Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Data Ilegal


__ADS_3

Fatih yang melihat pemandangan itu langsung berjalan ke arah Ghina. Perlahan langkahnya semakin mendekat, dan tingkahnya tidak luput dari penglihatan tajam Ilham.


Alis Ghina mengernyit kala ia melihat Fatih menatapnya dan berjalan ke arahnya. Baru saja, ia akan menyemprotkan perkataan dingin, ternyata Fatih melewatinya begitu saja.


"Makasih Sell, padahal, aku udah maafin kamu, tanpa perlu memberi hadiah segala. Tapi, akan aku pakai." Ghina masih bisa mendengar percakapan Fatih dan Sella. Semenjak kejadian penyebaran broadcast, hubungan dua orang itu memang sedikit merenggang. Biasanya Sella sering mengajak Fatih mengobrol atau bertanya-tanya tugas, tapi semenjak peristiwa itu Fatih bersikap dingin kepada Sella dan membuat gadis itu setiap hari di hantui rasa bersalah.


Fatih mengambil sebuah Head Band berwarna merah dengan logo tanda centang yang dijulurkan Sella padanya.


"Aku yang makasih Fath. Terlepas dari kejadian itu, kamu tetep mau maafin aku," papar Sella dengan wajah murungnya.


"Kita temen Sell, wajar kalau salah satu berbuat kesalahan, ya yang satunya harus besar hati memaafkan."


Sella manggut-manggut. Fatih beranjak dari sana setelah tersenyum tipis, lalu melenggang dari sana dan melewati Ghina yang masih mematung di tempatnya.


"Liat nggak sih ekspresi dia tadi Na?" tanya Renata yang menyenggol pelan lengan Ghina. Mata gadis itu menatap lurus ke depan.


"Nggak."


"Ya elah, yuk duduk dulu di mana kek," ajak Renata yang langsung menggandeng tangan Ghina ke depan teras LAB Mini.


"Kalian lagi marahan ya?" tanya Renata, sebenarnya ia merasakan aura tidak nyaman saat Fatih seperti mengabaikan Ghina tadi.


"Nggak tau ah, nggak usah bahas itu."


"Na," panggil Renata sembari menggenggam telapak tangan Ghina, membuat si empunya menatap risih.


"Aku emang masih kecil, nggak tau gimana itu kehidupan rumah tangga. Tapi, aku liat di kehidupan aku aja ni ya analoginya, kalau sesama muslim aja, misal aku sama kamu, nggak boleh marahan lebih dari tiga hari, masa kamu yang suami istri, yang hubungannya deket banget, musuhan sih."


Ghina menatap Renata lekat-lekat. Ia juga bingung dengan hatinya. Pikirannya kacau, sehingga perbuatannya akhir-akhir ini juga tampaknya memang banyak kelirunya.


"Kalau ada masalah, aku mau kok jadi temen curhat," ucap Renata karena Ghina hanya diam saja. "Jangan di pendam sendirian, nanti sakit."


"Aku, cuma masih belum bisa nerima Ren. Kamu pasti, sadari itu."


"Iya sih, keliatan. Kamu kayak makin nggak suka aja sama Fatih. Tapi, kata kamu, dia nggak salah juga. Di paksa 'kan? ya berarti posisi kalian sama, seimbang, bukan saling menyalahkan. Eh, aku ngomong apaan sih hahaha." Renata tertawa sendiri, seraya menangkup mulutnya. "Maaf ya, aku yang nggak ada apa-apanya ini, berani nasihatin kamu Na."


"Aku seneng-seneng aja sama nasihatmu. Bukannya itu, gunanya temen?"


Renata manggut-manggut. "Aku nggak akan maksa buat kalian akur. Tapi, yang jelas, akhi-akir ini, aku amati kelakuan Fatih nggak seperti dulu. Dia nggak bikin onar lagi, tebar pesonanya sudah menurun, mungkin karena sibuk UN kali ya. Terus, nggak gangguin kamu lagi 'kan? Intinya, setelah kejadian aib itu. Mungkin, dia ngerasa bersalah juga Na. Ya, kita bayangkan aja ada di posisi dia. Mungkin aja, dia sebenarnya menghabiskan waktu untuk mikir keras buat ngejalanin rumah tangga sama kamu." Renata mengambil nafas. Semua kemungkinan itu memang hanya dirinya yang menduga. Tapi tidak ada salahnya bukan?


"Siapa yang tau, mungkin, Fatih juga udah memiliki seseorang di hatinya, sama seperti kamu. Tapi, dia ikhlas, nikahin kamu. Malah berubah jadi lebih baik. Apalagi, kita tau sendiri, dia anak Kyai, keluarganya tentu memiliki banyak relasi. Pak Kyai, pasti ancang-ancang menjodohkan dia dengan putri temannya yang juga pengurus Ponpes, tapi pada kenyataannya saat ini. Kyai memilih kamu untuk jadi mantunya."


Ghina terdiam, tepuk tangan menggema menandakan pertandingan futsal benar-benar akan dimulai. Permainan berlangsung sengit, Ghina dan Renata tampak menikmati sajian menegangkan di hadapan mereka.


Babak pertama, dimenangkan oleh lawan, yakni SMA. Semua murid SMK nampak kecewa, ada yang mencak-mencak tidak jelas, ada yang banting pintu, ada yang langsung pergi karena menurutnya tidak menarik lagi.


"Mas Fatih, semangat!" teriak salah seorang siswi yang mengangkat banner tinggi-tinggi.


"Huuuu!" koor teman-temannya yang lain. Terlihat jelas, mereka adalah kelompok fanbasenya Fatih.


"Gila bener fans suamimu Na." Renata menggeleng tak percaya.


"Genius selalu bersamamu!" teriak salah satu siswi lagi. Ya, itulah mengapa Riki, atau siapapun yang mengenal Fatih, terkadang memanggil laki-laki itu dengan di tambah embel-embel 'Jenius' selain karena Fatih jago di bidang Matematika juga karena kata itu adalah nama dari fandom Fatih Rafasya.


"Huuuu!" jawab mereka lagi dengan heboh. Fatih yang mendapat dukungan itu hanya melambaikan tangan dan melempar senyum manisnya. Bukan untuk tebar pesona, ia hanya menghargai pengorbanan remaja-remaja yang mungkin tidak tahu idola mereka yang hakiki, malah justru mengidolakan dirinya yang hanya manusia biasa dan banyak khilaf.


Babak kedua, permainan masih berlangsung satu kosong. Tim SMK belum juga bisa mencetak gol ke gawang lawan. Saat ada kesempatan istirahat, mereka gunakan untuk berunding. Selain itu, Ilham sebagai ketua, memberi interupsi agar anggota tim tetap solid jika memang satu sama lain ada masalah. Artinya tidak membawa urusan pribadi ke dalam tim yang dapat membuat kekompakan menipis.


Mereka berdo'a, lalu kembali berpencar saat wasit membunyikan peluit.


Priiit


Pertandingan usai dengan skor SMK satu poin lebih unggul dari SMA. Semua murid berjingkrak senang, ada yang joget bahkan ada yang naik ke atas pohon. Memang berlebihan, tapi itulah yang terjadi.


Fatih mengelap keringat di pelipisnya, ia dan semua anggota terduduk sejenak di kursi yang disediakan di tepi lapangan setelah mereka bersalaman dengan tim lawan.

__ADS_1


Semua fans Fatih mengerubungi tim, mereka membawa sepuluh botol minuman isotonik dan lima buah handuk yang langsung diberikan satu-satu kepada masing-masing personil.


Ilham tersenyum sinis sesaat saat melihat begitu hebohnya fans Fatih. Bahkan bela-balin cetak banner hanya untuk mendukung laki-laki itu.


"Lebih baik, kamu urus aja fansmu yang banyak itu," ucap Ilham beranjak dari sana sambil menepuk bahu Fatih. Ia risih sendiri di kelilingi banyak gadis.


Fatih tersenyum mendengar ucapan Ilham. "Tentu, padahal kalau ketua mau, aku siap berbagi fans."


Ilham berdecak kecil. Ia berkata dengan nada percaya diri namun masih dingin, "cukup satu gadis yang menyukaiku, aku sudah merasa jadi laki-laki yang paling beruntung."


Mendengar itu, Fatih hanya menyeringai. Apakah yang di maksud oleh Ilham gadis itu adalah Ghina? apakah mereka sama-sama sudah mengkonfirmasi perasaan masing-masing? berbagai pertanyaan itu berkelebat di kepalanya.


Waktu kembali bergulir, kelulusan sudah mendekat dan semakin tipis pula waktu bagi anak kelas dua belas untuk berada di sekolah mereka tercinta.


Kepengurusan OSIS pun sudah berganti yakni dengan diadakannya pemilu. Alhasil, Fatih dan Riki yang sering berkumpul di basecamp, kini hanya duduk-duduk santai di kelas. Walau, tidak di larang juga untuk berkumpul di basecamp OSIS. Tapi, saat ini ruangan itu tengah di pakai untuk rapat anggota OSIS yang baru.


Aku akan menjagamu


Semampu dan sebisaku


Karena ku tahu, ragamu tak utuh


Ku terima kekuranganmu, dan ku tak akan mengeluh


Karena bagiku engkaulah nyawaku


Fatih menghentikan petikan gitarnya. Menghela nafas pelan, setelah kunjungannya yang terakhir kali ke rumah Ghina, ia memang tidak pernah ke sana lagi. Ibu mertuanya sempat menghubunginya tapi, ia beralasan tengah bersiap-siap untuk masuk PTN dan mengurus bisnis ATK nya di SMA yang kini di pegang oleh Alim, sedangkan yang berada di SMK, di pegang oleh karyawan baru.


"Aku liat, kamu akhir-akhir ini lemes Fath." Riki berujar sambil menggulir layar ponselnya.


Fatih mengambil Lollipop dari kantong seragam Riki, lalu mengemutnya. "Biasa aja," balas Fatih.


"Nggak ada ribut lagi sama Ghina?" tanya Riki.


Fatih menggeleng sambil tersenyum. "Bentar lagi, kami nikah secara negara. Aku juga akan serumah sama dia, jadi untuk saat ini biar adem ayem dulu Rik."


Fatih berdecak, "awas aja kalau sebelum hari itu, kamu udah bocor. Bonusmu kemarin dan hari ini akan hangus."


"Hahaha, yayaya. Eh, btw gimana tantangan Lukman kemarin? kamu terima?" tanya Riki serius. Lukman, laki-laki bermasalah yang penuh iri dengki terhadap Fatih, itu masih belum menyerah. Padahal, karena kejadian aib kemarin, Lukman sudah membuat orang tuanya malu.


"Masih aku pikirin."


"Berani banget mereka," decak Riki. "Tapi, aku sarankan jangan terima Fath. Takutnya, dia cuma jebak kamu. Eh buat masalah lagi, terus nanti berimbas pada yang lainnya."


"Itu karena kamu yang takut," ledek Fatih yang membuat Riki merengut.


"Ya iyalah, kalau kamu kalah, nanti malah aku kena imbasnya. Huh," protesnya. Bagaimana ia bisa tenang, jika Fatih menyetujui tawaran Lukman untuk melakukan balap motor, konsekuensinya jika Fatih kalah, maka laki-laki itu harus siap untuk mendapat lebam di beberapa bagian tubuhnya.


Bel berbunyi, pembicaraan mereka terhenti. Fatih dan Riki segera bergegas menuju ruangan LAB besar.


Setelah jam istirahat, giliran mata pelajaran Pak Arman yang jelas-jelas sudah selesai. Semua siswa dan siswi kelas XII TKJ IV bisa bersantai ria di ruangan LAB besar. Ghina masih menunggu saat-saat bel pulang. Ia ingin membicarakan perihal penginputan data PDSS.


"Jadi gimana Pak? saya udah tanya ke Pak Yogi, beliau kemarin udah sosialisasi UIN, dan kami di beri brosur pendaftarannya Pak. Tinggal sepuluh hari lagi untuk jadwal SPAN PTKIN, tapi untuk jadwal SNMPTN tinggal seminggu lagi," tanya Ghina yang menghampiri Pak Arman yang sudah bersiap-siap akan pulang.


"Bapak kemarin udah bicarain ini sama pihak TU, dari mereka masih banyak kesibukan katanya. Apalagi ini mempersiapkan urus-urus ijazah kelas dua belas, belum lagi administrasi lainnya. Jadi, mereka bilang, untuk data siswa, nggak ngurusin lagi," jelas Pak Arman sedih. Ia menghela nafas berkali-kali.


"Loh kok gitu Pak, mereka 'kan harusnya bisa ngelayanin kebutuhan siswa ya 'kan Pak?" tanya Ghina kecewa.


"Iya Bapak juga nggak bisa maksa Na. Itu 'kan berada di bawah kuasa mereka. Lagian, penginputan data 'kan nggak mudah, nggak boleh sembarangan. Jadi, nggak bisa dipercayakan ke yang bukan bagian dari TU."


"Pak, kami mohon. Kami, pengen banget masuk jalur gratis," mohon Ghina. "Kami sudah enam semester memperjuangkan nilai rapot kami Pak, setidaknya bisa digunakan untuk kami masuk PTN."


"Memang susah sih. Soalnya guru-guru di sini kurang antusias untuk ngurus anak-anak yabg mau masuk PTN, target SMK 'kan semua alumni siap kerja. Jadi, mereka fokus ke sana. Kalau ada murid yang mau kerja, walau jalannya susah semisal ke perusahaan tambang seperti PT Tambang Permata, mereka akan berusaha perjuangin sampai sana."


"Pak, kami harus gimana?" tanya Ghina dengan raut wajah memelas.

__ADS_1


Pak Arman tampak berfikir. Guru bertubuh tambun dengan kulit wajahnya yang bersih itu tampak gamang. "Sebenarnya, kita bisa bertindak sendiri. Tapi, ini sedikit berisiko."


"Maksudnya Pak?"


"Gini, Bapak pengen bantu kalian biar bisa masuk PTN gratis. Tapi, karena Bapak bukan yang berwenang, jadi mungkin nanti ada sedikit masalah. Kita bisa input data semua siswa, nanti kita izin dulu sama Wakasek, apakah boleh mengambil data semua siswa. Nanti, biar kita yang input."


"Beneran bisa Pak?" tanya Ghina antusias.


"Iya kita usahain. Tapi, baiknya berita ini jangan sampai bocor keluar."


"Tapi, ini nggak ilegal 'kan Pak?"


"Mungkin, ilegal sih." Pak Arman terlihat khawatir. "Tapi, kita izin dulu sama Wakasek kurikulum, jadi kalau terjadi apa-apa kita bisa berlindung dibawah beliau."


"Iya."


"Kalian nginput datanya di Lab sebelah aja ya. Besok, Bapak bawakan beberapa rapotnya."


"Siap Pak."


Pak Arman berpamitan lebih dulu. Ghina dan Renata kembali ke meja mereka dan membereskan barang-barang mereka. Namun, tatapan Ghina berhenti pada seseorang yang baru saja keluar dari ruangan peralatan kabel.


"Fatih!" panggil Ghina setengah berteriak.


Fatih yang membawa beberapa kabel juga TP Link, berhenti.


"Kenapa Na?" tanya Fatih.


Ghina berjalan menghampiri. "Kamu denger sesuatu tadi?"


"Emang, apa yang aku denger?" tanyanya balik yang membuat Ghina mendengus.


"Bukan apa-apa."


Mereka sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Na, ayo pulang," ajak Renata. "Loh, kok kamu masih di sini Fath?"


"Aku mau minjam ini, sebagai bahan coba-coba di rumah," balas Fatih.


"Ujiannya 'kan udahan?" Renata tampak bingung.


"Nggak ada salahnya 'kan?" Fatih balik bertanya


"Iya bener sih. Oke deh, kami pulang ya."


Fatih mengangguk dan ia pun pergi dari sana setelah mendengar percakapan panjang Ghina dan Pak Arman.


Keesokan harinya, Ghina begitu semangat pergi ke sekolah, karena sore nanti, ia dan Renata juga di bantu Ilham akan menginput data semua murid SMK kelas dua belas.


Setelah kondisi sekolah sepi, mereka bertiga siap-siap meregangkan jemari untuk mengetik.


"Jadi, input semua?" tanya Ilham begitu melihat tumpukan rapot di meja. Beberapa menit laku, Pak Arman mengantarnya ke sana.


"Iya, kita harus selesaikan hari ini juga. DL nya sudah deket soalnya," ucap Ghina.


"Ini komputernya cuma dua ya yang nyala?" tanya Renata. "Aku gimana?" tunjuknya pada diri sendiri.


"Kamu dikte 'kan Ren. Lagian, ini internetnya kita sendiri, bukan pakai punya sekolah," jelas Ghina. Dia hari ini membawa ponsel diam-diam dan untunglah tidak ada acara razia.


"Jadi, ini yang dimaksud input data ilegal?"


Suara seseorang yang membuka pintu Lab, membuat mereka bertiga menoleh.


Yuhuu kira-kira siapa yang ngomong itu ya?🤭

__ADS_1


Makasih untuk kalian yang udah baca YMM hingga part ini. Thanks untuk like, komen dan partnya☺️


__ADS_2