Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Buku Nikah


__ADS_3

Akhirnya Ghina harus tutup telinga menghadapi ocehan-ocehan yang tidak penting baik itu dari teman-temannya atau dari fans berat Fatih.


Matanya melirik malas chat Grup KSI yang angkanya mendekati seribu dua ratus dan isinya ia sangat tahu tentang apa. Ya, setelah membahas acara perpisahan KSI yaitu mengikuti acara haul Datu Kalampayan, grup diramaikan oleh ucapan selamat yang berhamburan.


Untuk siapa? dirinya dan Fatih. Lalu, bagaimana dengan Ilham yang mengetahui fakta tersebut?


Ilham : Beneran Na?


Me : Iya.


Ilham : Gimana bisa? kalian 'kan selama ini, nggak punya hubungan apapun.


Me : Ya bisa


Ilham : Aku yakin, kamu nggak cinta sama Fatin. Kalian di jodohkan?


Ghina menatap layar dengan bingung, tebakan Ilham sangat tepat. Jarinya maju mundur, mengetik lalu beberapa saat menghapusnya.


Ilham : Jujur aja sama aku Na, kamu pasti nggak cinta sama Fatih? kalian di paksa nikah? kenapa?


Ghina : Kenapa kamu bisa duga kayak gitu ketua?


Ilham : Firasatku gitu. Kamu jelas-jelas nggak suka sama Fatih.


Air mata Ghina merembes deras, tangannya dengan kasar menyeka. Ia menatap nanar nama yang tertera di layar. Laki-laki yang telah mengisi hatinya selama kurang lebih hampir dua tahun.


Ilham : Na, aku telpon ya, biar kita bisa ngobrol lebih nyaman?


Me : Nggak usah ketua.


Ilham mengabaikan chat terakhir Ghina, ia langsung menelpon gadis yang selama ini ia sukai.


Ghina berdehem, agar suaranya nanti tidak terdengar serak.


"Kamu nggak papa 'kan Na?" tanya Ilham di seberang sana.


"Kenapa gimana? aku lagi persiapan untuk acara."


"Kenapa kalian bisa nikah? dan akadnya, udah dari tiga bulan yang lalu? kenapa, kalian diam-diam?"


"Maaf, ini sulit ketua. Kami masih anak sekolah, jadi nggak bisa ngasih tau semua orang kalau sudah nikah."


"Tapi kenapa Na? kamu 'kan tahu aku suka sama kamu. Aku berencana untuk nge-"


"Iya aku tau ketua. Tapi, aku udah dinikahi Fatih."


"Jadi, kalau Fatih nggak nikahin kamu, kamu mau sama aku?"


Hening. Ghina menghela nafasnya, air matanya lagi-lagi lolos ke bawah pipi. Tahukah kamu Ham, aku sangat sangat mau kamu nikahi, bahkan aku menantikan, tapi semuanya sudah terlambat, batin Ghina sesak.


"Na?" desak Ilham meminta jawaban.


"Kayaknya omongan kita sampai sini aja ketua, aku lagi ada kesibukan. Maaf, aku tutup, wassalam!"


Tanpa menjawab pertanyaan Ilham lagi, Ghina menutup sambungan telponnya. Ia membanting tubuhnya di kasur, menangis keras dengan wajah menghadap ke bantal.


"Aku udah nikah!" pekiknya dengan tertahan dan sesak didada.


"Kita nggak mungkin bisa Ham!"


"Ya Allah, aku pengennya Ilham. Ya Allah." Ghina memukul seprainya pelan. Mungkin, inilah rasanya ketika Siti Nurbaya di jodohkan dengan Datu Maringgih. Marah, kesal, menyesal, ingin berontak, tidak terima, tapi tidak bisa. Semuanya tertahan, di dalam hati.


"Kenapa harus Fatih ya Allah? aku bahkan nggak bisa liat kelebihan apapun dari dia," lirih Ghina. "Aku nggak bangga sama sekali, nikah sama dia, walau anak Kyai sekalipun."


"Astaghfirullahaladzim," isak Ghina karena dadanya terasa semakin sesak, ia bernafas dengan kasar, karena pasukan oksigen rasanya menipis.


Selain chat grup KSI yang ribuan, grup kelasnya pun tak kalah ramai. Membahas dirinya dan Fatih yang ternyata sudah menikah dari beberapa bulan yang lalu.


Sella : Kenapa kamu mau nikah sama Fatih? jangan-jangan, kamu godain dia? sejak kapan?


Sella : Ghina! balas!


Sella : Aku kira kamu setia kawan, kamu udah tau kalau aku suka sama Fatih, kenapa kamu rebut dia dari aku diam-diam huh?


Sella : Balas Ghina!


Ghina hanya menggelengkan kepala dengan mata sembabnya begitu membaca chat dari Sella. Ia tidak tahu harus membalas apa, tidak mungkin jika dirinya mengatakan terpaksa menikah dengan Fatih.


Kelinci Nyebelin : Kalau ada fansku atau orang yang nggak kamu kenal, ngechat atau nelpon, nggak usah di balas atau di angkat.


Ghina menatap nanar chat dari Fatih. Ia merutuk dalam hati, menyalahkan suaminya yang turut menjadi penyebab atas semua yang terjadi.


"Kenapa aku harus terseret ke dalam hidupmu Fath?" batin Ghina.


Sudah ada lima nomor, selain Sella yang mengirim pesan padanya. Juga dua nomor, dengan beraninya menelpon Ghina berkali-kali walau tak diangkat.


+6283140xxxx : Gila, kamu beneran udah nikah sama Jenius Fatih?


+6283140xxxx : Heh, balas!


+6283140xxxx : Kurang ngajar, ***** kamu!


Ghina langsung memblokir kontak orang tak di kenal tersebut. Benar-benar tidak sopan sama sekali.


+62877136xxxx : Assalamualaikum Kak, ini Kakak Ghina yang nikah sama Mas Fatih ya?


+62877136xxxx : Salam kenal Kak, aku dukung kalian kok, semangat. Jangan dengerin kalau ada yang ngoceh-ngoceh ke Kakak.


Me : Iya, terimakasih ya, salam kenal juga.


Ghina membalas chat yang memang ramah itu. Ternyata ada pula fans Fatih yang tidak sefanatik beberapa orang sebelumnya.


+6282240xxxx : Woi, kamu beneran istri Fatih? pake pelet apa hah?


+6282240xxxx : Woi, balas, aku telpon nih, angkat woi. Aku sama temen-teman mau ngomong sama kamu!


Sepanjang siang hingga malam, tak henti-hentinya chat spam itu masuk. Karena tak tahan, akhirnya Ghina menonaktifkan Whatsappnya sementara, sampai hari resepsi. Ia ingin menenangkan diri terlebih dahulu sebelum benar-benar bersanding bersama Fatih di pelaminan.

__ADS_1


Hingga, hari itu tiba tanpa diminta. Acara resepsi akan di adakan di aula pesantren yang terbuka. Konsep outdoor sederhana, menjadi pilihan keluarga Kyai untuk melangsungkan resepsi pernikahan anak terakhir Kyai Zhafran itu.


Pelaminan terletak di tengah-tengah dengan dinding yang dihiasi bunga-bunga. Kursi-kursi yang akan digunakan oleh tamu, dibuat terpisah dan bersekat antara pria dan wanita.


Ghina meremas tangannya sendiri sambil mematut dirinya di depan cermin, di sebuah ruangan yang ia sendiri asing. Tepatnya di kamar Kakak Iparnya, Nafisah.


"Masyaa Allah, istri Fatih sangat cantik sekali," puji Kakak Ipar Fatih yang satunya. Ternyata anak Kyai Zhafran berjumlah tiga orang. Kakak tertua, laki-laki, kedua Nafisah dan ketiga Fatih. Kakak sulungnya Fatih itu memang sibuk dengan S2nya di Kairo sehingga saat akad nikah Ghina dan Fatih tidak ada.


Ghina hanya tersenyum hambar di balik cadarnya. "Makasih Mbak," katanya.


"Nafisah mana Dek?" tanyanya.


"Oh Mbak Nafisah tadi keluar dulu sama anaknya Mbak, pengen jajan katanya."


"Gimana rasanya udah jadi istri Ghina. Eh, Ghina 'kan nama kamu?" tanya Kakak Iparnya dengan senyum dan berdiri di samping Ghina yang duduk di kursi.


"Iya Ghina Mbak," balas Ghina. "Em, ya gitu Mbak."


"Gitu gimana? Fatih, baik 'kan sebagai suami?"


Ghina meringis pelan, "iya Mbak, Fatih baik."


"Duh, lucunya, masih malu-malu ya? Fatih, udah nengokin kamu belum ke sini? Mbak cariin tadi nggak ada di kamarnya."


"Belum Mbak, nggak tau juga kemana."


"Ya udah deh, kamu nggak papa ya ditinggal sendirian di sini? Kakak mau ke tempat penerima tamu."


"Iya Mbak, nggak papa."


Setelah Kakak Iparnya keluar, Ghina menghela nafas lega. Ia rasanya masih asing dengan keluarga Kyai, walau sudah merasa nyaman jika dengan Nafisah yang ceria.


"Dek," panggil seseorang. Ghina menoleh ke arah pintu. Ternyata Imran di sana.


"Kak!" pekik Ghina senang, ia langsung berdiri dan menghambur memeluk Ilham.


"Ih, kemana aja sih? aku kesepian loh dari tadi di sini, Ibu mana?"


"Ibu kamu masih ngobrol sama Ummi," balas Imran, lalu mengusap pelan wajah sang Adik yang tertutup cadar. "Cantik banget kamu," pujinya.


Bibir Ghina mengerucut di dalam, "masa?"


Imran mengacak kerudungnya pelan, "iya lah, kamu paling cantik hari ini. Fatih mana?" tanya Imran.


"Nggak tau dia kemana," balas Ghina sewot.


"Wih, santai dong ngomongnya. Suamimu pasti pangling ngeliat kamu. Udah siap 'kan layanin dia? nanti malam, kamu nginep di sini 'kan?"


"Nggak mau! aku mau pulang Kak."


"Eh? jangan dong, harus di sini."


"Aku nggak mau, nggak betah nginep di rumah orang."


"Hei hei, kamu udah jadi istri orang sekarang, harus bisa dong jauh dari rumah. Kemana pun suami membawa, kamu harus nurut."


Ghina menunduk, tiba-tiba saja ia merasa takut jika malam ini harus tinggal di kediaman Kyai Zhafran.


"Aku nggak tau, takut."


"Kamu gadis yang kuat, kamu bisa. Lagian, Fatih itu orangnya santai juga, nggak bakal galak ke kamu ya 'kan?"


"Kakak nggak tau aja sifat aslinya."


"Tapi, selama kamu jadi istrinya, dia nggak pernah nyakitin kamu 'kan?"


Ghina terdiam, lalu menggeleng.


"Nah, itu dia. Fatih itu baik aja insyaa Allah orangnya. Sedari awal, Kakak juga bakal nentang pernikahan kamu, kalau nggak yakin sama dia," ucap Imran serius, sambil menatap manik mata adiknya dalam.


Terdengar ketukan pintu dan suara salam dari seorang wanita. Ternyata Nafisah yang datang dengan wajah sumringahnya.


"Akhirnya, bisa lepas juga dari anakku, hihi. Maaf Mbak lama ya Ghina," ucap Nafisah.


"Loh ini, kenapa matanya basah?" tanyanya menatap bergantian Ghina dan Imran.


"Nggak papa Mbak, dia kalau sama Kakaknya emang suka nangis nggak jelas," gurau Imran yang dibalas cubitan oleh Ghina di pinggangnya.


"Hahaha, nangis kenapa? kamu sedih bakal pisah sama Kakakmu?" tanya Nafisah dan merapikan mahkota kecil yang terpajang di kepala Ghina.


"Sedikit Mbak, hehe," balas Ghina dengan menyeruput hidungnya ke dalam, karena ada cairan yang keluar beberapa waktu lalu.


"Yuk siap-siap, kalian harus tanda tangan buku nikahnya. Bentar, make up mu ini harus di ratakan lagi." Nafisah membawa Ghina kembali ke meja rias. Hari ini, Nafisah memang menjadi MUA khusus bagi Ghina.


"Ya udah, aku duluan ya keluar. Mau gabung sama Kyai dan lainnya," ucap Imran yang diangguki oleh Nafisah.


Nafisah menuntun Ghina di samping. Dapat ia rasakan tangan adik iparnya itu dingin saat ia menggenggamnya.


"Tenang ya sayang, bentar lagi ketemu suami kamu," goda Nafisah agar Ghina sedikit lebih santai.


Ghina menoleh, mendapati Nafisah yang mengerling ke arahnya. "Gugup Mbak," ucapnya jujur.


Nafisah terkekeh pelan, mereka kini berjalan menuju kumpulan beberapa orang tua yang sudah ada di sana.


Ada meja kecil di tengah-tengah, di sana sudah ada seseorang tengah menatap ke arah dua buku kecil di hadapannya.


Ummi Zainab tersenyum begitu melihat menantunya. Narsih juga begitu, melihat anaknya yang sangat cantik hari ini.


"Nah, kamu duduk di dekat Fatih," ucap Nafisah dan menuntun Ghina untuk mendekat.


Dengan langkah kaku, Ghina mendekat lalu mendudukkan diri di samping Fatih. Laki-laki itu menggeser duduknya, mempersilakan Ghina untuk menandatangani buku nikah mereka. Setelahnya, mereka mendapat petuah tentang pernikahan dari salah satu Kyai yang di undang dari pesantren lain.


"Intinya, suami istri itu saling melengkapi. Suami adalah pakaian bagi istri dan sebaliknya. Maka, jika ada aib yang dimiliki masing-masing, walau si suami atau istri tidak suka, tetap haram untuk di umbar-umbar keluar."


Semua orang yang berada di sana manggut-manggut. Apalagi Nafisah yang sedari tadi menatap gemas ke arah dua pasangan halal yang hanya terdiam.


"Banyak teladan dari pada sahabat dan sahabiyah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam, misalnya saja ada ketika itu dua orang yang baru menikah. Saat malam pertama, setelah mereka menunaikan salat dua rakaat, istrinya yang solehah itu mengatakan kepada suaminya 'katakan apa-apa yang kamu sukai, maka aku akan berusaha memenuhinya untukmu dan katakan apa-apa yang kamu tidak sukai, maka aku akan menjauhinya'. Masyaa Allah, amatlah langka istri seperti tadi di zaman ini, oleh karenanya semoga mereka yang masih baru memulai hidup sebagai suami istri untuk banyak-banyak mengambil teladan dari kisah-kisah terdahulu."

__ADS_1


Ghina hanya menunduk, jika mengingat kelakuan dia selama ini terhadap Fatih, maka jauhlah dirinya dari kriteria istri solehah itu.


Setelah mendengarkan dengan takzim jamuan untuk pengantin itu. Ghina dan Fatih di tuntun untuk duduk di pelaminan.


"Baik-baik ya kalian duduk di sini hihi," goda Nafisah dengan cekikan.


"Nggak usah cengar-cengir gitu Mbak, kamu udah tua," cibir Fatih dengan mulut pedasnya.


"Tuh Na, mulut suamimu, ck, nanti malam bungkam aja sampe jontor."


Ghina menggelengkan kepala, Kakak Iparnya itu sangat blak-blakkan sekali. Ia malu sendiri mendengar perkataan Nafisah, untunglah cadar yang dikenakan dapat meminimalisir.


"Emang berani dia?" tantang Fatih dengan melirik ke arah Ghina yang sudah duduk di sampingnya.


Ghina menoleh, matanya mendelik tajam ke arah Fatih.


"Ck, kamunya pasti yang agresif," cibir Nafisah. "Ya udah, Kakak mau nerima tamu dulu."


Nafisah melenggang dari sana, kini tinggallah kedua sejoli yang saling diam.


"Nggak pernah bayangin ya bisa duduk sama aku bareng di pelaminan?" tanya Fatih menatap lurus ke depan.


"Terpaksa," sahut Ghina ketus.


"Lama kelamaan juga mau," goda Fatih yang kini mengalihkan pandangannya menatap sang istri.


"Apa sih!" ketus Ghina dan memalingkan wajahnya.


"Fatih!" seseorang berhambur ke sana, menyalami, memeluk, mencium wajah Fatih.


"Makasih udah datang Rik," ucap Fatih setelah ia melepaskan diri dari pelukan posesif temannya.


"Hueee, ustadzah, kamu tega ngerebut Jenus Fatihku." Riki pura-pura menangis dan melirik Ghina yang berada di sebelah Fatih.


"Lebai," ucap Ghina datar.


"Na!" suara yang sedari tadi di nanti oleh Ghina akhirnya tiba.


"Na, barakallah, samawa ya." Renata langsung memeluk Ghina erat. "Kamu cantik banget hari ini, selamat Na."


"Iya Ren, aamiin. Kamu datang sama siapa? mana temen-temen lain?" tanya Ghina.


Renata melepaskan pelukan, ia melirik ke arah Ghina.


"Nih sama si Lamtur tadi, di belakang masih ada temen-temen yang masih makan tuh."


"Kalian datang bareng?" tanya Fatih.


"Nggak lah Fath, ogah sama dia," balas Renata ketus.


"Masih proses pendekatan," ucap Riki yang dihadiahi tawa oleh Fatih.


"Jelas-jelas kamu di tolak sebelum menembak," ujar Fatih membuat Riki cemberut.


"Si Mak Lampir itu cuma jual mahal aja, percaya deh, kalau udah kepincut pesonaku, pasti klepek-klepek."


"Jangan kegeeran ya kamu, sampai mati pun, aku nggak bakal suka sama kamu!"


"Wah, hati-hati kualat. Karma katanya," ejek Riki dengan tatapan mencibir ke arah Renata.


"Hus, udah. Kalau kalian mau ribut, pulang aja sana," usir Ghina yang tidak tahan dengan perdebatan yang memekakkan telinganya.


"Woi! kalian kok duluan sih?" itu suara ketua kelas, Syafiq. Di belakangnya teman-teman lain membuntuti. Mereka saling melirik dan berciye-ciye ria.


"Wah, nggak nyangka kalian ternyata nikah," komentar Rizal sambil menyalami Fatih, lalu menangkupkan tangan ke arah Ghina.


"Iya bener bro, Ghina dan Fatih 'kan bagai elektron dan neutron, saling bertolak belakang," timpal salah seorang teman laki-laki yang mirip dengan Rizal.


"Eh btw, kalian nih saling jatuh cinta sejak kapan? jangan-jangan pas rumor dulu itu?" tanya Rizal penasaran.


"Nggak lah, kalian nggak percaya 'kan sama fitnah itu? nggak mungkin, Ghina mau di cium sembarangan," ucap Fatih sambil melirik Ghina.


"Terus, gimana dong bisa jatuh cinta?" cecar Rizal lagi, membuat Riki yang berada di sampingnya tidak tahan untuk tidak memukul.


"Banyak tanya banget sih, diem kamu ah, kapan mereka saling cinta nggak penting ditanyakan!" sewot Riki, membuat Rizal mendadak kesal.


"Hei, udah. Kita lagi kondangan, bukan mau perang. Eh, mana nih fotografernya, kita foto bareng lah," ajak Syafiq.


Fitri the geng yang baru saja datang, langsung mengucapkan selamat kepada Ghina. Sella menatap Ghina iri, ia ingin sekali berada di posisi gadis itu, tapi terlambat.


"Ini udah lengkap semua kelas kita?" tanya Syafiq dengan teriak. "Bentar dulu Om," tahannya.


Sang fotographer hanya manggut-manggut.


"Semuanya hadir!" teriak Riki, ia sudah menghitung semua orang yang tengah berdiri di depan pelaminan itu.


"Oke, Om kami sudah siap," ucap Syafiq pada Om Fotographer.


Semuanya bergaya dengan sesuka hati. Berkali-kali hingga Ghina rasanya merasa gerah dengan kerubungan teman-temannya di sana.


Setelah semua teman-teman sekelas pergi, tibalah anggota KSI yang memberikan ucapan selamat kepada Ghina. Oh, jangan lupakan, pasti ada Ilham di dalamnya.


Laki-laki itu mengenakan pakaian batik dan celana kain, yang membuatnya terlihat dewasa. Rambutnya tampak rapi dengan gaya undercutnya.


Ilham berdiri di depan Fatih dan Ghina. Ia melirik sendu ke arah Ghina, begitu pula sebaliknya.


"Makasih Bro sudah datang," ucap Fatih memutus pandangan keduanya.


"Barakallah, semoga kamu dapat menjadi suami yang baik," ucap Ilham dingin. Ia tak bisa lagi menyembunyikan perasaan sakitnya begitu mengetahui Fatih selangkah lebih maju dari dirinya.


"Aamiin Bro," balas Fatih dengan senyuman ramah dan sok akrab seperti biasa. Dan itu, semakin membuat Ilham rasanya dongkol. Ia mendekat dan berbisik pelan.


"Aku tau semuanya terpaksa. Kalau sampai Ghina nggak bahagia dengan adanya pernikahan ini, aku nggak akan segan ambil dia."


Fatih terkekeh pelan, ia juga mendekatkan mulutnya ke telinga Ilham. "Syukron ancamannya, tapi Ghina itu milik Allah, bukan milik aku atau pun kamu ketua."


Yuhuuuu.....

__ADS_1


otor datang lagi, eh btw siapa yang kasian sama Ilham yang ditinggal nikah? 😂


Yang suka ceritanya, jan lupa like, komen, vote, dan share ceritanya ke teman-teman kalean


__ADS_2