Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Cintakah?


__ADS_3

"Fatih!" pekik Ghina seraya mendorong dada suaminya kuat-kuat. Rasa terkejutnya mengalahkan debaran jantung miliknya yang mendadak tidak normal. Wanita itu mengatur nafas, menatap suaminya dengan melotot.


"Hehehe, salah sasaran kamu, aku bilang di pipi Na," ucap Fatih tanpa rasa bersalah, ia menunjuk-nunjuk pipinya sendiri dengan jari telunjuk.


"Kamu yang salah! ih sebel banget, kalau gitu dari awal nggak usah nurutin kemauan aneh kamu itu," gerutu Ghina ia memalingkan wajah, mendadak jadi malu karena mengingat adegan tadi.


"Malu ya?" tanya Fatih, berusaha untuk melihat wajah kemerahan sang istri. Ghina justru membuang wajah kesana kemari, tidak ingin dilihat suaminya.


"Jangan ngambek dong," pintu Fatih, ia meraih telapak tangan Ghina. "Iya iya, aku minta maaf. Nggak bakal ulangi kok, kalau kamu nggak izinin, tadi itu cuma kecelakaan, ya? jangan dipikirin," jelas Fatih, ia mencoba merayu istrinya.


Ghina menatap tangannya yang sudah di genggam. Ada desiran aneh di dadanya, sepertinya gara-gara peristiwa bibir bertemu bibir tadi, sehingga masih terasa berdebarnya. "Ya udah, nggak usah di bahas, tidur sana," titah Ghina pada Fatih dengan nada ketus.


"Maaf ya?" ulang Fatih lagi. Menatap Ghina dengan tatapan sayu. Ghina mengangguk saja, walau sambil membuang wajah, entah mengapa ia menjadi sedikit gugup ketika di tatap suaminya. Ia beranjak dari ranjang, lalu mengambil selimut untuk Fatih dan menaruhnya tepat di atas tubuh suaminya itu.


Ketukan pintu membuat Ghina yang tengah duduk di sofa sambil membaca e-book, mendongak. Ia menduga, mungkin saja Riki yang datang. Namun, ternyata dugaannya salah.


"Ilham?" sebut Ghina setelah menjawab salam.


"Iya, boleh aku masuk?" tanya Ilham tersenyum.


"Kamu tau dari siapa kalau Fatih di rawat?" tanya Ghina. Mereka kini sudah duduk berhadapan di sofa.


"Riki," balas Ilham. "Gimana keadaan dia?" tanya Ilham, matanya menatap ke arah Fatih yang tertidur.


"Alhamdulillah, udah mendingan. Dia juga bru habis makan, langsung tidur. Insyaa Allah sudah ini bisa pulang," jelas Ghina dengan senyuman.


"Oh," balas Ilham, selanjutnya malah hening beberapa saat.


"Kenapa kamu yang jagain dia Na? bukannya udah ada Riki?" tanya Ilham, sebenarnya ia kesini adalah untuk mengajak Ghina pulang, tapi ternyata wanita itu malah berdiam diri di ruangan rawat ini.


"Iya, sekarang aku yang jaga," balas Ghina.


"Kamu udah maafin dia, atas kelakuan dia yang kemarin?" tanya Ilham. Ghina tersenyum menanggapi.

__ADS_1


"Iya, lagian itu nggak bener. Dia cuma di fitnah. Dan, makanya aku sekarang jagain dia, karena aku dan Fatih memutuskan untuk kembali bersama. Kalau di pikir-pikir resikonya besar kalau keluarga kita tau, apalagi Ibu, pasti sedih banget denger aku mau cerai," jelas Ghina panjang lebar, membuat Ilham terkejut.


"Kata siapa nggak bener kabar itu?" tanya Ilham


dengan tatapan tidak yakin.


"Melani yang cerita. Itu cuma kelakuan Sella, seperti dulu, pas dia nyebar foto aibku saka Fatih," jelas Ghina membuat Ilham menghela nafas, pupus sudah harapannya untuk segera mengutarakan niat seriusnya pada wanita di depannya.


Ilham tidak terlalu terkejut sebenarnya, dari gelagat Sella yang mengatakan padanya secara terang-terangan tentang hubungannya semgan Fatih, juga tentang Fati yang datang langsung ke kosan Sella dan menentang pernyataan Sella, di sana ia bisa melihat dengan jelas, bahwa sepupunya lah yang terlalu kepedan. Hanya saja, ia tidak ingin menduga atau berniat membela Fatih. Biarkan pria itu saja yang berusaha mencari cara mengembalikan kepercayaan Ghina, dan ternyata atas bantuan Melani, akhirnya Ghina yakin dengan suaminya.


"Kamu nggak percaya?" tanya Ghina yang menyadari gelagat Ilham. Pria di depannya itu berulang kali menghela nafas.


"Kamu yakin, masih mau jalanin hidup sama suami kamu Na? kamu bisa jamin, kalau dia bisa jagain kamu? bukan malah nyakitin kamu?" tanya Ilham dengan kalimat provokasinya. Raut wajah Ghina berubah, bukan tidak yakin atau merasa ragu jika ia memberi kesempatan.pada Fatih, karena selama ini, ia merasa suaminya pria yang baik, tidak pernah mengasarinya. Tapi, lebih kepada pertanyaan Ilham, yang sangat mengganggu.


"Kenapa kamu tanya begitu Ham? aku sendiri yang nentuin, kamu nggak yakin sama keputusanku? walau aku nggak bisa jamin. Kita liat aja di masa depan nanti, yang jelas, aku ingin beri kesempatan pada suamiku," jelas Ghina, membuat Ilham berdehem pelan. Kata 'suami' yang diucapakan Ghina seraya menusuk-nusuk di gendang telinganya.


"Bukan maksud aku, nggak yakin dengan keputusan kamu, tapi aku takut kamu tersakiti," ucap Ilham lirih. "Aku, suka sama kamu Na. Kamu tau 'kan? sejak kita SMK, aku pikir kamu nggak bakal seterusnya sama Fatih, makanya aku cukup lega ketika kamu tau kebobrokan dia, karena memang selama aku liat, dia banyak akrab dengan cewek-cewek lain, kamu nggak sakit ngeliatnya?"


Mendengar pernyataan Ilham, Ghina terdiam. Ia menghela nafas panjang. "Aku udah punya suami. Jangan harapkan apapun, selain kita adalah teman Ham. Sudah cukup, Fatih curiga dengan kedekatan kita, aku nggak mau semuanya jadi boomerang, kamu bisa kok cari yang lain selain aku," ucap Ghina serius. Ia juga tidak menyangka ternyata rasa Ilham masih ada untuk dirinya walau kini dirinya sudah menikah.


"Apa hubungan kalian berdua nggak baik-baik aja? sejak kapan?" tanya Ghina, ikut beranjak dari duduk.


Ilham terkekeh. "Menurutmu gimana?" tanyanya balik, membuat Ghina hanya mengerutkan aljs.


"Aku nggak tau. Itu urusan kalian," balas Ghina cuek.


"Hahaha, nggak usah nebak-nebak Na. Kalau gitu, aku pamit ya. Semoga suami kamu cepet sembuh, aku nggak bisa lama-lama disini sampai nunggu dia bangun," jelas Ilham.


Ghina mengangguk, tersenyum tipis. "Iya, hati-hati Ham."


Setelah kepergian Ilham, Ghina menghela nafas. Siapa juga yang tidak bisa mencium hubungan tidak baik antara Ilham dan Fatih. Terlihat sekali, Ilham tidak terlalu suka ketika ia membicarakan Fatih.


Saat menoleh, ia malah di kejutkan dengan Fatih yang sudah membuka matanya dan tengah menatapnya dalam diam.

__ADS_1


"Udah bangun?" tanya Ghina memastikan. Fatih hanya diam saja, membuat Ghina berjalan mendekat.


"Kamu tau, ada Ilham berkunjung?" tanya Ghina lagi. Fatih mengangguk, lalu memposisikan dirinya menjadi duduk. Merapikan rambutnya sebentar, lalu menatap istrinya.


"Makasih udah milih aku dari pada dia," ucap Fatih.


"Maksudmu?" tanya Ghina dengan alis tertaur.


Fatih terkekeh. "Masa kamu nggak sadar, kalau Ilham masih suka sama kamu? ck, dia aja pas aku jelasin ke dia di kosan Sella tentang foto itu nggak percaya, pasti saat itu dia kebagian momen pas buat deket sama kamu yang lagi jauh sama aku."


"Tuh 'kan, kalian itu musuhan ya?" tebak Ghina.


"Dia aja kamu tanya nggak jawab 'kan?" tanya Fatih. "Aku pun nggak bakal jawab," lanjutnya.


"Kamu nguping pembicaraan kami?" tebak Ghina.


Fatih mengangguk.


"Ck, dasar laki-laki, aku nggak paham cara temenan kalian itu. Kayak saingan, lomba atua apalah, temen tapi kayak musuh," jelas Ghina.


Fatih tertawa. "Iya, jadi musuh, karena memperebutkan cintamu," balas Fatih, ia beranjak dari ranjangnya. Berdiri tegak di tas kakinya sendiri.


"Aku udah sehat, boleh pulang 'kan?" tanya Fatih senang.


"Aku tadi udah tanya sama suster yang ke sini ngecek impusan, katanya udah boleh pulang," jelas Ghina.


"Yees! ayo kita pulang, nggak sabar pengen berduaan di kos, hehe," goda Fatih sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Ghina, namun hanya di balas acungan kepalan tangan. Tapi, diam-diam Ghina tersenyum.


"Aku nggak tau ini cinta apa bukan, yang jelas, aku mulai nyaman sama dia," batin Ghina sambil mengamati Fatih yang berjalan ke kamar mandi, sambil menenteng pakaian ganti.


Yuhu... YMM back!


mon maaf ya upnya lambat, coz otor lagi ada DL nulis yang lain🤭

__ADS_1


Yang penting kalian ttp LIKE KOMEN, biar aku makin semangat lanjut. Ayo boom like komen, siapa tau kan YMM bisa naik level🤤yuk populerkan


__ADS_2