
Hanya menunggu hari, acara pengukuhan sekaligus perpisahan kelas XII akan terlaksana. Sudah beberapa Minggu pula, Ghina di sibukkan dengan mengurus sang Ibu yang sakit. Ia tidak membiarkan Ibunya menjahit sekalipun, karena khawatir dengan keadaan wanita paruh baya yang telah melahirkannya ke dunia itu.
"Ibu udah sangaaat sehat," ucap Narsih dengan sumringah sambil merentangkan tangannya lebar-lebar ke udara. Kini, dua orang Ibu dan anak itu tengah berada di taman samping rumah. Ghina terus menyirami Lily dan anggrek milik Ibunya, sedangkan Narsih tengah berjemur sambil merayu putrinya agar luluh.
"Iya aku tau. Tapi, Ibu nggak bisa kecapean lagi," sahut Ghina dengan tetap pada pendiriannya, tidak mau membiarkan sang Ibu kelelahan lagi.
"Ibu nggak mau lho gara-gara kamu yang ngerjakan, nanti di protes sama konsumen."
"Ibu ngeraguin aku?" tanya Ghina dengan wajah merengut.
"Tiap orang itu beda-beda dalam menjahit. Mereka yang udah jadi langganan Ibu pasti bisa bedain yang mana karya tangan Ibu sama yang bukan."
Ghina mendengus, ia menaruh alat gembor di tanah. Lalu mengusap-usap pelan bunga Anggrek Bulan berwarna Pink.
"Nanti 'kan aku mau pergi jauh. Jadi, sementara ada aku, juga akunya nggak banyak kerjaan, aku pengen gantiin Ibu jahit baju."
Narsih menghela nafas, putrinya memang keras kepala, tapi juga baik. Tapi, jika seperti ini, dirinya yang merasa suntuk tak memiliki pekerjaan.
"Iya sayang, Ibu tau. Tapi, Ibu udah kangen sama mesin jahit Ibu ya?" pinta Narsih dengan mata memohon, ia memeluk anak gadisnya dari belakang.
"Iya deh, tapi inget, Ibu jangan sampai kelelahan."
"Uh anak Ibu tersayang ini memang perhatian banget ya. Oh ya, gimana kabar suamimu? kok jarang ke sini sekarang?" tanya Narsih sambil mengelus kerudung Ghina.
"Dia sibuk dengan bisnisnya Bu," balas Ghina, karena memang demikian. Ketika ia tanyakan pada Fatih kesibukan laki-laki itu. Fatih menjawab tengah mengurus bisnisnya.
"Alhamdulillah, doakan suamimu, biar usahanya berkah. Dia katanya mau siap-siap bayarin UKTmu, Imran yang bilang."
Mendengar hal itu mata Ghina membesar, benarkah Fatih berniat membayarkan Uang Kuliah Tunggalnya? tapi, bukankah laki-laki itu juga harus terbebani dengan UKTnya sendiri yang pastinya sangat mahal karena akan kuliah di Perguruan Tinggi Swasta?
"Beneran Bu?"
"Kamu belum tau? ya Allah gimana sih. Kalian suami istri, untuk masalah biaya hidup harus saling di komunikasikan lho, biar nanti enak ke depannya. Kamu, sebagai istri harus bisa mengelola keuangan suami nantinya."
"Bu, jadi istri ternyata berat ya?" tanya Ghina, mengingat ia bahkan belum mengetahui cara yang benar dalam mengelola keuangan.
Narsih mengelus pucuk kepala Ghina. Ia menari lengan putrinya untuk duduk di sebuah kursi.
"Nggak berat, selama jalaninnya dengan ikhlas. Kamu ikhlas 'kan dengan pernikahan yang udah terjadi?"
"Ibu percaya sama Fatih?"
"Kamu nyesel nikah sama dia?" bukannya menjawab, Narsih malah balik bertanya.
"Bukan begitu Bu. Tapi, untuk semua yang terjadi selama ini, kepada keluarga kita. Terus, tiba-tiba ada laki-laki asing yang ngelamar aku dan Ibu terima gitu aja, apa Ibu udah yakin?"
"Sayang, Fatih itu di besarkan di lingkungan yang baik. Ibu yakin, Umminya udah mendidiknya dengan baik, juga Kyai Zhafran yang tegas, pasti menularkannya pada Fatih."
"Tapi Bu, seseorang yang walau di besarkan di lingkungan baik pun, belum tentu dia jadi baik. Sama, ketika seseorang di besarkan di lingkungan yang kurang baik pun, dia belum tentu jadi anak nggak baik."
"Iya Ibu tau. Tapi Ghina, insyaa Allah, lingkungan yang baik itu akan membentuk seorang anak menjadi baik. Lingkungan berperan juga lho bagi perkembangan seorang anak. Jadi, itulah kenapa Ibu nggak meragukan Fatih. Kecuali, dia datang dari keluarga nggak baik-baik, walau misalnya dia anak baik, tetap akan Ibu pikir-pikir dulu."
"Ajarin aku jadi istri yang baik Bu. Aku nggak ingin ..." ucapan Ghina tertahan, ia melihat raut wajah sang Ibu yang ternyata tak berubah, kesenduan itu hilang dari sana. Apakah sang Ibu sudah bisa melupakan kenangan masa lalu bersama suaminya?
"Iya, Ibu paham sayang. Kamu, terlalu banyak menyaksikan kekerasan dalam kehidupan rumah tangga. Maafkan Ibu, yang nggak mampu jadi teladan buat kamu." Narsih menatap anaknya teduh. "Lemah lembutlah sama suami kamu. Selama dia nggak ngajak maksiat, turutilah perintahnya."
"Ibu, aku adalah perempuan yang kasar. Seberapa kuat pun aku mencoba lembut, tetap saja, aku selalu kasar dan ketus. Bahkan terkadang, aku sering ingin memukul seseorang yang membuatku kesal."
"Lupakan masa lalu yang buruk. Ibu yakin, kamu bisa berubah menjadi baik. Semua kekerasan yang kamu saksikan, jangan pernah kamu ulang lagi di pikiranmu. Bahwa kelembutan, yang akan menghantarkan kehangatan di hatimu."
"Ibu, aku ... aku juga bingung, kenapa hal itu terjadi padaku. Aku nggak bisa memaafkan orang itu. Rasanya, jika halal membunuh, akan aku habisi Bu."
"Sayang, kamu nggak boleh bicara gitu. Ingat, kamu anak yang baik. Sekarang apalagi, sudah hijrah, terus menutup aurat, tinggal akhlak lagi yang harus di perbaiki ya?"
"Iya Bu, aku sedang berusaha."
Akhirnya Minggu pagi yang hangat itu, dihabiskan Ibu dan anak itu untuk mengobrol. Juga, Ghina yang mendengarkan petuah-petuah dari sang Ibu tentang rumah tangga. Ya, ia ingin membangun sebuah bahtera yang nantinya kuat menopang badai kehidupan. Bukan sebuah bahtera yang mudah goyah seperti halnya yang terjadi pada sang Ibu dan juga Ayahnya.
Ghina memeriksa ponselnya yang ternyata sudah ramai menampilkan notifikasi Whatsapp. Grup kelasnya sangat berisik pagi ini. Ternyata, membahas piknik yang akan dilaksanakan hari Rabu. Khusus hari itu, wali kelas XII TKJ IV meminta keringanan agar muridnya diliburkan karena akan melakukan perjalanan alias refreshing sebelum acara perpisahan.
"Apa aja Bu yang di bawa? saya bingung." Riki bertanya dengan emoticon menangis.
"Ya allah Riki, gitu aja bingung. Kamu itu cowok, bukan cewek yang harus banyak bawa ini itu!" Renata memberi komentar pedasnya.
Beberapa orang mengirim stiker tertawa.
"Dasar Mak lampir! aku 'kan tanya baik-baik sama Ibu."
"Bawa apa yang kamu butuhkan Riki," balas Wali kelas XII TKJ IV dengan nama Whatsappnya 'Ratih Puspa'
"Boleh bawa boneka ya Bu?"
Semua stiker berhamburan di dalamnya, lagi-lagi mentertawakan pertanyaan Riki.
"Ngelawak nih anak!" komentar ketua kelas yang bernama Syafiq.
"Bawa aja Rik, aku mau minta😜" Sella juga ikut membalas.
"Bawa semobil noh!" komentar Renata.
"Iya boleh Riki sayang, sepanjang kamu nggak ribet aja bawanya," balas Bu Ratih.
"Yes😌🤩🤩." Riki membalasnya.
"Lebay!" balas Renata.
"Apa sih Ren, kamu itu sensi banget sama akuh," balas Riki tak terima.
"Gatel tanganku kalau Lamtur udah ngomong nih." Renata membalas lagi.
"Melanggar HAM kamu! aku 'kan berhak berpendapat😠." Riki mulai kesal sepertinya.
"Woi sudah-sudah, mending bahas seputar liburan kita aja!" intrupsi Syafiq bijak.
"Bu, kami harus siap-siap jamber?"
"Jam tujuh sudah harus berada di sekolah ya anak-anak," balas Bu Ratih.
"Siyap Ibu."
__ADS_1
"Kalian silakan rundingkan mengenai siapa yang nanti bawa kompor, bawa ambal, yang belanja ke pasar untuk bahan makanan dan lain-lainnya ya," titah Bu Ratih.
"Okeh Ibu, kami akan siapkan."
Chat itu sampai berjumlah seribu lebih dan Ghina malas untuk menscrool hingga ke bawah. Ia mengklik tombol kembali, lalu matanya berbinar saat melihat chat dari seseorang.
Ilham : Aku denger-denger kalian mau liburan ya?
Me : Tau dari Sella?
Ilham : Ya, dia lagi main di rumahku.
Me : Iya, hari Rabu nanti. Ke pantai.
Ilham : Wih, seru kayaknya. Jadi pengen join juga. Btw, KSI gimana ya kalau ngadain kayak gitu juga?
Me : Boleh juga sih, dulu 'kan pas masa-masa Kak Badrun, kita pernah Ziarah ke makam guru Sekumpul.
Ilham : Em, kalau Ziarah lagi gimana? tapi kali ini ke Datu Kelampayan? 'kan haulnya bentar lagi nih.
Me : Bisa ketua, sangat setuju.
Ilham : Good. Nanti aku titipin sesuatu ke Sella untuk bekal kamu di jalan ya.
Me : Hah, apa itu ketua? jangan repot-repot ah.
Ilham : Ada deh.
Ghina tersenyum melihat chatnya. Ilham semakin hari semakin menunjukkan perhatiannya. Saat Ibunya di rawat di rumah sakit juga laki-laki itu beberapa kali berkunjung, tentunya saat tidak ada Fatih di sana.
Me : Oke, aku tunggu kalau gitu.
Layarnya berubah, menampilkan foto seorang laki-laki berwajah tirus dengan mata elangnya. Gambarnya hanya dari samping, namun Ghina yakin, fansnya yang melihat pasti sangat suka bahkan klepek-klepek dengan foto suaminya itu.
"Apa sih nelpon?" tanya Ghina kesal. Perasaannya yang beberapa menit lalu bahagia, berubah suram.
"Wa'alakumussalam, ternyata istriku bisa lupa jawab salam juga ya," balas Fatih dari seberang.
"Iya waalaikumussalam, kenapa?" tanya Ghina lebih ketus dari sebelumnya. Bibirnya mencang-mencong sendiri.
"Kamu ikut hari rabu?"
"Ya ikut lah, itu acara terakhir kelas kita."
"Oh, oke. Aku nggak ikut, mau ada urusan ke Banjarmasin."
"Kamu udah harus ke kampus?" tanya Ghina, perasaan SPAN PTKIN saja baru beberapa minggu lalu. Kenapa kampus Fatih sudah mengajak mahasiswa untuk masuk kampus? terlalu semangat.
"Bukan, ada urusan lain. Jadi, aku nggak bisa jagain kamu. Nanti, aku titipin kamu ke Riki aja."
"Aku bukan anak kecil Fath. Lagian apaan coba nitipin aku ke temenmu yang penakut itu, huh, ogah. Insyaa Allah aku aman-aman aja."
"Baiklah istriku tersayang, jaga diri kamu ya di sana nanti. Untuk tiga hari, kita nggak bakal ketemu dulu."
"Selamanya juga nggak papa."
"Eh? ngomong apa tadi kamu? kupingku nggak denger?"
"Ciye, perhatian. Fansku aja belum ngucapin apa-apa di grup, padahal mereka tau aku mau pergi."
"Jangan geer, aku ngucapin untuk supir yang ngaterin kamu ke Banjarmasin."
"Aku nyupir sendiri kok. Bilang aja ke akunya, ngapain ke supir segala."
"Dasar!"
"Eh, jangan ngambek dong. Ketauan perhatian aja marah, gak papa kali. Udah halal, apalagi bentar lagi serumah haha."
"Mimpimu ketinggian."
"Nggak lah ya. Setelah acara pengukuhan, kita langsung resepsi, setelah itu, kamu nginep di pesantren. Haha, kita bakal tidur berdua."
"Ih jangan kebanyakan ngayal Fath! udah ah kalau nggak ada yang penting lagi."
"Ada."
"Apa?"
"Ada yang pergi."
"Ih apaan sih?"
"Separuh jiwaku pergi, tanpa adanya kamu di sisiku."
"Lebai!"
Ghina langsung memutus sambungan. Namun setelahnya ia mengucap salam dan di jawab sendiri.
Hari yang ditunggu murid kelas XII TKJ IV pun tiba. Semuanya sudah stay di depan pos satpam dengan bawaan masing-masing. Riki, laki-laki yang mulutnya suka ngoceh sendiri itu, tampak kesusahan membawa dua boneka besar Tedy Bear miliknya.
"Ya Allah, kamu beneran bawa benda ini?" tanya Renata tak percaya dengan menatap horor ke arah wajah boneka milik Riki.
"Iya dong. Emangnya kenapa? nggak suka? ya suka-suka aku lah." Riki melirik sinis ke arah Renata.
"Uh bodo amat, cuma malu-maluin aja, cowok kok suka boneka," decak Renata sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Bilang aja iri, mau aku kasih?" tawar Riki dengan alis naik turun.
"Big No!" Renata melengos, ia kembali ke arah gerbang dengan wajahnya yang gusar.
"Ghina kok belum datang sih?" Renata mengecek jam d ponselnya, sudah pukul tujuh lewat lima menit.
"Anak-anak siapa lagi yang belum datang?"
"Ghina Bu," balas Renata cepat.
"Fatih Bu." Sella ikut bersuara. Tapi Riki terlihat biasa saja Jeniusnya tidak ada, karena ia sudah mendapat pemberitahuan dari Fatih, plus dia juga diberi mandat untuk menjaga Ghina.
"Fatih izin nggak bisa ikut. Dia lagi ada di Banjarmasin."
__ADS_1
Semua anak saling pandang. "Beneran Bu?" tanya Sella.
"Iya, jadi tinggal Ghina ya?"
Sella tampak merengut di tempatnya. Ia menatap nanar sebuah kotak yang ia sendiri siapkan untuk Fatih. Lalu, matanya beralih ke kotak satunya, milik Ilham yang harus ia berikan kepada Ghina.
Tak lama, Ghina datang dengan nafas memburu. Wajahnya yang putih bersih terlihat pucat dari biasanya, ada keringat dingin yang bercucuran di pelipisnya.
"Nah, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang jua," lega Renata sambil menepuk-nepuk pelan bahu Ghina.
"Maaf semuanya, aku telat. Maaf Bu," ucap Ghina tidak nyaman pada teman-teman dan Bu Ratih.
"Iya nggak papa. Tuh, om taksinya sudah nunggu. Ayo," ajak Bu Ratih.
Semua murid kelas XII TKJ IV langsung naik ke dalam dua buah angkot yang sudah di sewa. Di perjalanan, Sella menyerahkan sebuah kotak makan ke arah Ghina, membuat alis gadis itu mengernyit.
"Dari Ilham," ucap Sella malas. Sebenarnya, tidak ada rasa permusuhan lagi antara dirinya dan Ghina, tapi tetap saja, berbicara dengan perempuan yang kerap kali jutek itu membuatnya tidak betah. Jika saja, ia tega kepada sepupunya, mungkin bekal itu sudah di makan untuk dirinya saja.
"Oh, makasih Sel," ucap Ghina tulus sambil menerima kotak makan itu. Sella hanya mengangguk, dan kembali ke tempat duduknya.
Sesampainya di pantai Takisung yang berlokasi di daerah Pelaihari itu, murid kelas XII TKJ IV langsung berlarian girang ke arah bibir pantai. Tangan-tangan mereka terasa gatal karena ingin segera menyentuh air yang rasanya asin itu.
Ghina dan Renata sibuk membantu Bu Ratih memasang sekat untuk kompor agar anginnya tidak masuk. Sedangkan ketua kelas di bantu Riki, tengah sibuk menggelar tikar.
"Yah sayang banget Fatih nggak ikut," ucap Syafiq setelah semua tikar di gelar. Ia duduk di atasnya, begitu pula Riki.
"Iya, aku juga pengennya dia ikut. Ini juga perpisahan kita loh, acara terakhir. Mungkin, kita akan susah buat kayak ginian lagi nantinya. Kalau udah lulus, pasti pada sombong semua," komentar Riki sambil merebahkan diri di atas boneka Tedy Bearnya.
"Iya sih. Emang si Fatih kemana?"
"Dia lagi di Banjarmasin."
"Oh, ada urusan apa?"
"Bisnis mungkin. Dia 'kan diam-diam pembisnis."
Syafiq manggut-manggut. "Kamu setelah ini mau kerja atau kuliah Rik?"
"Kuliah, aku pengen tau rasanya jadi anak kuliahan. Kalau bosen, ya berhenti aja haha."
"Kuliah itu bukan untuk main-main Rik. Kamu di sana akan belajar jadi dewasa," jelaa Syafiq sambil melirik boneka Tedy Bear milik Riki.
"Ck, mentang-mentang aku masih bawa-bawa ini, jadi nggak keliatan dewasa gitu?" kesal Riki yang membuat Syafiq tertawa.
"Ya nggak sih, kesukaan orang 'kan beda-beda."
Tanpa mereka sadari, seorang laki-laki baru saja sampai di pantai dengan senyum sumringah di bibirnya. Matanya tak lepas dari menatap seorang gadis yang tengah lalu lalang sambil sesekali tertawa bersama Renata.
Ghina begitu semangat membantu bu Ratih memasak, hingga ia tak menghiraukan rasa pening yang menyeruak di kepalanya. Sesekali, tangannya memijat pelipis. Ada apa dengan dirinya, mengapa di situasi begini, justru malah merasa tidak nyaman.
"Kamu nggak papa 'kan Na?" tanya Renata yang sudah menangkap gelagat Ghina yang aneh.
"Nggak, cuma sedikit pusing. Mungkin efek naik angkot terlalu jauh."
"Padahal kamu udah biasa naik angkot ya? hm mungkin karena perjalanan satu jam, jadi mampu buat kepala pusing. Aku juga sedikit mual tadi," komentar Renata juga, lalu ia kembali sibuk menggoreng ikan di atas wajan.
Ghina terduduk di tikar, ia fokus memotong sayuran sambil memperhatikan teman-temannya berlarian bersama pasir-pasir yang sesekali tergulung ombak.
"Kok jadi makin pusing ya?" batin Ghina seraya memijat pelan pelipisnya.
Fatih yang ternyata bisa datang ke acara terakhir dengan teman-teman sekelasnya itu langsung berjalan ke arah Ghina. Namun, ia menyadari ada hal yang aneh saat istrinya itu berdiri dan jalannya oleng.
Semua sayuran yang telah rapi di dalam baskom harus tumpah dan acak-acakan begitu tubuh Ghina limbung. Untunglah, Fatih segera menangkap tubuh Ghina.
"Na, bangun!" panik Fatih, ia memegang wajah Ghina yang dingin.
"Ghina ya Allah!" pekik Renata.
Riki dan Syafiq yang tengah tiduran di tikar lain ikut terbangun mendengar pekikan Renata.
"Fath, cepet bawa dia ke penginapan terdekat," titah Bu Ratih. Wali kelas Fatih itu memang sudah tahu jika Fatih dan Ghina menikah, maka wajarlah wanita itu menyuruh Fatih.
Tanpa ragu, Fatih menggendong tubuh Ghina ke arah penginapan yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berada dan di susul oleh Renata di belakang yang khawatir.
Semua murid kelas XII TKJ IV langsung berlarian menyusul mereka.
"Na, bangun," mohon Renata sambil mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Ghina.
"Mungkin dia kelelahan," ucap Fatih sambil menatap wajah Ghina. "Atau dia mabuk perjalanan."
"Iya, dia bilang tadi pusing," sahut Renata.
"Ya udah, biar Ghina istirahat di sini. Kita lanjutkan aktivitas yang tertunda, ayo cewek-ceweknya bantu Ibu masak," ucap Bu Ratih yang diangguki beberapa murid perempuan.
Syafiq dan Riki juga hanya melihat nanar ke arah Ghina.
"Duh, kasihan ustadzah," lirih Riki sambil memeluk bonekanya.
"Ya udah, kita pergi aja. Toh, ada Renata yang jagain."
Riki manggut-manggut, ia melambai pada Fatih sekilas yang juga menatap ke arahnya.
"Sorry ya Fath, aku nggak becus jaga istrimu." Riki komat-kamit yang tak mampu di dengar siapapun.
Tanpa mereka sadari, Sella hanya berdiri mematung di ambang pintu kamar penginapan. Ia tadi sempat melihat, Fatih menggendong Ghina dan membuat hatinya sangat sakit. Tak menyangka, Fatih bisa melakukan itu.
"Fath," panggil Sella dan membuat Fatih menoleh.
"Katanya kamu nggak datang?" tanya Sella, walau sebenarnya bukan itu yang ingin ia tanyakan.
Fatih tersenyum. "Awalnya gitu, tapi urusanku di cancel. Jadinya besok."
"Oh." Sella tersenyum hambar. "Aku mau ngomong sesuatu, tapi nggak disini."
Renata yang mendengar permintaan Sella, hanya memberi isyarat pada Fatih untuk pergi dari sana.
Yuhu... datang lagi....
betw, itu si Sella mau ngomongin apa yah🤔
__ADS_1
Yang suka ceritanya, jan lupa like komen vote share ke yang lain yaa