
Setitik bulir bening itu jatuh ke pipi. Mengalirkan desak ngilu di dadanya. Segampang itu, mulut sang suami berucap talak. Walau, awalnya ia berfikir akan dengan cepat lambat untuk berpisah dengan Fatih, tapi ketika apa yang ia pikirkan terjadi, entah mengapa ia tak siap.
Bagaimana pun, apa yang telah ia dan Fatih lewati, perlahan membekas dalam sanubari, menyisakan rasa sehalus sutera, sebening air di telaga, senyaman orang yang menjalankannya, cinta mungkin.
Tak ia dengar lagi pangilan dari Fatih. Entah apa yang dilakukan pria itu, kepalanya enggan berbalik walau ingin, langkahnya terlanjur menjauh. Ghina, menyeka air mata, berjalan menyusuri waktu yang terasa melambat.
"Aku pesankan ojek ya?" tawar Ilham. Ghina mengangguk, karena tidak mungkin juga ia berboncengan berdua dengan Ilham. Sebagai istri, ia masih bisa menjaga diri. Walau, status tersebut mungkin sudah tidak melekat lagi.
"Na, kamu nggak papa?" tanya Ilham menatap gadis di sampingnya m.
"Kenapa Fatih, seperti menuduhku?" tanya Ghina, membuat Ilham tertegun sesaat.
"Bukankah yang harusnya kamu pikirin adalah, kenapa Fatih setega itu bermain di belakang mu Na? kamu dari dulu udah tau 'kan gimana kelakuan dia? banyak cewek yang suka deket-deket sama dia. Laki-laki mana yang melepaskan begitu aja kesempatan itu?"
Ghina menatap Ilham. "Seburuk itu pikiran laki-laki Ham?"
"Iya Na. Kalau jujur, nggak cukup hanya satu perempuan, kecuali dia setia dan takut kepada Allah."
Ghina terdiam, dadanya sesak mendengar penuturan Ilham. Jika begitu, benar saja, banyak wanita yang menggandrungi suaminya di luar sana. Dan Fatih, sebagai laki-laki normal, tentu tidak akan menolak jika di suguhkan sesuatu yang memikat itu. Apalagi, ia sebagai istri belum memenuhi kewajibannya.
Akhirnya, setelah menempuh lima belas menit perjalanan, Ghina sampai di sebuah kompleks perumahan kota yang sederhana. Rumah-rumah yang ada, hampir mirip semua dari segi dekorasi.
"Mira, aku ada di depan rumahmu."
Mira, temannya Ghina yang sudah dichat terlebih dahulu oleh Ghina bahwa dirinya akan datang itu, langsung membuka gerbang. Tersenyum hangat menyambut kedatangan teman kuliahnya.
"Ayo masuk Na. Aduh, kamu kehujanan ya? cepet, nanti dingin." Mira segera mengambil tangan Ghina ke dalam rumah. Ia menatap iba kepada Ghina yang pucat.
"Mending kamu mandi Na, dari pada nanti badanmu sakit, biasanya kalau aku kehujanan sih gitu."
"Aku jadi ngerepotkan, maaf ya Mir."
"Ya Allah, santai aja kali. Nah, pakai handukku. Aku juga punya stok dalaman baru, belum di pakai, jadi pakai juga, untuk baju, silakan pilih yang kamu suka."
"Kamu nggak tanya aku kenapa?"
"Justru itu, kamu bela-belain kehujanan ke rumahku, karena mau cerita 'kan?"
Ghina tersenyum hambar, lalu menerima handuk dan segala macam dalaman wanita dari Mira. Ia juga diajak melihat koleksi pakaian Mira dan memilih yang pas untuknya.
"Kamu emang selalu sedian stok gini ya?"
"Kalau dalaman iya, kalau nanti ada hal-hal yang nggak terduga, ya seperti keadaan kamu gini. Dalaman laki-laki juga ada loh hihi." Mira menutup mulutnya sendiri, merasa geli menyebutkannya.
Ghina ikut tertawa, entah mengapa, melihat kelakuan Mira selalu mengingatkannya pada Renata.
Mira dengan cekatan membawa segelas air teh dingin serta dua bungkus snack, ia meletakkan di atas nakas.
"Makan cemilan dulu," ucapnya dan ikut duduk di sisi ranjangnya.
"Wajahmu kayanya emang sulit di ajakin bohong ya Na? keliatan banget kalau punya masalah."
Ghina tertawa ketir, semudah itukah orang lain membaca dirinya. Pantas saja Fatih langsung dapat menebak jika dirinya menyukai Ilham sewaktu masih sekolah.
"Aku nggak tau sepelik apa permasalahan kamu, tapi sebagai temen, aku sangat, sangat, siap mendengarkan. Walau, ya aku bukan pemberi solusi hehe." Mira membuka satu bungkus snack, menyodorkan pada Ghina yang dibalas anggukkan.
"Aku kabur dari kos."
"Beneran? ada apa?"
"Mungkin salah paham."
"Kenapa bisa?"
__ADS_1
"Dia tidur di tempat perempuan lain. Dan, dia kayaknya juga mencurigai aku sama cowok lain Mir. Aku tadi terlanjur marah sama dia, sampai-sampai aku bilang mau ke rumah temen aja. Terus, dia bilang ... hiks."
Ghina tak kuat lagi menahan sesuatu yang terasa sesak di dadanya. Membuat Mira menatapnya iba. Tangannya menepuk-nepuk pundak Ghina.
"Dia bilang, kalau aku pergi maka jatuhlah talak... aku udah di cerai Mir hiks."
"Innalillahi." Mata belo Mira membulat, tangannya menutup mulutnya sendiri. Ternyata masalah yang dihadapi Ghina tidak main-main.
"Gimana bisa suami kamu semudah itu..."
"Salahku juga yang tetap pergi. Aku, menyesal. Selama perjalanan menuju ke rumahmu, aku berfikir, betapa egoisnya aku Mir. Padahal aku hanya takut, kehilangan, terluka dan ditinggalkan."
"Ghina..." lirih Mira yang wajahnya ikut sedih. Sudut matanya bahkan berair.
"Kenapa kamu nggak coba bicarakan baik-baik, telpon dia."
"Aku takut, ternyata dia memang menginginkan wanita lain Mir. Buktinya, dia nggak nahan aku tadi. Dan, cara dia menatapku, seolah menyalahkan aku. Dia nggak percaya, bahwa aku bisa jaga diri di belakangnya."
"Sabar Na, mungkin ini awal dari ujian di pernikahan kalian. Menguji apakah kalian akan tetap bertahan atau memilih hidup masing-masing. Setahuku, gitu."
"Tapi, aku sempat kepikiran mau pisah sama dia Mir."
"Astaghfirullah Na, beneran, kenapa?"
Ghina menatap Mira, "maaf aku terlalu banyak cerita. Tapi, karena aku percaya, kamu bisa jaga."
Mira mengangguk semangat, wajahnya serius. "Kami terpaksa nikah sewaktu masih sekolah."
Mengalirlah cerita dari awal hingga menikah dari hubungan antara Fatih dan Ghina. Mira yang baru saja mengetahui fakta itu terkejut, heran, sampai merasa kasihan.
Di tempat lain, seorang laki-laki mengacak rambutnya, entah mengapa hatinya hari ini benar-benar kesal melihat Ghina dan Ilham berduaan di kos. Belum lagi, peristiwa barusan yang menunjukkan betapa istrinya lebih memilih pria lain dari pada dirinya, bahkan rela ia talak hanya demi seseorang yang bukan siapa-siapa itu.
"Apa selama ini dia belum mencintaiku?" gumam Fatih, sudut matanya berair.
Ponselnya berdering, membuat Fatih kembali sadar dari lamunannya, lalu melihat rekan kerjanya menelpon.
"Iya Mas Bram, ada apa?"
"Aku nggak bisa ke cafe hari ini, kamu bisa 'kan ke sana? soalnya, Sandra juga katanya ada acara. Hari ini, nanti kurir yang mengantar meja tambahan akan datang."
"Iya Mas, tenang aja. Aku segera ke sana."
Rintik hujan yang mengguyur bumi, membuat Fatih semakin melajukan kendaraan. Ia kembali teringat Ghina, sedang apa istrinya di sana?
"Aku pasti nemuin kamu Na. Silakan kamu habiskan waktu buat nenangin diri," batinnya.
Suasana cafe terlihat sepi, hanya ada dua meja yang diisi oleh pasangan kekasih. Lalu, saat hujan mulai deras, dua pasangan itu justru keluar setelah membayar ke kasir. Terlihat, dua pria yang masing-masing menggandeng cewek itu, berusaha jadi pahlawan kesiangan untuk kekasihnya, dengan memberikan jaket sebagai payung mereka.
Dua jam Fatih habiskan untuk mengecek pengeluaran cafe, hingga karyawannya satu persatu mulai izin pulang karena memang sudah waktunya.
Saat ia sudah selesai dengan pekerjaannya. Pikirannya kembali mengingat kejadian beberapa jam lalu. Ia memijat kepala, rasa sesal menyeruak di dada. Mempertanyakan, mengapa lidahnya begitu mudah mengatakan kalimat yang jelas-jelas di benci Allah. Lalu, apakah kini statusnya telah terlepas sebagai seorang suami?
"Fath, kamu masih di sini ternyata." Sandra masuk ke dalam ruangan. Fatih mendongak, tersenyum samar.
"Ada apa Dra?"
"Aku denger dari Bram, kamu jaga hari ini, gantiin dia. Jadinya sekalian aku ke sini, habis ada urusan jadi capek banget."
Wanita dengan gaya rambut yang kini di potong sebahu itu mendudukkan diri di samping Fatih. "Lelah juga ya, banyak jalanin bisnis. Menurutmu gimana Fath?"
"Lumayan, asal kita bisa menyeimbangkan antara waktu kerja dan istirahat, menurutku malah seru."
__ADS_1
"Kamu bener-bener laki-laki yang bekerja keras. Sesuai dengan tipe aku." Mata Sandra menatap ke arah Fatih yang sudah menutup laptopnya.
Di tatap sedalam itu oleh Sandra, Fatih jelas risih. Hanya demi menghargai wanita itu, ia hanya tersenyum.
"Fath, kamu banyak urusan ya setelah ini?"
"Lumayan. Ada apa emangnya?"
"Nggak papa sih. Cuma, pengen ada temen ngobrol aja. Bentar, bisa luangin waktu nggak? aku pengen bikin kopi dulu, sekalian bikinin buat kamu."
Fatih menggeleng. "Aku lagi nggak pengen ngopi, lagian ini udah sore. Ghina nungguin di rumah."
"Aku denger dari mas Bram, dia istrimu? beneran?"
"Iya Dra. Kemarin, aku lupa ngasih tau kalau dia istriku."
"Aku kira adikmu."
"Kamu cinta sama dia Fath?"
"Itu privasi Dra." Fatih tidak suka di ungkit perihal perasaannya.
Sandra tersenyum. "Salah jika kamu nggak berani bilang di depan orang lain bahwa kamu cinta. Itu tandanya, salah satu dari kalian ada yang memang hanya memendam rasa. Sedang yang lainnya, melihat ke arah yang lain. Bener 'kan aku?"
"Mungkin." Fatih menjawab tak yakin. Ia mengambil tas ranselnya dan membawanya ke pundak.
"Kamu lagi ada masalah Fath?" tanya Sandra serius.
Fatih menghela nafas. Padahal, ia sebisa mungkin menutupi ekspresinya. "Kayaknya hujan yang bikin nggak mood Dra. Aku pulang ya."
"Aku antar ke luar."
Fatih hanya diam, dan berlalu melewati Sandra.
"Apapun masalah yang lagi menimpa kamu. Aku siap mendengarkan Fath. Terkadang, orang terdekat, memang tampaknya sulit mendengarkan kita. Maka, orang yang asing pun, seperti aku dan kamu sekarang, walau nggak deket, tapi justru bisa di jadikan tempat curhat."
"Sebenarnya perasaan cewek itu seperti apa? bukannya kalau dia cinta bakal deketin kita? berarti kalau dia nggak cinta, maka menjauh?"
"Tuh 'kan udah bisa aku tebak. Pasti tentang istrimu?" Sandra tersenyum penuh selidik.
"Aku yakin, yang suka sama kamu banyak Fath. Kenapa kamu justru peduli dengan perasaan orang yang jelas-jelas nggak sama kamu?"
Mereka kini berdiri di ambang pintu cafe. Fatih menghela nafas, ia justru tak paham apa yang sedang di bicarakan Sandra. Ia hanya bertanya, justru malah diberi pertanyaan.
"Fath, kenapa kamu nggak cari yang lain? untuk apa jalin hubungan sampai pernikahan, kalau kalian nggak saling merindukan? bullshit."
"Sandra, kayaknya obrolan ini harus kita cukupkan."
"Fath, harus kamu ketahui, kalau dia cinta. Dia akan buktikan ke kamu. Misalnya." Sandra menarik tangan Fatih, lalu mencium pipinya. Fatih yang terkejut dan menjauh beberapa meter dari Sandra.
"Sandra, ini nggak bener." Raut wajah Fatih memerah. Ia jelas merasa marah karena tindakan Sandra barusan.
Sandra terkekeh geli.
"Seperti ini, dia akan mencium kamu, memeluk kamu, memegang tanganmu. Kalau ternyata selama ini dia nggak pernah. Aku yakin, dia nggak ada perasaan apa-apa padamu."
Fatih tak ingin mendengar ocehan Sandra lagi. Sebelum berbalik, ia berkata dengan dingin. "Jangan sakiti laki-laki seperti Bram dengan kelakuanmu."
Tepat saat Fatih berbalik, seseorang yang sudah sangat familiar menghampirinya dengan cepat. Rahangnya terlihat mengeras.
Haii...
Alhamdulillah, otor bisa up lagi.
__ADS_1
maap ya kalau updatenya telat2🤭
yuk terus dukung karyaku dengan like, komen, vote dan share ke yang lain, biar naik levelku, dan karya ini bisa segera di kontrak🤭