
Gerimis terdengar bersautan dalam keheningan malam. Tangan seorang gadis masih setia memelintir benda bulat berwarna emas yang di tengahnya terdapat permata yang sungguh memukau dan menyebabkan pantulan cahaya.
Ghina tidak bisa membayangkan jika tas ranselnya benar-benar tidak kembali, mungkin besok atau hari-hari selanjutnya ia akan mendapat masalah besar karena telah menghilangkan cincin penyatuan antara dirinya dan Fatih.
Ia memang selalu membawa cincin nikah itu di dalam tasnya, tujuannya hanya satu, sebagai pengingat bahwa dirinya sudah bersuamikan Fatih. Dan jika ia ingin berbuat kasar, ia bisa menahan diri dengan melihat benda itu. Walau, pada kenyataannya tetap sulit. Setiap melihat wajah Fatih, bawaannya ingin marah dan kesal terus menerus.
"Mungkin, kalau kamu sampai hilang, pertanda aku dan Fatih lambat laun akan bercerai juga. Toh, sampai saat ini hubungan kami masih sama. Nggak ada yang berubah. Hatiku, nggak pernah bisa tersentuh dengan kebaikan yang dilakukan oleh Fatih. Dia nggak bisa menandingi posisi Ilham di sini." Ghina menempelkan telapak tangan ke dadanya.
"Ya Allah, hamba harus gimana?" lirih Ghina seraya menatap nanar buku diarynya. Curhatan hatinya baru ia torehkan di sana.
"Fatih Rafasya, nama itu nggak pernah terbesit sama sekali untuk aku torehkan di sini. Pribadinya yang kasar, jahil, suka ke banyak cewek, nakal, semuanya yang ada padanya aku benci. Sangat jauh beda dengan Ilham yang lembut. Tapi kini, dia terpaksa aku tulis, harus aku pelajari hingga selesai, sampai aku akan memutuskan sendiri, tetap bertahan atau pergi dari sisinya." Ghina mencurahkan dengan penuh perasaan ke setiap huruf-huruf yang tertulis.
Bunyi notifikasi ponselnya membuatnya mendengus. Begitu selalu, jika ia lupa mematikan data seluler.
+62821xxx : Ustadzah!
Me : Siapa?
+62821xxx : Riki, orang terganteng setelah Jenius Fatih. Sedihnya akuh nggak di save nomor sama ustadzah setelah satu taun sekelas, teganyaaa😱😫😭
Ghina berdecak pelan saat mengetahui orang yang telah mengirim pesan tidak jelas malam-malam. Tidak ada Fatih, eh muncul anak buahnya yang sama-sama Gaje.
Me : Kenapa?
+62821xxx : Besok, habis pulang sekolah, Fatih dan Lukman dkk mau balapan motor. Aku kudu kumaha? nggak bisa cegah Jenius Fatihku, aku takut terjadi apa-apa sama dia😱
Me : Terus? kenapa lapor aku?
+62821xxx : Heh?☹️ ya ampun ustadzah, kamu 'kan yang sering nasehatin Fatih. Ayok, bantu aku buat nyadarin dia. Walau aku yang sering membuat masalah sampe dia di fitnah, tapi aku nggak tega juga biarin dia nanti harus kalah dari Lukman terus babak belur. Oh tak bisa membayangkan.
Me : Kamu temennya, harusnya bisa hentiin dia. Jangan lebay jadi cowok!
+62821xxx : Aku mah apa atuh, Fatih tetep nggak mau ustadzah, tolonglah hamba yang tak berdaya ini
Me : Ngapain juga balapan motor? unfaedah banget sih. Emangnya ada masalah apa?
+62821xxx : Menuntaskan balas dendam. Fatih sama Lukman itu udah musuh bebuyutan, dan di akhir sebelum kelulusan ini adalah puncaknya. Menentukan siapa yang menang dan kalah.
Me : Mereka udah besar. Nyelesaikan masalah itu bukan dengan dengkul, pakai otak lah. Nggak habis pikir!
+62821xxx : Ini tentang harga diri ustadzah, laki-laki itu beda sama perempuan. Kalau perempuan paling jambak-jambakan. Ayolah ustadzah, sekali ini aja. Selama kita sekelas, aku nggak pernah nyusahin kamu 'kan ya? jadi sebelum perpisahan, aku minta sedikit nyusahin kamu. Ya? ini demi keselamatan warga negara republik Indonesia😌
Ghina hanya menatap chat Riki dengan malas. Dulu, ia memang sering menegur Fatih tapi setelah status mereka berubah seperti saat ini, rasanya ia malas saja harus selalu mengingatkan. Fatih itu anak kyai, harusnya di umurnya yang sudah tidak muda, haruslah mengerti perkara beginian, tapi nyatanya. Label anak Kyai hanya simbol yang tak bermakna apa-apa. Jauh sekali dengan pribadi laki-laki itu yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja.
+62821xxx : Ustadzah?🤔
+62821xxx : Yah, jangan tidur dulu please, tolonglah😭
Tangan Ghina melesat cepat untuk mematikan data selulernya karena tidak ingin di ganggu Riki. Untuk apa juga laki-laki itu meminta tolong padanya, sedangkan dirinya adalah teman dari Fatih? sesama teman harusnya bisa saling menasehati.
"Gini nih, kalau sama-sama punya temen nggak bener," decak Ghina pelan.
Setiap tamu bulanannya hadir, Ghina selalu bangun lebih karet dari hari-hari biasanya. Jam enam, ia baru menggeliat pelan karena merasakan sesuatu yang dingin membelai pipinya. Ia sudah menduga, pasti sang Ibu yang melakukannya, tapi anehnya sensasinya berbeda saat ia menangkap telapak tangan itu. Kekar.
"Kak Imran kah?" tanya Ghina dengan menyipitkan matanya namun saat melihat rambut dengan poni miring itu, matanya membesar. Refleks tangan itu ia hempaskan dengan kasar.
"Fatih!" pekiknya dan langsung terduduk dengan menyelimuti seluruh tubuhnya. "Ngapain kamu di sini?" tanya Ghina tajam.
"Jemput kamu lah, ini udah jam enam, kamu kok santai banget? emang sempet ya cewek mandi terus dandan cuman tiga puluh menit?" Fatih melihat arlojinya. "Bisa-bisa telat ini."
"Siapa yang nyuruh kamu ke kamarku Fatih?!" sentak Ghina marah karena Fatih mengabaikan pertanyaannya.
"Aku yang pengen ke sini. Cepatlah mandi, aku tunggu di luar," balas Fatih santai. Ia sebenarnya tidak ada niat untuk masuk ke kamar Ghina, namun Ibu mertuanya malah menyuruh dirinya membangunkan Ghina yang suka kesiangan ketika mendapat halangan.
Rasanya ingin sekali Ghina mencubit atau memukul suaminya itu tapi apalah daya, kondisinya sedang berantakan dan memalukan. Ia segera beranjak dari kasur dan mengusir Fatih.
"Sana keluar!" usirnya yang diangguki Fatih dengan seringaiannya.
Saat mereka berdua sudah berada di kendaraan milik Fatih, Ghina mengemukakan kekesalannya.
"Aku nggak suka orang lain masuk ke kamarku," ucapnya datar.
"Aku bukan orang lain, aku suamimu," sahut Fatih yang menatap ke depan.
"Walau kamu suamiku, tapi kamu tetep orang asing."
__ADS_1
"Setelah satu rumah bareng, kita bakal jadi suami istri beneran lah. Bukan orang asing lagi."
"Jangan ngarep!"
"Wajar 'kan kalau udah suami istri itu pasti lebih deket. Kita kayak gini, karena LDRan terus. Jadi nggak sabar sekamar bareng."
"Aw!" Fatih menggelinjang geli saat pinggangnya mendapat satu cubitan menyakitkan dari istrinya.
"Jaga omongan kamu!"
Hingga tinggal beberapa meter dari sekolah, Fatih menurunkan Ghina. Terlihat sekali wajah istrinya itu sangat kusut tak bersahabat. Ia menjulurkan tangannya untuk mengusap kepala Ghina.
"Jangan cemberut gitu dong, senyum," ucap Fatih dengan kerlingan jahil.
"Tanganmu!" tunjuk Ghina pada telapak tangan yang kini singgah di atas kepalanya.
Fatih meringis, "ampun sengaja."
"Fath!"
Fatih kembali menoleh begitu mendapati mimik serius dari Ghina. "Ada apa?" tanyanya.
"Kamu beneran mau balapan motor sama Lukman?"
"Kata siapa?"
"Riki yang bilang."
"Emang kenapa?"
"Kamu itu udah dewasa Fath, kalau ada masalah selesaikan lah dengan kepala dingin, bukan malah balapan motor."
Fatih tersenyum sinis. "Bukannya aku pernah bilang, jangan pernah urusin lagi masalahku dengan siapapun itu, kamu lupa?"
Ghina tertegun sesaat saat melihat wajah Fatih yang mendadak dingin, tatapannya tajam.
"Aku cuma ingetin kamu, jangan buat masalah lagi. Apalagi kamu udah nikah sama kau sekarang, aku nggak mau nantinya malah berefek ke rumah tangga kita."
"Kenapa? kamu masih menghargai rumah tangga kita ini?"
"Terus, kenapa kamu nggak pernah anggap aku sebagai suamimu?"
Ghina terdiam, ia bingung harus menjawab apa dengan pertanyaan Fatih.
"Kamu nggak bisa jawab 'kan? baru sadar gimana kelakuan kamu selama ini? udah bersuami, tapi masih menaruh hati pada laki-laki lain?"
"Jaga ucapan kamu Fath, kamu nggak tau isi hatiku sebenarnya. Jangan sok jadi cenayang."
"Jelas sekali Ghina, kamu itu cewek yang nggak banyak deket sama laki-laki. Hanya sama Ilham, kamu deket. Bukannya itu udah menjadi bukti cukup, kalau kamu memang cinta sama dia?"
Fatih tersenyum begitu melihat Ghina yang tak bisa berkutik di tempat. "Urus aja masalahmu Na, aku yang akan urus masalahku sendiri."
Setelahnya Fatih meninggalkan Ghina yang tercenung dan kepalanya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan intimidasi tadi. Sejelas itukah ia menyukai Ilham? mengapa Fatih sangat mudah menerkanya? Dan kenapa pagi ini laki-laki itu mengungkit mengenai dirinya sebagai suami yang tak dianggap? apakah akhir-akhir ini Ghina memang terlalu berlebihan?
Saat jam istirahat, Ghina mengadukan perihal masalahnya kepada Renata. Gadis itu menyimak dengan takzim sambil manggut-manggut.
"Fix, dia marah sama kamu Na." Renata mengambil kesimpulan. "Sampe dia ngerasa nggak dianggap sebagai suami, aku kasian juga sama Fatih. Dia itu 'kan sebenarnya anaknya baik aja, cuma ya itu agak nakal dikit lah."
"Terus, aku harus gimana Ren? kalau suami udah marah sama istri, di artikel yang aku baca, nanti aku kena azab," keluh Ghina.
"Nah betul itu. Tapi ya cemane lagi, udah kadung marah."
"Padahal biasanya kami berantem, dia nggak kaya gitu."
"Ya barangkali dia udah nahan, mencoba sabar menghadapi seorang Ghina yang kepalanya kaya batu," cetus Renata yang mendapat cubitan pelan di lengannya.
"Aw, atit banget," keluh Renata sembari mengelus pelan tangannya yang sedikit memerah akibat cubitan Ghina.
"Maaf," ucap Ghina, entah mengapa akhir-akhir ini rasanya ia banyak mencubit orang. Zolim sekali dirinya.
"Masih ada kesempatan bicara. Habis pulang sekolah," usul Renata yang membuat Ghina berfikir, sekian detik kemudian ia tersenyum.
"Oke, makasih sarannya."
Seperti biasa, esok Ghina ada tugas piket, namun ia mengerjakannya hari ini. Fatih dan Riki masih setia di bangku sambil bermain gitar.
__ADS_1
"Fath, aku mau ngomong," ucap Ghina sambil melirik Riki. Paham arti tatapan itu, Riki meringis dan ia segera menenteng tasnya dan pergi dari sana.
Fatih hanya diam, sambil sesekali tangannya memetik gitar namun ia tidak menyanyi. Ia juga hanya diam, tak melirik sedikit pun ke arah gadis yang kini tengah menatapnya kesal.
Ghina mendekat dan duduk di samping Fatih, ia memegang tangan Fatih dan menjauhkannya dari senar.
"Kalau ada orang ngomong tuh dengerin," ucap Ghina kesal.
"Gimana rasanya diabaikan?" Fatih justru balik bertanya membuat Ghina mendengus.
"Iya aku tau. Batalkan balapan motormu sama Lukman, aku nggak suka kamu kayak gitu."
"Tapi aku suka."
"Fatih, sebagai istri, aku nasihatin kamu. Cukup udah, permusuhan kalian itu harus di hentikan."
"Istri?" ulang Fatih dengan bibir yang tersenyum sebelah, di saat ada maunya saja Ghina mengungkit statusnya sebagai istri, tapi di saat yang lain kemana saja?
"Jadi kamu merasa sebagai istriku, kalau aku minta kamu jauhin Ilham gimana?" tanya Fatih dengan seringaiannya.
"Fatih, bukan saatnya ngomongin itu," kilah Ghina, ia sedang tidak ingin membahas Ilham.
"Ya udah terserahmu aja. Kamu itu suka ngatur orang, tapi nggak suka di atur, dasar kepala batu."
"Fath, omonganmu!"
"Emang bener 'kan? kamu nggak ngerasa Na? kamu itu keras kepala."
Fatih beranjak, ia memakai tas ranselnya. Lantas melirik arlojinya, sebentar lagi permainannya dan Lukman dkk akan segera dilangsungkan.
"Mau kemana kamu, antar aku pulang," pintar Ghina dengan memaksa.
"Kamu pulang sendiri. Aku ada urusan."
"Fatih, selangkah lagi kamu berjalan, kita cerai!"
"Nggak semudah itu." Fatih melenggang pergi, ia tidak peduli dengan ancaman Ghina yang jelas, ia harus melakukan sesuatu hari ini tanpa gangguan siapapun.
Ghina berusaha mengejar Fatih hingga ke parkiran, namun tak sengaja Ghina bertemu Ilham di saat motor Fatih sudah menghilang di balik gerbang.
"Loh, kok belum pulang Na?" tanya Ilham heran.
"Kamu tau Lukman mau adain balapan?" tanya Ghina langsung.
"Iya, aku mau nyusul mereka. Biar nggak terjadi hal yang nggak diinginkan. Kamu mau kemana?"
"Aku ..." Ghina bingung sendiri, jika ia katakan ingin mengejar Fatih, Ilham pastilah curiga. Jika ia tidak mengatakannya, itu berarti ia harus pulang tanpa bisa mencegah suaminya balapan.
"Ham, kamu tau tempatnya dimana?" tanya Ghina yang tak jadi meneruskan bicaranya.
"Di dekat SMA Banua," balas Ilham. "Kenapa? kok kamu nanyain itu?"
"Nggak papa. Aku pengen liat gimana balapannya. Maksudnya gini." Ghina menggigit bibir bawahnya. Ia bingung harus beralasan apa.
"Aku di suruh umminya Fatih untuk bilangin, kalau Fatih nggak boleh balapan atau melakukan hal aneh-aneh di sekolah," jelas Ghina berusaha tenang. "Lukman balapannya ngelawan Fatih 'kan?"
"Mungkin," balas Ilham tak yakin. "Eh umminya? kamu kenal?" tanya Ilham terkejut.
"Iya, langganan jahitan Ibuku. Aku tadi denger dari Riki, temannya Fatih, kalau Fatih dan Lukman mau tanding balapan. Jadi, aku pengen coba hentikan dia. Amanah, aku jadi kepikiran terus."
"Kok kamu sih? kamu 'kan cewek, mana bisa hentikan dia," gerutu Ilham seperti tidak suka.
"Ya udah kamu nanti nyusul aja ke sana. Banyak cewek juga kok pastinya di sana, bukan kamu aja sendirian. Tapi, kalau ragu, aku saranin jangan ke sana."
"Iya."
Mau tidak mau, Ghina terpaksa memakai jasa ojek online, padahal ia sangat anti karena untuk menjaga. Ia tak suka jika berboncengan dengan yang bukan mahram walau dengan orang yang tua sekalipun. Pokoknya, sudah menjadi prinsip hidupnya setelah hijrah, kecuali memang keadaan darurat. Tapi, betapa beruntungnya ia saat drivernya ternyata seorang perempuan.
Untunglah, tadi pagi ia berinisiatif membawa ponsel ke sekolah dengan diam-diam. Dan benar saja, bisa di manfaatkan.
"Kemana?"
"SMA Banua."
Alhamdulillah, akhirnya bisa up, maaf banget ya krn otor beberapa hri ini demam plus sakit kepala. Padahal, pengen banget nulis ni cerita, tapi kepala berdenyut nggak karuan. Btw, makasih yg udah suport cerita ini, dengan like, komen dan vote.
__ADS_1
Jaga kesehatan kalian yaaa, tetep patuhi protokol kesehatan☺️