Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Ingin Sendiri


__ADS_3

Fatih menghentikan sepeda motor tepat di depan sebuah kontrakan yang halamannya terlihat asri walau bangunannya tidak begitu besar.


"Apa dia tinggal sendiri di sini?" tanya Fatih heran, merasa tidak mungkin jika Sella hanya tinggal seorang diri. Apa gadis itu tidak merasa takut terjadi sesuatu nantinya.


"Fatih!" pekik seseorang dengan girang.


"Assalamualaikum Sel."


"Wa'alaikumussalam. Kirain nggak bakal datang, beneran kamu nggak sibuk 'kan?" tanya Sella basa-basi, ia merentangkan tangannya, mempersilakan laki-laki dengan pakaian casual yang terlihat keren itu untuk masuk ke dalam kontrakannya.


Fatih menggeleng, ia tersenyum. "Aku lagi nggak sibuk, sekaligus penasaran juga gimana kosanmu."


Sella ikut tersenyum, "Em, kamu bilang ke Ghina mau ke kos ku?" tanyanya.


Fatih mengangguk. Ia berjalan menghampiri sebuah lemari baju yang masih tergeletak di teras kontrakan. "Ini ya lemarinya?" tanya Fatih.


"Iya Fath. Maaf ya merepotkan, kemarin supir yang ngantar aku buru-buru banget, jadinya nggak sempat bantu masukin lemarinya ke dalam."


Fatih manggut-manggut. "Yuk, kamu bantu di sebelah sana Sel." Tunjuk Fatih pada bagian depan. "Ini kayunya ringan kok."


"Oke Fath."


Mereka berdua membopong lemari yang terbuat dari kayu itu hingga ke kamar Sella.


"Kamu tinggal sendiri aja di sini Sel?" tanya Fatih, begitu lemari itu sudah berdiri tegak di ujung kamar. Sella mengusap peluh, mengangguk.


"Nggak, ada temenku dua orang. Tapi, karena belum masuk kuliah, mereka masih enak-enakkan di kampung."


"Melani nggak masuk UIN kah?" tanya Fatih.


"Awalnya mau. Tapi, katanya dia lebih milih passionnya. Orangnya suka nulis, jadi kuliah sastra di ULM."


"Oh. Ada lagi yang bisa ku bantu?" tanya Fatih sembari menepuk-nepuk tangannya.


"Eh iya, aku hampir lupa." Sella menepuk jidatnya sendiri. "Bantu aku geser ranjang ke deket jendela. Aku lebih suka di sana dari pada di ujung sini."


"Ilham sudah pernah kesini?" tanya Fatih sembari tangannya bergerak menggeser ranjang berukuran hanya untuk satu orang itu.


"Pernah, sekali aja. Dia mah cuma liat kondisi sekitar, aman apa nggak, setelahnya ya pulang gitu aja."


Jemari jempol Sella teracung ke atas tanpa Fatih sadari. Kakinya melangkah mendekat ke arah Fatih, lalu ia pura-pura oleng dan alhasil, tangannya menarik Fatih untuk jatuh ke atas ranjang.


Cekrek


Tanpa Fatih sadari, momen dirinya dan Sella yang terjatuh dalam posisi menindih telah diabadikan.


"Eh, maaf Fath aku nggak sengaja." Sella pura-pura kikuk.


Fatih dengan segera bangkit dari posisi tidak pantas itu, ia berdehem sejenak. "Kamu nggak papa Sel?" tanyanya.


"Aku nggak papa." Sella salah tingkah sendiri, namun bibirnya menampilkan senyuman.


Fatih menggaruk leher, lalu menoleh ke sembarang arah, hingga matanya terpaku ke ruangan yang bisa di pastikan itu adalah kamar mandi.


"Aku numpang ke kamar mandimu ya Sel," ucapnya.


Mata Sella membola, ia segera menahan langkah Fatih. "Tunggu Fath, kamar mandi itu lagi dalam proses perbaikan."


"Duh, Sella, mampus kamu." Sella membatin sendiri, menatap khawatir ke arah kamar mandi.


Fatih tersenyum. "Oh gitu, di luar ada 'kan?"


Sella mengangguk cepat. "Ada, yuk aku tunjukin."


Setelah menunaikan hajatnya, Fatih ingin segera berpamitan, ia tiba-tiba merasa khawatir dengan istrinya yang berada di rumah sendirian.


"Sel, udah nggak ada yang perlu ku bantu lagi 'kan? aku harus pulang soalnya."


Sella menahan lengan Fatih. "Bentar dulu Fath, setidaknya aku harus menjamu kamu dulu, juga sebagai ucapan terimakasih, aku buatin minuman dulu ya."


Fatih tersenyum, menolak secara halus. "Lain kali, pas di kampus juga bisa."


"Fath, tolong ya, sebentar aja," pinta Sella dengan tatapan memohon.


Fatih menghela nafas, "iya."


Sella tersenyum senang, matanya melirik sebentar ke arah kamarnya sebelum ia pergi ke dapur untuk membuatkan Fatih minuman.

__ADS_1


"Gila kamu Sel!" Melani menggelengkan kepala. Sedangkan Fitri bertepuk tangan ria.


Setelah kepergian Fatih, dua orang yang sedari tadi merasa pengap karena harus bersembunyi di kamar mandi, akhirnya keluar juga.


Tawa Sella membahana. "Lagian Ghina juga yang nantangin aku."


"Tapi 'kan Sel, ini bukan perkara hubungan pacaran antara dua orang. Tapi, ini serius, suami istri loh." Sedari tadi Melani masih merasa tindakan Sella benar-benar keterlaluan tapi mau tak mau ia juga turut andil mensukseskannya.


"Kalau nggak setuju ide aku, kenapa bantuin huh?" kesal Sella.


"Iya nih Melani, dasar sok. Udahlah, kamu itu nyimak dan bantu aja. Temen kita ini, sedang memperjuangkan cintanya." Fitri menimpali, sambil menepuk-nepuk bahu Sella.


Melani angkat tangan, lelah menasehati kedua temannya. "Kalau terjadi apa-apa sama hubungan mereka, aku nggak tau. Itu, tanggung jawab kalian."


"Karena itu tujuannya Melani, menghancurkan hubungan Ghina dan Fatih, dengan gitu 'kan Sella bisa maju," ucap Fitri jengah.


Sella manggut-manggut, ia masih memandangi ponselnya yang kini sudah berisi adegan dirinya yang ditindih oleh Fatih. "Nice," komentarnya.


Di tempat lain, Ghina memutuskan untuk pergi belanja ke minimarket terdekat dengan berjalan kaki. Setelah membeli keperluannya, ia langsung kembali ke kos. Namun, saat melewati kontrakan yang jaraknya hanya beberapa meter dari kontrakan miliknya, ada sesuatu yang aneh.


Seorang pria, terlihat keluar dari dalam dengan rambut acak-acakkan. Matanya yang sayu, melihat Ghina dengan tatapan yang entah.


Ghina terus saja melanjutkan perjalanan, namun suatu teriakan menghentikan langkahnya. "Hei."


Ghina tak mau menoleh. Ia mempercepat langkah, walau tidak berlari. Namun, siapa sangka, tangannya di tarik dari belakang.


"Lepasin, kamu siapa?!" geram Ghina sembari berusaha melepaskan cengkraman tangan pria yang sepertinya seumuran dengan Kakaknya.


Senyum menyeringai yang di tampakkan pria itu, seketika membuat tubuh Ghina bergetar. Matanya celingukan, ingin mencari pertolongan, namun sepertinya mustahil, daerah tempatnya menyewa kos memang cukup sepi. Bahkan jalanannya hanya berupa jalan setapak, tidak bisa di lewati mobil sama sekali.


Pria itu terus menarik lengan Ghina dengan kuat. Ghina semakin panik, ia kembali teringat perkataan Fatih, untuk berhati-hati ketika sedang berjalan di sekitar kos atau berada sendirian di kos, harus mengunci pintu rapat-rapat.


"Tolong!" pekik Ghina lantang. Ia berusaha menendang pria yang menakutkan itu. Apalagi, pakaiannya hanya sebatas kaos dalam, dan celananya sebatas lutut. Matanya kini memerah, terlihat sekali, tampaknya pria itu tengah dalam kondisi kehilangan akal sehat.


"Ya Allah, tolong aku dari pria ini," racaunya dalam hati. Ia berusaha melakukan perlawanan dengan menendang dan menepis, namun tenaganya tidak cukup kuat.


Tubuh Ghina terus di tarik hingga hampir masuk ke dalam kontrakan pria itu. Tubuh Ghina semakin bergetar, sudut matanya mulai berair. Ia ketakutan, peristiwa yang membuatnya membenci sang Ayah, terus berkelebat. Pria yang ketika usianya masih kecil, selalu menyiksa sang Ibu. Menarik tangan, menampar, lalu mengikat Ibunya.


Dan kini, semuanya seperti terulang, terjadi pada dirinya. "Ibu..." tangisnya pecah.


"Tolong!"


Ia merengsek maju, mengepalkan tangan, lalu melayangkannya pada wajah si pria mesum yang berusaha menarik Ghina ke dalam rumahnya. "Jangan sentuh dia!"


Ghina memeluk lututnya sendiri, pipinya basah, dan ia bahkan takut untuk melihat siapa yang menolongnya.


Pria mesum itu meracau tak jelas. Ara berdirinya pun oleng. Laki-laki yang menolong Ghina sudah bisa memastikan bahwa pria di hadapannya ini mabuk. Sekali lagi, ia melayangkan tinju, lalu menendang perutnya.


"Argh..." erang si pria mesum.


"Sekali lagi kamu menyentuhnya, maka, wajah ini aku pastikan nggak akan kamu banggakan seumur hidup," ancamnya.


"Hahaha. Masa bodo, kamu siapa?" pria mesum itu justru menunjuk-nunjuk wajah laki-laki yang menurutnya mengganggu aksinya.


Sekali lagi, leher pria mesum itu harus patah karena yang menolong Ghina memukulkan tangannya dengan keras ke sana. Dan, pria itu langsung pingsan di tempat.


"Ghina," panggilnya.


"Pergi!" teriak Ghina ketakutan, tak berani menatap seseorang yang barusan menolongnya.


"Ini aku, Ilham."


Mendengar nama itu, Ghina mendongak dengan mata yang sudah sembab. "Ilham."


"Iya ini aku Na, penjahat itu udah pingsan, nanti aku laporin dia ke pihak yang berwajib di daerah ini. Kamu aman sekarang."


Ghina menggeleng. "Aku takut."


"Aku di sini Na." Ilham menatap iba pada wanita yang meringkuk di depannya. Namun, mengingat tujuan awalnya berkunjung ke sini, amarahnya kembali meletup. Tapi, melihat keadaan Ghina yang seperti ini, ia mengurungkan diri untuk mencari suaminya.


"Ayo, balik ke kos."


Ghina akhirnya mengangguk saja, ia membuntuti Ilham dari belakang dengan mulut yang masih sesegukkan.


"Kamu nggak papa di sini dulu?" tanya Ilham begitu sampai di depan kosan Ghina. "Aku mau lapor ke warga atas kejadian tadi."


Ghina mengangguk. "Aku nggak papa."

__ADS_1


"Nanti aku balik lagi."


Setelah selesai dengan urusannya, Ilham kembali ke kos Ghina. Pintu bangunan itu masih terbuka, terdengar suara seseorang menangis. Ia segera berlari ke dalam.


"Ghina, kamu nggak papa?" tanya Ilham khawatir melihat keadaan Ghina yang tidak biasanya. Terlihat begitu lemah dan ketakutan.


"Aku nggak papa Ham," balas Ghina.


Ilham bingung harus melakukan apa. Memeluk pun tidak mungkin. Ia melihat keluar, belum ada tanda-tand Fatih kembali. Tangannya menyapu saku celana, mengambil ponsel di sana.


"Ada sesuatu yang terjadi kepada istrimu," ucap Ilham dingin setelah mendapat sahutan dari sana. Tak lama, ia mematikan telepon begitu saja dengan tangannya yang terkepal. Sudah ia duga, Ghina tidak bahagia dengan pernikahan konyol yang dijalaninya.


"Tenang Na, aku akan selalu di samping kamu. Apapun yang terjadi. Jangan harapkan laki-laki nggak bertanggungjawab itu," lirih Ilham.


Ilham berjalan ke dapur, mengambil gelas dan mengisinya dengan air minum.


"Minum dulu Na."


Ghina hanya mengamati gelas berisi air dengan tatapan kosong. Membuat Ilham bertambah geram, ia menyalahkan suami Ghina atas semua yang terjadi. "Kemana si tengil itu?" batinnya.


Terdengar suara salam, lalu muncullah wajah yang terlihat kaget melihat Ghina dan Ilham berduaan di dalam kos. Entah mengapa, kali ini melihat istri dan pria lain berduaan, Fatih merasa sangat cemburu. Dadanya meletup begitu saja. Tapi, ia tahan untuk marah-marah. Apalagi, ternyata sang istri tampak tidak baik-baik saja.


Ilham yang melihat Fatih, langsung beranjak dari duduknya. Matanya berkat marah. Tangannya tidak tahan lagi untuk tidak meninju wajah pria yang sudah tega menelantarkan istrinya.


"Kamu kenapa Ham?!" tanya Fatih geram, seraya menyeka sudut bibirnya yang berdarah.


Ghina yang melihat itu terkejut, "Ilham!"


"Biarin Na, aku harus beri pelajaran ke dia."


Ilham sekali lagi hendak melayangkan bogeman mentahnya, namun kali ini Fatih mampu menangkis. "Jangan jadi pecundang, kamu marah untuk suatu hal yang kamu nggak berhak untuk itu," tandas Fatih dingin.


"Bajingan, apa yang kamu lakukan diluar sana huh?!" tanya Ilham dingin.


"Seharusnya aku yang tanya, apa yang kamu lakukan dengan istriku huh?! berudua, di sini?!" tanya Fatih dengan matanya yang memerah.


"Fatih, Ilham, cukup!" Ghina mencoba menghentikan, air matanya mengucur.


"Brengsek! kamu malah enak-enakkan sama perempuan lain, sedangkan istrimu di sini. Liat keadaannya!" tunjuk Ilham.


Fatih menatap ke arah Ghina. Air mata wanita itu sudah merembes ke mana-man. Fatih melunak, ia ingin tahu apa yang terjadi.


"Na, kamu kenapa?" Fatih berjalan mendekat, namun Ilham menghalangi dengan tubuhnya.


"Setelah ini, jauhi Ghina. Tinggalkan dia, dari pada kamu bersamanya, tapi menyakitinya."


"Apa maksudmu Ham?"


"Kamu liat!" Ilham menunjukkan gambar di ponselnya. Fatih seketika teringat kejadian beberapa waktu lalu di kosan Sella.


"Denger, itu nggak seperti--"


"Bajingan! cukup sudah bualanmu!" teriam Ilham garang, kontrol emosinya seolah menghilang. Ingin sekali ia melenyapkan Fatih.


"Brengsek, itu nggak seperti yang kamu pikirkan." Fatih ikut tersulut emosi, tidak terima dengan tuduhan yang menyudutkannya.


"Na, percyalah, aku nggak mengkhianati kamu," ucap Fatih lunak, kepada sang istri.


Ghina yang tak mengerti, hanya mengernyit bingung. "Gambar apa yang kalian liat." Ia merebut ponsel dari tangan Ilham. Dan, matanya hanya terpaku pada gambar itu.


Kini, netranya beralih menatap pada sang suami yang juga menatapnya. Entah, hatinya menyuruh untuk mempercayai, tapi pikirannya justru berkelebat, menampilkan beberapa kemungkinan. Fatih, bisa saja selama ini memang tidak mencintainya. Laki-laki itu, hanya menunggu waktu untuk menceraikannya. Tidak peduli semanis apa ucapannya, yang jelas seorang wanita seperti dirinya, tidak akan mengerti apa yang sebenarnya di pikiran orang seperti Fatih.


Buktinya, di saat ia membutuhkan pertolongan, dalam kesendirian dan ketakutan, justru laki-laki lain yang hadir untuknya. Dimana Fatih?


"Ham, antarkan aku ke kosan temenku," lirih Ghina, membuang pandangan. Hatinya, terlanjur sakit. Ia tidak butuh siapapun saat ini, semua kejadian yang dihadapinya, terlalu tiba-tiba. Dirinya ingin menyelesaikan tanpa bantuan orang lain.


"Na, kamu mau kemana? aku nggak izinin kamu pergi dari sini." Fatih menahan lengan Ghina, bahkan cekalannya membuat wanita itu meringis.


"Lepas Fath. Aku ingin sendiri."


"Lepaskan dia." Ilham turut menginterupsi. "Biarkan dia sendiri. Nanti, kita akan selesaikan urusan ini berdua."


"Kalau kamu pergi, maka akan jatuh talakku," ancam Fatih. Namun, Ghina tak menggubrisnya.


Wah wah...


Jatuh tuh talak untuk Ghina karena nggak dengerin omongan Fatih. Duh, gimana dong?

__ADS_1


Alhamdulillah, otor bisa up lagi, yuk share ceritanya ke temen-temsn kalian😘 makasih


__ADS_2