
"Hah?!" Mendengar ucapan Fatih barusan lebih mengejutkan dibandingkan mendengar namanya sendiri di panggil ke ruangan Bimbingan Konseling. Padahal, hati Ghina sudah merasa tenang beberapa jam yang lalu. Ia bisa mengelus dada dan tidak memikirkan lagi perkataan Kyai Zhafran.
"K-kenapa? tapi, kita udah nyeret pelakunya ke BK. Kamu tinggal bilang aja sama Abimu kalau kamu akan bawa mereka ke pesantren kalau perlu," Ghina berbicara dengan sulit. Kepalanya menggeleng pelan.
"Dari awal Abi, nggak peduli kita mau nemuin pelaku atau nggak. Intinya, kita harus nikah aja. Abi udah nemuin celah untuk nikahkan aku."
"Kamu nggak bisa nolak Fath? kamu anak laki-laki, harusnya bisa nego sama Abimu," tanya Ghina sebal, tangannya terlipat di depan dada.
"Justru karena aku anak laki-laki. Abi ingin, di sampingku ada perempuan yang membuatku lupa untuk bermaksiat." Fatih berkata entang.
"Tapi, bukan berarti harus aku 'kan perempuannya?" tanya Ghina dengan alis menyatu.
"Maaf, tapi itu kamu Na," lirih Fatih, walau dirinya sendiri sebenarnya frustasi. Bahkan, ia kehilangan selera dengan hampir semua hobinya gara-gara memikirkan pernikahan. Itu pun belum di tambah dengan beban persiapan Ujian Nasional.
"Bukannya kamu anak yang ngebangkang Fath?" tanya Ghina yang membuat Fatih mendelik ke arahnya.
"Iya di sekolah aku bisa berbuat semau aku. Tapi, kalau di rumah, jangan harap!" Fatih merogoh permen Lollipop dari kantongnya, mengunyahnya dengan kasar.
"Aku bingung pake cara apa biar Abiku ubah keputusannya," tambahnya sembari mengeluarkan batang Lollipop lalu melemparnya asal.
"Aku nggak mau nikah sama kamu!" ketus Ghina dan berbalik meninggalkan Fatih di kelas.
Fatih tertawa pelan, ia mengejar Ghina hingga langkah mereka sejajar. Tapi dalam jarak aman.
"Lah, tapi aku mau," celetuk Fatih dengan tatapan ke bawah. Ghina menoleh dengan mata membesar dan pipi yang berubah merah. Bukan karena ia terpesona atau merasa malu ketika mendengar Fatih mengatakan itu. Tapi, ia marah sekaligus kesal karena Fatih masih bisa bercanda dengan situasi seperti ini.
Fatih dan Ghina saling berpandangan. Namun sedetik kemudian Ghina membuang wajah.
"Nggak lucu tau," ketus Ghina yang menahan amarahnya untuk mengomeli Fatih.
"Beneran loh, aku mau aja nikah sama kamu." Fatih mengulang ucapannya dan membuat Ghina bertambah jengkel.
"Diem bisa nggak! sana jauh-jauh!" usir Ghina yang berlari menjauh dari Fatih. Ia ingin memarahi Fatih, mengatai dan memakinya. Tapi, ia juga memahami, Fatih sama seperti dirinya. Anak yang hanya bisa menuruti keinginan orang tua sebagai dalil berbakti kepada mereka. Jika memang Ghina tak bisa lagi memilih untung mundur, maka baiklah ia akan maju.
Setelah salat Ashar dan melakukan ritual membersihkan diri. Ghina mengecek gawainya. Ia membaca ratusan chat grup Rohis yang masuk. Setelah kejadian fitnah itu, Ghina memang tidak terlalu aktif sosial media. Ia disibukkan dengan hati dan pikirannya yang berkecamuk. Hari ini pun sama sebenarnya bahkan lebih dari hari kemarin. Tapi, entah kenapa ia ingin saja mengecek Whatsapp, barangkali ada chat penting atau sekedar chat guyon dari Renata.
Jari lentik Ghina berhenti di salah satu chat dari nomor yang tidak bernama. Dahinya mengernyit.
+6281356277***
P
P
P
Ghina melirik malas chat basa-basi, tidak penting dan tidak sopan itu. Ia paling tidak suka dengan sapaan awal orang yang tak di kenal lewat chat. Jika salam, mungkin akan ia respon. Tapi jika hanya 'P' oh sampai kiamat Ghina tidak akan merespon.
Notifikasi dari nomor yang sama kembali muncul.
+6281356277***
Ghina Izzati! Aku Fatih! kamu selama ini nggak ngesave nomor aku ya?!
Ternyata pesan itu dari laki-laki menyebalkan bernama Fatih Rafasya. Ghina mengetik cepat.
Ghina : Ada apa?
+6281356277*** : Keluargaku udah rencanain pertemuan bahas nikah.
Ghina : Apa? beneran?
+6281356277*** : Ya iyalah, ngapain boong. Kamu siap-siap aja.
Ghina : Kapan tepatnya?
+6281356277*** : Ahad, jam 9 pagi. Keluargaku berkunjung ke rumahmu. Kak Maheer kayaknya udah ngasih tau Kakakmu juga tentang ini.
Ghina menatap nanar chat dari Fatih. Kepalanya terasa pening, hatinya berdebar-debar tidak karuan. Bukan karena senang dirinya dan Fatih akan menikah. Tapi, karena dirinya marah, mengapa setelah pelaku di temukan, mereka tetap harus menikah? tidak adil. Ya, hidup memang begitu.
+6281356277*** : Woi Na! tidur?
Ghina : Benci sama hidup.
+6281356277*** : Jangan lah, nikmatin aja. Semua, akan indah pada waktunya.
Ghina : Sering denger kalimat gitu. Tapi, aku nggak percaya. Masalahnya, kapan waktu indah itu itu menyapa?
+6281356277*** : Makanya sama aku. Kita akan ciptakan masa depan indah.
Ghina : Astaghfirullah, aku bukan fansmu yg selalu bisa kamu modusin! dasar!
Di seberang sana Fatih tertawa sendiri. Ini baru pertama kali baginya menghubungi Ghina secara pribadi via chat. Biasanya mereka hanya berdiskusi di grup kelas atau grup kelompok tugas. Itu pun jarang. Dan pantas saja, Ghina tidak menyimpan nomornya.
+6281356277*** : Tapi kamu lagi senyum-senyum manja 'kan di sana? jujur aja.
Ghina : "😠"
+6281356277*** : Jangan lupa bahagia dan save nomor calon suamimu.
__ADS_1
Ghina tidak membalas lagi chat yang mulai ngalur-ngidul tidak jelas itu. Matanya menerawang melihat langit-langit atap kamarnya. Benarkah, ia akan menikah dengan laki-laki yang bernama Fatih? sanggupkah ia menjalani hidup sebagai seorang istri?
Ghina beranjak dari kasur, lalu berjalan ke arah meja belajarnya. Ia meraih sebuah buku diary berwarna pink miliknya. Di dalamnya tertera setting goal hidupnya. Ia tertawa pelan.
"Nikah, nggak ada dalam goalku tahun ini," katanya.
"Apakah aku siap?" tanya Ghina pada diri sendiri.
"Demi kebaikan pesantren kah?" tanyanya lagi.
"Haruskah aku yang berkorban? gara-gara kelakuan Fatih?" tiba-tiba Ghina kesal sendiri. Ingatannya berputar saat kejadian memalukan itu. Mengapa saat itu dirinya yang bersama Fatih? coba saja, sore itu ia lebih memilih pulang dan tidak piket sore. Mungkin kejadian itu tidak akan terjadi. Tapi, ah sudahlah, penyesalan memang selalu di belakang.
Hari terasa begitu cepat berlalu bagi Ghina yang setiap hari jantungnya terpompa cepat. Setelah memberitahu Ibunya bahwa Kyai Zharan akan berkunjung, hidupnya seolah sudah tamat. Ibunya bahagia bukan main, dan Ghina tidak ingin menghancurkan kebahagiaan dan senyum dari bibir sang Ibu. Kakaknya juga sudah pulang ke rumah pada Sabtu sore.
Pagi ini, terlihat Kakaknya tengah bersantai di ruang tamu dengan menyesap teh sambil membaca koran. Ibunya sudah menyibukkan diri sedari subuh. Menyiapkan jamuan untuk tamu yang akan berkunjung. Sedangkan Ghina, masih terpekur di kamar. Saat mematut diri di cermin, Ghina tersenyum miris melihat lingkaran hitam di matanya.
Pukul sembilan tepat. Tida lebih dan tidak kurang. Terdengar deru mesin mobil diluar. Ghina kalang kabut, ia segera memberi bedak pada lingkaran matanya. Untuk menutupi betapa dirinya hanya sibuk memikirkan tentang pernikahannya dengan Fatih.
Keluarga Fatih yang berkunjung terdiri dari Abinya sendiri, Ummi, Kakak perempuan dan Kakak Ipar Fatih. Dengan semangat, Ibunya Ghina menghidangkan makanan untuk keluarga Kyai. Menu makanan khas Kalimantan, Soto Banjar dan Ketupat Kandangan.
Mereka berbincang-bincang ringan selama makan. Sedangkan Ghina hanya menyimak dengan pikiran yang sudah tidak di tempat makan. Obrolan berlanjut serius saat makanan berat di hadapan, sudah selesai di santap. Mereka memakan makanan ringan yang tersaji.
"Kalian nggak usah khawatir. Untuk persiapan nikah serahkan aja ke aku." Kakak perempuan Fatih berucap dengan semangat. "Gimana Bi?" tanya wanita beranak satu yang bernama Nafisah itu. Sepertinya dirinya yang sangat antusias melebihi semua orang yang ada di sana.
"Abi percayakan aja sama kalian semua. Biar perempuan-perempuan di keluarga ini yang ngatur," ucap Kyai Zhafran.
"Kita undang ustadz Malik untuk ngisi kajian Bi, gimana?" tanya Maheer, Kakak Ipar Fatih, suami dari Nafisah
"Justru itu yang tengah Abi pikiran. Kita undang beliau ngisi jamuan nikah. Karena pernikahan ini sifatnya tertutup, pastikan hanya rekan terdekat yang hadir," jelas Kyai Zhafran.
"Kades sini undang juga Bi?" tanya Maheer.
"Pak Kades bisa aja. Juga beberapa perwakilan dari sekolah. Wakasek kesiswaaan, Bapak Sandy pastikan di undang. Beliau yang memudahkan juga negosiasi dengan pihak sekolah mengenai pernikahan ini," ucap Kyai Zhafran yang diangguki semua orang.
"Bu, katering kita pesen ke mana?" tanya Nafisah.
"Kalau besan, adakah saran katering terpercaya? Yang nggak usah mewah-mewah, yang penting layak untuk dijadikan hidangan nanti. Apalagi hanya segelintir orang saja yang di undang." Kini Ummi Zainab yang melayangkan pertanyaan kepada Ibunya Ghina.
"Kalau saya sendiri sebenarnya menyerahkan segala sesuatu pada pihak pesantren aja. Apalagi keluarga Pak Kyai sudah pengalaman. Saya sendiri belum ada pengalaman," balas Ibunya Ghina dengan sungkan.
"Tapi jika boleh saran, kita bisa memesannya di cv Bu Sari, Katering di sana pas sekali antara harga dan kualitas. Saya dulu pernah membantu tetangga yang mengadakan resepi dan memesan di sana," tambah Ibunya Ghina.
"Oh Bu Sari, yang rumah ya di dekat SMP itu?"
"Iya."
"Bagus itu besan. Nanti biar Nafisah yang mengurus. Kita, terima jadi dan sukses acaranya."
"Ada apa besan?" tanya Ummi Zainab.
"Keluarga Kyai tentunya tahu bagaimana suami saya," lirih wanita bernama Narsih itu.
"Akadnya akan kita adakan di lapas," ucap Kyai Zhafran.
"Tapi, ini akan sangat memalukan bagi keluarga pesantren," lirih Narsih.
"Tidak Bu, untuk akad cukup di hadiri beberapa orang saja. Nanti setelah akad kita bisa langsung kembali ke pesantren," jelas Kyai Zhafran.
"Tenang saja besan. Kami tidak akan mempermasalahkan itu. Yang penting, bagaimana caranya agar dua anak kita segera halal dan insyaa Allah tidak akan mengulangi fitnah untuk kedua kalinya." Ummi Zainab menggenggam tangan Narsih yang duduk di sebelahnya.
"Jadi, sesuai kesepakatan, pernikahannya tanggal dua puluh ini?" tanya Nafisah memastikan.
"Iya, paginya akad siangnya resepsi," balas Ummi Zainab.
"Untuk fitting gaun bagaimana Ghina, Fatih apa kalian ada rencana mau konsep seperti apa?" tanya Nafisah yang menatap bergantian ke arah dua orang yang sedari tadi terdiam.
"Nggak ada," balas Ghina.
"Sebaiknya, konsep Islami saja. Nggak apa nggak pakai pakaian adat. Bukan begitu besan?" tanya Ummi Zainab.
"Iya saya lebih setuju seperti itu," balas Narsih.
"Setelah resepsi, biar Ghina langsung tinggal di pesantren aja, bagaimana kamu keberatan Nak?" tanya Ummi Zainab.
"Maaf Ummi, Ghina belum bisa," balas Ghina jujur. Semua orang saling berpandangan.
"Iya, seperti Rasulullah dulu. Terpisah juga dengan Aisyah. Jadi, jika kalian memang masih enggan untuk se-kamar bersama. Sementara bisa tinggal di rumah masing-masing, bagaimana pendapatmu Fatih?" tanya Kyai Zhafran
"Aku setuju aja Bi. Aku sama Ghina berencana satu rumah pas kita kuliah nanti," jelas Fatih yang membuat Ghina melotot. Sejak kapan mereka berencana seperti itu? tapi, benar juga kata Fatih, Ghina masih merasa belum siap jika seusia ini sudah mengabdikan diri sebagai istri. Bisa jadi, setelah mereka kuliah, Ghina bisa siap.
"Kamu ini, setuju-setuju. Awas aja kalua rengek pengen Ghina segera tidur di kamarmu," goda Ummi Zainab
Semua orang yang ada di sana tertawa.
"Ummi!" Fatih mendelik.
"Dia itu kan rada manja kalau sama Umminya. Barangkali sebenarnya dia senang bisa ada yang nemenin tidur," ledek Nafisah pada adik laki-lakinya.
"Umi, pengen pipis." Suara seorang anak kecil menyadarkan mereka. Ya, Nafisah membawa serta anak perempuannya yang baru berumur tiga tahun.
__ADS_1
"Iya Nak, yuk kita ke toilet anak pintar." Nafisah menggandeng tangan anaknya.
"Imran, kamu ada rencana untuk menikah?" tanya Kyai Zhafran yang membuat Imran terasa di interogasi.
"Insyaa Allah secepatnya," balasnya sedikit kaku.
"Sudah ada calon?" tanya Kyai Zhafran.
"Masih proses Kyai."
"Kamu kerja di mana?"
"Perusahaan tambang. PT Darmahenwa."
"Oh perusahaan terkenal itu ya. Kamu pulang balik ke rumah atau Mess?" tanya Ummi Zainab.
"Mes Nyai. Tapi biasanya pulang juga ke rumah untuk nemenin Ibu," balas Imran.
"Iya semoga segera juga ya. Pengennya sih sekalian bareng begitu resepsinya. Cuma kan Ghina dan Fatih tertutup acaranya. Tapi, bukan masalah," ucap Ummi Zainab.
Nafisah dan anak perempuannya kembali bergabung ke ruang makan. Wanita itu berencana akan fitting gaun pengantin untum Fatih dan Ghina. Kya Zhafran dan lainnya setuju saja.
"Abi, titip Syamila ya? aku mau ajak Fatih dan Ghina jalan-jalan ke butik aku," ucap Nafisah pada suaminya yang bernama Maheer itu.
"Iya Mi, hati-hati. Jangan suka godain mereka. Bisa-bisa pulang langsung demam," ucap Maheer dan mengelus kerudung Nafisah.
"Iya Abi, nggak kok. Mila sayang, Umi pamit dulu ya mau makcombalangin tante Ghina sama aa Fatih." Nafisah mencumi anaknya dengan gemas.
"Mbak, jangan ngomong aneh-aneh sama anak kecil. Aku nggak mau Syamila kaya kamu," decak Fatih. Mereka kini sudah berjalan keluar dari rumah Ghina.
"Daripada kaya kamu? jelas-jelas dia mirip Abinya yang ganteng dan manis," bela Nafisah tidak terima.
"Ck, pujilah suamimu sesukamu. Ayo, cepetan." Fatih melangkah lebih dulu mendekat ke arah mobil milik Abinya.
"Ciye udah nggak sabar. Na, dia itu nggak sabaran lho orangnya. Hati-hati ya," goda Nafisah. Ghina yang berada di sampingnya tersenyum.
"Aku selalu merasa pusing kalau berdekatan dengan dia mbak," aku Ghina dan membuat Nafisah tertawa-tawa.
"Haha, kamu jujur banget Na. Abi, umi pamit ya, assalamualaikum." Nafisah melambaikan tangan ke arah Kyai Zhafran dan Umminya, dan terakhir menyalami suaminya.
"Na, dia orangnya gimana menurutmu kalau di sekolah?" tanya Nafisah saat mereka sudah masuk ke dalam mobil. Semata untuk memecah suasana aneh yang tercipta antara sopir dan penumpangnya.
"Susah deskripsikan kelakuan dia Mbak. Segala yang Mbak pikirkan dalam benak tentang kejelekannya, ya itulah yang terjadi di sekolah. Buktinya, sampai fitnah ini terjadi." Ghina mengatupkan bibirnya karena merasa tidak terpat berbicara seperti itu. "Ehm, aku nggak nyalahkan siapapun. Mungkin, aku memang harus lebih hati-hati dalam pergaulan."
"Haha, kami sekeluarga juga terkejut Na. Kamu bener kok, kalau kelakukan dia memang menyebalkan. Sukanya membuat rusuh." Nafisah bercerita dengan matanya menatap ke arah kaca spion, untuk melihat ekspresi Fatih.
"Iya terusin Mbak ghibah di depan orangnya langsung. Dasar perempuan!" decak Fatih yang tengah mengemudi. Nafisah tertawa-tawa.
"Mumpung ada kamu disini. Biar introspeksi ke depannya. Berhenti kekanak-kanakkan," ucap Nafisah.
"Ck, yang ngomong nggak nyadar. Coba kalau dia nggak nerima kamu. Aku pastikan kamu nggak pernah keluar kamar selama sebulan. Sedang aku, walau di fitnah, masih sanggup nongol ke luar kamar. Jadi siapa disini yang lebih kekanak-kanakkan?" tanya Fatih enteng.
"Patah hati itu wajar. Bukan kekanak-kanakan," bela Nafisah.
"Iya, tapi sikap kamu pas patah hati," kesal Fatih.
"Kalian, memang selalu perang mulut gini ya?" tanya Ghina yang mencoba menengahi.
"Dia nggak mau mengalah sama yang tua," adu Nafisah
"Ck, seharusnya yang tua menyayangi yang muda. Ngalah," bela Fatih.
"Habisnya yang muda ngelunjak."
"Stop!" Ghina menghela nafas. "Sampe sini aku tahu hubungan kalian. Tapi, tolong jangan berantem di depanku. Aku sedikit terganggu dengan suara bernada tinggi. Maaf."
"Maaf sayang. Mbak nggak maksud buat kamu ke ganggu." Nafisah baru sadar jika Ghina tidak nyaman dengan keributan.
"Nggak papa Mbak. Kalau aku merasa pusing, denger suara-suara berisik tambah lebih pusing. Tapi, kalau lagi normal aja, nggak kok."
"Kamu pusing?" tanya Nafisah khawatir.
Ghina mengangguk.
"Fath, coba liat di dalam dashboard kayanya ada stok obat di sana," tunjuk Nafisah.
"Kadaluarsa kayanya," ucap Fatih.
"Uh, liat dulu."
Fatih mengeceknya, lalu menyodorkannya pada Nafisah.
"Iya udah kadaluarsa. Lima meter dari sini ada apotik, berhenti di sana Fath."
"Hm."
"Kenapa? nggak jadi beli obat?" tanya Fatih begitu kedua perempuan di jok belakang tidak beranjak sedikit pun.
"Dasar! peka dong, kamu yang turun. Belikan obat sakit kepala. Oh ya, beli minumnya jangan lupa," decak Nafisah.
__ADS_1
"Nyesel aku berangkat sama kalian kalau akhirnya jadi babu," ucap Fatih dan segera keluar dari dalam mobil.