
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, sesuai rencana Ghina dan Renata ingin mengecek cctv di ruangan Pak Samson.
Saat mereka ke pos satpam, masih ada Pak Samson yang tengah mendengarkan earphone dengan mulutnya yang sesekali menirukan lagu yang di dengarnya.
"Pak Samson!" panggil Renata. Namun Pak Samson yang memejamkan mata dan tentunya kupingnya kurang berfungsi karena earphone sepertinya tidak mendengar suara Renata.
"Pak Samson!" teriak Renata yang kini sudah menggedor-gedor kaca.
"Eh! ada apa sih?" Pak Samson tersadar, ia mengucek mata. Lalu melirik jam ditangannya. "Ngapain kalian?" tanyanya sambil mencondongkan kepalanya untuk melihat dua orang siswi dari balik kaca.
"Kami ada perlu sama Bapak," ucap Renata. Ia berjalan ke arah pintu, "buka Pak!" katanya memerintah.
"Yang sopan Ren." Ghina mengingatkan, "bar-barmu emang nggak bisa hilang ya," tambahnya.
Renata meringis, "biar cepet urusannya, aku penasaran siapa sih dalang dibalik ini semua," geramnya dengan meninju-ninjukan kepalan tangannya membuat Pak Samson yang baru saja keluar dari Posnya terheran-heran.
"Urusan apa? kok jam segini kalian belum pulang?" tanya Pak Samson heran, pasalnya sekolah sudah lengang. Tidak ada tanda-tanda murid yang masih betah bertahan di sekolah. Bahkan tiga puluh menit sebelum bel berbunyi, murid-murid jurusan TKR dan TAB sudah seperti frustasi dengan berdiri tepat di balik gerbang, menunggu Pak Samson membukanya.
“Begini Pak, bolehkah kami melihat rekaman cctv di gedung TKR tanggal 15 kemarin?" tanya Ghina hati-jati.
“Untuk apa? Kalian sudah izin ke pihak sekolah?” tanya Pam Samson dengan tatapan menyelidik.
“Belum izin, cuma mendesak banget Pak. Harus sekarang," jelas Ghina.
“Harus sesuai prosedur nggak bisa sembarangan," ucap Pak Samson
“Please ya Pak, penting banget. Ini menyangkut masa depan teman saya disekolah ini," bujuk Renata. "Ini bener-bener mendesak Pak. Bapak tahu 'kan isu-isu murid yang ketangkap lagi mesum di sekolah?" Renata melirik Ghina tidak nyaman.
"Iya saya tahu." Pak Samson juga melirik ke arah Ghina. Walau ia kerap menyapa Ghina saat di gerbang, ia tidak terlalu mengingat betul wajah Ghina. Toh, memang setiap murid ia sapa.
"Loh, kamu yang pingsan tadi pagi 'kan?" tanya Pak Samson.
"Iya Pak,"
"Gimana keadaannya?"
"Sudah baikkan Pak."
"Jadi gimana Pak, boleh ya? sebentar aja, kami mau memastikan bahwa teman kami itu cuma di fitnah Pak," sela Renata.
"Di fitnah?" Pak Samson nampak terkejut. Sepertinya klarifikasi sekolah terhadap isu Ghina Fatih belum sampai ke telinga Pak Samson. Orang tua itu hanya tahu sampai pada isunya saja.
"Iya, ada yang membenci mereka. Pengen mereka di DO dari sekolah," jelas Renata serius. Pak Samson manggut-manggut dengan wajah polosnya.
“Ya sudah silahkan," katanya. "Tapi jangan bilang-bilang siapa-siapa loh ini. Lagian, udah sepi gini baru ke sini. Belum izin lagi kalian ini."
Renata dan Ghina hanya meringis pelan. Mereka masuk ke dalam pos. Lalu melihat rekaman cctv di sana.
“Pak, kok rekaman dua hari yang lalu nggak ada?”tanya Ghina yang masih mengobrak-ngabrik file rekaman di folder yang bertuliskan tanggal, bukan dan tahunnya.
“Bapak nggak tahu, kan tugasnya Cuma jaga disini," jelas Pak Samson yang memang tugasnya hanya menjaga komputer itu tetap hidup dan sesekali melihat pergerakan masyarakat sekolah di dalam rekaman itu.
__ADS_1
Tangan Ghina yang masih terus berusaha mencari file-file rekaman itu berkeringat.
"Kok nggak ada ya?" tanya Ghina lagi. Tangannya mengetuk-ngetuk mouse.
"Coba dicari lagi," ucap Renata yang ikut menajamkan matanya melihat video demi video yang ditampilkan di layar monitor.
"Pak, sebelumnya udah ada siswa yang pernah ke sini?" tanya Renata yang mulai curiga. Pak Samson menggeleng.
"Nggak ada tuh."
"Kok hilang, apa jangan-jangan rusak ya cctv di sana?" tebak Ghina yang membuat Renata heboh.
"Rusak?! ya Allah, beneran?" katanya tak percaya.
“Gimana ini Ren?” tanya Ghina gusar. Ia harus menemukan rekaman aksi pelemparan bola kasti itu oleh musuhnya Fatih. Barangkali, bisa membantu pelakunya untuk terseret ke BK juga. Dan siapa tahu, setelah pelakunya tertangkap. Keputusan Abinya Fatih bisa batal. Terlepas dari citra pesantren yang harus dijaga. Jika bisa, Ghina harus membatalkan ide itu.
“Iya kamu yang sabar Na, ya udah kita cek ke sana aja gimana?" tawar Renata. Ghina mengangguk mengiyakan.
Setelah berterimakasih pada Pak Samson, mereka berkunjung ke gedung TKR di lantai dua yang terdapat di seberang lapangan. Untuk kemudian mengecek fisik Cctv.
“Itu kan cctv yang mengarah ke sana?” tanya Ghina pada Renata. Seperti detektif, Renata memasang wajah serius tapi lucu. Ia berusaha mendongak, tubuhnya yang lebih pendek dari Ghina itu terlihat menggemaskan. Kini mereka sudah berada di lantai dua, tepat di dekat tangga.
“Benar sekali anda. Nggak ada yang aneh dari bodynya. Tapi kenapa bisa rusak? Sehari sebelum kejadian itu, apakah cuaca sedang petir? Karena bisa jadi ini ulah petir.” Renata mengambil kesimpulan dari diagnosanya. Ghina tertawa pelan.
“Jangan nuduh sembarang. Petir juga makhluk Tuhan. Ya pada intinya semuanya sudah takdir. Cctv bisa jadi memang rusak dari sistemnya," ucap Ghina dengan mendesah, "harus gimana lagi?" lirihnya.
Brak.
Fatih Rafasya itu berjalan lebar dengan wajah dingin. Tangannya sesekali mengepal erat. Sedangkan mulutnya berkali-kali membuang nafas dengan kasar. Setelah menyelidiki lewat aplikasi Getcontact ia bisa mendeteksi nama pengirim broadcast aib itu. Siapa lagi jika bukan laki-laki yang memusuhinya sedari lama. Lukman.
Mereka bermusuhan tentu ada alasan. Walau Fatih sendiri tidak terlalu menggubris setiap kemarahan dan cacian yang kerap kali di lontarkan Lukman saat dia kalah dalam suatu pertandingan yang melibatkan antara Fatih dan Lukman.
Saat langkahnya berhenti di depan pintu kelas XII TKR 1, dapat Fatih lihat beberapa makhluk berjenis kelamin laki-laki semua dengan pakaian seragam putih yang acak-acakan tengah saling melempar guyonan dengan tangan mereka yang masing-masing memegang satu puntung rokok.
Fatih mengetuk pintu dengan sopan. Walau sebenarnya Lukman dan gengnya tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu. Laki-laki berwajah tirus dengan alisnya yang tebal menoleh. Lantas bibirnya tersenyum sebelah.
“Wah, siapa yang datang nih?” Lukman menyudahi aktifitas merokoknya. Membuangnya tepat dibawah kaki dan menginjak-nginjaknya dengan matanya yang menatap Fatih remeh.
“Aku datang bukan untuk basa-basi," ucap Fatih geram. "Setelah kamu kirim foto itu ke aku, kamu yang buat broadcast itu 'kan?" tanyanya dengan menatap Lukman tajam.
“Tepat sekali. Kamu nggak salah Fath. Aku sudah duga, anak TKJ nggak mungkin sulit untuk nyari siapa pelaku di balik pesan broadcast itu. Terus kamu mau apa sekarang? Berita sudah tersebar dan semua cewek yang menggilai seorang Fatih juga kayanya udah patah hati haha.” Lukman tertawa keras.
“Tutup mulutmu teman.” Fatih berbicara dengan tekanan saat menyebutkan kata ‘teman’. Sebenarnya ingin sekali dia mengatkan kata ‘brengsek’ tapi ia tidak diajarkan untuk mengumpat seperti itu.
Fatih mendekat beberapa senti ke arah Lukman, menatap tepat di mata hazel rivalnya itu, “justru dengan cara ini memberitahukan pada semua orang kalau kamu telah kalah sebelum bertanding. Mengalahkanku bukan dengan cara ini Man. Jangan buang waktu mencari keburukanku yang nggak penting. Lebih baik cari cara yang elegan untuk menang.”
Mendengar pekataan Fatih, Lukman jelas tersinggung. Harga dirinya terasa diinjak-injak oleh Fatih tepat di depan teman-temannya yang masih cengo menatap Fatih dan Lukman bergantian.
“Jangan ceramah. Biar aku dengan caraku. Ternyata membuat namamu dicap buruk sangat mudah. Setidaknya aku puas dengan penderitaan yang kamu alami karena fitnah itu," ucap Lukman santai.
“Kamu keliru Man. Aku ke sini bukan untuk menujukkan betapa aku menderita karena Fitnah itu. Tapi, ada kehormatan seseorang yang harusnya sebagai laki-laki kamu turut menjaganya."
__ADS_1
“Oh cewek yang ciuman sama kamu itu?” cibir Lukman yang membuat Fatih yang berusaha tenang, akhirnya terpancing juga emosinya.
Fatih meraih kerah Lukman, mulutnya berbisik tepat di telinga Lukman, “dia cewek baik-baik. Tapi sudah kamu rusak nama baiknya. Kamu boleh mencermarkan namaku sesuka hati. Tapi aku nggak akan biarkan nama orang lain juga kamu cemarkan," ancam Fatih.
“Ha. Kamu suka tuh cewek? Jangan-jangan kalian emang saling suka dan beneran ngelakuin itu?” Lukman menyeringai.
“Kamu suka aku kalah dalam pertandingan ‘kan? Bulan depan akan ada pertandingan futsal yang nantinya beberapa orang akan di kirim menjadi pionir untuk bertanding dengan SMA. Aku akan biarkan kamu mengisi poisi itu,” ucap Fatih mencoba memberikan penawaran. Walau dirinya sangat tidak suka dengan kalimat yang baru saja dikeluarkan. Tapi, ini juga demi nama baik Ghina dan pesantren. Jika saat Fatih bukan bagian dari keluarga Kyai, mungkin ia akan tenang menghadapi ini, tapi lain halnya jika ia memang merupakan keluarga Kyai dan parahnya dia adalah anak seorang Kyai.
“Jadi bajingan kaya kamu ini rela kalah demi nama baik cewek itu?” tanya Lukman dengan wajah tak percaya yang dibuat-buat. Beberapa teman-temannya juga menertawakan.
"Heh? jaga mulut kotormu Man!" Riki membentak. Seketika Lukman menatap Riki tajam.
"Awas kamu anak mami!" ancamnya. Fatih menoleh ke arah Riki dan menggelengkan kepalanya, seolah memberi isyarat pada temannya itu untuk tidak ikut campur. Riki mundur beberapa langkah.
“Aku melakukan ini demi pesantren. Cepat, mengakulah besok ke BK," desak Fatih.
“Kalau aku nggak mau bagaimana?” tantang Lukman
“Itu pilihanmu. Aku hanya memberi tawaran.” Fatih mengelus pelan pundak Lukman. Tangannya yang tadi mencengkeram kerah Lukman telah terlepas. Dia melanjutkan perkataannya dengan nada dingin, “menjadi pionir di ajang lomba, selain mendapat ketenaran kamu juga akan dapat bayaran. Bukankah itu cukup menggiurkan?”
“Bangsat! Kamu kira aku ingin menang hanya gara-gara ketenaran dan uang huh!” Lukman yang tidak terima Fatih merendahkan dirinya lantas menjotos wajah Fatih dengan sekali pukulan.
Cairan merah yang masih segar itu mengalir dari bibir Fatih, membuat Riki yang melihatnga hendak menangis karena syok.
Lima orang teman-teman Lukman terperangah. Dua dari mereka langsung memegangi pundak Lukman.
“Sabar bro, dia hanya menguji kamu,” ucap salah satu dari mereka.
“Kalian nggak denger gimana tadi dia rendahin aku? Apa dia bilang? Aku ingin menang hanya karena ketenaran dan uang?” Lukman mengusap wajahnya kasar. “Persetan dengan itu semua. Heh bangsat, aku juga masih ingin sekolah di sini. Kamu kita aku bakal tergiur dengan tawaranmu itu? ck, bodoh. Kalau sampai sekolah tahu aku yang menyebarkan foto itu, bisa-bisa aku yang di keluarkan dari sekolah.”
“Kalau bukan itu tujuanmu, seharunya kamu nggak semarah itu Lukman.” Fatih berkata dengan nada mengejek. Semakin membuat amarah Lukman meledak-ledak. Ia memberontak dari cengkraman tangan kedua temannya di bahunya. Kembali melayangkan tinjunya dan berhasil di tangkis oleh Fatih.
Telapak tangan Fatih menggenggam kepalan tangan Lukman. Menatap mata lawannya dengan dingin, “sampai kapanpun caramu nggak bisa di benarkan Man. Bukan perkelahian yang aku inginkan. Tapi solusi untuk masalah ini. Jika kamu mau ngaku, kita akan bicarakan ini bersama dengan sekolah," jelas Fatih tajam, "setidaknya, Abi setelah ini nggak maksa aku untuk menikah dengan Ghina," ungkapnya dalam hati.
“Bodo amat! Apa peduliku huh!" Lukman menyeringai, "rasakan itu. Ini masih awal Fath. Jangan kira, kamu anak Kyai dan terkenal di kalangan cewek-cewek, kamu bakal terus naik daun."
"Tak apalah, gadis itu juga harus dapat pelajaran! intinya semua yang berhubungan dengan kamu, harus diberi hadiah!" Lukman tertawa-tawa seperti orang kesetanan.
Tinju Fatih akhirnya melayang ke wajah wajah Lukman. Yang membuat mata Lukman memerah seperti banteng yang marah. Dia melayangkan kakinya menendang perut Fatih. Namun dengan gesit Fatih menghindar. Kali ini, teman-temannya Lukman turun tangan. Mereka ikut melayangkan tinju ke arah Fatih. Riki maju dengan perasaan takut, satu tinju berhasil mengenai wajahnya.
"Aw!" ringisnya.
"Rik!" teriak Fatih. "Kamu diam aja, nggak usah ikut campur."
"Mereka nonjok aku Fath," adunya. Ia berusaha menghalangi aksi anak buah Lukman dengan menggunakan temeng kursi.
"Cukup!" semua orang yang berada di sana menoleh ke sumber suara.
Hai semuanya...
Aku tunggu loh kritik dan saran dari kalian untuk ceritaku. Komen kalian aku tunggu yaaa, biar aku makin semangat lanjut cerita...🤗
__ADS_1