Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Gaun


__ADS_3

Setelah acara demi acara usai, tibalah masing-masing kelas bebas untuk melakukan apapun untuk menghabiskan waktu bersama-sama.


Bu Ratna, sebagai wali kelas XII TKJ IV segera memanggil Syafiq agar semua teman-teman sekelas berkumpul.


"Riki, kamu bawa cameranya 'kan?" tanya Bu Ratna


"Iya dong Bu, bentar saya ambil dulu di mobil," ucapnya dengan gaya pongah. Hari ini, Riki memang membawa mobil karena berangkat bersama sang Ayah.


Tak lama, Riki kembali dengan membawa camera dan juga Tripod. Mereka menunggu satu antrian lagi untuk berfoto tepat di depan spanduk besar yang bertuliskan 'Perpisahan dan Pengukuhan Kelas XII'.


Ternyata yang masih berfoto ria di depan spanduk itu adalah kelasnya Ilham. Sehinggalah Ghina berpapasan dengan laki-laki itu.


"Mau foto bareng kah?" tawar Ilham begitu mendekat ke arah Ghina. Ia melirik Renata juga.


"Nggak ah, cukup foto bareng KSI aja nanti pas perpisahan," tolak Ghina dengan senyuman.


"Nggak berdua lah, sama Renata, ya 'kan Ren?" tanya Ilham.


Renata tampak berfikir, walau akhirnya mengangguk. "Okelah kesempatan langka foto sama ketua hihi, siapa yang motoin?" tanyanya.


"Bentar, aku minta tolong temenku dulu." Ilham memanggil salah satu teman laki-lakinya untuk memotret.


Ghina padahal merasa tak nyaman berfoto seperti ini dengan non mahram, tapi ia merasa inilah kenang-kenangan terakhir di sekolah bersama laki-laki itu. Ya, walau nanti mereka akan satu kampus, tetap saja setidaknya ada mengabadikan momen di saat acara perpisahan.


Posisi Ilham di tengah-tengah. Di apit di sebelah kiri oleh Ghina dan sebelah kanan oleh Renata.


"Asli, kayak punya dua istri weh," komentar teman Ilham. Ghina mengambil jarak yang cukup jauh dari Ilham, begitu pula Renata.


Fatih yang juga berada di sekitar sana, hanya menatap datar Ghina yang tengah tersenyum ke arah camera.


"Jelas banget kalau kamu suka sama dia Na," lirihnya.


"Hei, mau ikut dong, foto sama ketua." Suara Meysa yang merdu itu terdengar. Lesung pipinya terlihat ke dalam, ia tersenyum lebar.


"Yuk Mey," ajak Renata yang langsung menarik tangan Meysa ke posisi dekat Ilham.


"Hihi, kesempatan emas foto sama ketua," kata Meysa yang dibalas gelengan kepala oleh Ilham.


"Hei bro, bisa juga ya ternyata foto sama cewek. Kirain anti." Ghina menatap jengah ke arah Fatih yang tiba-tiba nimbrung di sana. Ia menjauh dari Ilham beberapa langkah.


"Yang penting nggak foto berdua doang," balas Ilham datar. Ia menepis tangan Fatih yang berada di bahunya.


"Yuk kita foto berdua, untuk kenang-kenangan," ajak Fatih yang membuat cewek-cewek di sekitar Ilham minggir.


Ilham hanya menatap malas ke arah Fatih, menganggu saja, batinnya.


"Aku kira kamu bakal sibuk foto sama fansmu," sindir Ilham membuat Fatih terkekeh.


"Udah, tadi pagi."


"Ayo anak-anak, giliran kita foto," interupsi Bu Ratna yang melihat kelas lain sudah usai berfoto.


Ghina dan Renata undur diri dari sana, juga diikuti Fatih.


"Siap-siap, pose formal dulu. Biar keliatan wibawanya," titah Riki dengan tangannya yang memegang camera. "Eh, Zal, bisa nggak jangan angkat dua jari? nanti aja gaya kayak gitunya."


Riki menunjuk-nujuk Rizal yang berpose 'peace' dua jari. Si empunya hanya mendesah.


"Oke, semuanya keren." Riki mengatur timer di cameranya, lalu dengan berlari-lari ia segera bergabung dengan yang lain.


"Aduh, kalau lari-lari terus, ekspresiku jadi kayak orang bego, minta tolong fotographer aja ya Bu?" tanyanya dengan keluhan.


"Oke aja Riki, susah juga ternyata. Kasian kamu bolak-balik atur timer gitu, sana panggil Om fotografernya," ucap bu Ratna.


Akhirnya, mereka bisa bergaya dengan lega, karena Om fotoghrafer yang handal terus mengambil gambar dengan gaya ala-ala memotret model.


"Ganti gaya!" interupsi Om Fotoghrafer.


Jepret!


"Good!" komentarnya.


Setelah berfoto ria, semua murid menyalami Bu Ratna sambil meminta maaf jika ada kesalahan yang dilakukan selama mereka menjadi murid dari wanita bertubuh tambun itu.


"Iya, Ibu juga minta maaf ya kalau selama ini ada salah sama kalian," kata Bu Ratna sambil memeluk dan mencium pipi siswi-siswinya.


"Bu, peluk juga," rengek Riki yang mendapat pelototan dari Bu Ratna, tapi seketika tawa mereka yang di sana pecah.


"Kamu udah besar Riki, nggak malu ya peluk-peluk Ibu?" goda Bu Ratna.


Riki menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Habisnya jomblo, nggak ada yang meluk."


Semua teman-teman sekelasnya lagi-lagi tertawa.


"Tuh, pelukan aja sama pohon Mangga!" celetuk Renata sambil menunjuk ke arah pohon Mangga yang posisinya dekat dengan spanduk.


Riki hanya mencibir, "ya elah, kamu aja jomblo huh."


"Udah lah sama-sama jomblo, jodohin aja." Suara Rizal terdengar mengejek, ia sebenarnya dongkol karena Riki dari kemarin terus menyalahkannya ketika ingin berfoto.


"Huhuhu, setuju!" koor yang lain.


Beberapa hari setelah perpisahan, Renata berkunjung ke rumah Ghina dengan membawa sekresek buah Mangga madu kesukaan gadis keras kepala itu.


Ghina membuka pintu dengan wajah berbinar, "waalaikumussalam, masuk," ajaknya.


Renata tersenyum ceria, lantas mengikuti langkah Ghina ke dalam. Ia melihat Ibunya Ghina yang masih bergelut dengan mesin jahitnya.


"Loh, Renata? udah lama kamu nggak main." Narsih menghentikan aktifitasnya untuk melihat Renata. Gadis dengan senyuman manis namun seringnya meringis itu menyalami Narsih.


"Iya Bu, padahal pengen main juga, cuma makin sibuk pas udah kelas dua belas ini."


"Iya Ibu tau. Gimana kabar Ibu dan Ayah kamu?"


"Alhamdulillah sehat Bu."


"Ayahmu gimana?" tanya Narsih yang memang sudah mengetahui perihal kondisi Ayah Renata yang tidak bisa berjalan.


"Masih sama Bu, tapi alhamdulillah yang penting badannya sehat-sehat aja, saya udah seneng."


"Masyaa Allah, iya Renata. Yang sabar ya, insyaa Allah Ayahmu bisa sembuh."


"Aamin Bu."


"Ayo Ren, ke kamarku aja. Bu, aku mau main di kamar aja ya sama Rena."


"Iya sana."

__ADS_1


"Wah mana Lilymu, aku rindu." Renata langsung berlari ke arah jendela begitu dipersilakan masuk ke kamar. Ghina hanya mencebik melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Nih mau nggak?" Ghina menjulurkan satu box cokelat batangan kepada Renata.


"Wah, cokelat? huhu, mau dongs," girangnya dan mendudukkan diri di kursi belajar Ghina.


"Lilymu makin cantik aja. Emang kamu sempet ya, sibuk ujian sambil urusin itu?"


"Itu kesayanganku Ren, nggak mungkin aku abaikan begitu aja."


"Iya deh calon bos bunga hihi. Btw, beneran kamu mau bisnis bunga pas kuliah?"


Ghina mengangguk, ia duduk di atas ranjang sambil menghadap ke arah Renata.


"Melihara bunga itu hobiku, jadi apa susahnya sambil bisnis sekalian?"


"Ya bisa aja sih. Cuma, apa Fatih setuju?"


"Kenapa Fatih?"


"Ya 'kan dia suamimu. Masa kamu nggak izin mau jalanin bisnis gitu."


"Nggak harus izin kali. Bisnis 'kan untuk pribadi aku, biar nggak suntuk aja kalau bosen kuliah."


"Tapi Fatih tau kalau kamu mau bisnis ini?"


"Nanti juga tau."


"Bilang aja sekarang, siapa tau dia nanti mau modalin kamu Na."


"Ogah, aku nyari modal sendiri."


"Ih, udah punya suami juga. Boleh lah minta nafkah hihi."


"Nggak lah ya, aku bisa sendiri."


Percakapan mereka terhenti begitu ponsel Ghina yang berada di atas meja belajar berbunyi nyaring.


Renata langsung menyambar benda persegi itu, alisnya mengernyit begitu melihat nama di layar.


"Kelinci nyebelin ni siapa Na?" tanyanya kepo.


Ghina langsung meloncat, ia segera mengambil smartphonenya dari tangan Renata.


"Ih ngapain sih dia nelepon?" kesal Ghina.


"Siapa Na?" tanya Renata.


Ghina memutar bola matanya. "Dia."


"Wa'alaikumussalam, kenapa?" tanya Ghina ketus.


"Besok, keluargaku mau berkunjung."


"Apa? untuk?"


"Ya ngomongin resepsi lah, kita 'kan udah lulus."


"Secepat itu?"


"Fatih!" bentak Ghina membuat Renata yang menyimak pembicaraan Ghina terkaget-kaget.


"Hehe, canda lah. Ya pokoknya kasih tau Ibu aja."


"Besok sekalian fitting baju pengantin lagi ke butik Mbak Nafisah, pilih design berbeda dari yang kemarin."


"Ih males banget."


"Harus pokoknya."


"Iya terserah aja, udahlah aku tutup, wassalam!"


Ghina membanting tubuhnya di kasur, Renata ikut menyusul.


"Kenapa sih tadi?"


"Bentar lagi aku resepsi Ren, aku nggak bisa bayangin, gimana kagetnya nanti temen-temen kalau aku nyebar undangan," ungkap Ghina sambil menelungkupkan wajahnya.


"Ya nggak papa lah. Mungkin, cuma nggak nyangka aja kalian ternyata mau nikah. Secara, hubungan kalian 'kan ya seperti itulah."


"Ren, aku harus gimana?" Ghina menampilkan wajah sayunya kepada Renata, di sudut matanya sudah ada kaca-kaca yang hendak jatuh.


"Kamu, kepikiran Ilham?" tebak Renata.


Ghina menggeleng, walau hatinya mengiyakan perkataan Renata.


"Aku nggak bisa bayangin gimana ekspresi dia nantinya. Terus, kalau dia datang ke acara nikahanku, aku harus bersikap kayak gimana?"


"Ya menurutku, nggak gimana-gimana. Santai aja," balas Renata enteng.


"Reeeennn, bukan itu," isak Ghina.


"Lah terus, ya gimana lagi, kalian nggak berjodoh," ucap Renata frustasi.


"Susah rasanya nerima kalau ini fakta dan bener-bener kenyataan Ren, aku nikah sama Fatih, ya Allah." Ghina mengusap wajahnya dengan pelan. Pikirannya kembali kacau jika mengingat dirinya kini sudah terikat dengan ikatan suci pernikahan.


"Iya, sabar Na, kali aja ini ujian dari Allah. Insyaa Allah kamu mampu." Renata berkata dengan bijak, sambil menepuk-nepuk pelan bahu Ghina.


"Tapi Ren, dia yang kuharapkan bukan Fatih!"


Renata menggeleng pelan, memang sulit menaklukan orang keras kepala seperti Ghina. Jika keras kepala untuk hal lain tidak apa, tapi ini masalah hatinya. Perasaan gadis itu pada Ilham, mengapa seperti susah sekali melupakan?


"Hidup itu, nggak pasti sesuai harapan. Kamu pasti bisa lupakan Ilham Na. Fatih, orang yang baik, dia bisa jadi imam kamu."


"Kamu nggak paham dia Ren. Kalau kamu di posisiku, pasti nyesel nikah sama dia."


"Ya mana kutahu, 'kan nyatanya aku nggak di posisi kamu Na. Nggak papa, jalanin aja dulu. Untuk masa depan 'kan kita ngga tau."


"Ini salah aku Ren, harusnya aku bisa nahan untuk nggak jatuh cinta sama dia."


"Ya elah, kamu 'kan pernah bilang bahwa jatuh cinta adalah fitrah. Jadi, kita nggak bisa juga nyalahin diri sendiri, namanya udah kadung jatuh, ya gimana lagi." Renata menghela nafas. "Atau, gini aja, kamu bilang duluan sama Ilham, biar nggak kaget, tiba-tiba dapat undangan."


Ghina menepuk pelan bahu Renata, "Ih nggak mungkin lah. Dia pasti kaget."


"Ya makanya sama-sama kaget, bedanya 'kan Ilham jadi bisa siap-siap menata hatinya lagi hihi."


"Ren, aku kok jadi dilema," lirih Ghina, ia menatap mata sahabatnya sendu. Seakan, pilihan hidupnya kini membuatnya bingung.

__ADS_1


Renata memeluk Ghina. "Na, kamu itu cewek yang insyaa Allah ngerti agama, kamu pasti tau bagaimana peran istri. Aku yakin, kamu bisa ngejalaninnya." Renata terdiam sejenak, "ini emang sulit. Tapi, kamu harus sadar mulai hari ini, kalau suamimu Fatih, bukan Ilham atau siapapun Na. Fatih Na, ingat, Fatih."


Setelah malam hari ia sulit tidur, pagi harinya sudah harus bersiap-siap menyambut tamu. Suami dan keluarganya.


Ghina melihat wajah sang Ibu begitu sumringah sambil menata cemilan di ruang tamu. Jika mengingat kembali mengapa dirinya bersedia saja menikah dengan Fatih, tentu salah satu alasan adalah Ibunya. Ya, hanya demi agar sang Ibu bahagia. Tapi, terkadang Ghina ingin menangis, mengapa cara membahagiakan Ibu harus dengan menyakiti hati sendiri?


"Ibu seneng banget kayaknya mau ke datangan keluarga Kyai," komentar Ghina yang sudah ikut duduk di sofa.


"Pasti sayang, suatu kehormatan rumah kita bisa di kunjungi Kyai lagi," ucap sang Ibu.


Ghina hanya tersenyum hambar, sangat jahat jika ia melunturkan rona bahagia dari sang Ibu. Mungkin, jika perbuatannya menyetujui keinginan hati, maka hari ini, ingin rasanya Ghina mengungkapkan ketidaksetujuannya menikah dengan Fatih. Ya, walau terlambat. Tapi, setidaknya ada usaha.


Ghina teringat kembali percakapan terakhir dengan Renata kemarin.


"Ren, aku punya rencana. Besok, pas lagi ngobrol, aku bakal langsung to the point, kalau mau cerai sama Fatih."


"Jangan Na, ya Allah, itu bukan kamu banget. Kekanak-kanakkan," tolak Renata keras. Matanya bahkan sampai melotot.


"Terus, aku harus pakai cara apalagi?"


"Aku juga nggak tau, susah. Adanya ya cara jahat, kaya yang tadi kamu sebutin. Atau, misalnya kamu ungkap keburukan Fatih, ketidakbecusan dia menjadi Imam, siapa tau keluarganya setuju kalian cerai. Tapi eh, jahat ya?" Renata meringis sendiri.


"Renataaaa! aku buntu, biasanya nggak gini."


"Ya udahlah Na, terima aja dulu ya. Sabar, jalanin aku akan dukung kamu selalu."


Dua keluarga itu masih serius membicarakan perihal tanggal resepi, bagaimana formatnya hingga seperti apa baju pengantin yang diinginkan oleh kedua mempelai.


"Aku terserah aja Mbak," balas Fatih saat ditanya ingin konsep pernikahan seperti apa.


"Saya suka konsep yang sederhana saja, seperti pernikahan outdor yang saat ini trend tapi tetap nggak berlebihan." Ghina memberi pendapat, yang diangguki Nafisah dengan sumringah.


"Iya betul banget Na, konsep respsi nikah zaman sekarang itu hemat tapi tetep elegan, oke Mbak setuju ide kamu."


"Abi, untuk undangan, nanti semua Kyai kenalan Abi, di undang?"


"Iya Nduk, pasti. Nanti, Abi beri daftar nama-namanya."


"Oke Bi."


Memang, untuk persiapan resepsi, Nafisahlah yang paling sibuk. Bahkan dirinya sendiri yang meminta agar design undangan pun, ia yang memesankan nantinya.


"Yuk kita go," ajak Nafisah sesuai rencana mereka. Ya, fitting baju penganten lagi untuk ke dua kali bersama kedua pasangan yang sudah halal.


"Btw, kalian udah hampir empat bulan nikah. Udah ada deg-deg ser belum?" tanya Nafisah saat mereka sudah berada di dalam mobil milik Maheer, suami Nafisah.


Uhuk Uhuk!


Fatih terbatuk, ia berdecak malas. Pertanyaan Kakaknya benar-benar tidak bermutu sama sekali.


Ghina yang berada di samping Nafisah juga hanya cuek, bingung harus menjawab apa.


"Eh, malah diem-diem bae, udah ada rasa belom?"


"Kamu kok nanya nggak mutu banget Mbak, yang kayak gitu di tanyain, 'kan urusan hati. Siapa yang tau," balas Fatih jengkel.


"Loh, ditanya malah ngegas," cibir Nafisah. "Na, Fatih gimana menurutmu, setelah kamu jadi istrinya?" kini perempuan itu beralih menatap Ghina.


"Ya gitu Mbak."


"Gitu gimana sayang? Mbak nggak paham."


Ghina terkekeh, karena sifat Nafisah kini lebih mirip seperti anak kecil meminta penjelasan dengan wajah polosnya.


"Sama aja seperti sebelumnya."


"Hah? nyebelinnya masih sama?"


"Iya Mbak," balas Ghina sambil menatap Fatih dari kaca spion tengah.


"Hahaha lucu kalian ini." Nafisah menutup mulutnya agar tawanya tidak kemana-mana. "Buang tuh kelakuan nyebelin kamu, gimana istri mau tahan kalau gitu?" ejek Nafisah kepada adiknya.


Fatih mendengus pelan, "sama-sama nyebelin juga," balasnya.


Ghina hendak membalas, tapi ia urungkan karena tidak nyaman harus berdebat dengan Fatih di depan Kakak Ipar.


Setelah sampai di Butik milik Nafisah, perempuan itu meninggalkan dua sejoli di dekat beberapa menekin pakaian pengantin.


"Kalian liat-liat dulu aja, pilih yang paling cocok, Mbak mau ke atas dulu," kata Nafisah sambil berlalu.


"Kali ini, aku pilihin kostum buat kamu," ucap Fatih sambil berjalan ke arah gaun yang berada di etalase kaca.


"Suka-suka aku lah, aku mau pilih sendiri," ucap Ghina sewot.


Fatih membalik badan, "ini perintah suami."


"Otoriter banget sih kamu, nggak mau pokoknya!" Ghina masih kukuh, ia berjalan ke arah lain yang berlawanan.


Fatih dengan cepat menarik tangannya. "Coba liat ini dulu," katanya.


Ghina menepis kasar tangan Fatih, "jangan pegang-pegang!"


"Jadi, cadaran?" tanya Ghina begitu melihat gaun pengantin yang di padukan dengan khimar sekaligus cadar.


Fatih mengangguk, "aku nggak mau kecantikan istriku nanti diliat orang banyak."


Ghina menatap Fatih, memastikan telinganya tidak salah mendengar. Apa benar, Fatih yang mengucapkan kalimat tadi? seserius itu?


"Hei, malah bengong," cetus Fatih saat istrinya malah terdiam. "Kalau nggak mau, aku nggak bakal maksa. Cuma nyaranin aja. Walau konsep acaranya pisah antara laki dan perempuan, tetep aja, pasti ada temen-temen sekelas kita yang mau liat kamu."


Ghina terlihat berfikir, benar juga apa kata Fatih, ia memang tidak suka jika wajahnya nanti dilihat banyak orang. Jika tidak sedang berdandan ia tak mengapa, tapi ketika kondisinya sedang di balut make up, ia juga malu. Khawatir tabarruj.


"Iya," balas Ghina singkat.


"Bisa taat juga istriku," ucap Fatih gemas, tangannya mengusap kerudung Ghina.


"Ih tanganmu Fath!" sentaknya kesal.


Tangan Fatih berpindah ke wajah Ghina, "ya udah kalau nggak mau di kepala, belai di sini aja," katanya yang membuat Ghina melotot dan menepis tangan itu.


Ekhem!


Suara itu mampu membuat keduanya menoleh, serta merta wajah Ghina memerah melihat ekspresi Kakak Iparnya.


"Ciye, romantis-romantisannya di rumah aja, kalau di sini takutnya ada jomblo yang ngeliat hihi."


Yuhu... bentar lagi Ghina dan Fatih resepsi🤗

__ADS_1


__ADS_2