Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Merawat Suami


__ADS_3

Mereka masih terdiam dalam keheningan, hingga ketukan pintu menyadarkan keduanya. Seorang perawat perempuan datang, membawa nampan berisi makanan khusus orang sakit.


Fatih hanya meringis melihat makanan-makanan yang menurutnya kurang menarik itu. Ghina menerima nampan makana dari si perawat tadi.


"Makasih ya Mbak," ucap Ghina. Perawat itu tersenyum lalu meninggalkan ruangan. Baru pertama kali baginya merawat seseorang yang sebelumnya bukan siapa-siapa. Tapi, ia sadar, sekarang Fatih adalah bagian dari keluarganya, seharusnya dirinya harus bisa lebih peduli.


"Makan dulu Fath. Setelah itu, kamu bisa minum obat yang disarankan dokter," ujar Ghina, ia menaruh nampan di atas meja.


"Na, aku mau pulang aja, sekarang," rengek Fatih. Ia merasa tidak betah walau belum sampai sehari di rumah sakit.


"Kamu emang udah ngerasa baikkan?" tanya Ghina. Tangannya fokus mengambil mangkuk kecil berisi nasi.


"Belum, aku pengen di rawat sama kamu aja. Lagian, si Riki itu pakai uang mamanya pasti buat biaya rumah sakit, aku nggak enak Na sama dia," jelas Fatih. Sebagai orang yang mendadak bangkrut, sekarang ia menjadi orang yang harus hemat, apalagi istrinya telah kembali. Di rumah, ia akan mudah menyusun rencana bisnisnya kembali.


"Sore ini, nanti aku coba izin ke dokter, agar kamu bisa dibawa pulang," ucap Ghina sambil menyodorkan sesendok nasi kepada Fatih.


Melihat sikap Ghina, bukan main Fatih bahagai. Di tengah kondisinya yang sakit, ternyata ada hikmah luar biasa yang ia rasakan, yaitu disuapi Ghina untuk pertama kalinya.


"Kenapa bengong?" tanya Ghina heran.


"Kamu kenapa tumben, kalem?" tanya Fatih, tanpa membalas pertanyaan Ghina.


"Ya kenapa emang? kamu dulu juga pernah ngerawat aku pas aku sakit. Makanya balas budi ini," jelas Ghina. "Juga, sebagai bentuk bakti istri sama suami, gitu 'kan?" tanyanya.


Fatih terkekeh geli, ia begitu suka ketika melihat wajah Ghina yang memerah, menggemaskan menurutnya. "Makasih ya, istriku sayang," goda Fatih, yang dihadiahi cubitan kecil di lengannya.


"Aw! sakit Na," ringis Fatih.


"Maaf, makanya kamu makan ini," ucap Ghina ketus. Fatih mengangguk, mulutnya terbuka, menerima suapan dari istri tercinta.


"Aku denger dari Riki, Kyai sudah tau permasalahan kita dan kamu sempat dipukuli beliau, betul?" tanya Ghina di sela-sela menyuapi Fatih.


Suaminya mengangguk, sambil sesekali menatap ponselnya. Ramai di grup whatsapp fansnya begitu mengkhawatirkannya. Riki emang selalu ember, hingga kabar Fatih kecelakaan sudah ramai diperbincangkan.


"Iya begitulah," sahut Fatih. Ia membalas salah satu chat di grup.


"Sakit?" tanya Ghina serius. Telunjuknya sudah berpindah ke sudut bibir suaminya, membuat Fatih yang tengah menatap ke ponsel, reflek menatap sang istri kaget.


"Sakit banget?" tanya Ghina ulang. Fatih malah melamun di tempatnya. Mengapa sikap istrinya jadi manis begini? ke sambet apa dia?


"Hmm." Fatih bergumam saja, tangannya menggaruk leher.


Setelah selesai dengan acara makan. Mereka berdua tidak memiliki kerjaan selain mengobrol kecil. Fatih menceritakan kisah tutupnya usaha cafe dari awal sampai akhir. Ghina hanya merespon dengan prihatin. Menyemangati Fatih, untuk kembali berjuang.


"Kamu udah biasa bergandengan dengan bisnis, aku rasa nggak susah buat kamu ubtuk bangun lagi," ucap Ghina yang seketika menenangkan hati Fatih.


"Na," panggil Fatih.


"Iya," balas Ghina, menatap total ke arah suaminya.


"Makasih ya," ucap Fatih. "Makasih, karena udah mau jadi istriku. Makasih, karena dukunganmu, aku jadi semangat lagi."

__ADS_1


"Iya. Ya udah, karena kamu udah makan, minum obat juga udah, sekarang, kamu tidur. Nanti, aku bangunin, terus kita siap-siap pulang, kalua udah diizinkan," jelas Ghina. Ia hendak menyelimuti Fatih, namun tangannya ditahan.


"Aku masih pengen ngeliat kamu," ucap Fatih, membuat Ghina mengernyitkan alisnya.


"Aku nggak selera tidur. Pengen gitaran aja, aku ada lagu bagus buat kamu," ucap Fatih girang.


"Oh ya?"


"Iya, mau ya dengerin suaraku?" tanya Fatih, berharap agar Ghina bersedia menjadi pendengar lagunya.


"Iya boleh, udah lama nggak denger kamu nyanyi," ucap Ghina dengan senyuman, membuat dada Fatih yang melihatnya semakin berdebar kencang.


Ghina mengambilkan gitar yang katanya di bawa Riki sengaja untuk acara bernyanyi mereka. Walau akhirnya tidak jadi. "Satu lagu aja, setelah itu, kamu harus istirahat," ucap Ghina dengan nada perintah.


Fatih mengangguk, ia menerima uluran Gitar dari istrinya. Lama, mereka saling diam, hingga jemari Fatih mulai memetik satu persatu senar gitar itu.


Fatih mulai bersuara, melantunkan isi hatinya dengan lirik lagu yang baru-baru ini viral. Melepas masa lajang.


Mungkin sudah saatnya


Kan ku akhiri masa kesendirian


Mempersiapkan hati tuk melamarmu


Terimalah diriku


Mungkin saat ini


Ku akan melepas masa lajangku


Kan ku persunting dirimu


Jadilah pasanganku


Terimalah cintaku


Mungkin sudah saatnya


Kan ku akhiri masa kesendirian


Mempersiapkan hati tuk melamarmu


Terimalah cintaku


Mungkin saat ini


Ku akan melepas masa lajangku


Kan ku persunting dirimu


Jadilah pasanganku

__ADS_1


Terimalah cintaku


Hingga suara dan petikan terakhir dari Fatih. Ghina serius mendengarkan. Ia belajar untuk menyukai hobi suaminya mulai hari ini, juga menghargai kerja keras Fatih untuk menghiburnya.


Wanita itu bertepuk tangan dengan senyum lebar. "Suaramu emang nggak jelek. Aku akui itu," ucap Ghina walau masih dengan kalimat yang gengsi.


Fatih terkekeh. "Bilang suamimu hebat, apa susahnya sih," ucap Fatih. Ghina ikut terkekeg.


"Iya, suaramu bagus, suamiku hebat," ucap Ghina. Dia berdiri, meminta gitar pada suaminya.


"Udah ya mainnya Fath, kamu harus istirahat," ucap Ghina.


"Tapi, aku masih pengen main."


"Ya udah kalau gitu, aku pergi aja, males nemenin kamu yang nggak mau diurus," ketus Ghina. Ternyata dia sudah kehilangan sabar, menghadapi kelakuan Fatih hari ini yang menurutnya sangat manja. Walau beberapa waktu lalu mereka saling meminta maaf, namun tidak menutup kemungkinan mereka akan saling ketus lagi.


"Eh, jangan lah. Maaf-maaf, okelah aku tidur kalau gitu. Kalau kamu lapar, cari makanan di luar. Di kamar mandi itu, ada celanaku tergantung, di sana ada dompet, kamu bisa ambil isinya buat beli makan," jelas Fatih, ia merebahkan dirinya di bantal yang sudah bersusun cukup tinggi.


"Iya gampang aja Fath. Yang penting kamu istirahat dulu," ujar Ghina lembut. Fatih tersenyum, ah seperti inikah indahnya jatuh cinta. Apa Ghina sudah mulai mencintainya?


"Na," panggil Fatih lembut. Ghina hanya ber'hm' ria. Ia lebih memilih memainkan ponsel, sambil menunggu suaminya terlelap.


"Manggil aja," ucap Fatih terkekeh. Ghina mendongak, matanya melotot.


"Na," panggil Fatih lagi. Matanya entah mengapa sulit diajak kerjasama. Ingin terus menerus menatap wajah ayu sang istri.


"Apa Fath? kamu butuh sesuatu? bilang, apa itu?" tanya Ghina mencoba sabar. Ia tersenyum paksa di depan sang suami.


Fatih kembali bangkit, memijat keningnya. "Aku susah tidur, kalau lagi nggak nyaman," ucap Fatih.


"Kepalamu sakit?" tanya Ghina.


"Nggak, pipiku bekas jotosan Abi yang sakit banget," jelas Fatih.


"Mau aku kompres?" tanya Ghina. Fatih menggeleng, ia tersenyum jahil, lalu mengarahkan telunjuknya ke pipi.


"Cium disini, kayaknya bakal sembuh." Ucapan Fatih membuat Ghina melebarkan mata. Ia reflek memukul kaki suaminya.


"Ih appan sih kamu Fath," gerutu Ghina. "Jangan minta aneh-aneh deh, selain itu, aku turutin," lanjut Ghina.


"Please, sekali aja ya? istriku? tersayang? sekali aja?" pinta Fatih dengan wajah memelas.


Ghina berdecak kecil. "Tapi, kamu harus tidur ya?" syarat dari Ghina. Fatih mengangguk semangat, ia tidak menduga bahwa Ghina mau melakukannya.


"Merem," titah Ghina. Ia bergerak perlahan, mendekatkan wajahnya pada sang suami. Dalam hati ia membatin, biarkan saja melakukannya, hanya sekali doang. Walau sekian detik kemudian, ia menyesali keputusannya menyetujui permintaan suaminya.


Saat hendak mencium pipi Fatih, pria itu justru memalingkan wajah ke arah Ghina. Dan alhasil, bibir mereka yang bersentuhan.


Deg!


Yuhuuu, YMM back!

__ADS_1


Makasih buat kalian yg udah komen like, aku seneng banget, pokoknya akan aku lanjut terus cerita ini ampe tamat.😀


__ADS_2