Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Rusak


__ADS_3

Usai sarapan, Ghina masih belum beranjak dari duduknya. Ia melirik jam berbentuk bulat yang terpajang indah di dinding ruang makan. Tapi, tidak ada tanda-tanda seseorang datang.


"Ngapain juga aku nunggu dia," batin Ghina. Entah mengapa, ia kini merasa terbiasa jika Fatih menjemputnya.


"Na? kamu belum mau berangkat juga?" tanya sang Ibu yang sudah memulai aktivitas menjahitnya.


"Iya Bu, ini mau berangkat," ucap Ghina dan berjalan menghampiri Ibunya, lalu mencium tangannya dengan takzim.


"Jaga kesehatan ya Bu. Jangan sampai pundak Ibu pegel gara-gara terus nunduk liatin mesin jahit," nasihat Ghina seperti seorang Ibu pada anaknya. Narsih hanya terkekeh melihat kelakuan putrinya yang begitu perhatian pada dirinya yang bahkan mengurus diri sendiri saja mengalami kesusahan.


Narsih sadar, selama ini Ghina kurang kasih sayang darinya tapi rasa empati putrinya itu cukup tinggi. Walau anaknya itu banyak melihat aktivitas kekerasan di masa lalu, tapi ia bersyukur Ghina tidak tumbuh menjadi anak yang membangkang dan mencari jalan lain untuk mengobati dahaga rasa sayang.


"Iya Nak, kamu hati-hati ya," pesan Narsih setelah mengucap puncak kepala Ghina.


Ghina turun dari angkot dengan hati-hati. Sesampainya ia di halaman kelasnya, ia di sambut oleh Renata yang tengah sibuk menyapu teras.


"Na!" panggilnya, lalu menaruh sapu di balik pintu kelas. Setelahnya, ia kembali menemui Ghina yang memilih duduk di depan Lab Mini, sambil menikmati matahari pagi sebelum bel masuk berbunyi.


"Fatih babak belur!" pekik Renata dengan mata melotot, tangannya meraba wajahnya sendiri.


"Iya tau," balas Ghina malas.


"Hah? kamu tahu?" tanya Renata dengan mimik terkejut. "Ya iyalah, kamu pasti taulah 'kan istrinya."


"Dia dimana?" tanya Ghina.


"Tadi sih ada sama Riki di kelas, terus keluar, nggak tau kemana," balas Renata. "Eh, emang ada kejadian apa sih, sampai Fatih babak belur gitu? tadi pagi fansnya berbondong-bondong datang, bawa obat-obatan loh."


"Panjang ceritanya."


"Ceritakan dong, penasaran nih," pinta Renata memelas. "Aku kira Fatih udah tobat dari nakalnya, eh malah masih aja."


"Dia tarung sama Lukman dan anak buahnya."


"Ya Allah, terus? gara-gara apa sih?"


"Karena mereka musuhan sejak lama."


"Aku kira udah baikkan, ternyata eh. Siapa coba yang nyari gara-gara duluan?"


"Lukman, dia masih nggak bisa terima kalau Fatih lebih tenar dari dirinya."


"Astaghfirullah, dasar ya, laki-laki badung. Bisa-bisanya cuma gara-gara itu doang, sampe mukulin Fatih."


"Mereka hari ini akan dipanggil ke BK."


"Ih ngeri 'kan harus berurusan sama BK. Semoga mereka tobat, ini mau lulus loh. Gimana nanti kalau surat kelulusan di tahan, dan berabe."


"Resiko mereka."


Bel istirahat berbunyi, namun disertai dengan pengumuman yang dilakukan oleh Wakasek Kesiswaan.


"Semua siswa diharapkan berkumpul di lapangan!" teriaknya tegas dengan suara yang berat.


Semua murid baik itu kelas sepuluh, sebelas dan dua belas dari empat jurusan yang berbeda berduyun-duyun ke lapangan. Mereka saling berbisik-bisik penasaran terhadap hal apa yang akan dibahas hari ini oleh Pak Sandy.


"Alhamdulillah, tidak terasa sebentar lagi kelas XII akan lulus dan meninggalkan kita. Maka hari ini, Bapak ingin mengumumkan penetapan tanggal pengukuhan sekaligus perpisahan bagi siswa dan siswi kelas XII," jelas Pak Sandy dengan senyuman.


Murid yang hadir bergemuruh, ada yang bersorai, ada yang wajahnya langsung murung.


"Nggak kerasa ya, bentar lagi perpisahan," lirih Renata yang berdiri di samping Ghina.


"Perpisahan itu hal yang pasti. Tapi, alangkah lebih baiknya kita ukir kenangan yang indah sebelum itu terjadi," ucap Ghina yang diangguki cepat oleh Renata.


"Bener banget, mumpung masih ada kesempatan untuk bertemu temen-temen. Btw, jadi nih kita jalan-jalan sama wali kelas?" tanya Renata.


"Tanya sama ketua kelas, dia yang handle."


"Aku trauma sebenarnya, kalau terjadi sesuatu hal kayak kemarin," keluh Renata yang merasa takut untuk pergi-pergi jauh karena kejadian beberapa waktu lalu yang menyebabkan ia dan Ghina harus mendekam di rumah sakit.


"Insyaa Allah nggak. Katanya 'kan kita mau nyewa angkot?"


"Iya sih, semoga lancar aja."


"Insyaa Allah, acara akan dilaksanakan pada bulan ini tanggal 28, jadi untuk semua pihak yang akan berkontribusi demi kelancaran acara, silakan mempersiapkan segala sesuatunya!" jelas Pak Sandy.


"Tanggal 28 bentar lagi, huhu." Renata pura-pura menangis, membuat Ghina hanya menggelengkan kepala.


"Pasti hari ini langsung rapat KSI. Siap-siap aja untuk mensukseskan acara terakhir kita," ucap Ghina senang.


"Siyap!"


Seperti biasa, Ghina selalu menunggu angkot di pinggir jalan. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat ke arah toko ATK Fatih yang sudah sepi. Hanya ada Alim, si penjaga toko. Sedangkan Fatih dan Riki yang biasa nongkrong di sana, tidak kelihatan batang hidungnya.


Tak lama, sebuah motor berhenti tepat di depan Ghina. Siapa lagi kalau bukan Fatih. Tampilannya sungguh mengenaskan di banding tadi malam. Luka lebam itu sudah mulai menghitam di beberapa bagian.

__ADS_1


Fatih turun dari motor, lalu mendekati Ghina dan dengan tiba-tiba menggenggam tangan gadis itu. Membuat si empunya terperanjat.


"Lepas, ini tempat umum Fath." Ghina mengingatkan.


"Maaf ya, tadi pagi nggak bisa jemput kamu. Soalnya ada urusan yang harus di selesaikan," ucap Fatih jujur.


Ghina hanya manggut-manggut. "Iya, gimana tadi di BK?"


"Lancar dan beres."


"Yakin, dia nggak bakal bikin ulah lagi?"


"Susah, tapi aku akan berusaha nggak ladenin dia."


"Kemarin, kenapa kamu ladenin dia? malah saling jotos? kenapa nggak kabur aja?" tanya Ghina bertubi, nadanya terdengar jengkel.


Fatih melirik tangannya yang masih menggenggam tangan Ghina. Ia tersenyum tipis, karena sang istri mungkin tidak sadar sehingga tidak melepaskan tautan itu.


Ghina yang sadar arti tatapan Fatih, reflek melihat tangannya yang dalam posisi di pegang Fatih. Dengan cepat, menghempaskannya.


"Udah mulai betah ya di pegang-pegang?" goda Fatih sembari terkekeh geli. Ghina hanya mendelik tajam.


"Itu karena, dia ngancam mau nyelakain kamu. Dia menduga kamu pacar aku. Padahal 'kan bukan," jelas Fatih. "Tapi, istriku hehe."


Mendengar itu, Ghina terkejut. Jadi, Fatih menyetujui balapan hanya gara-gara Lukman mengancam akan menyakiti dirinya?


"Kenapa kamu pake kepancing ancaman itu segala sih? aku baik-baik aja juga. Dia nggak mungkin berani macam-macam."


"Kamu nggak tau Lukman kayak gimana. Aneh juga sama kamu, cewek satu-satunya yang berani sama Lukman. Pokoknya, aku nggak bakal biarin dia nyakitin istriku."


Ghina bergeming mendengar penuturan Fatih, sudut hatinya tersentuh. Ia mengukir senyum tipis untuk pertama kalinya pada Fatih. Sangat tulus.


"Makasih ya Fath," ucapnya.


"Ada yang manis tapi bukan gula," goda Fatih karena melihat senyuman Ghina yang manis, namun dibalas pelototan oleh si empunya.


"Nggak usah gombal, kamu mau anter aku nggak? kalau mau ayo pulang kalau nggak sana pergi!" usir Ghina.


"Na!" panggil seseorang yang membuat Ghina dan Fatih serentak menoleh ke sumber suara. Ternyata Ilham menghampiri mereka.


"Gimana keadaan kamu, udah baik-baik aja?" tanya Ilham khawatir, ia mengabaikan kehadiran Fatih di sana. Tangannya yang bebas hendak menyentuh bahu Ghina, namun Ghina mundur beberapa langkah.


Fatih yang melihatnya tersenyum tipis. Ternyata, Ghina memang istri yang pandai menjaga diri.


"Alhamdulillah, seperti yang kamu liat ketua," balas Ghina dengan senyuman. "Makasih ya kemarin."


"Kamu lupa apa yang aku bilang kemarin Fath?" tanya Ilham dingin.


Fatih tertawa pelan, ia menepuk bahu Ilham. "Apa kabar bro? kamu nggak nanya aku baik-baik aja apa nggak?"


Ilham menepis tangan Fatih. "Nggak usah basa-basi. Kamu liat, Ghina kemarin hampir aja di pukulin anak buah Lukman, dan itu gara-gara kamu nyeret dia ke masalahmu. Seharusnya kamu ngerasa bersalah."


Fatih angkat tangan. "Oke-oke, aku salah. Ghina, aku minta maaf udah bawa-bawa kamu. Bro Ilham, aku juga minta maaf karena udah buat kamu kesel."


"Udah cukup, nggak usah dibahas lagi," sela Ghina yang tidak suka suasana dingin seperti ini antara Ilham dan Fatih.


"Angkot udah datang, aku pulang duluan," ucap Ghina dan berjalan menuju mobil berwarna kuning yang masih berjalan mendekat. Namun, hampir saja tubuhnya terserempet sepeda motor jika saja tangannya tak ditarik oleh Ilham.


Fatih yang melihat itu juga hendak menarik tangan Ghina, tapi sayangnya Ilham sudah bergerak cepat.


"Hati-hati Na, kalau nyebrang liat-liat dulu," ucap Ilham yang tangannya masih memegang lengan Ghina yang terlapisi baju seragam panjang itu.


Fatih yang melihat itu hanya diam, matanya mengarah pada genggaman tangan Ilham.


Menyadari tatapan Fatih, Ghina segera melepaskan tangan Ilham, ia tersenyum canggung. "Makasih Ham."


Setelah Ghina pergi, Fatih dan Ilham saling bertatapan dalam diam. Entah apa yang ada di pikiran mereka.


"Jangan rusak dia Fath, itu peringatan terakhirku," ucap Ilham yang bejalan mendekati Fatih dan berbisik di telinganya.


Fatih menahan tangan Ilham. "Aku atau kamu yang ngerusak dia? kamu lupa, apa yang barusan kamu lakukan?" tanya Fatih, ia tentu tidak terima jika dikatakan merusak istrinya sendiri.


"Apa? aku nggak lakuin apapun."


Fatih menyeringai, "kamu pegang tangannya tadi. Kita liat aja nanti, aku atau kamu yang ngerusak."


Ilham tersenyum. Peristiwa beberapa menit lalu, ia lakukan karena tak sengaja. "Aku nggak sengaja tadi. Jadi, di maklumi."


"Kamu emang selalu sohih ketua," puji Fatih dan melenggang pergi dari sana.


Jam menunjukkan pukul empat sore, Ghina bersiap-siap untuk salat Ashar, karena setelahnya ia akan pergi kembali ke sekolah untuk merapatkan kontribusi anggota KSI dalam acara pengukuhan sekaligus perpisahan anak kelas dua belas.


Renata : Jemput kah?


Me : Nggak usah

__ADS_1


Renata : Sekalian aku mau beli somay yang ada di jalan deket rumah kamu


Me : Iya deh kalau kamu ngga repot


Renata : Oke tenang aja


Ghina dan Renata turun di parkiran, tak lupa Renata menenteng satu plastik somay yang sangat ia gemari.


Semua anggota khususnya yang baru, sudah berkumpul di dalam Mushalla. Ghina dan Renata mengucap salam, dan mereka pun menjawabnya lalu saling bersalaman hanya kepada personil perempuan.


Ilham sebagai ketua, juga sudah ada di sana. Hanya saja, Pak Adam sebagai pembina belum hadir.


Tak lama, Ilham membuka rapat dengan salam. Semua orang yang tadinya ramai karena mengobrol, langsung menghentikan aktivitas mereka.


"Alhamdulillah, sebentar lagi, sekolah kita akan mengadakan acara besar untuk kelas dua belas. Jadi, semoga KSI bisa berkontribusi dengan baik untuk acara ini. Oh ya, anggota baru juga pasti diberi kesempatan untuk langsung tampil menujukkan bakat kalian nanti. Kali ini, akan ada tilawah solo dari kita, insyaa Allah akan ada seleksi lebih dulu."


"Untuk yang anggota, tapi kelas XII, haruskah ikut?" tanya salah seorang anggota laki-laki.


Ilham tersenyum. "Nggak, bagi anggota yang udah kelas XII nggak bisa ikut lagi, karena kita harus fokus dengan acara pengukuhan nanti. Karena nama kita akan di panggil satu persatu ke panggung dan kita pun harus duduk manis di atas kursi masing-masing nantinya."


"Yah sedih," keluh Meysa dengan raut wajah murung.


"Meysa masih bisa naik ke panggung, nyumbang lagu atas nama KSI nanti."


"Beneran ketua?" tanya Meysa berbinar.


"Iya, bisa untuk kenang-kenangan terakhir kamu di KSI. Sementara yang lain, kita fokus untuk acaranya saja ya."


"Yes hore!" Meysa tersenyum girang.


"Sayang sih suaranya kalau Meysa nggak nyanyi," komentar Renata.


Ghina menyetujui. "Akhirnya, hampir selesai tugas kita di sini Ren."


"Yah, berpisah deh sama Pak Adam."


"Ren!" panggil Ghina kesal. Dulu, Renata memang menaksir Pak Adam, saat pria itu belum memiliki istri.


"Hehe, namanya ngefans, ya sedih aja gitu nggak bisa liat wajahnya lagi."


"Assalamualaikum!" semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Fatih Na, mau ngapain dia?" tanya Renata heran. Ghina hanya diam.


"Maaf ganggu acara kalian, aku ke sini karena ada sesuatu yang harus di beritaukan sama Ghina Izzati, jadi mohon beri kami waktu," ucap Fatih sambil menatap Ilham, lalu menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat.


Ghina menatap Ilham, meminta izin.


"Maaf, karena telah mengganggu. Saya, izin keluar bentar dari rapat. Ren, kamu tunggu sini aja," titah Ghina karena Renata juga hendak ikut beranjak.


Ghina dan Fatih sudah pergi jauh dari Musholla, kini mereka berada di dalam kelas mereka.


"Ngapain Fath?" tanya Ghina.


Fatih menatap Ghina serius, ia sebenarnya tidak ingin bertele-tele, tapi masalahnya ia khawatir Ghina akan syok begitu mendengar berita ini.


Tangannya meraih pundak Ghina, namun gadis itu berusaha untuk menepis.


"Kamu, tenang aja ya. Dengerin aku baik-baik."


"Ih kenapa sih?" kesal Ghina.


"Ibu kamu ..." Fatih ragu untuk melanjutkan. "Masuk rumah sakit Na."


Mendengar hal itu, bahu Ghina melorot, ia mundur perlahan.


"Ibu hiks," isaknya. "Dimana Ibu sekarang Fath?" tanya Ghina dengan raut wajah yang sendu.


"Udah di bawa ambulance ke rs. Kamu tenang ya, kita berangkat ke sana sama-sama."


"Fath, kok kamu ke rumah?" tanya Ghina dengan suara serak, karena sepanjang jalan ia menangis.


"Kamu harus ambil keperluan kamu dan Ibu Na, untuk di rs nanti."


"Aku mau cepet ketemu Ibu Fath, ayo!" pinta Ghina memaksa, ia mencengkeram erat jaket denim yang dikenakan Fatih, bahkan ia tidak mau turun dari motor.


"Iya sabar Na, kita turun dulu ya."


"A-ku hiks, hiks, Fath, Ibuku."


Fatih turun dari motor, ia menggenggam tangan Ghina untuk masuk ke rumah. Bahu gadis itu gemetar, matanya sudah tak bisa lagi kondisikan.


"Aku bantuin kemas-kemas ya?" tawar Fatih dan mereka berdua pun memasukkan barang-barang yang nantinya akan di butuhkan selama di rumah sakit.


Sesampainya mereka di sebuah rumah sakit, Ghina langsung berjalan tergesa. Fatih membawakan barang-barang milik gadis itu tanpa protes.

__ADS_1


"Ibu," panggil Ghina dari kaca transparan yang memperlihatkan sang Ibu terbaring lemah di atas ranjang dengan selang infus di tangannya. Air matanya kembali luruh, kakinya bahkan gemetar ketika hendak membuka kenop pintu ruangan. Tubuhnya merosot ke tanah, Ghina tak sadarkan diri.


Yang suka ceritanya, jan lupa share ke yang lain yaaa🤗 makasih


__ADS_2