Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Lebam


__ADS_3

Ghina meminta turun dari jarak yang lumayan jauh dari SMA Banua, setelah membayar ongkos driver, ia langsung berjalan menuju tempat balapan yang ternyata letaknya tidak jauh dari sekolah menengah atas itu.


Dapat ia lihat segerombolan murid sekolahan yang masih mengenakan seragam. Di sana ada lima orang cewek yang Ghina sendiri tidak mengenalnya, namun dari seragam mereka, menunjukkan jika kelima gadis itu adalah anak SMA Banua.


Langkahnya semakin mendekat untuk melihat apa yang terjadi. Tidak ada sorak sorai atau pun motor berkejaran. Matanya melirik ke sana kemari, mencari keberadaan Ilham, namun nihil.


"Ilham kemana ya?" tanya Ghina lirih.


Ia terperanjat saat melihat seseorang tersungkur ke tanah. Akhirnya, setelah beberapa orang siswa mulai merenggangkan lingkaran mereka, ia dapat melihat siapa yang tengah di rundung.


"Fatih!" pekik Riki berat, namun ia juga ketakutan. Nyalinya menciut begitu saja jika harus berhadapan dengan Lukman the geng. Ia hanya mampu menggigit bibir bawahnya dan memegang erat ransel milik Fatih di dadanya.


"Kamu pergi aja Rik," usir Fatih yang sudut bibirnya sudah berdarah.


"Nggak, aku nggak akan tinggalin kamu. Aku masih gentle sebagai seorang pria!" lantang Riki dengan suara yang tetap saja gemetar, sehingga mengundang tawa Lukman dan anak buahnya. Ia sebenarnya senang, karena Fatih tidak jadi balapan motor, tapi sebagai gantinya Fatih harus rela kalah sebelum bertanding, harus siap menerima bogeman dari Lukman dan anak buahnya.


"Heh anak mami!" panggil Lukman. "Kamu nggak denger dia bilang apa? pergi sana! atau kamu mau babak belur juga?"


"Aku nggak akan biarin kalian nyakitin Fatih!" Riki bergerak maju, ia membusungkan dada walau takut, dan lagi-lagi membuat mereka yang ada di sana tertawa-tawa termasuk beberapa cewek di sana.


"Kalian berdua sama aja, besar mulut doang. Balapan aja nggak berani," hardik Lukman.


Fatih berdiri, ia menyeka sudut bibirnya. "Aku cuma nggak mau nyelesaikan masalah dengan cara kekanak-kanakkan."


Lukman tertawa sinis. "Kekanak-kanakkan?" Ia memegang bahu Fatih. "Dasar cemen."


Tanpa aba-aba, Fatih melayangkan bogeman mentahnya ke wajah Lukman yang menyeringai, membuat cewek-cewek menjerit. Ghina yang memperhatikan sedari tadi, lantas berlari.


"Fatih cukup!" teriaknya dan membuat orang-orang yang ada di sana menoleh ke sumber suara.


"Jalang itu lagi, di mana-mana ada dia. Heran aku," gerutu Lukman dan kini berjalan menghampiri Ghina.


"Mau apa jalang? mau dapat pukulan juga?" tanya Lukman tajam namun tak membuat mata Ghina surut menatapnya tajam.


"Hentikan kebegoan kalian. Kalian udah besar, nggak seharusnya bersikap begini. Aku udah telpon Pak Amran, sebentar lagi mereka akan ke sini dan menegur kalian!" ancam Ghina.


"Anjing, cewek ini bener-bener berani," kesal Lukman dan menoleh ke arah teman-temannya. "Beri pelajaran!"


Dua orang anak buah Lukman berjalan mendekati Ghina dan hendak mencekal tangannya, namun Fatih segera melayangkan kakinya ke arah wajah mereka.


"Pergi Na!" suruhnya dengan nafas memburu.


Kerah belakang Fatih di tarik Lukman, lalu sejurus kemudian, wajahnya terkena kepalan tangan Lukman.


"Fatih, aku bilang hentikan!" Ghina mencoba melerai, namun naas saat Fatih berusaha membalas, pukulannya terkena wajah Ghina dan membuat gadis itu tersungkur.


"Hahaha, mampus!" Lukman tertawa keras. "Tuh, cewekmu, mati!" katanya.


Ilham yang baru datang dan melihat hal itu, langsung membantu Ghina berdiri. Fatih melihat Ghina dengan tatapan bersalah, ia tak sengaja memukul Ghina.


Air mata Ghina luruh, benar saja perkiraannya selama ini. Fatih, memang bukan laki-laki yang baik. Dia adalah orang yang kasar.


"Na, maafi--" belum sempat Fatih menghampiri Ghina. Kedua anak buah Lukman yang tadi wajahnya di tendang oleh Fatih, segera mencekal kedua lengan Fatih.


"Kamu nggak papa Na?" tanya Ilham khawatir.


Fatih melihat bagaimana Ilham memegang bahu Ghina, ada rasa tidak suka ketika melihat itu.


"Iya aku nggak papa. Aku pengen pulang," isak Ghina. "Biarkan mereka, aku udah menghubungi Pak Arman untuk datang ke sini."


Ilham mengangguk. "Man, hentikan! kamu ingin dapat masalah sebelum kelulusan huh?!" ancam Ilham saat Ghina sudah menepi. Ia maju mendekati sepupunya.


"Jangan ikut campur Ham! ini urusanku dan dia!" tegas Lukman dan menyuruh Ilham sang sepupunya untuk minggir.


"Aku nggak bisa biarin kamu mukulin orang. Kalian udah sama-sama besar, berdamailah. Kalau pun nggak bisa, cukup pendam aja permusuhan kalian sampai mati."


"Pergi sana, bawa cewekmu Ham. Ini urusan aku sama si tengil Fatih. Sana!"


Ilham menjotos wajah Lukman. "Sadar Man!" pekiknya marah. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Lukman yang sempit. Menyelesaikan masalah malah dengan fisik.


"******, pergi dari sini Ham!" teriak Lukman marah. "Pergi, atau wajahmu juga babak belur. Mumpung aku masih anggap kamu saudaraku."


"Pak Arman lagi menuju ke sini, aku harap pertengkaran kalian usai, sebelum beliau sampai." Akhirnya Ilham hanya mampu mengingatkan dengan wajah datarnya, karena toh percuma Lukman tidak akan mau mendengar omongannya.


Fatih berontak, ia mengejar Ghina yang sudah berjalan jauh.


"Na, maafin aku tadi--"


"Cukup!" sentak Ghina yang tidak ingin mendengar apapun lagi dari Fatih. Rasa perih di sudut bibirnya tak seberapa, di banding ulu hatinya yang berdenyut karena perlakuan kasar Fatih padanya.

__ADS_1


"Jangan pulang sama Ilham," lirih Fatih.


Ghina bergeming. Ia tak mempedulikan Fatih, tangannya mengotak-atik ponsel untuk memesan ojek online.


Ilham mengejar Ghina, ia menatap tajam ke arah Fatih. "Selesaikan urusan kalian itu Fath, jangan pernah bawa-bawa Ghina ke dalam masalahmu."


Setelah kepergian Ghina dan Ilham, Pak Arman datang dan langsung menegur beberapa muridnya itu. Ia meminta agar besok, Fatih dan Lukman serta anak buahnya mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di BK.


"Sial!" umpat Lukman yang rasa dendamnya masih belum terbalas. Ia menatap penuh kecewa saat Fatih dan Riki bisa kabur begitu saja. Ia dan kawan-kawannya juga akhirnya terpaksa bubar dan besok harus bersiap jika di panggil ke ruangan menyebalkan itu.


Sesampainya Fatih di rumahnya, ia langsung di panggil oleh Abinya menuju ruang yang digunakan untuk Mushalla. Kyai Zhafran sudah mendengar kabar dari salah satu guru yang sore ini memergoki Fatih tengah berkelahi.


"Kalau kelakuanmu masih begitu, kamu nggak cocok jadi imam rumah tangga!" Kyai Zhafran berucap dingin. Ia sungguh dibuat malu dengan kelakuan anak laki-lakinya yang masih saja kekanank-kanakkan walau sudah memiliki istri. Fatih duduk bersimpuh dengan tangan bertumpu di lutut.


"Maafkan aku Bi. Aku udah berusaha untuk nggak bikin onar lagi."


"Laki-laki itu kalau salah nggak banyak alasan. Kamu itu guru! harusnya bisa jadi contoh!" geram Kyai Zhafran dan menghembuskan nafasnya berkali-kali.


Fatih hanya diam, ia tidak mungkin lagi berkilah dan mencari-cari alasan. Ia hanya pasrah dan mengakui bahwa dirinya salah. Setelah mendapat nasihat tajam dan menusuk dari sang Ayah, Fatih kembali ke kamarnya. Umminya ternyata sudah menunggu di dalam dengan khawatir.


"Maafkan aku Ummi," lirih Fatih dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Ia memegang tangan Ibunya. Lalu menciumnya dengan kondisi wajah yang belepotan darah.


"Kamu itu, suka banget bikin masalah. Kalau Abi nggak dapat info dari sekolahan, pasti kamu terus-terusan ngelakuin itu. Kenapa Nak? masalahmu sama temenmu itu apa?"


"Biasa Ummi. Masalah anak remaja." Fatih terkekeh pelan, membuat sang Ummi menghela nafas.


"Sini, obatin dulu lukamu."


"Ummi, aku bersalah," adu Fatih lagi. Ummi Zainab mengernyitkan dahi.


"Iya kamu emang salah. Ummi harap bisa introspkesi ke depannya."


"Bukan itu. Aku nggak sengaja mukul Ghina."


"Astaghfirullah Fatih! apa yang udah kamu lakukan?" pekik Umminya terkejut. Ia menghentikan aktifitas mengompres wajah sang anak.


"Aku nggak sengaja. Tadi, ada Ghina yang berusaha hentikan aku."


"Ya Allah Nak, terus gimana keadaan Ghina? parah? Ibu harus telepon besan," ucap Ummi Zainab dengan khawatir. Ia beranjak dari kamar anaknya, lalu masuk lagi membawa ponsel.


"Bisa-bisanya kamu mukul istrimu sendiri. Walau nggak sengaja, pasti Ghina kesakitan."


Ummi Zainab menatap anaknya. "Iya, kamu harus segera minta maaf. Ibu jadinya nggak nyaman juga kalau besan tau hal ini."


"Biar aku aja Mi," pinta Fatih dan mengambil alih kain kompres yang di pegang Umminya. Ia membiarkan Umminya untuk menelpon Ibunya Ghina.


"Gimana keadaan Ghina?"


"Alhamdulillah, dia baik-baik aja. Tadi, baru pulang sekolah langsung istirahat di kamar. Kenapa?"


"Oh, nggak papa. Pengen nanyain kabar aja, malam ini Fatih mau ke sana besan, nggak papa?"


"Nggak papa besan, mereka 'kan udah suami istri juga. Nginep juga nggak papa."


"Iya, terimakasih besan."


Setelah salat Maghrib berjamaah di salah satu masjid, karena Fatih sengaja menghindari bertemu para santrinya yang bakal merecokinya dengan berbagai pertanyaan itu, akhirnya ia memutuskan segera pergi ke rumah Ghina.


Sesampainya di sana, Ibu mertuanya menyambut dengan wajah terkejut melihat kondisi Fatih yang babak belur.


"Kenapa kamu Nak?" tanya Narsih khawatir dan menuntun Fatih untuk duduk di sofa.


"Ibu, sebelumnya saya ke sini mau minta maaf. Saya memang bukan suami yang baik, tapi saya sangat menyesal dan insyaa Allah ke depannya akan memperbaiki kelakukan saya."


Narsih yang tidak mengerti arah pembicaraan Fatih hanya mengernyitkan alis. Akhirnya Fatih menjelaskan panjang lebar tentang kejadian tadi siang dan membuat Narsih menatap tak percaya. Hal itu membuat Fatih begitu takut, jika Narsih marah dan malah mengusirnya. Tapi, dugaannya salah.


"Pantes tadi Ummimu menanyakan Ghina." Narsih menepuk pelan bahu menantunya yang kini tengah bersimpuh di hadapannya. Ya, Fatih sampai seperti itu hanya karena ia merasa benar-benar menyesal.


"Kamu 'kan nggak sengaja. Lagian, Ghina juga bisa-bisanya malah deketin laki-laki yang pada kelahi." Narsih menggelengkan kepala karena merasa Ghina terlalu berani.


"Dia pas pulang baik-baik aja, langsung masuk ke kamar. Kalau kamu mau liat dia, silakan. Ayo, Ibu antar," tawar Narsih dan Fatih mengangguk dengan senyum sumringah.


"Na, sayang. Buka pintunya," teriak Narsih pelan karena saat ia memutar kenop pintu, ternyata terkunci dari dalam.


Tak lama, pintu terbuka menampilkan Ghina yang berusaha tersenyum dengan matanya yang sembab, terlihat sekali dia sehabis menangis.


Narsih mengusap kepala Ghina. "Kamu kenapa Nak? sakit?" tanyanya khawatir.


Ghina menggeleng. "Nggak Bu. Ibu udah minum obat?" tanya Ghina mengalihkan pembicaraan, ia belum sadar jika di sana ada seseorang juga.

__ADS_1


"Udah."


"Ibu istirahat aja di kamar. Kalau udah capek, tunda dulu jahitannya," saran Ghina karena ia tak ingin Ibunya kembali drop karena kelelahan.


Narsih tersenyum. "Ini, ada suamimu. Dia mau liat keadaan kamu."


Mendengar itu Ghina terkejut. Narsih membuka pintu kamar Ghina dengan lebar. Di balik punggungnya terlihat Fatih yang tengah menatap Ghina dengan menyesal.


"Ya udah, kalian ngobrol berdua gih. Ibu istirahat dulu ya ke kamar."


Narsih meninggalkan dua sejoli yang saling menatap dalam diam itu.


"Na, maafin aku." Kata pertama yang keluar dari mulut Fatih ketika mereka hanya terdiam.


Ghina tersenyum sinis. "Setelah apa yang kamu perbuat, kamu minta maaf?"


"Aku bener-bener nggak sengaja. Itu reflek. Na, beri aku kesempatan."


Ghina hanya diam sambil menatap wajah Fatih yang lebam, dalam hati terbersit rasa kasian melihat kondisi Fatih. Apa laki-laki itu belum sempat mengobati lukanya? batin Ghina.


Sejujurnya, Ghina merasa sedikit lega karena balapan motor itu tidak terjadi, mungkin Fatih memang menyadari jika menyelesaikan masalah bukan dengan cara seperti itu.


"Tunggu di sini," titah Ghina dan kembali masuk ke kamarnya. Setelahnya, ia keluar dengan membawa kotak P3K lalu mengajak Fatih untuk duduk di sofa.


"Kamu udah maafin aku?" tanya Fatih yang kini duduk di sebelah Ghina. Ia memposisikan diri menghadap gadis itu. Ghina hanya diam, tentu tidak semudah itu memaafkan Fatih. Bahkan luka di bibirnya pun masih utuh dan perih.


"Sini wajahmu!" Ghina menarik kepala Fatih untuk menghadapnya. Ia sedikit membubuhkan kapas dengan air alkohol, lalu mengoleskannya ke wajah Fatih.


"Argh, perih." Fatih mengerang pelan.


"Udah tahu akibatnya bakal gini, kenapa juga masih kelahi?" omel Ghina yang masih fokus mengelap luka-luka di wajah suaminya dan terakhir ia membubuhkan betadin di sana dan semakin membuat Fatih meringis tak karuan. Namun, tanpa Ghina sadari, Fatih masih sempat mencuri pandang pada wajah yang hanya berjarak beberapa centimeter saja darinya.


"Terus, gimana tadi urusannya sama Pak Arman?" tanya Ghina.


"Besok, kami harus ke BK."


"Sebenarnya, apa sih yang kalian masalahkan sampe musuhan kayak gini?"


"Masalah cewek dan ketenaran. Aku juga nggak pengen gara-gara itu jadi dapat musuh, tapi ya sudahlah. Manusia itu emang unik, kadang memperebutkan sesuatu hal yang fana."


"Jadi, dia iri kamu terkenal dan banyak di gandrungi cewek?"


"Mungkin, walau masih banyak penyebab lainnya."


Ghina menghela nafas, urusan cowok memang ada-ada saja. Ya, walau hampir saja memang seperti urusan cewek yang saling iri dengki hanya karena sesuatu hal yang tak dimiliki, semisal kecantikan atau prestasi.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Fatih saat Ghina selesai dengan aktivitasnya. Gadis itu hanya menatap ke arah kotak P3K dan menyusun kembali isinya.


Ghina mendongak. "Seperti yang kamu liat," katanya mengangkat bahu dan hendak beranjak dari sofa. Namun, tangannya di cekal oleh Fatih.


"Beneran Na, aku minta maaf soal tadi."


"Kamu datang ke sini cuma mau ngomong itu dan ngerepotin aku gini?"


"Iya, aku sadar aku salah."


"Bagus, intropeksi diri. Kamu itu anak Kyai, harusnya jadi contoh."


"Makasih istriku yang udah ingetin," ucap Fatih dengan senyuman. Tangannya yang masih memegang telapak tangan Ghina langsung ia arahkan ke bibir dan mencium tangan isterinya gemas.


"Heh? ngapain kamu?!" sentak Ghina yang terkejut mendapati Fatih yang mencium tangannya.


"Ucapan terimakasih, dengan gitu. Aku bisa tidur nyenyak malam ini."


Ghina berdecak pelan. "Lebai."


"Gak papa lah, 'kan cuma sama istri."


"Terserahmu." Ghina tidak ingin berdebat dengan Fatih. Malam ini, ia lelah juga dan ingin istirahat.


"Sini, gantian." Fatih berdiri dan memegang pundak istrinya yang tadi siang sempat di pegang oleh Ilham. Ia menekannya pelan dan membuat Ghina terduduk kembali di sofa. Fatih tersenyum saat Ghina tidak melakukan penolakan.


"Bibirmu masih keliatan berdarah, kamu nggak obatin?" tanya Fatih yang masih dapat melihat ada sedikit luka di bibir sang istri.


"Nggak usah. Biar aku aja," tolak Ghina ketika Fatih mengacak-acak kembali kotak P3Knya.


"Jangan nolak bantuan suami," ucap Fatih dan membuat Ghina pasrah saja. Ia lelah, hatinya lelah, bahkan untuk sekedar membalas ucapan Fatih ia tak berselera.


Dengan telaten, Fatih mengusapkan betadin ke sudut bibirnya. Saking dekatnya posisi mereka, Ghina dapat mencium bau harum shampo di rambut Fatih. Entah mengapa, ada yang berdesir aneh di dadanya, tapi ia berusaha menepisnya.

__ADS_1


__ADS_2