
"Ekhem!" suara seseorang berdehem mengalihkan perhatian mereka. Menoleh bersamaan.
"Ilham," lirih Ghina.
"Hai Na, Rena! assalamualaikum," sapa Ilham dengan senyuman.
"Wa'alaikumussalam."
Ghina dan Renata justru saling berpandangan.
"Eh, ada apa Ham?" tanya Renata setelahnya.
"Aku beli pisang goreng lima sama mendoannya sepuluh."
"Iya bentar ya,"
"Ya udah Ren, aku ke parkiran dulu ya," Ghina barbalik dan meninggalkan Ilham dan Renata.
"Ngapain dia ke parkiran?" tanya Ilham, ia mendudukkan diri di kursi yang tersedia di sana.
"Ada Kakaknya tadi, nitip beliin gorengan," balas Renata.
Ilham manggut-manggut. Hening.
Ghina kembali ke kios, ternyata Ilham masih di sana. Ia sebenarnya malu, tapi apa boleh buat. Ia harus membantu Renata.
"Apa yang bisa ku bantu?" tanya Ghina yang kini berdiri di sebelah Renata yang masih menggoreng pisang.
"Potongin tempenya Na, kurang lima ini," ucap Renata.
Ghina mengangguk, sedangkan Ilham ia mengamati pergerakan Ghina yang sudah duduk di teras kios dan mengiris tempe kecil-kecil. Sebenarnya, sedari tadi Ghina tengah berusaha menghindari tatapan Ilham padanya. Tapi rasanya sulit, ia akhirnya mendongak dan benar saja Ilham tengah menatapnya lekat.
"Ketua, makasih ya bantuanmu," ucap Ghina akhirnya. Renata yang sedari tadi fokus menggoreng, ikut berdehem.
"Bantuan?" Ilham bertanya, membuat wajah Ghina entah mengapa menjadi merah.
"Tentang kemarin."
"Ren, bantu jelaskan maksud Ghina," ucap Ilham yang kini menatap Renata. Sedangkan Ghina, menatap Ilham dengan sebal.
"Gini ketua, soal klarifikasi Pak Adam kemarin pas eskul. Secara nggak langsung 'kan berkat ketua juga," jelas Renata yang membuat Ilham manggut-manggut.
Ghina hanya terdiam. Ia menyerahkan irisan tempe pada Renata, matanya melirik malas ke arah Ilham.
"Gimana sakit kamu Na? udah mendingan?" tanya Ilham. Ghina yang tengah fokus mengelap meja menghentikan gerakannya.
"Iya," balasnya.
"Pesanannya jadi." Renata berkata dengan semangat setelah ia berhasil membungkus pesanan Ilham.
Ilham berdiri dan mengulurkan selembar uang dua puluh ribuan.
"Angsulnya lima ribu ya berarti." Renata menyerahkan kembalian uang ke Ilham.
"Beneran nggak ada yang mau di omongin lagi?" bisik Renata pada Ilham. Laki-laki itu menggeleng.
"Iya cukup, makasih ya Ren."
"Sama-sama, senang berkerja sama dengan anda!" Renata menganggukkan kepalanya dengan senyum penuh arti. Sebenarnya subuh tadi Ilham mengirim pesan padanya dan menanyakan Ghina. Renata memberitahu bahwa hari ini Ghina akan membantunya berjualan seperti biasa. Jika Ilham mau, Renata akan memberi kesempatan pada laki-laki itu untuk mengobrol dengan Ilham. Namun tampaknya, tidak begitu berhasil. Terlihat, Ghina yang justru tidak nyaman dengan hadirnya Ilham.
Ghina berjalan pelan memasuki gerbang, di sambut senyuman oleh Pak Samson.
"Tumben rada pagi," kata Pak Samson. Ghina tersenyum samar.
"Iya, angkotnya lebih cepet tadi, nggak berhenti-berhenti," balas Ghina. Hari ini, harus membicarakan sesuatu dengan Fatih. Jika ia masih bisa berusaha membatalkan pernikahan, maka tidak ada salahnya ia berusaha.
Dan saat ia masih berjalan di parkian guru, ia melihat sepeda motor Fatih lewat.
"Itu dia, aku akan tunggu di sini," cetus Ghina.
Setelah ia melihat Fatih yang berjalan ke arahnya, tangannya mengepal erat.
__ADS_1
"Fatih," panggil Ghina. Laki-laki yang berjalan santai itu menoleh saat seseorang memanggilnya.
"Ada urusan?" tanya Fatih dengan seringaian.
"Kamu nggak merasa ada yang perlu dibicarakan sama aku huh?" Ghina bertanya ketus, ia sebenarnya malas melihat wajah Fatih apalagi berbicara dengan laki-laki itu. Tapi, apa boleh buat.
"Kamu kurang waras Fath gara-gara menjelang UN?" cetus Ghina, Fatih kini sudah berdiri di hadapannya.
"Wah, pagi-pagi udah dibilangin orang gila, ya Allah." Fatih mengusap wajahnya pelan. Bibirnya tertarik sebelah. "Iya, kayaknya aku emang udah nggak waras," lanjut Fatih dengan tawa yang membuat mata Ghina melebar.
"Nggak bisakah kita batalkan rencana mereka?" tanya Ghina.
"Pernikahan itu?
"Iya, kita nggak salah Fath."
"Sulit." Fatih menghela nafas frustasi.
"Nggak mungkin, pasti ada caranya. Aku pikir, kalau kita nemuin pelaku dan menyeretnya ke BK, bukti jadi semakin kuat kalau kita di fitnah," jelas Ghina, entah mengapa sepanjang perjalanan tadi, ia jadi berfikir. Barangkali, pernikahan itu bisa di batalkan.
"Aku tau, tapi udah terlanjur."
"Fath, kamu paham nggak sih? nikah itu nggak mudah!" Ghina mulai tersulut emosi melihat respon Fatih yang kelewat santai menurutnya.
"Emang siapa yang bilang mudah? makanya perlu dua orang," jawab Fatih sekenanya.
"Fatih!"
"Tapi, aku akan menyeret pelakunya secepatnya ke BK," ucap Fatih serius. "Siapa tahu, Abiku bisa berubah pikiran setelah buktinya makin kuat."
"Kalau boleh tahu, dengan cara apa kamu menyeretnya?” tanya Ghina penasaran.
“Ada deh.” Wajah Fatih tersenyum dengan menyebalkan. Sedangkan Ghina hanya mendengus.
“Kamu beneran serius dengan ucapan kamu kemarin Fath? kamu setuju nikah sama aku?" tanya Ghina, kini matanya menatap Fatih.
“Serius. Ngapain main-main. Laki-laki itu yang dipegang omongannya.”
“Terus kita beneran nikah?"
“Astagfirullah Fatih. Kamu tahu kita nggak—“
“Nggak saling cinta? Aku tahu. Tapi tradisi menikah tanpa cinta itu sudah biasa di keluargaku. Wajar aja aku menjadi korban selanjutnya. Bukan korban, tapi penerus," Fatih memotong pembicaraan Ghina, setelahnya ia melangkah mendahului gadis itu.
“Kamu jadiin persoalan ini seperti bahan bercandaan Fath? Keterlaluan," cerca Ghina dari belakang yang membuat langkah Fatih terhenti. Ia berbalik, menatap Ghina tajam.
“Bukan saatnya kamu bilang aku keterlaluan. Mari pikirkan cara jitu untuk menemukan pelaku pemotretan. Jika kamu mau, aku minta tolong sama kamu untuk cek cctv sekolah. Sedangkan aku akan mencari identitas si penyebar spam, walau aku sudah tahu orangnya. Tetap aja, bukti itu harus aku temukan!" jelas Fatih dengan nafas memburu, "semoga jika pelakunya sudah terseret ke BK, Abi bisa merubah keputusannya."
“Kamu buat aku sakit kepala Fath,” lirih Ghina. Ia berjalan pelan dan menyenderkan tubuhnya di tembok lorong kelas TKJ. Kepalanya benar-benar pusing. Tubuhnya tiba-tiba seperti akan oleng dan akhirnya ambruk.
“Ghina!” panggil Fatih yang terkejut ketika tubuh gadis itu ambruk begitu saja. Dapat ia lihat, wajah Ghina memang pucat.
Fatih merogoh pulpen di kantong bajunya. Ia gunakan untuk menoel pelan pipi Ghina. Tapi, perempuan itu memang benar-benar pingsan.
Mata elangnya celingukan. Ia mendapati Pak Samson yang berjalan menghampiri mereka.
“Pak, tolong ada yang pingsan.”
“Ya Allah, ini kenapa?” Pak Samson menggoncang tubuh Ghina pelan.
“Dia pusing katanya," jelas Fatih.
Tiga orang siswi yang baru masuk dari gerbang segera menghampiri Fatih. Mereka menawarkan diri untuk menggendong, di bantu Pak Samson.
Renata sesekali melongok ke pintu kelas. Mencari batang hidung Ghina, namun tidak kunjung terlihat.
Ia melirik ke bangku Fatih yang juga masih kosong, di sana hanya ada Riki yang berkutat dengan ponselnya.
"Apa liat-liat?" tiba-tiba Riki sudah berdiri di samping Renata, membuat gadis itu mengerjap pelan
"Astaga, sejak kapan aku liatin kamu," kilah Renata dengan ketus.
__ADS_1
"Haha, wong aku liat dari tadi kamu ngeliat ke arahku. Sampe aku jalan ke sini aja nggak sadar." Riki menggelengkan kepalanya.
"Mana sih si jenius Fatih?" tanyanya pada diri sendiri.
"Kerumunan apa itu?" Renata bergumam pelan. Riki ikut melihat.
"Ada yang pingsan kali," katanya dan kembali berjalan ke bangkunya. Mendengar itu, Renta menjadi khawatir, bagaimana jika Ghina yang pingsan?
Dengan kecepatan kelinci ia mengenakan sepatu di rak dan berlari. Beberapa siswa menatapnya aneh.
Renata melihat Fatih yang berjalan ke arahnya dengan tatapan datar. Mereka berpapasan di koridor depan kantor TU. Renata menghentikan langkahnya. "Ada apa di sana?" tanyanya.
“Ghina pingsan, sekarang di UKS," ucap Fatih.
“Hah? astaghfirullah." Renata menutup mulutnya, ia menatap Fatih tajam, “Pasti gara-gara kamu ini. Ish.”
Belum sempat Fatih protes dengan tuduhan Renata, gadis itu sudah berlari lebih dulu.
"Dituduh lagi," decak Fatih kesal.
Saat langkahnya berhenti tepat di depan ruangan kesehatan, Renata mengatur nafas sejenak lalu melepas sepatunya. Saat ia sudah masuk, dirinya dikagetkan dengan kehadiran Ilham di sana yang tengah menatap Ghina.
“Ilham,” panggil Renata. Ilham menoleh.
“Ghina pingsan.”
“Iya aku tahu. Ya Allah Ghina.” Renata berjalan ke arah ranjang. Ia mengusap pelan dahi Ghina yang berkeringat.
"Dia masih sakit berarti?" tanya Ilham yang melihat nanar ke arah Ghina yang terbaring.
"Iya, kemarin pas ke kios badannya masih hangat."
Bel masuk kelas berbunyi, membuat Renata dan Ilham berpandangan.
"Kamu masuk kelas aja Ham, aku yang jagain dia di sini," ucap Renata yang seperti mengerti tatapan Ilham.
Laki-laki itu mengangguk dan beranjak dari sana.
“Na, kamu udah mendingan?” tanya Renata begitu melihat Ghina membuka matanya perlahan.
“Ya, aku pusing aja tadi.”
“Kenapa? Kamu masih kepikiran soal foto itu? atau ada hal lain yang kamu pikirin?” tanya Renata khawatir.
“Pasti. Kepalaku hampir meledak gara-gara itu.” Ghina menatap Renata sendu, ingin rasanya ia bercerita perihal rencana pernikahan itu. Tapi, ia urungkan.
"Tenang aja, foto itu 'kan hoax aja," ucap Renata, "tadi Ilham menengok kamu," katanya lagi.
“Ilham? Ke sini?” tanya Ghina sembari memijit keningny
Renata mengangguk.
"Minum obatnya," Renata mengambil obat yang ia yakini bukan dari UKS, karena obat-obat itu dibungkus dengan plastik seperti baru dibeli.
"Mungkin Ilham yang belikan ini untuk kamu," ucap Renata. Ghina hanya mengangguk pelan.
"Kayaknya tadi aku lagi sama Fatih," ucap Ghina yang masih merasa kepahitan karena obat yang barusan di konsumsinya. Ia terbatuk pelan.
"Tuh 'kan? aku sudah duga, kamu pasti pingsan gara-gara dia. Soalnya, dia tadi kayaknya dari UKS juga. Lagian, apa sih yang kamu obrolin sama dia?"
"Udahlah, nggak penting Ren." Ghina mengibaskan tangannya agar Renata berhenti penasaran.
"Ren, setelah mapel selesai, kita tengok cctv yuk," ajak Ghina.
"Ngapain?"
"Aku dan Fatih masih cari bukti untuk membuktikan bahwa kami nggak bersalah."
"Loh, bukannya sekolah udah klarifikasi?" Renata menatap Ghina heran.
"Tetep aja, keluarga kami masih meragukan. Setidaknya, kami harus menyeret pelakunya ke BK."
__ADS_1
"Keluargamu dan Fatih masih nggak percaya?" tanya Renata.
"Mungkin," balas Ghina lirih. "Bahkan, mereka maksa kami menikah," lanjutnya dalam hati.