
Mentari baru bersinar, dua insan itu sudah sibuk sendiri-sendiri. Ghina yang hari ini memasak menu seadanya, karena belum belanja. Ia memilih untuk menggoreng nasi, untunglah ada telur yang masih tersisa, sehingga ia bisa menambahkan topping untuk nasi goreng buatannya.
Sedangkan Fatih, usai salat Subuh, laki-laki itu tengah fokus menatap layar laptopnya. Membaca data setiap kerugian yang dialaminya setelah membangun cafe. Ia juga mencari tahu keberadaan Bram, entah kemana pria itu membawa kabur uangnya.
"Kamu ke kampus hari ini?" tanya Ghina, seraya membawa nampan berisi dua piring nasi goreng. Fatih mendongak, lalu menganggukkan kepala. Hidungnya langsung kembang kempis begitu mencium aroma masakan sang istri. Hatinya membludak bahagia, mengingat jika Ghina bersedia kembali padanya.
"Iya. Em, harum banget masakan istriku..." puji Fatih dengan senyumannya, ia menerima piring dari Ghina. Saat wanita itu ingin beranjak, Fatih menahan tangannya.
"Biar aku yang ambilkan minum, kamu duduk yang manis disini," titah Fatih, membuat Ghina sedikit bergidik dengan kelakuan anehnya pagi ini.
Fatih berjalan ke dapur dengan riang sambil bersenandung. Ternyata benar kata orang, memiliki istri itu melengkapi kebahagiaan. Tidak peduli kondisi keuangannya yang menurun drastis karena ulah penipu, sepanjang istri menemani, beban itu seakan berkurang. "Na, kamu mau teh, air putih, atau kopi?" tanya Fatih dari dapur.
"Air putih aja," sahut Ghina. Ia sesekali mencicipi nasi goreng buatannya. Khawatir keasinan atau malah tidak berasa.
"Em.. enak," komentar Ghina dengan seulas senyum. "Kayaknya semakin kesini, kemampuan masakku semakin terlatih," ungkapanya lagi.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Fatih yang kini sudah membawa dua gelas dengan isi berbeda. Air putih dan teh yang masih mengepul.
Ghina yang merasa kepergok senyum sendiri, langsung berdecak sebal. "Biarin, senyum itu ibadah," ketusnya membuat Fatih tergelak.
"Iya iya, aku suka senyummu kok, manis. Hariku cerah, kalau kamu senyum terus. Adem diliatnya," puji Fatih, namun tak sampai membuat Ghina tersanjung, malah menatap sinis ke arahnya.
"Ck, anda memang ahli memuji, untung saya masih rasional," ujar Ghina, sembari menerima uluran gelas berisi air putih dari suaminya. Ia langsung meneguknya pelan. "Makasih udah diambilkan," lanjutnya. Fatih membalas dengan senyuman.
"Kamu ke kampus jam berapa?" tanya Fatih sambil menyuap nasi goreng ke mulutnya.
"Jam sembilan," balas Ghina singkat.
"Aku antar ya," ucap Fatih. Ghina menggeleng.
"Nggak usah, deket juga," lanjut Ghina, padahal dalam hati, tidak memungkiri bahwa ia teringat peristiwa tempo hari.
Fatih menghentikan aktivitasnya, menatap Ghina lekat-lekat. Ia lalu menjulurkan tangannya untuk mengelap nasi yang menempel di bibir istrinya. "Aku khawatir kamu kenapa-napa. Pokoknya aku anterin," ujar Fatih, membuat Ghina akhirnya mengangguk.
__ADS_1
"Akhir pekan, kita pulang ke rumahku yuk?" ajak Ghina, mereka telah selesai makan dan kini tengah duduk santai di ruang depan. Fatih yang kembali fokus ke laptop, menoleh. Istrinya kini tengah menatap ponsel, berbicara tanpa menatapnya.
"Bisa aja. Em, sekalian nanti ke pesantren, aku mau jelasin semuanya ke Abi," terang Fatih. Ia kembali menoleh ke laptop.
"Terus, apa rencana kamu ke depan? bukannya cafe itu adalah cita-cita kamu?" tanya Ghina, kini matanya sudah beralih, memperhatikan Fatih yang tengah fokus.
"Iya masih cita-citaku. Membangun lagi dari awal," balas Fatih tanpa menoleh, karena jika menoleh, kerjaannya sedikit terhambat.
"Kamu nggak takut kejadian yang sama terulang?" tanya Ghina lagi. "Kalau aku sih, setelah mengalami kejadian yang pahit, biasanya nggak mau terjatuh lagi, aku memilih mundur dan menghindar," lanjutnya.
"Hidup ini harus belajar dari masa lalu. Bukan hal mustahil emang kita terjatuh kepada lubang yang sama, tapi manusia cenderung berprogress, yang penting jalani dengaj cara lebih baik," jelas Fatih.
"Gimana kalau Abimu memaksa kamu nikah sama Sella?" tanya Ghina. Fatih akhirnya menoleh dengan helaan nafas panjang. Sejak tadi, istrinya ini mengoceh terus entah untuk mengganggunya atau menggodanya agar Fatih mau diajak ngobrol olehnya.
"Kenapa kamu jadi berisik gini?" tanya Fatih mengernyitkan alis. Merasa aneh dengan kelakuan istrinya.
Ghina menatap wajah suaminya dengan tanpa dosa. "Emang berisik ya aku?" tanyanya. Fatih mengangguk, lalu tersenyum dan reflek tangannya mengacak rambut Ghina. Wanita itu sudah berani membuka rambut dihadapannya dan Fatih suka itu.
"Alah, bilang aja kamu juga terpaksa dulu, karena kadung ketauan, takut merusak citra pesantren 'kan katamu?" tanya Ghina mengingat kembali alasan Fatih mau menikahinya dulu. Fatih kembali tersenyum.
"Enggak juga. Aku udah sering nakal, ngerusak citra pesantren, tapi aku nggak usaha untuk memperbaikinya. Itu karena, aku udah tertarik sama kamu, ya terlepas dari nyebelinnya kamu waktu itu. Aku fikir, akan menyenangkan jika aku bisa membuatmu jatuh cinta," jelas Fatih. Ia kembali ke arah laptop, lalu mematikannya.
"Terlalu pede," decak Ghina. Fatih kembali menatapnya.
"Buktinya kamu sekarang udah jatuh cinta 'kan sama aku?" tebak Fatih, membuat Ghina memutar bola matanya jengah.
"Nggak!" Ghina masih berusaha berkilah.
"Masa?" goda Fatih, sembari memajukan wajahnya. Mudah baginya karena posisi duudk mereka yang bersebelahan. Ghina menoleh, menatap wajah yang jaraknya beberapa centi saja darinya.
"Iya. Aku nggak ngerasa seperti orang jatuh cinta," ungkap Ghina entah bohong atau tidak. Fatih terkekeh, ia semakin memajukan wajahnya.
Ghina hanya menatapnya tanpa kedip. Perlahan, ia merasakan hembusan nafas suaminya di depan wajah. Membuat tangannya meremas ponsel di genggamannya. Entah mengapa, baru kali ini ia menantikan apa yang akan dilakukan Fatih selanjutnya.
__ADS_1
Semakin dekat wajah Fatih, darah Ghina terasa berdesir. Matanya reflek tertutup perlahan. Hingga, ia merasakan sentilan di dahinya. "Aw!" ringisnya. "Fatih, kamu tuh apaan sih!" kesal Ghina.
"Kamu mikirin apa huh?" tanya Fatih dengan tawanya. Ia sudah memundurkan wajah, merasa lucu dengan tingkah istrinya.
"Dasar! menjauh sana," desis Ghina, ia bangkit dari duduknya. Merutuki tubuhnya yang malah diam tak bereaksi begitu Fatih menggodanya. Seharusnya, ia bisa mendorong tubuh pria itu hingga terjungkal, eh malah terbawa suasana. Malu jadinya.
"Sadar Ghina, tetap rasional," gumamnya pada diri sendiri. Ia lebih memilih untuk masuk ke kamar dan menyambar handuk. Tidak ingin lagi berlama-lama dekat dengan suaminya. Bisa-bisa ia kehilangan waras.
Ghina sudah mematut dirinya di cermin. Kini, ia mulai terbiasa mengenakan sedikit polesan bedak dan liptint yang tidak terlalu mencolok warnanya. Setidaknya, agar wajahnya tidak terlalu pucat dan tetap mempertahakankan keaslian wajahnya, sehingga tidak jatuh pada tabarruj.
Fatih melongok ke kamar, sepuluh menit lagi menunjukkan pukul sembilan. Ia bertanya-tanya dalam hati, mengapa istrinya begitu lama di kamar, ternyata berdandan. Ia tersenyum, walau berdandan, wajah Ghina tetap kelihatan natural.
"Sudah siap belum?" tanya Fatih. Ghina yang menatap kaca, terkaget, karena suara suami menginterupsinya.
"Udah, ayok," ajak Ghina setelah mengambil tas selempangnya.
"Aku nggak terlalu mencolok 'kan?" tanya Ghina sembari memberikan wajahnya ke arah Fatih. Meminta penilaian pria itu. Fatih yang sudah menaiki roda duanya menggeleng.
"Nggak. Walau natural, kamu tetep cantik," balasnya, namun ternyata perkataan mengandung pujian itu, hanya menimbulka petaka bagi dirinya. Pinggangnya langsung nyeri akibat cubitan keras dari Ghina.
"Pagi-pagi udah gombal aja, ck." Ghina berdecak, membuat Fatih menggelengkan kepala. Kini, ia harus biasa dengan kebiasaan Ghina, selain jutek dan ketus, juga bermain tangan.
"Ini kok susah sih dibuka," gerutu Ghina berusaha membuka kunci helmnya. Fatih mengambil alih, lalu membukakan untuknya..
Tidak hanya itu, suaminya memasangkan untuknya.
"Nah begitu sayang. Duh, mukamu yang cemberut, nambah cantiknya," ucap Fatih dengan senyuman. Yang lagi-lagi, salah besar. Ia kembali mendapat cubitan, kali ini ditangannya.
"Aw! sakit istriku!" kesal Fatih. Ghina hanya mengangkat bahu, langsung menaiki roda dua itu dengan tenang tanpa rasa bersalah. Fatih menyalakan gas walau hatinya sedikit dongkol. Tapi, ketika ada tangan melingkar lembut di pinggangnya, ia menyunggingkan senyum.
Yuhuu,. YMM back!
mon maap otor baru up lgi, coz lagi daily update di lapak sebelah🤭 Like komen kalian tetap aku nantikan, biar makin semangat lanjut ni cerita, biar bisa daily update juga😁
__ADS_1