
Setelah menerima pesan gambar dari Ilham, Kakak dari Ghina itu langsung bertolak dari perusahaannya menuju Banjarmasin. Ia tidak ingin menunda lagi perkara besar ini. Padahal, sudah jauh-jauh hari ia memperingatkan Fatih untuk menjaga adiknya, namun apa buktinya? adik iparnya itu malah mengkhianati kepercayaan yang ia berikan.
Murkanya semakin bertambah, saat ia melihat Fatih dengan wanita yang berbeda dari gambar yang ia terima via Whatsapp. Wanita yang kini nampang dimatanya, tidak memakai kerudung. Dan wanita ini pula, yang ia sempat temui tempo lalu di kosan adiknya.
Bugh
Fatih langsung tersungkur ke tanah. Sandra yang masih ada di sana, terkejut dan berniat membantu Fatih untuk berdiri. Namun, pria itu menepisnya.
"Silakan kamu pergi dari sini, Dra!" suruh Fatih.
"Tapi, kamu terluka," lirih Sandra.
"Pergi, aku bilang!" sentak Fatih. Ia sebenarnya juga marah pada wanita ini, tapi ia bukanlah pecundang yang hanya bisa menyalahkan yang lemah.
"Kamu tahu 'kan kedatanganku kesini untuk apa?" tanya Imran dengan nada dingin.
Pria itu menatap datar sang adik ipar yang mencoba untuk berdiri. Bahkan, melihat wajah Fatih yang langsung membiru, ia tidak bersimpati sama sekali.
"Aku tau Bang, lambat laun kamu pasti ke sini. Tapi, aku mohon--"
Fatih belum selesai mengucapkan kalimatnya, perutnya sudah di tonjok keras, hingga mengeluarkan cairan dari mulutnya.
"Berapa kalipun aku memukul, nggak akan bisa membalas kejahatanmu pada adikku Fath. Kamu sudah merusak kepercayaanku. Kamu tau? Ghina itu punya trauma berat terhadap laki-laki, dan kini, justru kamu sebagai suaminya malah menambah berat traumanya."
Suami Ghina itu terbatuk-batuk, ia menatap Kakak Iparnya sendu. Sepertinya Imran juga sudah kadung percaya dengan gambar itu, apalagi dengan adegan ia dan Sandra tadi yang begitu jelas.
"Kalau kamu nggak bisa jaga adikku, lepaskan dia. Jangan kamu tahan dia di dalam sangkar. Beri dia kebebasan."
"Bang aku tau, aku salah. Semua yang Abang liat, itu ketidaksengajaan."
"Apa katamu? nggak sengaja?" ulang Imran dengan tertawa miring.
"Ceraikan Ghina. Aku nggak akan restu kalian terus bersama!" tandas Imran dan pergi begitu saja tanpa mau lagi mendengarkan penjelasan dari Fatih.
Fatih menghela nafas, perutnya begitu terasa kram. Ia duduk di teras, sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Gimana caranya agar kalian semua percaya sama aku?" gumamnya. Ia menyugar rambut kasar, merasa frustasi dengan apa yang telah terjadi.
Tiba-tiba ia jadi berfikir. Gambar ia dan Sella sedang jatuh di atas kasur, pasti ada yang memotretnya 'kan? siapa kira-kira? apa gadis itu menaruh cctv di kamarnya? Ia akan segera mencari tahu kebenarannya. Jika pelakunya Sella sendiri, ia tidak akan memaafkan wanita itu. Perempuan yang sudah dua kali menjebaknya. Pertama saat sekolah, hingga ia harus menikah dengan Ghina dan kedua, saat kuliah, hingga ia harus cerai dengan istrinya itu.
Dilain tempat, Ghina masih melamun dalam diam. Menatap langit yang mengeluarkan gerimis. Mira, hanya membiarkan temannya merenung, tidak ingin mengganggu.
Suara sepeda motor terdengar jelas, dari jendela, Ghina dapat melihat siapa yang datang.
"Assalamualaikum!" Ilham mengetuk pintu kosan Mira.
__ADS_1
"Kakakku Mir," lirih Ghina. "Apa dia udah tau persoalanku sama Fatih?" tanyanya.
"Biar aku aja yang buka Na," ucap Mira segera berjalan ke arah pintu, lalu membukanya. Nampanglah wajah seorang pria dewasa yang ia ketahui Kakak dari Ghina.
"Maaf mengganggu, apa Ghina, ada di sini?" tanya Imran.
Mira mengangguk, "iya Bang, silakan masuk."
Ghina keluar dari kamar, wajahnya terlihat sembab. Imran langsung mengerti penyebabnya.
"Sudah berapa lama kamu disini?" tanya Imran.
"Baru beberapa jam," balas Ghina. Namun, ia tidak kuat lagi untuk terlihat baik-baik saja. Matanya langsung berair deras.
Imran segera memeluk sang adik dengan lembut. Menyalurkan kasih sayangnya sebagai seorang Kakak.
"Kak, jangan kasih tau Ibu soal ini." Ghina memohon dalam dekapan sang Kakak.
"Iya aku tau."
"Kak, rumah tanggaku," lirih Ghina.
"Kamu nggak pantas mempertahankan lelaki itu Na. Biarlah dia melepasmu."
"Dia sudah menceraikanku Kak."
Ghina menceritakan dari awal kejadian ia yang akan di perkosa pria mesum, hingga datangnya Ilham, dan tidak lama Fatih. Lalu suami dan temannya itu berkelahi sesaat, kemudian Ilham menunjukkan gambar Fatih dan Sella yang berada di atas kasur.
"Kurang ngajar. Dari awal, dia emang niat selingkuh dan nggak pernah cinta sama kamu Na," geram Ilham, buku tangannya terlihat memutih karena mengepal erat.
"Kak, aku harus gimana?" tanya Ghina dengan isak tangis.
"Sudahlah. Nanti kalian tinggal urus surat cerainya. Biar Kakak yang ngasih tua keluarga Kyai tentang masalah ini. Untuk tempat tinggal sementara, bisakah kamu di sini dulu menumpang temanmu?" tanya Ilham, ia beralih menatap Mira yang mengamati mereka dari kejauhan.
"Bisa Kak, saya memang ngekos sendirian."
"Nah, kamu tinggal di sini aja. Dan pesan Kakak, sampai surat itu ada, kalian nggak boleh ketemu."
Ghina mengangguk dengan lelehan air mata. Entah mengapa sudut hatinya begitu perih. Apalagi mengingat gambar suami dan temannya yang berada di dalam kamar itu. Apa memang Fatih sedari awal berniat menceraikannya saat mereka sudah sama-sama kuliah? makanya dia sengaja membuat penyebab agar mereka bisa cepat cerai.
"Kakak mau balik ke Jorong, ngurus semuanya, termasuk memberitahu Kyai tentang ini," jelas Imran, sambil mengelus pucuk kepala sang adik. Tangis Ghina bertambah, ia memang merasa sakit hati dengan kelakuan Fatih, tapi di sisi lain, entah mengapa ia tidak rela berpisah dengan suami yang sudah beberapa bulan menemaninya.
"Hati-hati Kak," lirih Ghina. Imran mengangguk dan tersenyum tipis, lalu berpamitan pada sang adik dan juga temannya.
Hingga hari orientasi mahasiswa tiba, belum ada kejelasan perihal hubungan Ghina dan Fatih. Ia mendengar dari Kakaknya, kalau Pak Kyai ada kegiatan dakwah hingga sebulan di luar kota.
__ADS_1
Hari pertama masa orientasi. Para mahasiswa di kumpulkan di gedung auditorium tiga lantai. Mereka di suguhkan beberapa materi pengenalan kampus, hingga wawasan kebangsaan. Ghina dan Ilham, serta Mira satu kelompok, sehingga mereka banyak berinteraksi.
Lain halnya Fatih, yang tidak sekelompok. Ia berusaha mencari-cari dimana kelompok istrinya berada. Hatinya merindukan sosok itu.
Saat jam istirahat, ia pergi ke kantin, dan tidak sengaja iris matanya melihat sang istri, Ilham juga teman-temannya yang lain, berkumpul. Tampak tertawa bersama entah apa yang mereka obrolkan.
Fatih segera berlari ke gerombolan mahasiswa itu. Sekali saja, ia ingin bicara dengan Ghina.
"Na," panggil Fatih. Semua orang yang ada di dekat kantin itu menoleh termasuk Ghina.
Dirinya merasa terkejut, begitu mendapati Fatih memanggil namanya. Sedangkan Ilham, menatap tajam ke arah Fatih.
"Sebentar, aku mau bicara sama kamu," ucap Fatih. Ghina melirik ke arah teman-temannya. Ia tak mungkin berdebat bersama Fatih di sini, atau menolak ajakannya, karena bagaimana pun semarah apapun Ghina, ia masih tahu cara menghargai orang lain.
"Aku pamit dulu," permisi Ghina kepada teman-temannya. Mereka semua mengiyakan, termasuk Ilham yang menatapnya dengan tidak rela.
Kini Ghina dan Fatih berdiri tepat di samping perpustakaan pusat. Di sana memang sepi, karena hanya dijadikan lahan parkir kendaraan roda dua.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Ghina, karena Fatih masih terdiam.
"Aku minta maaf Na," ucapnya lirih.
"Nggak perlu. Itu kesalahanmu, dan kamu yang mempertanggungjawabkan semuanya pada Allah Fath," jelas Ghina. Beberapa minggu ia berusaha menata hati, mempersiapkan mental jika suatu hari nanti Fatih mengajaknya bertemu dan bicara. Dan hari ini, sepertinya memang takdir yang Allah telah gariskan. Untuk menyelesaikan permasalahan rumah tangga mereka.
"Gambar itu, aku mau jelasin tentang itu Na," ucap Fatih lagi.
"Nggak usah, nggak perlu, dan aku nggak mau denger." Ghina membuang wajah, tidak ingin bertatapan dengan Fatih.
Suaminya mendekat, mencoba meraih tangan Ghina, namun ia menghempasnya. "Fath, jangan kurang ngajar! kita bukan suami istri lagi, kamu udah menceraikan aku!" desis Ghina.
"Nggak, aku nggak akan ceraikan kamu."
"Kamu udah mengucapkannya Fath! sudahlah, kita tinggal tunggu surat cerainya jadi, Kakakku akan mengurusnya."
"Ngagk bisa, cerai itu ada ditangan aku!" jelas Fatih tegas. "Kakakmu nggak berhak ikut campur permasalahan kita."
"Itu salahmu, sudah menodainya Fath." Ghina membuang wajah, lebih memilih menatap ke sembarang.
"Ghina aku mohon, percayalah." Fatih menatap Ghina dengan memohon. Istri Fatih itu tetap kekeh, bermuka jutek
"Nggak ada kah, kesempatan buat aku Na?" tanya Fatih lirih. Ia bingung, harus dengan cara apa lagi ia meminta kepada wanita di hadapannya.
Yuhuuuu, otor akhirnya comeback!
setelah berbulan hiatus, karena tugas negara eaaakš¤ intinya alhamdulillah, sudah bisa up cerita YMM, masih ada yg menantikan gak ya?
__ADS_1
komen dong, biar otor tau, dan makin semangat lanjut gtuš¤