Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Tidak Sekamar


__ADS_3

Matahari mulai menyembul dari balik awan. Seorang perempuan yang berstatus istri itu terlihat sibuk menggoreng nasi di wajan. Sesekali ia mengelap keringat di dahinya.


Gemericik air di kamar mandi mengiringinya. Ia sesekali menengok ke kamar mandi, khawatir Fatih keluar dengan keadaan yang membuat matanya kotor. Sebelum itu terjadi, ia harus segera menuntaskan acara masaknya.


Namun, belum selesai aktivitasnya. Fatih sudah keluar dengan hanya memakai handuk yang hanya menutupi auratnya sebagai laki-laki. Dengan jelas Memperlihatkan dada bidangnya. Ghina yang sedari tadi memainkan mata antara wajan dan kamar mandi refleks menjatuhkan spatula saat melihat Fatih yang keluar dari sana.


Fatih mendongak dengan rambut yang basah.


"Pakai baju di dalam kamar mandi aja!" teriak Ghina sambil melempar lap yang biasa digunakan untuk mengangkat wajan.


"Aduh Na!" Fatih menggeram kesal, namun saat menyadari tingkah Ghina, ia tersenyum.


"Haha, sorry. Kamu malu ngeliat aku kaya gini?" godanya.


"Kamu seharusnya yang malu Fath." Ghina membuang muka, lalu tubuhnya bergeser ke arah wastafel, mencuci bersih spatula yang terjatuh tadi.


Fatih kembali ke kamar mandi, mencuci wajah tampannya yang terkena lap. Lalu kembali keluar dan kembali tersenyum melihat Ghina yang pura-pura tidak peduli.


Setelah nasi goreng dirasa matang. Ghina memindahnya ke piring. Dibaginya menjadi dua porsi untuknya dan siapa lagi kalau bukan Fatih.


Laki-laki itu tampak memainkan ponsel di ruang tamu sambil duduk bersila. Gorden yang menjadi pembatas antara kamarnya dan ruang tamu itu tertutup rapi.


"Jadi, kamu jalan kaki aja?" tanya Ghina sambil menyodorkan satu piring nasi goreng ke arah Fatih.


"Hm." Fatih mengangguk, lantas menaruh ponselnya di teras. "Ya masih nunggu Kakak kamu ke sini, nanti mau sekalian ikut pulang, ambil motorku."


Ghina manggut-manggut. "Siang nanti dia ke sini."


"Berarti setelah pulang dari kampus, aku harus ngepak kasurku."


"Iya." Ghina mengiyakan, "ingat, cuma sementara."


Setelah sarapan usai, Fatih bersiap-siap menuju kampus yang jaraknya hanya cukup menempuh lima belas menit berjalan kaki. Ghina memilih menyibukkan diri di dapur, mencuci dan membereskan alat-alat masak.


Bahunya di ketuk pelan, membuatnya mendadak kesal, "jangan pake sentuh-sentuh segala, panggil nama aja."


Fatih meringis, ia membenarkan rambutnya. Ghina mengangkat alis, "ada apa sih? kenapa belum berangkat juga?"


Fatih menyodorkan telapak tangannya di wajah Ghina. "Maksudnya apa coba?" Ghina kembali fokus mencuci.


"Ya cium tangan lah. Suami mau pergi, doakan kek," ucap Fatih.

__ADS_1


"Ogah cium tangan."


"Ya udah aku cium pipi kamu aja ya?" Fatih mencakup kedua pipi Ghina yang tiba-tiba saja memerah.


"Jangan Fath!" kesalnya sembari menepis tangan Fatih dengan keras.


"Haha, bercanda. Aku berangkat dulu ya. Tapi, ada sesuatu yang berat di kakiku."


Ghina menatap kaki telanjang Fatih, alisnya kembali bertaut, "kamu keseleo?" tanyanya.


"Nggak, cuma berat aja ninggalin istri sendirian di kosan."


"Pergi nggak?!" todong Ghina sembari mengacungkan spatula yang baru di cucinya.


"Yaya, assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Acara Ghina hari ini adalah bersih-bersih rumah, ia menata semua barang-barang yang masih berantakan, termasuk di kamarnya. Ia kembali ke luar kamar, melihat ruang tamu yang di sulap Fatih menjadi kamar pribadi. Suaminya itu ternyata kreatif sekali. Ghina tersenyum sendiri, suatu yang keren sebenarnya, laki-laki itu mampu menyewa kos seharga enam ratus ribu per bulan.


Ghina menyibak tirai yang menutupi tempat tidur sang suami. Ia melihat kasur itu masihlah berantakan, mungkin Fatih tidak sempat membereskannya tadi. Ghina melipat selimut, merapikan bantal dan guling pada posisinya.


Saat ia tiduran di kasur Fatih. Seseorang mengetuk pintu, tanpa salam. Hingga membuatnya waspada sendiri. Dari balik jendela, ia mengintip untuk melihat siapa yang datang.


"Fatih, assalamualaikum!"


Oh ternyata suara ini, Sella. Tahu dari mana perempuan itu kosan dirinya dan sang suami?


"Wa'alaikumussalam, Sella, gimana kamu bisa tau kosan kami di sini?" tanya Ghina setelah membuka pintu hanya sedikit. Ia tidak akan membiarkan Sella melihat ada kamar lain di ruang tamu.


"Mana Fatih?" tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Ghina.


"Dia nggak ada."


"Kemana?"


"Kampus, ada technical meeting. Kamu kapan Sel?"


"Oh gitu. Aku pengen liat ke dalam." Lagi-lagi Sella tak menjawab pertanyaan Ghina membuat si empunya kesal.


"Dari tadi aku tanyain kamu nggak pernah jawab Sel, kamu kenapa sih?" tanya Ghina.

__ADS_1


Sella menatap Ghina sinis. "Masih tanya kenapa? nggak sadar apa kesalahanmu?"


"Apa emang? mana ku tahu. Bukannya kita dulu udah baikkan waktu ada masalah di BK?"


Sella tertawa pelan. "Iya, tapi sekarang, aku mau ajak kamu perang lagi. Walau sekarang udah nggak ada temen-temen aku. Aku bak berani ngadepin kamu."


"Bentar-bentar, perang?" ulang Ghina. "Untuk apa Sel, aku nggak suka punya musuh."


"Kita akan lihat, sampai berapa lama kamu bertahan di sisi Fatih."


"Kamu, masih menyukai Fatih?" tebak Ghina. "Dia, udah menikah Sell."


"Iya aku tau. Dan yang aku nggak suka, dia menikah sama kamu Na. Sampai kapan pun, aku nggak akan suka," tandas Sella. Ia mendorong tubuh Ghina ke samping agar ada celah baginya masuk ke dalam kosan.


"Sell, kamu nggak sopan banget sih. Belum aku izinin masuk juga," kesal Ghina karena Sella menerobos begitu saja ke dalam.


"Oh, gini ya keadaannya?" Sella menganggukkan kepala, mengusap dagu, lalu memindai sekeliling. Tepat di ruang tamu. Matanya menelisik penasaran sebuah tirai berwarna hijau.


"Aduh, miris juga sih kosannya. Kasian Fatih, gara-gara nikah sama kamu, harus nyewa kosan seadanya gini," decak Sella tanpa melihat raut wajah Ghina yang geram. Seenaknya saja Sella menghina rumah tangganya. Ya, secara langsung perempuan itu mengatakan, bahwa Fatih melarat akibat menikah dengan Ghina.


"Ini apa?" tanyanya menyentuh tirai, lalu menyibaknya cepat.


"Sella!" pekik Ghina, ia berusaha menarik lengan Ghina.


"Oh, ini kasur? siapa yang tidur di ruang tamu begini, kalian?" tanyanya tak percaya.


"Jangan bilang kalian?" Sella menggantung ucapannya. Ghina yang melihat gelagat Sella mengetahui sesuatu, segera memasang badan agar perempuan itu tidak beralih melihat ruangan lain.


Dan sesuai tebakan Ghina, Sella dengan gerakan cepat berlarian menuju kamarnya berada.


Perempuan itu berdiri di ambang pintu. Melihat tulisan yang tertera di pintu kamar. Oh, kamar Ghina kah?


Ia membukanya cepat dan terkejut karena memang di sana hanya ada satu ranjang. Di luar ada satu juga? berarti Ghina dan Fatih, tidur terpisah tebaknya.


Sella berteriak girang. "Oh, jadi kalian nggak sekamar?" selidiknya dengan senyuman puas.


Ghina mematung di tempat, ketahuan sudah rahasia rumah tangganya oleh temannya yang tidak tahu malu itu.


Yuhuuuu, otor balik lagi nih...


Eh kok Sella berani banget sih sekarang? hahaha, kasian sih ditinggal nikah sama Fatih

__ADS_1


Yang suka ceritanya, jan lupa like, komen, vote


__ADS_2