
Melani mengigit bibir bawahnya. Hati nuraninya terus mengetuk-ngetuk ingin dilirik. Namun, pikirannya tetap menolak, karena menutupi kesalahan adalah caranya menjaga sahabatnya. Tapi, ini pasti tidak benar. Apalagi, sudah mendengar bahwa Ghina dan Fatih akan bercerai. Dari Riki.
Laki-laki ember itu ternyata mampu membuatnya tidak tidur semalaman. Apalagi sugestinya yang menyebalkan itu. Siang hari, saat sedang santai di taman Mathilda yang cukup terkenal karena berada di dekat area kampus, ia tiba-tiba - entah tertiban sial atau apa- malah bertemu Riki.
Pria itu datang sendiri. Lalu dengan sumringah menyapa dirinya.
"Melani!" panggil Riki waktu siang itu. Melani yang tengah berkumpul bersama teman-teman barunya menoleh dan mendapati Riki yang tengah melambai. Akhirnya, mengobrol berduaan pun tidak terelakkan, karena Riki meminta langsung kepada teman-temannya untuk di beri ruang mengobrol berdua.
"Kamu mau curhat tentang Renata, makanya nemuin aku?" tebak Melani. Ia memang diam-diam juga suka mengejek anak mami di sampingnya yang menyukai teman sekelasnya, Renata. Tapi sayang, Renata tidak bisa lanjut kuliah.
"Nggak. Aku udah lupain si nenek lampir itu," balas Riki gelagapan. Melani yang biasa cool itu terbahak.
"Makin keliatan gobloknya kalau kamu salting Ki," ejek Melani, membuat Riki mendengus.
"Udahlah, aku kesini bukan mau bahas Renata. Tapi, mau bahas temenmu, Sella," ucap Riki tanpa basa basi lagi. Ia merasa, masalah Fatih adalah juga masalah dirinya. Kasian pria itu sudah begitu frustasi memikirkannya.
"Kenapa sama Sella? kamu suka?" tanya Melani mengernyitkan alis.
"Ck, bukanlah. Masa aku suka sama cewek jahat itu," gerutu Riki.
"Woi, hati-hati kalau ngomong, dia temen aku," bela Melani, tidak terima Sella di katain jahat.
Riki terkekeh. "Ini tentang temenmu, aku kayaknya nggak usah basa basi. Mau tanya aja, kamu tau nggak tentang foto Sella dan Fatih yang diatas kasur itu?" tanya Riki.
Melani terdiam, itulah momok yang membuatnya bimbang terkadang. Ingin melupakannya, tapi justru Riki mengungkitnya.
"Aku ada sih, denger-denger juga," ucap Melani sekenanya.
"Kamu percaya, Fatih sama Sella ada hubungan spesial?" tanya Riki serius. Melani mengangkat bahu.
"Em siapa yang tau," sahut Melani, asal. Ia mencari aman dulu. Tidak ingin terpancing omongan Riki dan malah keceplosan nantinya.
"Loh kamu jadi nuduh Fatih selingkuh sama Sella gitu? Ya ampun Mel, kamu tega ya," ujar Riki sambil geleng-geleng kepala.
"Loh, apanya yang nggak mungkin? selingkuh itu bukan hanya dilakukan oleh orang pacaran aja, yang udah menikah malah banyak lagi," jelas Melani masih masuk akal.
"Kamu tau, gara-gara foto nggak bener itu, Fatih dan Ghina mau cerai. Mel, kamu itu temen deketnya Sella, masa nggak tau hubungan Sella dan Fatih sebenarnya kayak apa? kamu juga udah tau perihal foto itu, kamu pernah mikir nggak sih, fotonya settingan belaka?" tanya Riki bertubi-tubi, membuat Melani merasa sesak jika harus menjawab semua pertanyaan itu.
"Eeh bentar-bentar, santai, pelan," ucap Melani dengan tersenyum, ia mengusap pelan bahu Riki.
"Nggak biasanya kamu seserius ini," lanjut Melani dengan kekehan diakhirnya.
"Ini serius Mel. Aku nggak bisa bercanda kalau urusan rumah tangga. Barangkali, jika di kemudian hari aku mengalami, bisa aku sikapi dengan bijak, karena sudah pengalaman temanku sebelumnya. Mel, Fatih itu mencintai Ghina pun sebaliknya. Masa hanya gara-gara foto Fatih dan Sella yang kayaknya settingan, mereka harus pisah? 'kan sebagai teman, kita merasa sakit dengernya. Aku kenal Fatih dari lama, walau dia kenal dengan banyak cewek, dia nggak pernah macam-macam, pacaran pun dia nggak. Karena dia sadar, harus menjaga perilaku sebagai anak kyai," jelas Riki, matanya menatap netra hitam Melani.
"Kamu tau, mereka bahkan udah ngerencanakan masa depan bersama, masih nggak percaya kalau mereka saling mencintai? setidaknya, kita sebagai temen, bantu mengklarifikasi gambar nggak jelas itu. Ghina susah banget di temui, dia nolak terus ketika Fatih mau ngasih penjelasan. Makanya, aku mohon, ke kamu, setidaknya kalau kamu tau sesuatu, tolong jelasin ke dia Mel," pinta Riki dengan wajah memelas.
Mendengar pernyataan itu, hati Melani mencelos sesaat. Benarkah Fatih dan Ghina saling mencintai? lalu, apakah dirinya kini ikut berperan memisahkan dua orang yang saling mencintai?
"A-a-ku, aku nggak pengen ikut campur urusan rumah tangga orang. Kalau aku liat masalah mereka, ya itu kembali lagi pada kepercayaan satu sama lain. Kalau mereka berdua saling percaya, harusnya bisa atasi masalah ini dengan percaya dan yakin satu sama lain. Tapi buktinya, mereka nggak mampu untuk itu, jadi ya kembali kepada mereka," balas Melani setelah di awalnya sempat terbata.
"Walau awalnya dua orang saling percaya, bisa goyah di lain waktu Mel, banyak faktornya. Mungkin, karena lama sudah saling curiga, atau karena perasaan yang emang mudah berubah. Maka, kita sebagai orang di sekeliling mereka, bantu menyatukan mereka. Aku udah berusaha bujuk Ilham juga agar mau menjelaskan pada Ghina bahwa foto itu nggak bener. Tapi, pria itu tampaknya malah berdiam diri dan enggan. Aku heran kok bisa-bisanya Ilham dan sepupunya sama-sama jahatnya." Riki menggelengkan kepala tidak percaya. Ia yakin seratus persen, Ilham sama Sella, dua-duanya sudah dibutakaj cinta. Bahkan, Ilham tega tidak membujuk Ghina untuk mendengarkan penjelasan dari Fatih. Sudah pasti, pria itu ingin memiliki Ghina.
"Intinya, aku nggak mau ikut campur Rik. Silakan kamu aja, aku skip," balas Melani akhirnya. Riki menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Seburuk apapun hubungan kalian di masa lalu, jangan jadikan hal itu sebagai penghalang untuk saling membantu di masa depan. Aku tau bagaimana hubungan kalian dengan Ghina. Bahkan, Sella sengaja menjebak Ghina dengan menyebarkan fotonya dengan Fatih, tapi lagi-lagi. Kita adalah teman. Saling memaafkan adalah jalan, agar tidak ada dendam. Jika kamu emang nggak tau apa-apa, maka semoga memang iya. Tapi, kalau kamu tau sesuatu, tapi nggak mau jujur untuk kebaikan semuanya, itu pilihanmu. Kalau gitu, aku pamit Mel. Lain kali, kita bisa ketemu lagi," ucap Riki akhirnya. Ia beranjak dari duduknya, memasukkan tangan ke dalam saku ******. ***** hati ia merutuk, kenapa susah sekali membujuk Melani, tapi akhirnya ia pasrah, akan mencari cara lain untuk membantu Jenius Fatihnya.
Di tempat lain, Ghina menatap nanar pot bunga kecil berwarna cokelat milik Mira yang ditanami kaktus imut. Sesekali telunjuknya menyentuh tumbuhan itu.
"Aku berduri. Siapapun, jangan pernah mendekat. Sudah cukup trauma dengan lelaki, hanya Kakakku yang membuatku memaafkan semua laki-laki di dunia ini," lirih Ghina. Mira yang sedari tadi fokus mengerjakan tugas di dekat sofa, melirik ke arah Ghina yang tengah duduk di dekat jendela sambil menatap Kaktus.
"Kasihan Ghina," lirihnya.
Ghina malah teringat pot-pot yang dan juga Green House plastik yang dibelikan Fatih untuknya. "Apa kabar green houseku?" tanya Ghina dengan tatapan nanar.
"Kamu kangen kosanmu?" tanya Mira tiba-tiba sudah berada di dekat Ghina, membuat perempuan itu terlonjak.
"Iya sedikit, aku kangen green houseku, pasti nggak terawat," balas Ghina. Mira terkekeh pelan, membuat Ghina menatapnya dengan heran.
"Kangen green housenya, atau kangen sama orang yang memberikannya?" goda Mira. Ghina mendengus, untuk apa ia kangen sama seseorang yang bukan siapa-siapanya lagi?
"Na, kamu sama sekali nggak mau nyari tau, itu foto bener apa nggak?" tanya Mira, menepuk pelan bahu temannya itu.
Ghina menggeleng. "Aku tahu betul kelakuannya, dia itu dekat dengan semua wanita. Makanya, nggak heran, setelah nikah pun nggak bisa jaga diri," ucap Ghina dengan nada tajam.
"Na, walau dia dekat dengan banyak cewek, tapi karena dia emang friendly 'kan orangnya? bukan berarti dia selingkuh sama wanita lain. Cintanya hanya untuk kamu," ucap Mira.
"Cinta?" ulang Ghina, ia terkekeh pelan. "Nggak ada cinta-cintaan diantara kami. Buktinya, dia seenaknya jatuhkan talak. Coba aja, dia nggak kayak gitu, mungkin, aku akan denger penjelasannya. Dari dulu, dia emang pengen cerai sama aku, cuma nunggu timing yang tepat aja," balas Ghina penuh dengan asumsi yang entah benar atau tidak.
"Sebaiknya, kedepankan huznuzon Na. Nggak apa ngasih dia kesempatan satu kali. Ini demi keutuhan rumah tangga kalian, barang kali ini cuma ujian di awal nikah, untuk nanti ujian yang lebih besar lagi. Kalau di awal aja nggak lulus, gimana nanti ujian selanjutnya? lagi pula, pikirkan keluarga kalian. Keluarga Pak Kyai, Ibumu. Mereka pasti syok denger kamu dan Fatih cerai," nasihat Mira lagi, berusaha melembutkan hati Ghina yang sekeras batu. Sifat keras kepala Ghina memang belum sembuh sejak dia sekolah. Memang sudah tabiat, susah diubah. Hanya Renata dan Mira yang mampu sabar menghadapinya.
"Kakakku bilang, dia akan ngurus semuanya. Jadi, aku tinggal tenang disini." Ghina berkata dengan santai. Namun, wajahnya menyiratkan sebaliknya. Ia murung, merasa takut jika Ibunya sampai tahu, apa yang akan terjadi nanti?
Dering telpon, memutuskan percakapan keduanya. Berasal dari ponsel Ghina. Panggilan dari Riki.
"Temannya Fatih," balas Ghina cuek.
"Angkat Na, barangkali dia ada perlu," ucap Mira.
"Dia paling cuma bujuk aku buat maafin Fatih," sela Ghina cepat, ia jelas menolak usul Mira. Untuk apa ia bebicara dengan Riki? yang pastinya hanya membela Tuannya itu.
Hingga dua puluh kali berdering, Ghina hanya membiarkan, sedangkan Mira yang sudah lelah membujuk, memilih membuat mie, karena perutnya mendadak lapar. Capek juga ternyata mencairkan kepala sekeras batu itu.
"Wa'alaikumussalam, kenapa sih Rik?" akhirnya Ghina mengangkat, karena ia berisik dengan suara ringtone di ponselnya.
"Akhirnya kamu ngangkat. Fatih masuk rumah sakit, dia mengalami dehidrasi berat. Akhir-akhir ini kekurangan cairan dan makanan. Na, tolong, kamu jenguk dia kesini," ucap Riki dengan suara panik.
"Kenapa aku? kenapa nggak suruh Sella yang kesana?" tanya Ghina.
"Ya Allah Na. Fatih Na, suami kamu. Lagi sekarat, kamu tega sama dia? kasihan, dia disini nggak punya siapa-siapa, lagian nggak mungkin aku telpon Pak Kyai dan minta beliau datang ke sini, jauh Na. Juga, hubungan mereka lagi nggak baik. Fatih juga habis babak belur di hajar Pak Kyai," jelas Riki panjang lebar.
Mendengar penuturan Riki, Ghina beranjak dari kursinya. "Pak kyai sudah tau masalah kami?" tanya Ghina.
"Iya, beliau sudah tahu. Makanya kemarin datang menemui Fatih dan menghajarnya habis-habisan. Na, nggak iba kah kamu? tolong, jenguk Fatih kesini, izinkan nanti dia untuk menjelaskan semuanya sama kamu," ucap Riki.
Ghina mengelus dadanya. Jika kabar itu sudah sampai ke telinga Pak Kyai, maka apa kabar dengan Ibunya? sudahkah wanita itu juga tahu? dan bagaimana reaksinya?
Benar kata Mira, ia malah tidak berfikir ke sana. Buru-buru untuk mengusut tuntas masalah, tanpa memikirkan konsekuensinya. Bagaimana jika Ibunya tahu? dan kondisinya malah memburuk?
__ADS_1
Suara ketukan pintu menyadarkan lamunan Ghina. Ia mematikan sambungan telponnya tanpa salam lagi. Tanpa ia duga, seseorang datang.
"Melani, kenapa kamu disini?" tanya Ghina heran.
"Aku mau berkunjung ke kosan temenku, emang nggak boleh?" tanya Melani balik. Ghina tersenyum tipis.
"Iya boleh lah. Silakan masuk," ucap Ghina, memberi ruang agar Melani ikut masuk ke kosan Mira.
"Kamu pasti ngerasa aneh tiba-tiba aku kesini." Melani membuka pembicaraan. Ghina mengangguk.
"Iya cukup heran, tapi nggak masalah. Kita temen sekelas, emang harusnya begini, walau udah kuliah, tetep saling mengunjungi," balas Ghina.
"Em, aku buatkan teh dulu ya buat kamu," ucao Ghina, namun Melani menahannya.
"Nggak usah repot-repot. Duduk aja di sini." Melani menepuk sofa di sampingnya. Ghina hanya mengernyit karena sikap Melani yang beda. Namun, ia tetap ikut duduk.
"Na, sebelumnya aku minta maaf atas nama sahabatku," ucap Melani tiba-tiba.
"Maksudmu?"
"Aku tau tentang foto Sella dan Fatih. Detailnta aku tahu. Tapi, maafkan aku selama ini menyembunyikan kebenarannya dari kamu. Bahkan, kamu sama Fatih aku dengar udah cerai 'kan? aku bener-bener minta maaf," lirih Melani.
Ghina menggapai telapak tangan Melani, menatap wajah yang murung didepannya. "Kamu kenapa Mel? kenapa meminta maaf?" tanya Ghina.
"Tolong, kamu maafin Fatih. Berbaikan sama dia," ucap Melani. Ghina melepaskan tangannya dari tangan Melani.
"Aku nggak mau bahas itu disini," ucap Ghina dingin.
"Foto itu nggak bener Na, kamu jangan percaya," ucap Melani lagi.
"Pasti Riki yang menyuruh kamu menemui aku?" tebak Ghina.
"Bukan, ini keinginanku sendiri. Aku mau jelaskan dari awal kenapa foto itu bisa ada. Karena aku sendiri ikut andil membuatnya. Waktu itu Sella sengaja menyusun rencana untuk menjebak Fatih, dia itu, kamu tau sendiri 'kan? dari dulu emang udah suka sama Fatih. Nah, akhirnya dia minta tolong Fatih buat pindahin lemari ke kamar, terus dia sengaja jatuh menimpa Fatih pas mereka lagi ngobrol di deket kasur, momennya pas banget, aku sendiri yang memfotokan," jelas Melani panjang lebar.
"A-apa? jadi, foto itu settingan kalian?" tanya Ghina. Melani mengangguk mantap.
Ghina segera menekan layar ponselnya, ingin menelpon seseorang.
"Kak, Ibu udah tau tentang kabar itu?" tanya Ghina cepat. Tangannya sampai bergetar begitu memegang ponsel.
"Belum Na, Kakak masih menyiapkan diri, takut Ibu kenapa-napa. Alhamdulillah, Pak Kyai juga bisa diajak kerja sama sementara, jadi kami diam-diam dulu, nggak ngasih tau Ibu," jelas Imran.
"Baguslah, jangan kasih tau Ibu dulu kak, sampai aku bilang bisa. Tolong kak," mohon Ghina. Dia kembali menangis. "Aku nggak mau, Ibu sampai sakit lagi hiks."
"Iya kamu tenang aja ya. Nanti, akan kakak pikirkan caranya untuk ngasih tau Ibu," ucap Imran menenangkan adiknya. Ghina mengangguk pelan. Akhirnya ia menutup panggilan. Lalu, ia melakukan panggilan lainnya.
"Rik, kirim alamat rumah sakitnya," ucap Ghina, lalu mematikan ponselnya begitu saja.
Sedangkan Melani hanya menyimak pembicaraan Ghina dengan orang yang di telpon. " Maaf Na, aku salah. Aku sebagai temenmu, nggak seharusnya bohongin kamu kayak gini, menjebak Fatih, hingga hubungan kalian jadi kandas," jelas Melina.
Ghina menggeleng. "Makasih udah ngasih tau aku. Mel, mungkin sampai sini dulu ngobrolnya, aku mau jenguk Fatih di rumah sakit."
"Apa? Fatih kenapa?" tanya Melani gugup.
__ADS_1
"Dia masuk rumah sakit Mel. Dehidrasi berat." Melani hanya bisa menutup mulutnya. Merasa berdosa, ini pasti ada kaitannya dengan frustasi yang dialami Fatih, sesuai dengan penuturan Riki waktu itu.
Wah wah.... akhirnya aku up. Malam-malam ini aku baru baca, kalau ceritaku YMM ini udah di KONTRAK sama Noveltoon. Seneng banget tau, tapi ini berkat dukungan kalian juga sih ya pastinya. Makanya tetep ramaikan ceritaku dengan KOMEN dan LIKE, gratis juga 'kan? hehe. Biar aku makin semangat lanjut. Aku udah bacain semua komen kalian, dan aku makin semangaaaaat nulis beneranš