan Ghina untuk ikut masuk, bagaimana pun kamar ini adalah privasi orang tuanya.
Setelah mendapat gamis dan juga kerudung, ia menyerahkannya pada Ghina.
"Nih, pake di kamarku aja," ucap Fatih dan hendak pergi. Tapi tangan Ghina menarik kaos belakangnya.
"Mana kutahu di mana kamarmu," tutur Ghina dengan tubuh gemetar karena semakin merasa kedinginan.
"Huh, lain kali aku ajak kamu tur keliling rumahku biar paham. Tuh, kamarku di ujung, bersebelahan sama Mbak Nafisah. Ada tulisannya tuh, kalau mau ganggu orang ganteng, harus ucap salam dulu," jelas Fatih yang membuat Ghina menggeleng, benarkah ada tulisan yang disebutkan oleh Fatih itu.
"Anterin lah, nggak sopan aku tiba-tiba masuk kamar orang," ucap Ghina ketus.
"Astahgfirullah, sabarkan hambaMu ini," gumam Fatih dan melangkahkan kakinya lebih dulu menuju kamarnya sendiri.
"Noh, nggak di kunci buka aja."
Ghina manggut-manggut, matanya menatap tulisan di pintu itu dan benar saja, sesuai dengan apa yang di katakan Fatih.
KALAU MAU GANGGU ORANG GANTENG, UCAP SALAM DULU!
"Ini nih penyakit narsisme yang menjangkit remaja-remaja kayak dia," batin Ghina.
Tangannya terulur untuk memutar kenop pintu. Namun tiba-tiba ia di kejutkan saat tangan Fatih yang besar memegang lengannya. Lalu menggeser tubuh Ghina dan dengan cepat masuk ke dalam.
Brak!
Pintu tertutup sehingga membuat Ghina mundur ke belakang.
"Tunggu bentar, ada sesuatu yang kamu nggak boleh liat," teriak Fatih dari dalam.
Tak lama, Fatih keluar dengan senyum menyeringai. "Masuklah," ucapnya dan bertukar posisi dengan Ghina.
Setelah Ghina kembali ke ruang tamu, keluarganya langsung berpamitan untuk pulang.
"Ghina beneran nggak mau nginep sini dulu?" tanya Ummi Zainab yang masih keberatan jika menantunya harus pulang.
"Iya Ummi."
Ummi Zainab mengelus kepala Ghina dengan lembut lalu memeluknya.
Ghina hanya mengangguk canggung. Lalu menyalami satu-satu orang yang berada di sana. Tidak ada Mak Nafisah dan Kak Maheer, karena sudah pulang lebih dulu.
“Sungkem sama suami kamu, sebelum perpisahan," titah sang Ibu membuat Ghina membuang nafas.
“Apa? nggak usah ah Bu.” Ghina menolak, namun melihat tatapan Kyai Zafran dan Ummi Zainab, Ghina pura-pura tersenyum. Segera saja meraih tangan Fatih yang berdiri tepat di samping Kyai untuk diciumnya.
Fatih yang sedari tadi diam, mendadak terkejut karena tingkah Ghina. Ia tak menyangka, gadis itu mau mencium tangannya seperti tadi, bahkan masih ia rasakan bekas bibirnya di sana.
“Nih, sudah kan?” Ghina melihat satu-satu wajah orang-orang yang melihatnya.
Semua orang tertawa termasuk Imran, dia mengusap-ngusap kepala Ghina sembari mengisyaratkan dengan matanya “Ah, kamu lucu banget.”
Ghina hanya mendengus pelan seraya menatap Fatih dengan kekesalan, sedangkan laki-laki itu hanya menyeringai.
Kesokan harinya, seperti tidak ada yang terjadi di hari kemarin. Padahal, gara-gara peristiwa satu hari yang lalu, statusnya kini berubah menjadi seorang istri. Ghina menepuk-nepuk wajahnya sendiri.
"Beneran udah jadi istri?" tanyanya.
"Fatih suamiku?"
Ghina menggeleng cepat. Walau tadi malam ia sebenarnya masih tidak bisa tidur karena membayangkan besok akan bertemu suaminya. Untunglah, tidak ada pesan masuk dari Fatih sehingga tidak ada hal yang semakin mengganggu tidurnya.
"Udah sarapannya Na?" tanya sang Ibu saat melihat anaknya hanya bengong.
"Udah Bu."
Ghina memang hanya sarapan seorang diri. Ibunya pagi-pagi setelah menyiapkan sarapan, pasti langsung tertuju pada mesin jahit kalau tidak menyesap teh di ruang tamu. Sedangkan Imran, sudah kembali ke Mess perusahaan tempatnya bekerja dari kemarin.
"Asaalamualaikum!"
"Wa'laikumussalam."
Mendengar suara yang tidak asing lagi, Ghina lantas berlari, lalu mengintip dari balik gorden. Di sana, ada Fatih yang berdiri di teras dengan sesekali melirik jam tangannya.
Walau Fatih memang anak yang nakal daj beberapa kali di panggil ke BK, tapi dari segi berpakaian dan berpenampilan dari kaki hingga kepala memang termasuk rapi.
Hanya sesekali terlihat baju seragamnya keluar saat di kelas. Tapi setelah pulang, ia rapikan lagi.
__ADS_1
"Loh itu Fatih Nak, jemput kamu kayaknya," ucap sang Ibu.
"Mungkin, biar aja nggak usah di temuin. Ibu lanjut jahit aja," larang Ghina saat Ibunya akan beranjak.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Ghina sambil melipat tangan di depan dada.
"Masih nanya juga. Jemput istri lah," balas Fatih enteng. "Ayo cepet, kamu mau telat lagi?" tanya Fatih.
"Aku ikut angkot aja. Sana, kamu duluan. Aku nggak mau kita ketauan murid lain."
"Aku jamin nggak bakal ketauan."
Mata Ghina memicing. "Kita semotor berdua ke sekolah, kalau ada yang ngeliat pasti nuduh kita pacaran. Yang ada rusak lagi nama baikku."
"Nggak percaya?" tantang Fatih. "Nanti aku buktikan, cepetan."
Fatih menyalakan motornya, lalu memberi kode kepada Ghina untuk naik.
"Aku beneran takut Fath kalau ada yang ngeliat kita."
"Tenang aja, nggak bakal ketauan. Serius."
"Awas, kalau sampai ada--"
"Ya ya, kita liat aja nanti."
Kendaraan Fatih melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali Fatih melantunkan lagu yang masih dapat di dengar oleh Ghina.
"Kamu nggak pegangan? nanti jatuh loh." Fatih mengingatkan.
Ghina malah mencubit pinggang Fatih.
"Aw! hei, kamu mau kita berdua mati huh?!" kesal Fatih.
"Jangan ngomong aneh-aneh makanya."
"Ampun ustadzah."
"Fath, itu anak SMK," tunjuk Ghina pada segerombolan murid laki-laki di pinggir jalan.
"Tenang aja, tinggal lambatin motornya," ucap Fatih enteng.
"Lah, kalau gini kita bisa telat Fath."
"Nggak akan, ini masih pagi. Lebih mending, daripada kamu naik angkot."
Fatih menghentikan motornya. Ia terdiam menunggu Ghina untuk segera turun dari kendaraannya.
"Turun!"
"Kok di sini? 'kan SMK nya masih di sana."
"Katanya nggak mau ketauan. Ya turun di sini lah."
"Hah? teganya kamu Fath," gerutu Ghina yang terus berjalan.
"Hehe sory nina bobo. Selamat berolahraga." Fatih tersenyum jahil.
Fatih kembali menghidupkan motor dan melengos begitu saja. Namun, ia kembali membelokan kendaraannya.
Ghina yang melihat Fatih berbalik, sedikit tersenyum. Barangkali laki-laki itu merasa tidak tega.
"Di depan sana ada Ilham, tuh lagi ngisi bensin. Usahakan jangan sampai keliatan dia," ucap Fatih seraya menatap Ghina serius.
"Ck, lagian kalau pun dia nawarin boncengin. Aku nggak bakal mau," ketus Ghina.
"Istri solehah," puji Fatih dan segera berlalu.
Sesampainya di kelas, Ghina sudah di hadiahi tatapan menginterogasi oleh Renata.
"Aku minta pertanggung jawabanmu," ucap Renata dengan nada terdengar mengintimidasi.
Ghina menghela nafas berat.
"Nanti, kita upacara dulu."
Hai hai
makasih untuk kalian yang ikutin cerita YMM sampe part ini.
Jan lupa vote, like, dan komen ya..
__ADS_1
Oh ya, yang mau baca ceritaku yang lain ada di App sebelah yang warnanya ijo. Silakan berkunjung dengan ketikkan namaku "Najma afsheen01"