
Fatih merutuki dirinya sendiri yang seperti tidak berdaya karena permasalahan yang tengah di hadapinya. Cermin kecil di kamar istrinya, memantulkan wajah yang kini dihiasi kantung mata. Penyebabnya tidak lain, karena ia begitu merindukan istrinya. Tidak apa, usahanya yang bangkrut, yang penting ia dan Ghina kembali bersama.
Setelah melaksanakan tahajud, ia tetap sulit terlelap.
"Ya Allah, kenapa rindu semenyakitkan ini?" lirihnya mengelus dada. Walau ia pernah jatuh cinta sebelumnya kepada perempuan, tapi tidak seperti saat ia cinta kepada istrinya. Rasanya sakit sekali ditinggal pergi seperti ini.
"Ayo Fath, kamu harus cari bukti, kalau foto itu nggak bener," Fatih berusaha menyemangati diri sendiri.
Pria itu langsung bergegas untuk membasahi tubuhnya, agar lebih fresh. Ia berencana untuk mengunjungi Sella, meminta wanita itu untuk mengklarifikasi langsung kepada Ghina. Karena terlalu fokus memikirkan perasaannya sendiri, Fatih hampir lupa jika Sella lah kuncinya. Hanya jika wanita itu bicara sesuai fakta, maka tidak akan ada lagi kesalahpahaman.
Fatih berjalan ke belakang untuk melihat green house plastik untuk istrinya. Setelah melihat pertumbuhan benih yang cukup signifikan, ia tersenyum.
"Sebentar lagi, kalian akan aku pindahkan ke pot, semoga saat itu Ghina udah ada," ucap Fatih.
Perjalanan menuju kos Sella hanya membutuhkan waktu lima belas menit. Fatih tidak sendirian, ia membawa Riki bersamanya. Teman yang sejak dulu, selalu menemaninya kemana pun.
"Aku nggak nyangka hubungan kalian bisa begini," ucap Riki yang kini posisinya menyetir kendaraan.
"Kamu tau sendiri gimana aku dan Ghina bisa nikah," balas Fatih.
"Keterlaluan si Sella, aku sih maunya suuzon terus sama dia. Kok bisa-bisanya, ada foto kamu sama dia lagi di atas kasur? nggak mungkin tanpa perencanaan," jelas Riki sambil memukul stang kendaraan.
"Tapi, dari fotonya yang aku lihat, angel fotonya dari Wc Rik," ucap Fatih.
"Nah itu tuh, bukti. Kalau ada orang lain waktu itu di kosan Sella. Terlalu elit lah kalau ada cctv mah, mahal."
Sesampainya mereka di kediaman Sella, terlihat wanita itu sedang menjemur pakaiannya di luar.
"Wah Riki juga ikut," sambut Sella dengan senyuman.
"Apa kabarnya Fath?" tanya Sella basa-basi.
"Iya baik," balas Fatih. Walau wajahnya yang pucat dan lebam di sudut bibir tidak mampu membohongi keadaannya.
"Haduh, aku nggak ditanya apa?" tanya Riki pura-pura kesal.
"Hehe, iya iya, gimana kabarmu?" tanya Sella.
"Sedang menunggu jodoh," balas Riki sambil celikikan.
"Ya udah kalian masuk aja dulu, aku selesaikan ini dulu," ucap Sella.
"Oke Sell," balas Riki.
Mereka bertiga kini sudah duduk di kursi. Sella sudah menyuguhkan dua gelas teh hangat dan satu toples cemilan.
"Kalain kayak formal banget sih, ada apa? tumben rame-rame berkunjung?" tanya Sella.
"Kamu tau foto itu?" tanya Fatih.
"Foto apa?" tanya Sella balik, pura-pura tidak tahu.
"Foto pas aku sama kamu jatuh di kasur. Bisa kamu jelaskan sama aku Sel?" tanya Fatih, yang sedari tadi menahan kesabarannya. Ia tiba-tiba kesal karena Sella seolah tidak tahu apa-apa.
__ADS_1
"Aku nggak ngerti Fath, foto kita yang jatuh dikasur?" ulangnya membuat Riki dengan jelas berdecak. Pria itu mengangkat kaki kanannya dan menumpukan ke atas lutut kiri. Badannya ia senderkan ke kursi.
"Nggak usah drama Sel," ucap Riki malas. "Kamu kira kami nggak tau, foto itu bisa tersebar, gara-gara siapa. Ya bercermin sama kejadian masa lalu, kamu dulu juga jadi salah satu pelaku penyebaran foto aib Ghina dan Fatih."
Mendengar perkataan Riki yang terdengar menyudutkan sekaligus meremehkannya, Sella naik pitam. Wajahnya memerah.
"Apa sih maksudmu Rik? nggak usah bahas masa lalu, lagian aku udah minta maaf juga!" sewot Sella.
Fatih hanya menghela nafas, ia menatap ke arah Sella dengan serius. "Kamu tau, rumah tanggaku sama Ghina ada masalah, gara-gara foto kita itu?" tanya Fatih.
"Kamu nuduh aku yang nyebar?" tanya Sella langsung.
"Bukan aku nuduh, tapi foto itu aneh. Di sini, nggak ada cctv, bagaimana bisa kita yang terjatuh di kasur ada fotonya? pasti ada yang memotonya 'kan?" tanya Fatih.
"Aku nggak tau."
Riki menegakkan badan, mencondongkan kepalanya ke arah Sella. "Jangan kekanak-kanakkan Sel, kita udah dewasa sekarang. Aku tau kamu suka sama Fatih, tapi nggak pakai cara gini. Kamu nggak tau apa, gara-gara foto itu Fatih harus menderita? kamu nggak liat dia semakin kurus?" tanya Riki dengan nada yang tegas.
"Kamu itu ya, bisanya nuduh aku. Aku bilang nggak tau!" Sella berdiri dengan tangan mengepal.
"Kalau mau nuduh aku doang, mending kalian pulang," sentak Sella
"Aku mau minta kamu klarifikasi ke Ghina Sel, kalau kita nggak ada hubungan apa-apa, itu aja," sahut Fatih yang juga ikut berdiri. Sella menatap ke arah Fatih.
"Nggak, karena aku nggak salah, untuk apa klarifikasi?" Sella menaik turunkan alis, tersenyum miring.
"Iya aku tau kamu nggak salah. Kita cuma nggak sengaja jatuh, tapi ada yang mengabadikan momen itu, dan aku nggak tau siapa. Jadi, walau pun pelakunya nggak ketemu, setidaknya kamu klarifikasi ke Ghina biar dia percaya kalau kita nggak ada hubungan apa-apa Sel," jelas Fatih dengan tatapan memohon.
"Kalian itu kesannya nuduh aku tau! seolah aku yang salah, terus harus klarifikasi segala. Rumah tangga Fatih dan Ghina yang rusak, kenapa nyalahkan aku?!" sentak Sella dengan mata yang sudah berair.
"Keterlaluan," lirihnya.
"Eh Sel, jangan nangis," ucap Riku yang tiba-tiba kalang kabut. "Kami nggak nyalahin kamu, cuma minta kamu klarifikasi."
"Kalian dari awal udah gitu. Sikap kalian itu loh, jelas-jelas nyalahin aku. Udahlah, kalau nggak ada perlu lagi, mending kalian pergi."
"Sel, kamu jangan egois begini. Fatih dan Ghina temen kamu, kita harus bantu mereka untuk damai lagi," jelas Riki sambil berusaha menatap mata Sella yang sudah berurai air mata.
"Aku nggak mau!"
"Cintamu itu buta Sell, ayo Fath, biarin dia nangis aja sana, dimintai tolong nggak mau," ucap Riki akhirnya. Ia sangat kesal dengan Sella yang menurutnya hanya menangis ala buaya. Bohong belaka, untuk menarik simpati orang lain.
"Kenapa kamu Sel?" suara seseorang membuat Riki dan Fatih menoleh. Ternyata ada Ilham di depan pintu dengan membawa kresek hitam.
"Nggak tau mereka nuduh aku perusak hubungan orang lain."
"Kamu ngapain Fath disini?" tanya Ilham datar.
"Aku minta dia klarifikasi ke Ghina tentang foto itu. Kami nggak ada hubungan apa-apa."
"Benar itu Sel?" tanya Ilham.
"Fatih nggak mau ngakuin. Padahal itu salah dia juga."
__ADS_1
"Sella!" bentak Fatih yang sedari tadi mencoba untuk sabar. Iya, sabar terhadap sikap wanita model Sella begini. "Kamu jangan sembarangan bicara, kita cuma temen. Nggak ada hubungan apa-apa."
"Nggak usah nyangkal, foto yang ada udah membuktikan. Apa lagi yang mau kamu klarifikasi? Ghina udah nggak bakal percaya lagi."
"Ham, kenapa kamu ngomong gitu?" tanya Riki yang sempat terkejut karena kedatangan Ilham yang tiba-tiba itu. Dia menatap pria di depannya dengan serius. Mengapa kesannya Ilham mempercayai perkataan Sella begitu saja.
"Kamu nggak tau? bukannya temenmu dari dulu emang banyak ceweknya?" tanya Ilham dengan alis naik sebelah.
"Eh Ham, walau Fatih itu banyak fansnya. Dia itu nggak pernah pacaran, jaga diri. Ngerti kamu?"
"Kamu 'kan pengikutnya, ya pasti belain lah kesalahan idolmu itu. Fatih itu udah nyakitin Ghina, temenmu juga loh, masih aja kamu bela," ujar Riki. Ia menggeleng miris melihat orang-orang bucin tidak pakai otak model Sella ini.
"Heh Ham, denger ya." Riki tiba-tiba meraih kerah baju Ilham. Fatih berusaha menghentikan, ia menarik bahu Riki.
"Rik, nggak usah di perpanjang, mending kita pulang," ucap Fatih sembari menatap datar ke arah Ilham.
"Tapi, dia itu nggak bisa liat apa? jelas-jelas fotonya itu nggak bener. Kamu dan si Sella ini nggak ada hubungan apa-apa," jelas Riki yang menatap Fatih dan Ilham bergangian.
"Kamu Sel," tunjuk Riki. "Semoga kena tulah karena udah boong, bisa-bisanya ngaku ada hubungan sama Fatih."
Fatih segera menarik Riki untuk keluar dari kosan Sella. Mulutnya mencak-mencak dan mengutuk kelakukan perempuan itu.
"Kamu kenapa sih Fath, nggak bisa tegas gitu? orang tonjok aja mukanya si Sella itu," kesal Riki sambil menginjak-injak rumput di kakinya.
"Aku nggak mau kasar sama cewek. Lain kali, aku bakal bujuk dia lagi."
"Tapi, dia jelas-jelas udah ngaku-ngaku ada hubungan sama kamu, di depan Ilham lagi. Gimana coba kalau dia adukan kejadian hari ini ke Ghina?" tanya Riki sembari menaiki motor, memutar kunci lalu menyalakan starter.
"Entahlah, aku pusing mikirinnya. Kalau Ghina cinta sama aku, pasti dia bakal percaya kalau aku nggak hianatin dia. Tapi, kalau dia emang nggak cinta, gimana juga dia bisa percaya," ucap Fatih pasrah.
"Sabar ya Fath," lirih Riki. Ia membiarkan kepala Fatih bersender di bahu belakangnya. Temannya sedari SMK itu pasti lelah, menanggung masalah sebesar ini. Memang ya, di usia-usia begini, jika tidak siap menikah, jangan sampai mendesak ingin menikah, alhasil ya begini jika ada masalah. Pusing sendiri.
"Makanya aku nggak siap nikah Fath," ucap Riki kembali membuka pembicaraan.
"Aku nggak percaya juga kamu bisa nikah," balas Fatih setengah mengejek.
"Kawinnya bisa, tapi ya untuk menghadapi kehidupan rumah tangga yang katanya rumit itu, aku belum siap. Apalagi cowok 'kan jadi pemimpin ya?" tanya Riki dengan suara yang dikeraskan, karena angin jalanan begitu kencang.
"Ya iyalah, aku juga kalau nggak terpaksa nggak bakal nikah."
"Lah, mendingan cerai kalau gitu 'kan?"
"Bego! aku cinta sama Ghina," kesal Fatih.
"Oh iya ya cinta. Emang kalian udah pernah kawin apa?" tanya Riki cengengesan.
"Kawin matamu!" Fatih kembali memukul bahu temannya yang kocak plus mesum itu.
"Ya 'kan suami istri pasti bakal itu-ituan enak banget ya, sampe kamu nggak mua cerai?"
"Bego, liat jalan! aku nggak mau mati konyol," ucap Fatih sembari membantu Riki membelokkan kendaraan, karena si empunya malah fokus tertawa-tawa hinggga lupa waktunya belok.
Yuhuu, otor balik lagi dengan YMM. Makasih ya yg udah support cerita ini dngn like komen, bikin aku nggak tega buat nggak lanjut ini cerita. Jadinya makin semangat gtu dapat suprot dari kalian😘
__ADS_1