
Pagi ini Ghina bersiap untuk berangkat ke kampus dalam rangka technical meeting.
Ia mematut diri di cermin, sedikit memoles wajahnya dengan bedak. Tidak lupa bibir ia tambahkan lipgloss yang ia beli memakai uang suaminya.
"Istriku seger banget ya?" goda Fatih yang tengah bersantai di sofa.
"Ya iyalah udah mandi," ucap Ghina yabg terdengar seperti sindiran untuk Fatih.
"Nggak mandi gini, tetep wangi 'kan?"
"Ayo, jadi anter apa nggak?!" tanya Ghina ketus. Mereka tidak perlu lagi berjalan ke kampus yang jaraknya memang dekat dengan kos.
Fatih mengangguk, lalu segera menyeruput setengah teh di gelas hingga tandas.
"Cafemu di mana Fath?" tanya Ghina.
"Di jalan gatot, ini nggak ngelewati. Nanti aku ajak kamu ke sana."
Ghina manggut-manggut. Mereka kembali diam hingga tiba di gerbang kampus.
"Makasih," ucap Ghina pelan, lalu meraih tangan Fatih untuk ia cium, membuat si empunya mesam-mesem sendiri.
"Sama-sama istri," balas Fatih, sambil mengusap kerudung Ghina. "Kalau kamu mau pulang, telpon aku aja, biar aku jemput. Kalau maksa pulang sendiri jalan kaki, hati-hati ya pas ngelewatin kos sebelum warung itu."
"Kos sebelum warung?" alis Ghina terangkat. "Oh itu, nggak ada yang aneh sih."
"Iya tetep aja hati-hati."
Ghina hanya mengangguk saja, tak ingin berdebat saat matahari baru saja menampakkan diri di ufuk timur sana.
Dua jam menyimak orasi dan penyampaian mengenai teknis Penyambutan Mahasiswa Baru, akhirnya Ghina bisa pulang dalam keadaan senang. Tak salah ia menemukan teman cewek bernama Mira, yang karakternya mirip dengan Renata, walau ada beberapa perbedaan. Sehingga saat mereka sekelompok, tentu bertambah akrab, setidaknya Ghina tidak merasa terlalu kesepian.
Kebahagiaannya bertambah, saat ia juga bertemu Ilham yang ternyata teman satu kelompoknya. Ah, penyambutan mahasiswa baru sepertinya akan menyenangkan.
Ia berniat membeli bahan-bahan belanjaan dengan Fatih hari ini. Sehingga saat di perjalanan bibirnya tak henti menyebut satu-satu nama yang ia beli, lalu mengetiknya di ponsel. Kakinya terus melangkah hingga melewati kosan yang terdiri dari tiga rumah berdempetan, dengan cat tembok warna orange. Ia berhenti sejenak, melihat sekeliling, dan tidak ada apapun yang harus di khawatirkan.
"Sengaja banget dia nakutin aku, kirain ada hantu kek," batin Ghina.
Saat mengucap salam, Ghina tak mendengar jawaban apapun dari dalam. Itu berarti suaminya sedang tidak ada di kosan. Ia membuka pintu yang tak terkunci itu.
"Kemana dia?" tanya Ghina lirih. Namun sekian detik kemudian, ia terkejut karena banyak sekali pot yang tertata di lantai, dua buah gembor, satu selang air dan beberapa biji bunga yang dibungkus rapi.
"Gimana? suka?" tanya Fatih dengan lengan baju diatas siku, peluh didahinya terlihat berjatuhan, telapak tangannya di balut kaos tangan.
"Fath, ini darimana?" tanya Ghina heran. Ia menatap satu-satu barang yang ada.
"Ya dari toko lah."
"Untuk?"
"Bukannya kamu mau nanam bunga?"
"Iya, tapi ini kecepetan, aku belum punya modal."
"Pakai aja yang ada dulu."
"Fath, kamu yang belikan?" tanya Ghina tak percaya. "Tapi 'kan kamu baru aja bayarin UKT, belum lagi bayar usaha cafe. Dari mana dapat uangnya?"
"Kamu nggak usah pikirin, nikmati apa yang ada." Fatih mengangkat salah satu pot. "Nah, kamu udah bisa langsung pakai. Oh ya, tanahnya juga udah aku persiapin, tuh di belakang. Yuk ikut."
Ghina mengekor langkah suaminya, hatinya berbunga karena tak disangka ia bisa secepatnya mewujudkan target jangka pendeknya itu. Mimpinya dari SD.
"Fath, ini beneran? maysaa allah." Ghina memekik, lantas menutup mulut saking takjubnya melihat pemandangan yang ada di depannya.
Sebuah rumah plastik sederhana yang tidak terlalu luas, tapi cukup menampung kira-kira lima belas pot tanaman berukuran sedang.
__ADS_1
"Iya bener. Masa nanam bunganya nanti di depan? terlalu sempit," ucap Fatih.
Ghina menatap haru suaminya, entah mengapa ia merasa ini benar-benar kejutan hebat dari Fatih seumur hidupnya. Ia sangat senang, bahkan wajahnya memerah saking senangnya. Walau tidak ada Imran, tapi seolah Fatih sudah berhasil menggantikan Kakaknya.
"Makasih banyak Fath," ucap Ghina dan reflek memeluk suami dari samping. Fatih yang terkejut hanya diam dan menikmati perlakuan sang istri kepadanya.
"Sudah mulai jatuh cinta ya?" goda Fatih karena Ghina memeluknya erat.
Ghina segera melepaskan pelukan, ia membuang wajah ke arah lain, tidak ingin menanggapi gombalan sang suami. "Tapi, ini 'kan mahal?" lagi-lagi Ghina bertanya.
"Emang mahal, makanya manfaatin baik-baik."
"Pasti Fath," ucap Ghina mantap. Ia mengelilingi drainase dengan wajah yang tak berhenti tersenyum.
"Di sini untuk Lily," tunjuk Ghina di bagian tepi. "Em, anggrek bulan di tengah gimana menurutmu Fath?"
Fatih yang mengekor di belakang manggut-manggut. "Bagus aja, karena aku suka semua. Termasuk pemiliknya."
Ghina berdecak kecil mendengar suaminya yang sepertinya tak bisa hidup walau sehari tanpa mengumbar kata manis.
"Kalau misalnya," Ghina tak meneruskan kata. Ia berhenti, menyentuh lembut tepian drainase.
Fatih menunggu, ia juga berhenti, hanya menatap punggung istrinya.
"Kalau misalnya kita pisah, ini dikemanakan?" tanya Ghina sambil menatap lurus ke depan.
"Kalau kita masih bersama, apa penting ya ngomongin tentang pisah?" Fatih justru balik bertanya. Hatinya nyeri mendengar penuturan Ghina. Tangannya mengepal, apakah setelah kebersamaan yang terjalani, Ghina akan memutuskan akan tetap memilih Ilham?
"Enggak, 'kan tadi misalnya." Ghina meralat, lalu menghadap Fatih.
"Di sisi kamu itu banyak perempuan-perempuan yang suka dan setia, mau melakukan apapun untuk kamu. Untuk apa tetap bertahan dengan perempuan kayak aku, yang jutek dan nyebelin?" tanya Ghina serius.
"Kamu tau alasan aku memilih kamu?" tanya Fatih. Ia menatap sang istri dalam. Berusaha meyakinkan, bahwa laki-laki seperti dirinya juga bisa memilih menghabiskan hidup bersama wanita baik-baik. Bahkan, dirinya sekarang merasa sangat bersyukur memiliki Ghina di sampingnya. Jika saja, Ghina tahu.
Ghina menggeleng. Ia memang tidak mengetahui alasan sebenarnya Fatih tetap menjalani hubungan ini hingga saat ini.
"Ini bukan gombalan 'kan?" Ghina terkekeh, ia merasa lucu sendiri berbicara serius tadi.
Fatih menyeringai. "Udah mulai suka gombalan aku ya?" tanyanya. "Tuh, mukanya merah."
"Apaan? ini kena sinar matahari," kilah Ghina dengan segera menjauh dari sana. "Fath, kita belanja yuk?"
"Ayo, suami yang bertanggungjawab selalu siap sedia."
"Sebenarnya aku penasaran, seberapa kerja kerasnya kamu Fath, untuk memberikan aku semua ini?" batin Ghina. Tangannya memegang ujung baju Fatih di belakang. Kini, mereka tengah melakukan perjalanan menuju supermarket menggunakan sepeda motor yang sudah diambil Fatih dari rumah Kyai.
Ghina mengambil semua kebutuhan dapur dan pribadinya. Sedangkan Fatih mendorong troli sambil memperhatikan istrinya yang sibuk sendiri memilah belanjaan.
Saat mereka berhenti di bagian daging dan buah-buahan, mata Ghina menangkap seseorang yang berjalan ke arahnya dengan senyuman.
"Belanja juga ketua?" tanya Ghina.
"Iya, untuk sebulan ke depan. Maklum, jomblo." Ilham melirik ke arah Fatih.
Fatih tersenyum. "Makanya cepet cari jodoh ketua," cibirnya.
"Iya, sebentar lagi, menunggu waktu yang tepat."
"Seneng liat kalian akrab. Ya udah, ketua kami mau lanjut," ucap Ghina karena tidak ingin terlalu lama mengamati laki-laki yang rasanya kini begitu jauh dari jangkauannya. Dan entah mengapa rasa bergetar itu sudah tak hadir, justru berpindah saat dirinya bersama dengan suaminya.
Ilham mempersilakan dengan hati yang dibuat selapang mungkin. Walau, ada rasa ngilu di sana menyaksikan wanita yang singgah dihatinya bersama pria lain. Apakah dirinya masih bisa mendapatkan Ghina?
Setelah makan malam dengan Ghina yang mencuci piring sendiri, karena menolak bantuan dari Fatih, pasangan suami istri itu akhirnya sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Fatih sudah kembali ke habitat kamarnya yang berada di ruang tamu. Sedangkan Ghina, tengah membaca novel yang dibelikan Fatih dari gramedia.
__ADS_1
Hingga pukul dua belas malam, mereka belum tertidur. Ghina beranjak untuk mengambil wudhu ke kamar mandi. Namun, sebelum itu ia penasaran apakah suaminya sudah tertidur atau belum.
"Udah tidur?" batin Ghina yang melihat suaminya menyandarkan kepala di belakang sofa.
"Fath," panggil Ghina lirih. Ikut duduk di sofa, lalu melihat layar laptop yang menyala. Diam-diam Ghina ingin tahu apa yang dikerjakan suaminya hingga larut malam.
Tangannya mulai gatal untuk menggeser touchpad, menggulirnya perlahan, menampakkan beberapa dokumen yang terbuka.
"Laporan keuangan, cafe, atk, inovasi terbaru cafe, gazebo luar." Ghina mengeja satu-satu nama dokumen. "Oh, mau bikin pengembangan properti cafe ya?"
"Dia pasti udah bekerja keras selama ini, sampai omsetnya sebesar ini."
Ghina menutup semua worksheet, lalu beralih menatap suaminya. Wajahnya yang biasa tengil itu terlihat lelah. Ghina kembali mengingat saat suaminya itu memberi kejutan berupa rumah plastik untuk tempat berteduh bunga-bunga miliknya kelak. Fatih, benar-benar mendukung mimpinya. Dan ia tak menyangka itu.
Tangannya bergerak menyentuh poni rambut sang suami. Menyelanya pelan.
"Maaf, kalau selama ini aku terlalu jahat," batin Ghina.
Tanpa sadar, karena merasa sesuatu bergerak di kepalanya, Fatih membuka mata. Ia melihat wajah Ghina di hadapannya, membuat senyumnya mengembang, tangannya mencekal sang istri.
"Kenapa kamu Na?" tanya Fatih yang membuat Ghina terhenyak, ia segera menarik tangannya lagi, namun sang suami menahannya.
"Lepas Fath."
"Kenapa kamu belum tidur jam segini huh?" tanya Fatih sambil mengerjapkan matanyam
"Aku tadi baca novel," balas Ghina merasa malu karena terciduk sedang memperhatikan sang suami diam-diam.
Fatih mengusapkan telapak tangan sang istri ke wajahnya. Ghina tak menolak membuat Fatih dengan cepat mencium jemarinya.
"Tadi siang, kamu udah bekerja keras, istirahat yang banyak, jangan begadang cuma gara-gara novel," nasihat Fatih yang diangguki Ghina.
"Hm."
"Enaknya dibelai istri kayak gini," lirih Fatih yang masih bisa di dengar Ghina. Namun gadis itu hanya diam dan membiarkan.
Dua hari setelahnya, pot-pot berwarna hitam dan berukuran sedang itu sudah terpampang rapi di rumah plastik. Ghina tak pernah absen untuk melihat pertumbuhan bunga-bunganya. Pot-pot itu memang belum terisi bunga, karena masih proses pembibitan awal di tempat lain, tapi rasanya Ghina seolah sudah dapat melihat Angrek dan Lily yang tersenyum merekah di sana.
"Kamu nggak papa 'kan aku tinggal sendiri di kos?" tanya Fatih yang sudah berpakaian kaos dan juga celana jeans.
"Kamu mau kemana?" tanya Ghina. "Ada urusan bisnis?" tanyanya
"Na, aku mau ke kos Sella, bantuin dia angkat lemari. Katanya baru diantar dari rumah ke kos."
Ghina terdiam, entah mengapa tiba-tiba ia merasa kesal mendengar Fatih akan berkunjung ke kosan Sella.
"Woi Na!" panggil Fatih karena Ghina justru melamun.
"Nggak lama 'kan?"
"Kenapa emang?" goda Fatih. "Kangen ya? atau takut aku jatuh cinta sama Sella?"
"Ih nyebelin. Sella itu ngekos cuma sendirian 'kan? kalian cuma berduaan dong di kos."
"Aku nggak bakal macam-macam."
"Terserahmu Fath." Ghina menyilangkan tangan.
"Loh, kok kayak ngambek?"
"Nggak!"
Yuhuuu....
Apakabar All...
__ADS_1
Otor kembali hadir dengan kisah Fatih-Ghina...
Otor minta maaf ya kalau baru up lagi. Soalnya selama sebulan 15 hari kemarin (kayaknya lebih ya), lagi ada urusan yang nggak bisa di tinggalkan.🙏