
Sella memberikan kotak bekal yang ia isi beberapa macam cemilan di dalamnya.
"Aku kira, kamu nggak datang, tadinya mau aku makan sendiri," jelas Sella pada Fatih. Mereka berdua kini tengah berdiri di halaman penginapan dengan bilik kayu yang sederhana itu.
"Makasih," ucap Fatih sambil menerima kotak bekal itu. Ia memang bukan tipe yang suka menolak pemberian jika itu dari penggemarnya. Ya, sudah lama Sella meminta dirinya untuk masuk ke grup penggemar dan akhirnya ia menyetujuinya.
"Fath, ini urusan pribadi sih, tapi aku pengen tau aja," ucap Sella yang masih menggangtung.
Alis Fatih mengernyit. "Pribadi? kamu pengen tau tentang apa?"
"Kenapa tadi kamu gendong dia? kalau orangnya tau pasti nggak terima."
Fatih tertawa pelan, ia mengerti maksud Sella.
"Oh itu, darurat Sel."
"Tetep aja, bukannya kamu juga cowok yang menjaga diri ya? tapi tadi, kamu sentuh Ghina." Suara Sella sedikit meninggi dengan tangannya yang mengepal.
"Iya, mungkin jika kamu di posisi Ghina tadi, aku akan ngelakuin hal yang sama. Masa Ghina mau jatuh, aku biarin," balas Fatih, walau pun ia belum tentu juga melakukan hal yang sama pada wanita lain. Ayolah, Ghina istrinya.
"Tapi 'kan Fath, kamu bisa aja nyerahin dia ke temen-temen cewek lain, bukan gendong dia."
"Udahlah Sel, peristiwa yang udah lalu nggak usah di bahas." Fatih menepiskan tangannya ke udara. "Dan, kamu itu penggemarku, aku nggak suka kalau salah satu dari kalian atau siapapun, ikut campur sama apa yang aku lakukan."
Sella tertegun mendengar penuturan Fatih yang mendadak tak bersahabat. "Maaf, kalau aku berlebihan. Tadi, aku cuma sedikit cemburu, masa idolaku gendong cewek lain."
Fatih terkekeh, wajahnya berubah ramah. "Kalian itu pendukungku, kalau aku nantinya punya pasangan, jangan cemburu lah, biar aku bisa tenang."
"Kamu suka sama Ghina?" tanya Sella.
"Kok ke situ nanyanya. Bukan. Maksudku kalau nanti aku udah punya istri, kalian tetap penggemarku, kalau pun ingin berbalik jadi hater aku nggak masalah. Karena aku nggak suka urusan pribadiku ada yang ikut campur."
"Kalau salah satu dari penggemar, jadi istrimu, berarti yang lain nggak boleh marah?" tanya Sella dengan nada polos.
"Iya dong, aku akan beri mereka ultimantum. Nggak ada yang boleh nyakitin istriku."
Sella tertawa renyah, dalam hati ia berdoa. Semoga salah satu penggemar yang beruntung di peristri oleh Fatih adalah dirinya.
"Ya udah Sell, aku mau gabung sama mereka," ucap Fatih dan melenggang pergi menuju perkumpulan teman-teman sekelasnya.
Satu jam kemudian, Ghina membuka matanya. Renata yang masih setia menemani, langsung membantu sahabatnya itu untuk duduk.
"Na, udah merasa baikkan?" tanya Renata sambil meraba kening Ghina.
"Iya, aku kenapa tadi? kok disini?" tanya Ghina bingung dengan suasana kamar yang asing.
"Tadi, kamu pingsan. Fatih yang gendong kamu ke sini."
Ghina berjengit. "Innalillah, dia gendong aku?"
"Iya, kepepet. Tadi di suruh bu Ratih."
"Ya Allah," lirih Ghina seraya memijat keningnya. "Apa dia mau bongkar rahasia di depan teman-teman kalau aku istrinya?"
Renata menggedikkan bahu. "Nggak deh kayaknya. Dia panik juga tadi, jadi langsung deh gendong kamu. Nggak papa Na, darurat."
"Aduh Rena, kamu pikir ini cuma tentang darurat? coba pikirin, gimana reaksi reman-reman yang lain ngeliatnya? apalagi kamu tau sendiri aku udah terlibat skandal sama Fatih."
"Tapi, nggak ada yang komen sih. Malah pada fokus sama keadaan kamu. Mungkin mereka juga maklum."
"Ya udah aku mau bantu Bu Ratih masak." Ghina beranjak dari ranjang.
"Eh, kamu beneran udah nggak pusing?" tanya Renata khawatir dan memegang kepala Ghina.
"Nggak. Ayo Ren," ajak Ghina memaksa dan Renata akhirnya menurut saja.
"Eh tuh ustadzah udah siuman," girang Riki yang tengah memainkan Tedy Bearnya. Fatih yang sedang memetik gitar juga menoleh ke arah yang sama.
"Syukurlah," lirihnya. Lalu kembali menyanyi dengan suaranya yang berat dan menenangkan.
Kau lihat aku disini menunggumu
Menanti akan kehadiran dirimu
Berkali-kali 'ku menghubungi kamu
Berharap kau dan aku cepat bertemu
Jujur aku tak sanggup bila kau jauh
Terasa berat dan hampir ingin mengeluh
Rasa ini sungguh membuatku jatuh cinta padamu
Kau ciptakan lagu indah
Kau senyum semanis buah
Satu tapi pasti dan sangat berarti
Kau takkan terganti
Sungguh dirimu membuatku terlalu bersemangat
Jalani hari-hariku dengan hebat
Kutahu hidup tanpamu itu berat
Denganmu aku kuat
Dengan begitu 'ku berhenti untuk terus mencari
Karena 'ku telah temukan pawang hati
Mengisi kesempurnaan hidup ini
__ADS_1
Jangan kau pergi lagi
La-la-la-la...
Ghina menatap datar seorang laki-laki yang tengah menyanyi dengan matanya menatap dirinya. Fatih terlihat lebih dewasa penampilannya dengan hem berwarna hitam yang di gulung sampai siku, di padukan dengan celana Khaki bewarna orange.
Fatih tersenyum ketika melihat sang istri menatapnya. "Ganteng 'kan aku?" Fatih komat-kamit sambil meneruskan petikan senarnya.
Ghina hanya mendengus, ia segera menghampiri Bu Ratih yang masih sibuk menata beberapa sayuran yang sudah layu di piring.
"Loh, sudah semua di goreng Bu?" tanya Ghina tak percaya dengan ikan-ikan yang sudah terpampang di piring.
"Yes sayang, kamu udah siuman? alhamdulillah. Kamu istirahat aja Na, duduk di tikar sana," tunjuk Bu Ratih ke arah tikar yang masih kosong, memang khusus untuk kaum cewek.
"Nggak Bu, saya mau bantu nyiapin juga," tolak Ghina halus.
"Maaf ya Bu, tadi saya udah ngebuat semuanya berantakan," sesal Ghina yang dihadiahi gelengan oleh Bu Ratih.
"Nggak papa. Ayo siap-siapin semuanya."
Ghina dan Renata ikut membantu menata piring-piring anyaman di atas tikar. Juga mereka memberikannya ke ketua kelas yang ikut membantu.
Setelah semuanya sudah tersaji di depan mata. Bu Ratih memberi pengumuman.
"Anak-anak, sebelum kita makan. Alangkah baiknya berdo'a untuk kita semua ya. Syafiq, kamu pimpin do'a yang bagus dan kita akan aamiinkan."
Sebagai ketua kelas, Syafiq memang sudah bersiap-siap untuk hari ini, jika tiba-tiba ia di suruh memimpin do'a yang lebih panjang dari saat ia di kelas. Tangannya mulai terangkat, begitu pula yang lainnya.
Setelah berdo'a panjang lebar, diawali bismillah mereka menyantap makanan yang sudah siap di terkam itu. Riki, yang memang tidak mau diam, sesekali mengambil momen dengan kamerenya. Bahkan, laki-laki itu terlihat seperti makan sambil berjalan.
"Heh Riki, kalau makan tuh duduk!" tegur Renata yang risih karena Riki kini tengah memotret kumpulan cewek-cewek yang sedang makan dengan lahap.
"Abadikan momen dulu dong," ucap Riki sambil mengunyah ikan gorengnya.
"Iya Riki, kalau mau motret, ya motret aja, terus lanjutin makan sambil duduk," nasihat bu Ratih membuat Riki meringis pelan.
Ia kembali ke tempat duduknya, dan mulai menyantap dengan khidmat makanannya.
"Rik, fotoin kami!" titah Fitri dengan angkuhnya saat mereka sudah menyelesaikan acara makan-makannya. Kini semua siswa saling berpencar untuk mencari keseruan masing-masing
Riki yang memang tidak suka dengan Fitri the geng itu hanya mendengus.
"Males banget," katanya.
"Heh, anak mami!" sentak Fitri. "Cepetan sih."
Riki berjalan menghampiri tiga orang cewek menyebalkan di kelas itu. Dengan tak ikhlas, ia memotret mereka dengan berbagai pose yang membelakangi pantai.
"Liat dulu," kata Fitri. Ia melihat hasil pemotretan Riki, namun lidahnya berdecak tak suka.
"Aduh, amatiran ini mah," komentarnya.
"Ya udahlah, yang penting udah terabadikan. Kalau mau bagus, pakai cameramu lah," sungut Melani dengan nada dinginnya.
Fitri memutar bola matanya. "Iya, nih pakai hapeku yang canggih, jangan lupa efek cerahnya sampai nomor enam." Fitri menjulurkan ponselnya ke arah Riki.
Riki berdecak. "Kalau udah jelek tu, ya akuin aja. Nggak usah pakai efek-efek segala."
"Apa kamu bilang? oh, mau aku laporin ke mama aku?" ancam Fitri dengan mata melotot.
"Bisanya ngancem doang, cih." Riki dan Fitri memang tetanggaan. Jadi, wajar jika Fitri sudah mengenal Riki dengan sangat baik, bahkan berani mengancam.
Setelah memotret tiga orang itu, Riki mendekat ke arah Ghina dan Renata yang bermain air di bibir pantai.
"Kalian nggak mau aku fotoin?" tawarnya.
Renata berdecak kecil, tapi sedetik kemudian ia bersorak riang. "Beneran?"
Riki mencibir pelan. "Ya beneran lah."
"Ayo Na," ajak Renata semangat, lalu berdiri di samping Ghina, mengambil pose terbagus.
Jepret!
"Oke, ganti gaya. Ustadzah, senyum dikit dong," ucap Riki yang dibalas pelototan oleh Ghina.
"Ampun ustadzah." Riki meringis sendiri.
"Ren, kamu minggir dulu," usirnya pada Renata.
"Ih kenapa sih? 'kan kami mau foto berdua," protesnya.
"Aku pengen foto ustadzah seorang diri. ya Ghina?" tawar Riki. Ghina menggeleng.
Renata tertawa puas karena tawaran Riki di tolak, ia kembali menempelkan tubuhnya dengan Ghina, tangan kanannya memegang bahu Ghina.
"Nih cewek nyebelin banget," batin Riki. Karena sebenarnya ia ingin memotret Ghina dengan latar Fatih di belakangnya.
"Ren, agak renggang dong. Jauhan dikit, jadi kesannya kalian mau pisahan gitu." Riki menyeringai, idenya tidak buntu ternyata.
Renata berhasil menjauh dari Ghina.
"Ini mau pose gimana sih?" tanya Ghina kesal.
"Bentar ustadzah, ini gaya perpisahan yang aestethic. Ren, jauhan lagi, itu masih deket."
Renata menurut, ia semakin melangkah jauh sehingga Ghina seperti berdiri sendirian mneghadap pantai. Di belakangnya Fatih masih duduk di atas tikar dengan fokus memetik gitar.
Jepret!
"Nice," komentarnya begitu melihat hasil jepretannya yang sungguh sesuai keinginannya. Di dalamnya ada Ghina yang berpose biasa dan khimar yang berkibar, dan juga Fatih yang tengah menyanyi dengan wajahnya yang rupawan.
"Huhu, pasti dapat bonus nih kalau gini," batin Riki senang. Ya, semenjak Riki memegang rahasia pribadi Fatih, laki-laki itu sering meminta kompensasi untuk membeli kuota game pada Fatih.
Sedangkan Renata, tak menyadari jika dirinya tidak masuk ke camera.
__ADS_1
"Ren, ternyata kejauhan di situ, agak lebih deket," titah Riki, yang membuat Renata mempoutkan bibirnya.
"Tadi kedeketan, sekarang kejauhan, dasar Lamtur!" maki Renata sambil menginjak pasir yang tak bersalah.
Setelah semuanya merasa puas bermain, baik itu berenang dengan pakaian masih lengkap atau menaiki wahana yang ada di sana, mereka bersiap-siap untuk mengambil momen terakhir bersama-sama.
"Atur tinggi," titah Riki sang fotografer sementara. Tangannya memberi intruksi kesana kemari.
"Itu Rizal, kamu jangan di ujung, soalnya pendek," ucap Riki lagi tanpa merasa bersalah telah melakukan 'body shaming' tanpa sengaja pada teman sekelasnya yang bernama Rizal.
Rizal hanya mendengus, mendengar ucapan yang lebih tepatnya mengejek itu.
"Yang jongkok, tambah." Riki menunjuk Syafiq untuk pose jongkok.
"Maaf ketua, kayaknya kamu lebih keren di bawah," katanya dengan meringis.
Syafiq menurut saja, ia langsung memposisikan diri di samping Fatih.
"Bu Ratna harus di tengah, eh Fit, kamu agak geser ke samping. Itu untuk posisi Bu Ratna." Riki menepiskan tangannya ke atas, menyuruh Fitri agar mengganti posisi, membuat Fitri berdecak kesal.
"Oke, sudah siap ya?" tanyanya pada semua.
"Siap!" Riki segera mengatur timer cameranya, untunglah ia tak lupa membawa Tripod sehingga ia tak perlu risau menunjuk siapa yang akan memotret mereka.
"Cheese!" teriak Riki, semua teman-temannya menampilkan senyum dengan gaya masing-masing.
Setelah puas berpose dan berfoto ria, mereka akhirnya mengucap kata perpisahan dengan raut kesedihan. Sayonara, menjadi kata terakhir mereka walau sambil cekikikan.
"Yuk, semuanya naik ke angkot. Jangan sampai ada yang tertinggal," ucap Bu Ratih sambil melihat satu-satu anak didiknya.
"Syafiq, udah kamu absen semuanya 'kan?" tanyanya.
"Udah Bu. Tinggal cuss," balas Syafiq.
"Yuk," ajak Bu Ratih. Mereka kembali ke angkot dan akhirnya melesat pergi meninggalkan kenangan terakhir mereka di bibir pantai Takisung. Ya, semua yang pernah mereka lalui, akan terukir oleh pasir yang diterpa ombak itu.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, angkot menepi tepat di halaman depan sekolahan. Semua siswa turun dengan raut wajah lelah. Bahkan yang sempat tertidur, masih dalam kondisi acak-acakan.
"Alhamdulillah, nyampe juga." Renata merentangkan tangannya lebar-lebar.
"Iya, tapi berkesan banget ya tadi?" tanya Ghina.
"Banget Na, aku pasti bakal nangis kalau nginget momen hari ini. Hueee." Renata pura-pura histeris.
"Mulai lebai," cibir Ghina.
Renata hanya terkekeh pelan. "Woi, jangan lupa share foto kamu berdua, tapi jangan di grup, cp aja," teriak Renata pada Riki yang kebetulan lewat, namun membuat Ghina menyenggol lengannya pelan.
"Hehe, takut dia nggak denger," ucap Renata.
"Iya mak lampir," balas Riki malas.
"Na, kamu nungguin angkot berarti?" tanya Renata. "Nggak boleh kah sekalian sama sopir angkotnya yang tadi?"
"Hus, supir angkot tadi 'kan di bayar sampe ke sekolah aja, bukan ke rumahku."
"Yuk aku anterin aja?" tawar Renata.
"Nggak usah aku--" belum sempat Ghina bicara, seseorang sudah memotongnya.
"Ghina sama aku," sela Fatih yang entah sejak kapan sudah berada di sana dengan menenteng gitar miliknya.
"Nggak usah Fath, kamu duluan aja," tolak Ghina.
"Na, mending sama suami kamu gih. Kasian juga kamu kayaknya kelelahan banget. Angkot juga belum nongol tuh." Renata menatap khawatir ke arah wajah Ghina yang masih pucat.
"Iya ditunggu lah."
"Sana Ren kalau mau pulang duluan," ucap Fatih. "Aku yang akan bujuk si keras kepala ini."
Ghina mendengus pelan. "Apaan coba, aku udah bilang nggak mau, ya jangan di paksa."
Renata menghembuskan nafas jengah. "Sana, sama suami aja. Dosa loh kalau nolak."
"Renatul!" kesal Ghina karena sahabatnya bukan membelanya, justru mendukung Fatih.
"Noh, dengerin ustadzah," ucap Fatih dengan seringaiannya.
"Ya udah Na, aku duluan ya. Bye, assalamualaikum."
"Kamu 'kan habis pingsan tadi, jadi biar aku antar. Kalau pingsan lagi di angkot gimana? mau di gendong sama supirnya?" tanya Fatih serius, apalagi ia melihat bulir keringat di pelipis Ghina.
Fatih mengeluarkan selembar kain dari saku celananya, lalu mengarahkannya ke jidat Ghina, membuat si empunya terkejut.
"Fath, nanti ada yang liat," protes Ghina sambil menepis tangan Fatih.
"Itu, dahimu keringet dingin ya kayaknya?" tanya Fatih, lalu menyerahkan sapu tangan miliknya ke Ghina. "Elap sana."
Ghina menerimanya, lalu mengelap wajahnya yang kusam karena terik matahari pantai yang tadi pagi menyengat kulit.
"Ayo, mumpung sepi juga," ajak Fatih yang akhirnya di angguki oleh Ghina. Ia juga merasa kurang enak badan dan ingin segera sampai ke rumah.
"Aku mau singgah ya?" tanya Fatih saat mereka sudah turun di depan halaman rumah Ghina.
"Nggak usah sih, mau ngapain? nggak ada kepentingan juga."
"Ibumu ada 'kan?" tanya Fatih lagi tak menjawab pertanyaan Ghina. Ia turun dari motor dan mengambil alih gitar yang di pegang Ghina, lalu ia menaruhnya di sepeda motor.
"Iya ada," balas Ghina ketus. Ia sedang tidak mood menerima kunjungan siapapun hari ini. Badannya terasa panas dingin.
"Ya udah, aku mau ketemu Ibu, pasti udah rindu aku."
"Narsis," cibir Ghina dan menghadang Fatih yang mau masuk ke dalam.
"Kalau bukan kamu yang rindu aku, ya minimal mertuaku yang rindu," ucap Fatih enteng. "Minggir, atau aku cium nih?" ancamnya.
__ADS_1