Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Gendong


__ADS_3

Ghina dan Renata bersiap menikmati hidangan Soto Banjar di hadapan mereka. Renata sesekali mencuri pandang pada seorang laki-laki yang sudah hampir sebulan tidak ia lihat wara-wiri membantu Pak Suryo dan istrinya berjualan.


Hari ini, matanya sedikit lebih segar begitu melihat laki-laki itu lagi.


"Udah nggak usah di liatin terus," interupsi Ghina yang menyadari tingkah laku Renata yang terang-terangan.


Renata meringis pelan, "hehe, jadi gimana bisa kamu sama Fatih?" tanya Renata. Ia bahkan hampir melupakan rasa penasaran yang sedari tadi ia tahan hanya karena seorang laki-laki.


"Panjang ceritanya. Nanti di rumahmu aja ya, kalau kapan-kapan aku main," papar Ghina sambil menyendok kuah soto.


"Hah?" Renata melongo sendiri. "Ghina, jangan buat aku penasaran ih," rengeknya seperti anak kecil.


"Bentar, aku mau tanya dulu. Kamu tau dari mana aku sama Fatih." Ghina menjeda ucapannya, lalu mulutnya ia dekatkan ke telinga sahabatnya, "nikah."


Renata terkekeh. "Fatih yang ngasih tau aku. Awalnya aku nggak percaya. Jadinya aku nelpon kamu dan bener ternyata. Aku kemarin denger suara dia jerit."


"Hah, kamu denger?"


"Iyalah, wong kupingku nggak budek. Ciye, lagi ngapain kemarin kamu sama Fatih, sampai dia jerit-jerit manja gitu?" goda Renata yang mendapat timpukan kecil di bahunya.


"Ngomong di jaga," ancam Ghina.


"Jadi gimana, kenapa kalian bisa nikah huh? di jodohkan? atau jangan-jangan." Renata menebak-nebak.


"Gara-gara foto aib itu," lirih Ghina. Ia melihat ke sekeliling, untuk memastikan keadaan aman. Kantin belakang kelasnya lumayan sepi. Hanya ada dua orang seangkatan cewek dan juga cowok di ujung. Mungkin mereka berpacaran, terlihat dari gelagat mereka yang saling tatap-tatapan lalu menunduk dan seterusnya.


Padahal, jika Ghina sedang semangat, mungkin ia akan melaporkan dua sejoli itu. Padahal 'kan kebijakan Wakasek Kesiswaan sudah jelas. Tidak boleh ada murid yang berpacaran di sekolah.


"Terus," ucap Renata yang meminta penjelasan lanjutan.


"Keluarga Kyai tetep kekeh mau itu terjadi. Terbukti atau nggak, ya nggak penting. Yang jelas, mereka pengen selamatin nama baik pesantren. Di sana, Fatih adalah orang yang berpengaruh, salah satu pengajar juga. Kalau ada desas-desus nggak bener 'kan jadi rusak nama baik pesantren."


"Oh, jadi gara-gara nama baik pesantren?"


"Iya begitulah."


"Lah, kenapa harus kamu yang dinikahi Fatih? 'kan bisa cari calon lain."


Ghina mendelii kesal. "Pesantren kena citra buruk juga ya gara-gara aku berperan untuk itu Ren."


"Lah, kalau masalah foto 'kan itu Fatih yang nyari gara-gara duluan."


"Iya, tapi kita berdua ikut andil. Aku yakin, Fatih juga nggak ingin ini terjadi. Semua adalah kecelakaan nggak sengaja."


"Innalillah, rumit bener masalah kalian. Harus nikah gara-gara di fitnah. Terus, apa yang mau kamu lakukan sama Fatih ke depannya?"


"Aku belum tau."


"Hah? bukannya Ghinna Izzati orang penuh visi? lah ini udah nikah, malah nggak tau visi misinya."


"Ini terlalu tiba-tiba Ren."


"Iya sih, kalau aku jadi kamu juga syok. Mungkin kabur dari rumah kali ya? btw, perasaanmu pasti lebih sakit 'kan?"


Ghina mengangguk cepat, ia menekan dadanya sendiri. Matanya berkaca.


"Sabar Na, aku tau kalian berdua emang nggak saling mencintai, tapi siapa yang tau masa depan?"


"Tapi, ada dia yang aku tinggalkan."


"Iya, pasti kamu diam-diam berharap juga. Aku sebagai sahabatmu, ngenal kamu lama, dan bahkan tau hati kamu berlabuh pada siapa. Tapi, untuk saat ini, aku hanya bisa ingatkan, Ilham nggak boleh jadi perusuh untuk rumah tangga kalian."


Ghina terdiam, ia berusaha mencerna perkataan Renata. Gadis itu, walau perilakunya bar-bar tapi jika menasihati, mampu juga membuat hati Ghina terenyuh. Inilah yang ia sukai dari Renata.


Sudah dua orang yang mengingatkan Ghina, bahwa Ilham hanyalah orang asing. Tidak berhak mencampuri urusan hidup mau pun urusan hati Ghina. Ya, walau laki-laki itu singgah di hatinya, tetap saja tidak boleh mengendalikan kehidupan Ghina.


Saat ini, Ghina hidup dalam dunia nyata. Dan faktanya saat ini, dirinya sudah di persunting oleh orang lain. Ia telah dimiliki oleh seorang laki-laki yang kini memiliki hak maupun kewajiban bagi dirinya.

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap Ghina saat menyelesaikan suapan terakhirnya. Bibirnya tersenyum, mensyukuri kenikmatan yang Allah berikan padanya. Namun, matanya tak bisa bebohong. Satu bulir bening dari matanya meluncur.


Renata yang menyaksikan itu hanya menatap iba. Ia juga dengan segera menandaskan kuah soto di mangkuknya.


"Badai pasti berlalu, walau aku sendiri nggak tau kapan," lirih Renata sembari menatap punggung Ghina yang berjalan di depannya. Ia seolah merasakan juga penderitaan yang sahabatnya alami. Ghina jarang sekali menampakkan raut wajah murung dan hari ini gadis itu dengan terang-terangan menunjukkannya. Dan hal yang pasti, karena beratnya beban yang dipikulnya.


Ghina menghentikan langkah saat seseorang berdiri di hadapannya. Tubuhnya bergeser ke kiri, laki-laki itu juga sama, sebaliknya saat Ghina bergeser ke kanan, ikut ke kanan juga.


"Jangan halangin jalan Fath!" kesal Ghina yang di hadiahi senyum menyebalkan oleh Fatih.


"Hai ustadzah Ghina," sapa Riki yang mengekor di belakang Fatih. "Oh ada mak lampir juga, hai." Riki juga melambai pada Renata yang dibalas dengan pelototan.


"Ini jalan umum Na, kamu dong yang harusnya minggir ke sisi," ucap Fatih santai.


"Aku tau. Situ yang bikin gara-gara duluan, awas." Ghina menepiskan tangannya agar tubuh Fatih minggir.


"Hai jauzati," lirih Fatih tepat di telinga Ghina. Namun, gadis itu tak mempedulikan dan tetap berjalan. Saat melewati Riki, laki-laki itu berkali-kali menunduk hormat padanya entah karena apa.


Namun, dari senyuman penuh artinya membuat Ghina menduga-duga bahwa Riki sudah mengetahui perihal hubungannya dengan Fatih.


"Btw, try out kita tinggal satu kali lagi ya?" tanya Renata saat mereka sudah berada di kelas. Ghina mengiyakan.


"Yes, sebentar lagi jalan-jalan huhuy." Renata girang bukan main.


"Jangan seneng dulu, lalui dulu try outnya." Ghina memperingatkan membuat Renata meringis.


"Nggak kerasa, bentar lagi lulus. Kita bentar lagi pisah Na," lirih Renata dengan wajah berubah sendu.


"Kamu bisa aja coba daftar SPAN PTKIN, siapa tau bisa lolos, kita sama-sama kuliah," jelas Ghina walau ia sendiri sudah mendengar bahwa Renata tidak ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.


"Tapi, aku nggak tega tinggalin Ibu sendiri. Kasian, harus jualan terus ngurus ayah di rumah. Kalau Ibu jualan, Ayah nanti butuh sesuatu, nggak ada yang bantuin." Renata berkata dengan nada bimbang. Siapa yang tidak ingin lanjut ke perguruan tinggi? kuliah? mendapat pengalaman dan teman baru? pengetahuan baru? tapi apalah daya, kondisi keluarganya seolah tak mengizinkan ia untuk mencapai itu.


"Aku juga sedih karena kamu nggak bisa kuliah. Tapi, tetep aja namamu nanti daftarin juga, siapa tau Ayahmu sembuh pas kamu mau kuliah."


"Iya daftarin aja, jaga-jaga. Eh tapi, gimana cara daftarnya? ada gitu aku denger jalur-jalur rapot," tanya Renata karena ia belum mengetahui tentang itu sama sekali.


"Ngisi data di PDSS, menurut artikel yang aku baca, nanti sekolah yang ngisi. Kalau data itu udah ada, tinggal pilih kampus yang mau kita masukin, kalau kampus umum lewat jalur SNMPTN kalau kampus keislaman, lewat jalur SPAN PTKIN," balas Ghina seraya menuliskan sesuatu dalam buku diary berwarna pink miliknya.


"Yap betul, kita tunggu aja sampai proses itu selesai. Nanti, kayaknya ada infonya atau aku tanyain ke Pak Arman aja."


"Kamu tau Fatih mau kuliah dimana Na?" tanya Renata. Matanya tak lepas dari melihat target-target yang Ghina buat dalam buku catatan kecilnya.


"Nggak tau."


"Menurutku, harus segera bicarakan. Nanti kalau pisah kampus gimana? jarang ketemu dong." Renata menopang dagu.


"Lagian, aku emang nggak mau sering-sering ngeliat dia. Eneg."


"Awas, nanti rindu loh," goda Renata dengan senyum menyeringai yang membuat Ghina menyentil dahinya dengan pulpen.


"Aw, bener 'kan aku?" Renata mencari pembenaran. "Kalau udah cinta, bisanya nggak mau jauh-jauh."


"Cinta terus yang diomongin. Masalahnya, bukan itu. Susah deh. Visi misi rumah tangga aja aku belum ada Ren." Ghina mendesah.


"Iya kamu dan Fatih bisa rundingkan lah dari sekarang. Sebelum terlambat, jangan bilang visimu adalah cerai sama Fatih?" tanya Renata curiga.


"Ya nggak lah. Allah benci perceraian, tapi gimana ya argh." Ghina menangkup wajahnya sendiri. Sebenarnya ia masih bingung dengan semua ini.


Jam pelajaran terakhir, adalah mata pelajaran yang diampu oleh Pak Arman. Dia adalah guru Merakit Komputer merangkap dengan guru Instalasi Windows.


Hari ini, murid kelas XII TKJ IV mempelajari materi instalasi windows yang sebenarnya sudah mereka kuasai di semester lalu, tapi hari ini di ulang lagi karena nanti akan di ujikan.


Setelah jem pelajaran berakhir, tinggallah Ghina dan Renata yang masih setia berada di Lab Komputer. Mereka masih menunggu Pak Arman membereskan barang-barangnya.


"Pak Arman," panggil Ghina.


"Iya Ghina, ada apa?"

__ADS_1


"Kami mau tanya-tanya seputar pendaftaran kuliah lewat jalur rapot."


Pak Arman terlihat berfikir. "Em, bisa aja sih. Bagus malah, tapi setahu Bapak di sekolah ini nggak terlalu di urus yang kaya gitu."


"Maksudnya Pak?"


"Angkatan terdahulu kalau mau kuliah, mereka lewat jalur mandiri atau tes aja gitu. Jadi, nggak melibatkan sekolah untuk input data-data kalian," balas Pak Arman.


"Tapi, tetep bisa 'kan Pak, kalau kami pengen jalur nilai rapot?" tanya Ghina


"Nggak tau ya Bapak. Soalnya yang ngurusin data kayak gitu biasanya TU."


"Kamu mau kuliah Na?" tanya Pak Arman. Ghina mengangguk mantap.


"Banyak juga temen-temen lain yang mau kuliah. Dan kalau bisa, kami lewat jalur itu Pak."


"Emm bisa kalau di usahakan. Tapi, Bapak tanya dulu ke bagian TU, apakah nanti bisa mengurus atau nggak. Soalnya bukan Bapak yang berwenang."


"Makasih banyak Pak."


"Iya sama-sama. Mau kuliah di kampus umum atau kampus keislaman?"


"Insyaa Allah saya pengen di UIN, cuma ada beberapa temen denger-denger pengen masuk ke ULM Pak."


"Oh bagus itu. Murid-murid SMK angkatan ini pada semangat kuliah ya?"


"Iya Pak, makanya kami pengen banget lewat jalur gratis itu."


"Iya nanti Bapak kasih info lebih lanjut ya. Oh ya, bisa kalian cari tau kapan pendaftaran jalur SPAN PTKIN sama Pak Yogi, beliau biasanya hadir sosialisasi ke UIN."


"Iya Pak, terimakasih infonya."


"Ya sama-sama."


Semua murid SMK Angkasa berhamburan dari sarangnya. Ada yang berjalan bahkan ada yang berlari, seolah tidak sabar untuk segera pulang. Gerbang pun sudah terbuka dari sepuluh menit yang lalu.


"Aku pulang duluan ya," pamit Renata yang sudah menaiki kendaraannya. Mereka kini berada di pinggir jalan.


"Ya hati-hati."


"Minta Fatih anterin kamu Na," saran Renata dan menoleh ke arah toko ATK milik Fatih. Di sana ada Riki dan pegawai Fatih juga.


"Nggak mau, aku naik angkot aja."


"Yaya terserah kamu ajalah. Penting, sampe rumah aman. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Ghina berjongkok di tepi jalan. Ia celingukan sendiri. Entah mengapa, angkot hari ini begitu lambat.


"Naik," titah seseorang yang menepikan sepeda motornya.


"Naik angkot aja."


"Cepetan, keburu ada yang ngeliat," ucap Fatih.


"Nggak."


"Aku nggak mau ya, jadi suami yang menelantarkan istri. Cepet naik, atau mau aku gendong ke motor?" goda Fatih yang membuat Ghina segera berdiri.


"Aku tau kamu nggak mungkin berani," tantang Ghina dengan tangan yang menyilang di depan dada.


"Yakin nih? beneran nih?" tanya Fatih. Lalu ia turun dari sepeda motornya. Dengan gerakan cepat, ia memegang bahu Ghina dan hendak memposisikan gadis itu untuk di gendong.


"Heh, lepasin!" Ghina memberontak. Membuat Fatih menghentikan tingkahnya.


Dari kejauhan Riki dan juga Alim terlihat cekikikan. Dan itu, membuat Ghina tidak nyaman.

__ADS_1


Duh, gimana tuh si Ghina, nggak tau visi misi nikah. Bingung. Author juga ikut bingung. 🤭


Jangan lupa like, komen, vote dan krisannya yaa


__ADS_2