
Ilham menjawab enteng. "Karena dia, anggota KSI. Aku sebagai ketua, harus memantau pergerakan anggotaku. Jangan sampai, dari mereka, ada yang mencemarkan nama baik, Rohis sekolah."
Fatih tersenyum, alasan Ilham memang cukup masuk akal. Tapi, tidak semudah itu ia percaya.
"Kalau aku emang mau sama Ghina, gimana?" tanya Fatih menguji. Matanya menatap Ilham serius.
"Kita akan sering berurusan," balas Ilham dingin.
"Haha, just kidding, ketua." Fatih memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa saat bersama Ilham.
Hingga senja menyapa, Ghina masih setia dengan alat tulis dan buku-bukunya. Matanya sudah begitu perih karena sudah dua jam matanya melotot ke arah soal-soal Matematika yang besok akan di ujikan.
Ia mengakhiri belajarnya dengan merenggangkan tangan. Lalu, mengecek ponselnya. Ternyata, sudah ada pesan dari Ilham satu jam yang lalu.
Ilham : Pulang dengan selamat 'kan?
Me : Iya
Ghina membalas. Ternyata, Ilham masih online dan membalas cepat.
Ilham : Kalau boleh tau, sejak kapan Fatih deketin kamu? dia emang sering ya ajak kamu nebeng?
Me : Baru-baru aja. Nggak sering juga.
Ilham : Di kelas dia gimana?
Me : Ya seperti itulah.
Ilham : Suka godain kamu atau gimana?
Me : Namanya cowok banyak fans, ya gitu aja kelakuannya.
Ilham : Oh. Kamu lagi belajar ya?
Me : Udah selesai. Ini, mau ngasih nutrisi buat bunga-bungaku.
Ilham : Oke, salam untuk bunga-bungamu.
Me : Haha, salam kok ke bunga.
Ilham : Ya udah salam pada pemiliknya.
Me : Read
Ghina tersenyum sendiri membaca chat-chat di layar ponselnya. Terakhir, ia merasa Ilham tengah menggodanya sehingga sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak melanjutkan percakapan yang sebenarnya kurang penting itu. Khawatir, hatinya semakin lemah dan terus menerus ingin mendapat balasan dari Ilham.
Ghina merangkak pelan, ia meraih tongkatnya. Lalu berjalan ke arah jendela dan menatap bunga-bunganya dari sana. Tak ingin berlama-lama memandang dari kamar, ia memutuskan untuk keluar dengan lewat pintu belakang.
Tapi, langkahnya urung saat ia melihat seseorang yang tengah duduk di kursi putih tepat di bawah pohon Jambu Biji yang buahnya sudah lumayan besar-besar itu. Letaknya tepat menghadap ke arah kamar Kakaknya, Imran. Laki-laki itu tampak sedang menikmati semilir angin dengan secangkir teh yang sudah tersedia di sampingnya. Ghina celingukan mencari sang Ibu namun tidak terlihat.
Tubuh Ghina berbalik, namun Fatih segera memanggilnya. "Nana bobo!"
Ghina tetap meneruskan langkah. Fatih segera mengejarnya. "Hei, assalamualaikum. Ibu kamu tadi bilang, mau ada acara pengajian sore. Jadi, kamu sendirian 'kan di rumah?" tanya Fatih.
"Mau ngapain ke sini?" tanya Ghina dingin.
"Nemenin kamu lah. Sekalian anterin oleh-oleh dari Kandangan. Abi habis ngisi pengajian di sana, di bekali dodol banyak banget."
"Nggak perlu. Kamu pulang aja."
"Na, aku minta maaf untuk kejadian tadi pagi di sekolah. Aku cuma--" perkataan Fatih terpotong saat Ghina menyela dengan nada yang amat tidak bersahabat. Alisnya naik sebelah, bibirnya berdecak.
"Apa? kamu nggak pengen aku sekelas sama Ilham? atau kamu pengen aku terlihat menyedihkan? dikasihani?" tanya Ghina bertubi.
"Aku liat kamu kesakitan. Nggak mungkin biarin kamu tetep ikut ujian secara normal di ruangan," balas Fatih.
"Apa hak kamu ngelakuin itu?" mata Ghina memicing tajam.
"Bukan menyangkut hak atau apapun. Aku pun nggak ingin berdalil karena aku suamimu. Sebagai temen aja, aku nggak bisa liat kamu kesakitan."
__ADS_1
Ghina tertawa sinis. "Sejak kapan? bukannya kamu paling suka nyakitin aku? nyindir aku? jatuhin aku sampai bibir aku berdarah? ancam aku buat nggak negur kelakuan nakal kamu? malu-maluin aku di depan semua orang cuma gara-gara nyenggol minuman kamu nggak sengaja itu?"
"Waktu itu, aku sadar. Terlalu berlebihan, dan aku mengaku salah Na. Setidaknya, beri kesempatan aku buat berubah," pinta Fatih dengan tatapan mata memelas.
"Iya, tapi sikap kamu yang berubah, membuat aku risih. Apalagi, gara-gara kamu, aku harus terlibat dalam pernikahan yang aku sendiri bingung mau di bawa kemana."
Ghina akhirnya mengeluarkan unek-unek yang selama ini di pendamnya. Ya, walau mulutnya pernah mengatakan bahwa pernikahan terjadi bukan karena salah Fatih, tapi tetap saja, di hati terdalamnya ada rasa kesal dan marah karena semuanya bermula gara-gara laki-laki itu.
Coba saja, jika Fatih tidak melindungi tubuhnya waktu itu dan membiarkan Ghina terkena bola kasti? coba saja saat itu Fatih tidak memiliki musuh sehingga momen itu seharusnya tidak pernah terabadikan? coba saja, Sella yang menyukai Fatih lebih dewasa sehingga tidak ikut menjebak Ghina dengan menyebarkan berita aib itu?
Dan pada intinya, semua yang berhubungan dengan Fatih, adalah musibah bagi Ghina.
"Kita bicarakan baik-baik Na. Untuk pernikahan ini, aku udah siap dengan segala konsekuensinya."
"Iya, itu kamu Fath!" sentak Ghina dengan nafas yang naik turun. "Kamu laki-laki, enak aja semuanya. Dilayani, baju dicucikan, makan di masakkan, nggak harus nanggung beratnya hamil dan ngurus anak. Itu kamu! sedangkan aku Fath," tunjuk Ghina pada diri sendiri.
"Aku cewek Fath. Aku yang bakal rugi dan nggak ada enaknya sama sekali. Selama hampir setahun kita sekelas, aku hampir hafal semua kelakuan kamu. Kekanakkan, sok keren, tebar pesona, suka nyindir, dan semua kejelekan kamu yang nggak bisa aku sebutin satu-satu. Gimana, kalau nanti aku punya anak dari kamu, terus karena kamu yang belum dewasa, kamu ninggalin aku hah?" todong Ghina dengan mata yang berkilat-kilat.
"Terus, mungkin saat ini kelakuan kamu lembut ke aku, perhatian ke aku. Coba nanti bertahun kemudian, apa kamu masih bisa berpura-pura dengan sifat palsumu itu? atau jangan-jangan, kamu bakal bunuh aku kalau nanti ada konflik dalam rumah tangga kita. Dan--" perkataan Ghina terpotong saat Fatih menyela dengan nada dingin dan tajam.
"Ghina Izzati, cukup!"
Hati Fatih terasa remuk mendengar penuturan Ghina. Namun, dibalik itu ia juga menyadari kesalahannya selama ini. Kelakuannya yang berlebihan memang tidak di benarkan dengan alasan apapun itu. Tapi, itu semua sudah berlalu. Ia ingin, setelah memiliki seorang istri, bisa lebih dewasa lagi.
Ghina tergugu. Bahunya bergetar, bulir bening itu meluncur deras di tengah suasana senja yang perlahan-lahan semakin menghadirkan ciri khas kegelapannya. Tubuhnya luruh ke bawah, tongkatnya terlepas dari tangannya.
"A-ku belum bisa Fath."
"Na, maafkan aku."
"Pulanglah," usir Ghina dengan nada lirih.
"Aku nggak bisa tinggalin kamu."
"Pulang Fath. Sebelum, telingamu sakit mendengar omonganku. Astaghfirullah." Ghina menutup wajahnya sendiri. Barusan, ia telah berkata begitu kasar terhadap suaminya sendiri. Ia juga tidak sadar, mengapa mulutnya bisa kelepasan seperti tadi.
Fatih berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Ghina. Tangannya terulur untuk mengelus pelan kerudung gadis itu sehingga membuat empunya yang tadi menunduk, menatap Fatih dengan mata sembab, tidak lagi ada kilatan amarah di sana. Hanya tersirat tatapan yang entah.
"Kamu puas 'kan liat aku yang seperti ini? langka 'kan?" suara Ghina serak. Fatih menggeleng. Ia tidak sedang senang melihat Ghina seperti ini.
"Apa yang bisa aku lakukan, agar kamu bisa merasa lebih baik?" tanya Fatih serius.
"Pergi."
"Selain itu?"
"Nggak ada yang lain."
"Yakin?"
Ghina mengangguk. Mereka terdiam untuk beberapa saat. Fatih masih menunggu, respon Ghina selanjutnya.
Ghina teringat tujuannya ke taman milik keluarganya itu, tidak lain untuk menyiram bunga-bunganya. "Fath," panggilnya.
"Hm."
"Sebelum pulang, tolong siramin bunga-bungaku itu."
Fatih tersenyum sumringah. Ia menatap wajah Ghina yang tidak sedatar beberapa saat lalu. Mungkinkah, gadis itu sudah kembali ke dalam mood yang bagus?
"Baiklah, sebelum pulang, aku jadi babu dulu di sini," ucapnya enteng. Ia mengambil Gembor dan mengisinya dengan air lewat kran yang terletak tidak jauh dari sana.
"Yang di sana juga," tunjuk Ghina ke arah rak-rak bunga Anggrek milik sang Ibu yang tempatnya menempel dengan pagar tembok yang mengelilingi rumahnya itu.
Fatih mengikuti instruksi Ghina, ia terus menyiram sampai selesai. Lalu, ia menaruh Gembornya di bawah sebuah kayu yang diatasnya ada Tanki air berwarna orange.
Fatih mengulurkan tangannya, untuk membantu Ghina berdiri. Ia kira, Ghina bakal menolaknya, ternyata gadis itu menyambut tangannya.
"Makasih udah bantu." Ghina berucap lirih tanpa menatap Fatih, ia berjalan patah-patah dengan tongkatnya.
__ADS_1
Azan Maghrib terdengar nyaring. Fatih masih diam di tempatnya, menunggu agar Ghina masuk ke dalam rumah.
Ghina berbalik lagi. Ia menghela nafas begitu Fatih masih dengan posisinya. "Sudah Maghrib, aku nggak bakal ajak kamu salat di sini. Lima menit dari sini ada Masjid, aku sarankan kamu salat di sana."
Fatih terkekeh. "Iya, aku tau."
"Ya udah, silakan pulang. Jalannya lewat sana." Ghina menunjuk ke arah pagar dengan dagunya yang lagi-lagi membuat Fatih terkekeh. Ternyata, di balik sifat dingin dan ketusnya, Ghina bisa selucu ini juga.
"Iya aku tau. Masuklah."
Waktu terus bergulir hingga masa Ujian Nasional pun harus menepi. Berganti dengan masa-masa tenang dan menunggu kelulusan bagi kelas dua belas.
Semua mata pelajaran yang di ujikan di tambah dengan ujian praktik sudah terlaksana dengan baik dan lancar. Walau tidak semua murid merasa baik-baik saja ketika menghadapinya.
Pagi ini, semua murid SMK Angkasa sedang di hebohkan dengan pertandingan antar sekolah yang akan di laksanakan nanti pukul sembilan. Biasanya, anak SMK Angkasa yang mendatangi sekolah lain, tapi kali ini harus menjadi tuan rumah walau dengan fasilitas lapangan yang minim sekali. Bayangkan saja, SMK Angkasa, hanya memiliki satu lapangan yang luasnya hanya seukuran lapangan basket. Namun, satu lapangan itu sangat multiguna, karena bisa di pakai untuk basket, volly, silat, futsal dan semua cabang olahraga yang ada di SMK.
"Nonton nggak Na?" tanya Renata sambil menopang dagu. Sebenarnya, ada rasa malas hari ini masuk sekolah, tapi karena ada mata pelajaran yang belum selesai, akhirnya mau tidak mau, harus masuk. Kewajibannya sebagai pelajar belumlah usai.
"Pertandingan?" tanya Ghina tak selera.
"Iya, Fatih main loh." Renata berkata dengan antusias.
"Lah kenapa kalau dia main? 'kan udah sering."
"Ya 'kan sekarang beda. Dia ..." Renata mendekatkan mulutnya ke telinga Ghina. "Dia 'kan suamimu, jadi, harus semangatin dong."
Ghina mendelik ke arah Renata, yang membuat si empunya meringis. "Ilham juga ikut 'kan? nah, sekalian aja liat dia."
"Iya kalau aku mood," balas Ghina singkat. Padahal ia merasa hidupnya saat ini sudah merasa lebih baik, karena kini kakinya juga sudah sembuh. Tidak ada lagi, tongkat yang selalu menemaninya. Juga, setelah kunjungan Fatih terakhir kali ke rumahnya, laki-laki itu tidak mengganggunya bahkan hingga hari ini. Tapi, mendengar Renata menyebut nama Fatih lagi, di tambah fakta bahwa saat ini statusnya sebagai suami dari dirinya, membuat Ghina kembali dengan sejuta kebimbangan dan pertanyaan.
Sebenarnya, mau di bawa kemana, pernikahan ini?
Benar saja, pukul sembilan tepat. Semua siswa dan siswi SMK Angkasa begitu antusias menyambutnya. Karena posisi lapangan di kelilingi oleh ruangan kelas, mudah saja bagi siswa-siswi untuk melihat pertandingan langsung dari teras kelas mereka sendiri.
Fatih tengah berada di ruang OSIS bersama Riki yang tidak pernah lupa untuk membuntutinya. Sedikit-sedikit, laki-laki dengan jemari lentik seperti perempuan itu mengelap keringat di dahi Fatih.
"Udah Rik, cukup!" Fatih menepis tangan Riki dari wajahnya. Pria itu malah cengengesan.
"Harus tampil maximal dong, Fatihku," ucap Riki dengan nada manjanya.
"Jangan berlebihan juga lah. Btw, makasih." Fatih mengambil alih tissue dari lengan Riki.
"Nggak bakal ada pembina osis masuk sini 'kan?" tanya Riki awas, celingukan kesana kemari, dan ia mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Apa lagi kalau buka benda panjang yang didalamnya berisi zat-zat berbahaya bagi tubuh itu.
"Jangan macam-macam, kalau Ghina tiba-tiba ada keperluan ke sini, terus dia laporin kamu, mampus kamu," ancam Fatih.
"Bukan anggota OSIS juga," kilah Riki santai. Walau sifatnya terkadang mirip perempuan, bahkan Fatih pernah menduga cita-cita Riki adalah membuka salon kecantikan, namun nyatanya laki-laki itu ketika sudah berurusan dengan yang namanya Rokok, memang tampak seperti laki-laki normal pada umumnya.
Kini, mereka dan beberapa anggota tim Basket, sedang meminjam Basecamp OSIS sementara untuk membicarakan strategi pertandingan yang sebentar lagi akan di mulai.
Terlihat Ilham mengobrol dengan beberapa temannya di luar, lalu masuk ke dalam ruangan. Fatih dan Ilham saling bersitatap sekilas.
Setelah merundingkan strategi, mereka bersiap-siap untuk tanding karena lawan sudah datang. Mereka di sambut meriah oleh anggota OSIS yang bersedia memandu acara hari itu.
Tepuk tangan bersautan, suara-suara mulai berisik di mana-mana. Sedangkan, Ghina dan Renata masih setia di bangku mereka.
"Ayo Na, bentar lagi mulai." Renata menarik-narik seragam Ghina. Ia sudah tidak sabar menyaksikan pertandingan.
Ghina beranjak, ia juga merasa sedang butuh hiburan. Setidaknya, melihat orang bermain dan berlomba untuk menang, akan berimbas pada moodnya yang sering tidak baik-baik saja akhir-akhir ini.
Kelas XII TKJ IV yang memang bersebelahan dengan basecamp OSIS, membuat Ghina dan Renata yang hendak duduk di teras depan kelas seketika melihat ke arah anggota tim futsal yang baru saja keluar dari dalam ruangan.
Ilham yang melihat Ghina bertambah semangat, ia menatap lama ke arahnya agar saat bersitatap, bisa langsung tersenyum dan benar saja, Ghina menatapnya. Mereka sama-sama tersenyum dan aktivitas itu tidak luput dari penglihatan Fatih.
Yah, gimana tuh kepergok Fatih lagi saling melempar senyum😆
kalau author cemburu banget, nggak tau tuh si Fatih hihi
yuk share ceritanya ke yang lain, jan lupa vote, like dan komen, syukron🤗
__ADS_1