Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Bikin Anak


__ADS_3

Ghina mengemas barang-barang yang dibutuhkan Fatih nantinya. Setelahnya, ia keluar kamar dan langsung ke dapur.


"Ummi, minuman pagi hari kesukaan Fatih apa?" tanyanya.


"Minum teh, tapi nggak setiap pagi juga. Dia seringnya minum air putih aja."


Ghina manggut-manggut. Ia ikut menata piring di meja makan bersama Nafisah.


"Lagi ngapain suamimu?" tanya Nafisah sambil menaruh beberapa mangkok lauk pauk.


"Mandi Mbak."


"Oh, nanti panggil ke sini ya. Udah siap sarapan paginya. Dia mau ke Banjar 'kan sama Abi?"


Ghina mengangguk. Tangannya cekatan mengambil beberapa buah segar di dalam kulkas.


Setelah melihat Kyai Zhafran, Maheer dan satu lagi laki-laki, yakni anak sulung Kyai Zhafran yang bernama Aziz, ikut bergabung ke meja makan.


Ghina mendadak canggung dengan kehadiran beberapa orang dewasa itu. Ia meminta izin kepada Ummi Zainab untuk memanggil suaminya.


"Fath, ayo makan," ajak Ghina begitu ia masuk dan mendapati suaminya sudah rapi dengan setelan gamis putih dan kopiah senada.


"Oke istri," balas Fatih sambil tersenyum ke arah Ghina yang tampilannya begitu manis pagi ini. Gamis warna hijau muda dengan kerudung putih yang menghiasnya.


"Udah kamu periksa tasnya? nggak ada yang ketinggalan 'kan?" tanya Ghina dengan mata yang mengarah ke ransel yang terletak di atas ranjang. Fatih menggeleng, ia mendekat ke arah sang istri yang berdiri di ambang pintu.


"Mau ngapain?" tanya Ghina begitu Fatih malah menggengam tangannya.


"Makasih ya, perhatian kecilmu membuatku meleleh."


"Bukan saatnya gombal, ayo cepet, semua orang udah nungguin kamu." Ghina berdecak sebal, lalu menarik lengan Fatih.


"Berarti, kalau udah waktunya tepat, boleh ya gombalin kamu lagi?" alis Fatih naik turun begitu mengatakannya, apalagi kini tangannya di genggam oleh Ghina.


"Terserahmu Mas."


Ghina hanya mendengus. Sebenarnya ia jua tidak mau memanggil Fatih dengan sebutan itu. Tapi, jika tidak nanti di khawatirkan semua orang suuzon bahwa hubungan mereka tidak baik-baik saja. Walau faktanya demikian.


Mendengar panggilan dari Ghina, membuat dada laki-laki itu bergetar. "Apa tadi? Mas?"


Tanpa menoleh ke arah Fatih, Ghina mengangguk. "Iya Mas. Aku harus latihan, masa nanti di depan semua keluargamu, manggil kamu Fatih."


"Eh, tau juga ya kesopanan."


"Kamu lahir tahun berapa Na?"


"Dua ribu."


"Oh, masih tua aku."


"Emang kamu tahun berapa?"


"Sembilan-sembilan, bulan dua belas, tanggal dua belas, ingat ya?" Fatih menoel pelan pipi istrinya.


"Udah, cepetan. Udah pada nungguin juga." Ghina sedikit menjauh dari Fatih saat mereka sudah terlihat oleh orang-orang berada di ruang makan keluarga.


Setelah membaca doa masing-masing dan memulai aktivitas sarapan pagi. Kyai Zhafran membuka suaranya.


"Ghina kamu ajak haulan Fath?"


Fatih manggut-manggut. "Tapi dia berangkatnya sama Rohis sekolah."


"Kenapa nggak bareng rombongan kita aja?" tanya Maheer.


"Nggak Mas. Dia ada amanah sebagai ketua rombongan akhwat rohis, ya 'kan Na?"


Ghina yang sedari tadi menyimak sambil menyuap nasi, mengangguk dengan senyuman canggung.


"Ghina sama kamu ini, sekelas ya Fath?" tanya Kakak sulung Fatih, Aziz.


"Iya Bang."


"Kalian diam-diam udah saling cinta aja gitu? makanya pengen nikah cepet?"


Fatih menatap Abinya, sepertinya Aziz memang belum mengetahui permasalahan yang terjadi.


"Ini atas kebijakan Abi juga. Menghindari zina." Kyai Zhafran yang menjawab dengan nada beratnya


Aziz menganggukkan kepala. "Iya Bi. Siap-siap aja Fath, awal-awal rumah tangga emang manis. Tapi, kalau udah lama, hem mulai tuh paitnya."


Fatih terkekeh. "Nanti aku minta tips sama Bang Aziz."


"Ck, nggak nyangka ternyata kamu udah berani ya berlagak dewasa. Awas aja, kalau masih suka deketin anak Pak RT."


"Hah? nggak lah. Itu masa lalu Bang," kilah Fatih, karena memang sudah sejak lama perasaannya untuk gadis kecil nan imut itu hilang. Ya, cinta monyet lah istilahnya.

__ADS_1


"Ummi, Fisah, siapa coba yang nangis pas acara Maulidan? gara-gara tau kalau anak Pak RT, mau di pondokkan keluar kota?" goda Aziz sambil menyuapkan irisan ayam goreng ke mulutnya.


Ummi dan Nafisah terkekeh geli. "Biar aja, dia lagi masa-masa cinta monyet dulu."


"Ummi." Fatih terlihat merajuk. Dia melirik ke arah Ghina yang ternyata hanya fokus memakan lauk pauk dan nasi di piring.


"Emang bener 'kan Dek? kamu dulu bucin sama anak Pak Rt. Sama Ghina, di sekolah nggak kaya gitu 'kan?" tanya Nafisah dengan mata mengerling jahil. Ia memutar-mutar sendok di piringnya menunggu sang adik membalas.


"Males jawab." Fatih melengos. Ia paling kesal jika sudah Nafisah yang berbicara. Kakaknya selalu mengejeknya.


Obrolan pun berlangsung hangat. Seputar tanya jawab kepada pengantin baru. Khususnya Ghina sebagai anggota tambahan. Namun, dari semua yang ada. Tidak ada yang menanyakan sama sekali perihal ayahnya. Karena Kyai Zhafran sudah mewanti-wanti menantu dan anak sulungnya, untuk tidak membahas hal itu.


"Nanti kita ketemuan di dekat polsek. Udah kamu tunggu di situ aja, nggak usah ke pesantren," ucap Fatih yang duduk di ranjang sambil menelpon seseorang.


"Bawa apapun, yang penting jangan sampe ribetin aku di sana."


Ghina hanya memperhatikan Fatih yang mematikan ponselnya setelah bebicara dengan nada kesal.


"Siapa?" tanya Ghina, ia kini sibuk menyibak tirai gorden dan menghirup udara dalam-dalam.


"Riki."


"Mau ya dia ikut juga? Kirain, taunya cuma nyanyi plus ngerokok." Ghina memang sudah sangat hafal kebiasaan Riki saat di sekolah. Yang ia pastikan menular pada suaminya juga.


"Aku nggak ngerokok lho," ucap Fatih dan berjalan mendekat ke arah istrinya.


"Emang siapa yang bilang? aku tadi ngomongin Riki, bukan kamu."


"Tapi kamu nyindir gitu nadanya. Kamu juga pernah nuduh aku ngerokok."


"Nggak mungkin kamu nggak pernah ngerokok sama sekali Fath."


"Nggak percaya?" tanya Fatih yang juga ikut menghadap ke luar jendela.


"Entah."


"Kenapa sih kamu nggak suka sama cowok perokok?" tanya Fatih.


"Untuk apa rokok? walau hukumnya beda pendapat di antara para ulama, tetap aja merokok nggak ada manfaatnya, yang ada malah penyakit. Coba aja, uang untuk beli rokok di sisihkan, lalu kalau sudah terkumpul, di sedekahkan. Jadinya pahala 'kan? lagian laki-laki nggak ngerokok, bukan berarti nggak keren. Juga laki-laki nggak ngerokok, nggak bakal mati."


Fatih manggut-manggut. "Kalau butuh gimana?"


"Butuh kenapa? stress emang? jadi lampiaskan ke rokok?"


"Ya semisal gitu."


Mereka saling terdiam beberapa saat, hingga akhirnya Fatih kembali membuka pembicaraan.


"Kamu pasti punya mimpi 'kan?" tanya Fatih sambil menatap wajah sang istri dari samping, terlihat bercahaya karena sinar matahari yang menembus langsung ke jendela kamarnya. Jika bisa dianalogikan, Ghina saat ini ibarat bunga Kaktus yang berdiri tegak dan tetap bertahan di padang pasir yang tandus.


Siapa yang mencoba menyentuhnya, pasti akan tersakiti olehnya. Namun, jika dibiarkan dengan kesepiannya, terlihat pula kerapuhannya. Ghina, seorang gadis keras kepala dan menjaga jarak dari orang di sekelilingnya. Bisa sangat peduli pada orang lain, walau dengan memaksa. Tatapannya selalu mengintimidasi, karena dirinya sendiri yang merasa tertekan dengan adanya orang lain.


Ghina menoleh, sejenak tatapan mereka bertemu. "Semua orang pasti punya mimpi, walau kecil."


"Apa mimpi kamu?"


Ghina membuang wajah. Ia menghirup udara dalam-dalam. "Kepo."


Fatih terkekeh pelan. "Ya nggak papa lah, 'kan pengen tau impian istri. Kamu nggak pernah gitu bayangin, kalau aku yang bakal disamping kamu untuk ngejar mimpi itu?" tanya Fatih serius, tangannya mengetuk-ngetuk dinding dekat jendela.


"Nggak sembarang orang aku ceritakan mimpiku."


"Eh, aku sembarang orang dong?"


"Iya. Kamu siapa emangnya?"


"Suami."


"Hahaha. Lucu emang kedengarannya."


"Kamu masih nggak bisa terima ya?"


"Aku juga nggak tau Fath. Bingung aja sama semuanya. Aku gadis biasa, punya mimpi yang pengen aku capai. Aku kira, bakal segera meraihnya apalagi setelah aku lulus sekolah, tapi nyatanya aku malah menikah. Tentu, aku bakal disibukkan dengan tugas rumah tangga daripada berupaya untuk merealisasikan mimpi."


"Menikah itu bukan halangan untuk ngejar mimpi. Aku mau kok, jadi temen kamu untuk meraihnya."


Ghina lagi-lagi menoleh, matanya teduh, tidak ada secuilpun tatapan kesal di sana. Membuat Fatih juga betah-betah menatap netra istrinya. Ia merasa dadanya berdetak kencang, menunggu balasan gadis itu atas ucapannya.


"Bisakah?" tanya Ghina dengan sorot mata ragu. "Aku sama kamu, bisakah kita sama-sama melewati semua hal yang akan kita hadapi nanti?"


"Pasti bisa. Kamu nggak percaya sama aku?"


"Percaya sama manusia itu semu Fath." Ghina mendesah pelan.


"Pinter istriku. Jangan percaya sama manusia. Karena mereka lemah. Bisa jadi hari ini berjanji, besok mengingkari. Percaya kita, hanya pada Allah. Karena dia tidak akan mengkhianati. Makanya, aku nggak akan nyuruh kamu percaya sama aku Na." Fatih menghela nafas.

__ADS_1


"Karena, aku manusia biasa. Mungkin, hari ini aku baik, tapi besok belum tentu. Tapi, aku ingin menjadi orang yang kamu amanahi untuk nemanin kamu memperjuangkan mimpi. Maukah?"


Ghina tersenyum. "Bisa juga kamu dibawa serius."


"Aku bukan lagi Fatih anak SMK yang nakal, banyak fans, suka di panggil ke BK, terus ditegur Ghina Izzati. Sekarang, aku suami. Pemimpin dalam rumah tangga Na."


"Susah ya buat kamu?"


Fatih tertegun, baru pertama kali ia mendengar nada yang begitu lembut dan terkesan peduli itu dari istrinya.


"Nggak. Kalau sama kamu."


"Kamu belajar gombal darimana sih Fath? untung aku bukan tipe cewek baperan." Mata Ghina memicing.


"Hampir semua laki-laki kali pinter umbar kata-kata manis alias gombal. Itulah kenapa aku suka sama kamu, karena kamu-" Fatih mengatupkan bibirnya sendiri. Apa tadi 'suka sama kamu' apakah dirinya tengah mengakui perasaannya sendiri.


"Iya terusin aja. Udah biasa 'kan buat kamu ngumbar kata suka sana sini, atau mungkin udah banyak cewek yang kamu bilangin 'i love you, i need you' dan semisalnya."


"Suuzon mulu sama suami."


"Emang gitu 'kan kenyataannya?"


"Kamu cemburu, kalau aku bilang itu ke cewek lain?"


"Ngapain juga."


"Ya udah, i love you Ghina."


"Ck, bohong banget."


"Mau aku buktiin?"


Ghina berjengat, saat tangan Fatih menarik lengannya dan dengan tanpa ia duga, tubuhnya sudah berdekatan dengan sang suami. Jidatnya bahkan hampir menyentuh dada Fatih. Ya, karena postur laki-laki itu lebih tinggi darinya.


"Fatih!" Ghina berusaha menjauh, namun lagi-lagi Fatih menariknya.


"Tutup mata."


"Nggak!"


"Perintah suami."


"Otoriter."


"Ya udah, gini aja kalau gitu." Fatih mendekatkan wajahnya ke arah Ghina.


"Aaaak!" Ghina berteriak kencang sambil mendorong tubuh Fatih dengan segenap kekuatannya.


"Shuuut!" Fatih segera membekap mulut istrinya. Khawatirnya, semua orang yang dirumah mendengar. "Na, jangan kenceng-kenceng. Nanti dikirain kita lagi ngapa-ngapain."


"Biarin, habisnya kamu mau kurang ngajar. Aku nggak bakal biarin," sungut Ghina yang mulutnya sudah bebas dari telapak tangan Fatih.


"Assalamualaikum pengantin baru, ada apa?" Nafisah berteriak dari luar sambil menggedor pintu, membuat Fatih mendengus.


"Tuh 'kan? ulahmu Na, si rese itu jadi ke sini."


Mendengar ocehan suaminya, Ghina hanya mengangkat bahu. Tangannya bergerak mengambil buku di atas meja belajar Fatih, lalu mendudukkan diri dan membacanya.


"Lagi ngapain sih kalian? tadi Mbak denger teriakan dari dalam?" tanya Nafisah dengan raut wajah sok polos.


"Lagi mau bikin anak," balas Fatih asal. "Sana, jangan ganggu."


Mata Nafisah membola, kepalanya menggeleng. "Innalillah, mentang-mentang penganten baru. Ini siang bolong, malam aja kenapa." Wanita beranak satu itu mendadak keki menatap sang adik yang menampakan wajah menyebalkan.


"Iya, Mbak ganggu aja sih."


Fatih mendorong pintu agar tertutup, namun di tahan Nafisah. "Bukannya bentar lagi kamu berangkat?"


"Iya aku tau. Nggak ada salahnya 'kan sebelum berangkat? Hush, sana Mbak," usir Fatih sambil mendorong tubuh Kakaknya.


Nafisah menggerutu kecil dengan mulut mungilnya, namun sekian detik ia tersenyum sendiri. "Ih, gemes."


"Apa kata Mbak Nafisah?" tanya Ghina masih fokus membaca. Ia bahkan mengambil kacamata milik Fatih yang tergeletak di sana dan memakainya.


"Biasa, dia emang gitu. Suka ngunjungin kamar aku kalau lagi rindu."


Ghina hanya berdecak mendengar penuturan suaminya, hingga mereka saling terdiam dan sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ghina yang membaca dan Fatih yang duduk di sofa dengan ponselnya.


Para wanita itu mengantar kepergian beberapa pria dari keluarga Kyai Zhafran. Beberapa santri yang lewat dan menyaksikan, mengangguk takzim sambil tersenyum, sebagai bentuk penghormatan.


Ghina menyalami tangan suaminya dengan senyuman manis. "Fii amanillah Mas."


Mendengar hal itu, rasanya Fatih ingin tertawa. Ia tahu Ghina sedang bersandiwara. "Na'am ya jauzati. Kamu juga, jaga diri dan fii amanillah untuk perjalananmu."


Ummi Zainab yang menyaksikan tersenyum haru, sedangkan Nafisah tertawa pelan sambil menatap keduanya dengan jahil.

__ADS_1


Yuhuu akhirnya otor balik lagi😁 baru sempet lanjutin nih cerita, coz lagi dilema pen ikutan lomba cerita CEO hihi, mohon doanya ya semua. Lagi mempersiapkanšŸ™ƒ


__ADS_2