
Di pesantren Al Furqon Jorong. Tepat di kediaman Fatih Rafasya. Laki-laki itu untuk kesekian kali mencoba bernegosiasi dengan Abinya tentang rencana pernikahan itu.
Ruangan sekitar 4 x 4 meter itu di cat berwarna putih. Ada jendela yang terbuka menghadap ke sebuah area yang dipenuhi buah Naga. Di bawah pohon buah Naga di hiasi bunga Krokot yang sudah mulai layu karena senja mulai menampakkan diri.
Tidak ada kursi di sana. Hanya ada permadani yang di atasnya terdapat sajadah yang menghadap ke arah kiblat. Lemari di pojokan terlihat berisi alat-alat solat juga al-qur'an. Ruangan ini, memang khusus di design untuk Musholla keluarga besar Kyai.
Kyai Zhafran tidak kunjung menoleh saat Fatih sudah masuk ke sana setelah mengucap salam. Walau di sekolah ia kerap kali seenaknya, namun di rumah ia tetap berusaha sopan. Apalagi kepada Abinya.
"Abi, izinkan aku bicara."
Kyai Zhafran menghentikan jari tangannya yang mengabsen butiran tasbih. Matanya yang memejam terbuka. Ia menoleh, mendapati Fatih tengah menatapnya sambil bersimpuh.
"Apa yang mau kamu bicarakan?"
"Tentang rencana pernikahan itu. Aku mohon Bi, beri kesempatan kami untuk benar-benar membawa pelakunya ke hadapan guru-guru. Biar kalian semua juga yakin, kalau aku dan Ghina nggak berbuat hal yang menyimpang. Aku tidak ingin pernikahan itu terjadi, terlepas dari keharusan keluarga kita menjaga citra pesantren."
"Apa kamu faham apa yang kamu bicarakan sekarang?"
"Aku mengerti betul Bi. Menikah itu nggak mudah. Bukan aku nggak ingin memperbaiki citra pesantren, tapi ini tetap nggak adil bagi aku dan Ghina."
"Kalau adil hanya di ukur dari kaca mata manusia, akan ada saja yang tidak sesuai. Menurut kamu adil, tapi bagi orang lain tidak. Menurut kamu baik, tapi bagi orang lain tidak. Seorang Muslim, tidak boleh merasa tidak adil dengan syariat. Karena keterbatasan akal mereka."
"Jangan menjadi laki-laki yang labil. Kamu di siapkan untuk menjadi dewasa di umur sekarang. Sudah Abi peringatkan dari dulu, sekali kamu melewati batas kenakalan, maka nggak ada tawar menawar lagi. Bukankah kemarin kamu sudah menyetujuinya?"
"Itu, hanya sekedar mengikuti keinginan Abi."
"Kalau begitu, ikuti keinginan Abi."
Fatih menghela nafas berat. Dari kecil, ia memang sulit menaklukkan Abinya. Satu-satunya orang yang membuatnya ciut adalah laki-laki di depannya ini. Hanya ketika dirinya meminta sekolah di SMK Abinya tidak menolak. Dengan alasan, bahwa Fatih perlu mempelajari kehidupan remaja di luar sana yang jauh dari pada nilai-nilai agama. Sekolah umum salah satu tempatnya. Keputusan Abinya tidak sepenuhnya keliru untuk mengizinkan dirinya bersekolah di sekolah umum. Ia sekarang memahami bagaimana pergaulan remaja masa kini. Budaya pacaran, nongki-nongki, pesan hotel dan sebagainya ia tahu. Hal-hal sebelumnya tidak ia dapati di Madrasah Tsanawiyah. Walau akhirnya, ia pun hampir-hampir menjadi remaja seperti itu, ia ingin mencoba.
"Aku menyesal mengizinkanmu bersekolah di sana. Kali ini, kamu harus mengikuti titah dari Abi," tukas Kyai Zhafran.
Lantunan dan suara tabuhan rebana terhenti. Semua yang hadir menyambut ucapan salam dari seorang laki-laki yang baru saja masuk dari pintu mushola bagian laki-laki. Pak Adam, pembina ekstrakulikuler KSI.
Laki-laki dengan wajah teduh dan kulit putih langsat itu duduk bersila. Kini formasi anggota berganti. Laki-laki di shaf depan dan perempuan di shaf belakang. Pak Adam terduduk di posisi imam sembari menghadap ke arah hadirin.
"Apa kabar kalian semua? Saya harap sehat selalu ya. Yang masih jomblo jangan sakit-sakitan terus," ucap Pak Adam, bertanya sekaligus menggoda para anggota yang tentunya semuanya masihlah jomblo. Walau tidak dapat di pungkiri, bisa jadi ada yang diam-diam menjalin asmara.
"Alhamdulillah sehat selalu Pak," jawab hadirin serempak. Salah seorang nyeletuk, "jomblo justru membuat kita bahagia, nggak nguras waktu, nggak nguras kantong dan nggak nguras energi."
Gelak tawa membahana. Hanya anggota laki-laki lebih tepatnya yang terngakak. Sedangkan pihak perempuan lebih menjaga image, sedikit tertawa saja.
"Saya bukan mau manasin kalian ya. Cuma ngingetin aja, jomblo itu bukan penyakit. Juga bukan untuk di galaukan. Jomblo karena menjaga kehormatan adalah mulia. Nanti akan ada saatnya hari itu tiba. Tenang aja." Pak Adam menjeda sejenak, lalu tersenyum sangat manis dengan lesung di pipinya, "intinya kita jomblo demi ketaatan kepada Allah. Menjaga sesuatu yang harus kita jaga. Insyaa Allah, kesabaran kita akan berbuah pahala kelak."
"Aamiin. Tapi, si Meysa sudah bucin duluan sama Hasyim Pak," celetuk salah satu anggota laki-laki.
Terdengar tawa menggelegar.
"Fitnah Pak, saya nggak pernah suka sama Meysa," bantah Hasyim dengan wajah datarnya. Semua orang tertawa. Tak terkecuali Meysa, perempuan yang sedikit centil dan bersuara merdu itu justru tertawa dan tersipu di buat-buat.
"Emangnya siapa yang bilang kamu suka sama Meysa? wong aku bilangnya Meysa yang bucin sama kamu haha. Atau jangan-jangan kamu ada rasa." Yanto, anggota KSI yang nyeleneh dan pecicilan yang di awal nyeletuk itu membuat Hasyim malu setengah mati. Terlihat dari wajahnya yang merah padam.
"Udah-udah. Nggak usah masukin hati ya Syim. Kamu tahu sendiri Yanto gimana orangnya," sela Pak Adam berusaha menyudahi pembulian di antara anggota KSI yang dipimpinnya itu. "Meysa, jangan suka gangguin Hasyim, kasian dia jadi bahan ejekan teman-temannya," tegurnya pada Meysa yang sudah ancang-ancang hendak membantah.
"Nggak Pak. Saya cuma suka bercanda aja sama Hasyim, habisnya dia lucu."
Tawa kembali menggema, kini ditambah suara-suara 'ciye-ciye' yang membuat Meysa semakin tersipu-sipu sembari mengibas tangannya di depan wajah.
"Meysa!" Pak Adam melotot, bukan marah. Hanya ingin menghentikan tingkah konyol anak didiknya itu.
__ADS_1
"Iya ampun Pak. Hisyam maaf ya, aku suka bercanda hihi." Meysa mengeluarkan dua jarinya menbentuk 'peace' wajahnya ia buat menyesal. Ghina dan Renata yang menyaksikan ejek mengejek itu hanya geleng-geleng kepala.
"Nah baiklah semuanya. Pada pertemuan kali ini, kita akan membahas mengenai acara khataman di sekolah kita. Sesuai dengan kebijakan yang baru-baru ini di terapkan oleh wakasek kesiswaan. Bahwa tiap-tiap kelas di beri tugas untuk menyelesaikan 30 juz. Dan acara khatamannya tentu di serahkan kepada kita. Nanti kalian semua jadi panitia untuk mensukseskan acara tersebut. Oh ya, Ilham kamu mau jadi penanggung jawabnya?" Pak Adam beralih menatap Ilham. Laki-laki itu tampak berfikir sejenak.
"Insyaa Allah Pak. Hanya saja, saya nanti akan mencadangkan seseorang jadi PJ kalau saya ada hambatan. Soalnya akhir-akhir ini kelas dua belas disibukan dengan simulasi," jelas Ilham
"Iya juga. Tapi, kalau kamu menyanggupi baguslah. Kalau nanti ada pergantian PJ, laporkan aja ke saya. Yang penting, acara khataman nanti berjalan dengan lancar."
"Siap Pak. Insyaa Allah, untuk pembagian tugas panitia nanti biar kami yang rembukkan bersama Pak."
"Baiklah, saya percayakan pada PJ. Nanti, divisi perlengkapan harus lebih banyak orangnya. Soalnya nanti ikut bantu-bantu tukang pasang tenda."
"Siap Pak."
"Untuk dana, kalian nggak usah khawatir. Karena kita sudah diberi dana oleh kepala sekolah langsung. Beliau sangat mengapresiasi adanya kegiatan ini."
"Alhamdulillah."
"Ada lagi yang ingin di tanyakan?" tanya Pak Adam
"Untuk surat menyurat tempat seperti apa Pak?" tanya Ghina. Sebagai sekretaris, ia sangat hafal untuk urusan tersebut. Jika KSI ingin mengadakan acara baik itu di aula yang lokasinya tepat di lapangan multiguna atau acara-acara room besar yang biasa diadakan di ruangan kelas TKR 1 dan 2 selalu membawa surat ke bagian TU untuk perizinan fasilitas sekolah.
"Nggak perlu lagi Na. Karena ini ibaratnya acara yang diadakan oleh wakasek dan semua warga sekolah berpartisipasi. KSI hanya ikut membantu sebagai panitia yang turut mensukseskan acara dan menyiapkannya," balas Pak Adam.
"Untuk pemateri, kita ambil dari internal atau ekstrernal Pak?" tanya Ghina lagi.
"Kita ambil dari eksternal aja ya. Nanti bagian acara bisa nyari. Surat formalnya jangan lupa."
"Baik Pak."
Setelah pembagian tugas untuk masing-masing panitia selesai. Semua anggota yang hadir membubarkan diri usai membaca do'a kafaratul majlis. Ilham, seperti biasa di bantu rekan-rekannya yang lain membereskan salon dan juga mikrofon yang tadi di gunakan selama mendiskusikan acara.
Ghina beserta teman-teman yang lain juga menyapu lantai Masjid dan mebereskan tikar yang tadi di pakai anggota untuk duduk.
"Emang kita doang yang diberi mandat Mey. Kalau acara-acara keagamaan memang kita yang bisa diandalkan," balas Ghina.
"Yah setidaknya ada kolaborasi dengan eskul lain. Bisa lebih meringankan pekerjaan kita. Bukan aku nggak ikhlas lo ya." Meysa ikut membantu melipat ambal. Ghina di ujung kanan dan Meysa di ujung kiri. Ghina hanya diam, belum membalas perkataan Meysa.
"Oke selesai. Ren, tolong disebelah sini!" Ghina menunjuk teras bekas ambal yang dihinggapi debu. Renata yang tengah menyapu di sudut pintu menghampiri dab menyapunya.
"Nggak papa. Kita harusnya seneng. Wakasek mengandalkan kita. Justru kalau yang lain juga ikut, bisa-bisa bukan keteraturan yang tercipta tapi kerusuhan. Tentu wakasek juga nggak mau ngambil risiko kalau acara yang di persiapkan panitia dari berbagai eskul jadinya amburadul. Aku rasa anggota KSI sudah cukup," jelas Ghina. "Bilang aja mau ketemu anak TAB itu," godanya. Ghina tahu, jika Meysa yang notabennye teman sekelasnya Ilham itu sedang naksir dengan salah satu anak TAB yang suaranya merdu ketika azan.
Meysa menjerit pelan. "Hush, kurang kenceng Na suaramu. Harusnya pake Toa, biar di denger hihi."
"Dasar Meysa." Ghina hanya mengeleng-geleng.
"Udah selesai nih. Kalian belum mau pulang?" tanya Meysa pada Ghina dan Rena yang justru mendudukkan diri di dekat jendela musholla.
"Nggak, mau ngobrol bentar. Kalau kalian mau pulang duluan aja."
"Oke deh. Kami duluan ya. Assalamualaikum," pamit Meysa dengan telapak tangan yang dikecupnya dan diberikan ke arah Ghina dan Renata yang mencebikkan bibir mereka.
Setelah kepergian Meysa dan dua temannya. Kini tinggallah Ghina dan Renata di mushola. Sedangkan anggota laki-laki yang tersisa hanya Ilham. Ghina membiarkan Ilham lebih dulu yang menghampirinya.
"Katanya Ghina tadi di whatsapp, ada yang mau di omongkan sama aku. Ada apa?" tanya Ilham yang berbasa-basi dengan menggaruk tengkuknya.Ghina dan Rena berdiri.
"Iya ada," balas Ghina sedikit kaku sebenarnya.
"Apa itu?"
__ADS_1
"Tapi sifatnya pribadi."
"Nggak apa." Ilham tersenyum simpul.
"Bukannya kamu yang kayanya mau bertanya sesuatu tentang aku?" tanya Ghina dengan alis tertaut.
Ilham tertawa kecil. Perempuan di depannya kelewat percaya diri. Dan justru memutarbalikkan pertanyaan.
"Iya anggaplah begitu." Ilham mengalah dengan helaan nafas.
"Terus, apa yang mau kamu omongin?" tanya Ghina
"Aku mau tanya tentang foto itu," cegat Ilham yang sedikit merasa kesal dengan gadis yang sok jual mahal di depannya ini.
"Kamu masih belum percaya kalau itu bukan aku?" Ghina tersenyum miring
"Bukan begitu. Maksudku, itu kan fitnah. Dan belum ditemukan pelaku penyebarnya. Apa kalian udah tahu sesuatu?" tanya Ilham.
"Sebenarnya kami tahu pelakunya, tapi belum bisa nyeret dia ke BK," balas Ghina.
"Aku akan bantu kamu."
"Nggak usah Ilham. Jangan buang waktu."
"Justru karena kamu ngomong gitu. Aku semakin semangat membantu."
"Terimakasih. Tapi sudah ada seseorang yang lagi berusaha."
"Fatih?"
"Iya."
"Bagi jenius Fatih mungkin memang mudah menemukan. Tapi, untuk menyeretnya aku rasa belum tentu." Walau Ilham dan Fatih berbeda kelas, namun kejeniusan Fatih sudah terkenal di seluruh jurusan TKJ kelas dua belas. Ulah siapa lagi, jika bukan karena mister Arif yang suka mengagungkannya.
"Kamu lagi bersombong ria?" Ghina memicing.
"Nggak. Kamu suuzon," balas Fatih tidak terima. Sedangkan Renata, yang sedang menyimak obrolan sok jual mahal dari kedua sejoli di depannya hanya menggaruk kerudungnya yang tak gatal. Begitu membosankan menjadi obat nyamuk.
"Aku nggak akan minta maaf ngucapin ini. Karena kamu yang salah. Jadi, aku..." Ghina menjeda ucapannya. Sebenarnya ia malu, tapi juga senang karena Ilham tidak melihatnya sebagai perempuan yang menjijikan.
"Kalian kok jadi kaku gini sih bicaranya?! bikin aku gerah tahu." Renata menginterupsi. Merasa panas dalam situasi aneh dan canggung ini. Dua sejoli di yang kini berhadapan ini sama sama naif. Bilang tidak suka tapi suka. Bilang benci tapi cinta. Ia muak.
"Iya maaf Ren kami terlalu ngegas tadi." Ilham menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Ghina justru terdiam, nampak memikirkan sesuatu.
"Jangan suka curi pandang diam-diam atau terang-terangan. Karena aku tahu itu Ham. Kamu tahu sendiri kan hukumnya." Ghina mengutarakan isi hatinya. Ia memang merasa risih dengan Ilham yang memberitahu lewat matan bahwa laki-laki itu memiliki rasa.
"Makasih udah ngingetin," ucap Ilham tulus. "Iya maafkan aku. Salah," tambahnya.
"Iya. Semoga kita bisa sama-sama menjaga."
"Iya, ada lagi?" tanya Ilham yang rasanya ingin segera pergi, karena matanya tidak tahan untuk menatap Ghina.
"Makasih ya obatnya." Ghina mengucapkan kata itu dengan menunduk, wajahnya sedikit bersemu. Tapi, ia berusaha untuk menjadikannya datar.
"Obat?" Alis Ilham tertaut.
"Iya."
"Aku nggak pernah ngasih obat."
__ADS_1
Ghina dan Renata saling berpandangan.
"Jadi siapa?"