Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
Merantau


__ADS_3

Keduanya saling terdiam, menikmati semilir angin yang berhembus dari luar. Walau terasa dingin, tapi tak ada niatan sama sekali untuk saling menghangatkan.


"Aku nggak akan memaksa." Fatih menghela nafas berat begitu mengatakannya. "Oke, selanjutnya apa lagi?" tanyanya.


"Aku akan berusaha Fath," lirih Ghina. Tanpa mau menatap mata suaminya. Ia lebih memilih memainkan pulpen di atas buku.


"Makasih ya Na," ucap Fatih tulus, ia meraih tangan mungil itu untuk ia genggam, namun sayang sang istri menepisnya. Ia paham, hati seorang dalam hati wanita itu, bukan namanya yang tersemat. Tapi, pria lain. Sabar, cukup menjadi kekuatan baginya, bukannya Allah maha membolak-balikkan hati?


"Untuk tugas beres-beres, itu nanti kita atur pas udah di kos," jelas Ghina. Lalu melanjutkan, "apa lagi?"


"Anak?" cetus Fatih.


Uhuk!


Ghina terbatuk, ia meraih Tumbler miliknya, lalu meneguk air. "Anak?" ulangnya.


Fatih mengangguk santai, ia menatap lekas sang istri yang gelagapan, walau terlihat samar.


"Lewatin aja dulu, aku belum kepikiran." Ghina hendak terlepas dari pembahasan itu, ia membuang wajah, lalu menulis hal-hal lain di bukunya.


"Nggak bisa dong, masalah ini justru penting di bicarain."


"Ih, aku bilang nanti aja."


"Kenapa? kamu nggak siap buat bikin anaknya?" tanya Fatih sambil melipat tangan di depan dada. Alisnya naik turun, bibirnya tersenyum sebelah membuat Ghina benar-benar sebal.


"Urusan itu terus yang dibahas."


"Itu apa hum?"


"Fatih! jangan bercanda dulu. Ini serius."


"Ya aku serius juga. Lagi ngomongin anak ini, kamu maunya kapan kita punya anak?" tanya Fatih dengan raut kesal juga karena Ghina kebanyakan su'uzon padanya. Apa sih sebenarnya yang berada di otak istrinya itu?


"Aku sih pengen sedikasihnya aja, tapi tetep aja, kita 'kan kuliah, harus pikir mateng-mateng, sambil kuliah sambil urus anak. Pasti susah buat kamu, ya buat kita berdua juga," jelas Fatih.


Ghina terlihat merenung. Untuk urusan melayani Fatih di ranjang saja ia belum siap, apalagi masalah besar yang satu lagi itu. Anak.


"Oke, semester akhir biasanya luang. Mungkin, pas kali ya punya anak?" tanya Ghina. Eh, bicara apa sih dirinya ini? jadi, sudah siap melayani Fatih lahir dan batin?


Fatih tertawa pelan. "Jadi, udah siap nih ngelayanin aku? terus nanti kita punya anak?"


"Ih, bukan itu. Cuma rencana, mana kutahu pernikahan kita ke depannya. Jangan seneng dulu."


"Mau di coba sekarang?"


"Fatih!"


Suaminya tertawa dengan keras sampai memegang perutnya sendiri. Merasa lucu dengan reaksi Ghina yang menurutnya sangat berlebihan.


"Kamu inget 'kan kalau aku kasih izin kamu ke acara Haul, ada syaratnya?" tanya Fatih begitu mereka telah selesai membicarakan perihal visi misi dan beberapa tugas yang nantinya harus mereka lakukan saat tinggal hanya berdua.


"Kapan?" tanya Ghina pura-pura tak tahu, ia berusaha menghindar. Pasti Fatih ingin meminta macam-macam.


"Pura-pura lupa nih. Dosa loh."


"Iya aku inget, apa emang syaratnya? ribet banget sih."


Ghina cemas saat ia melihat Fatih mengusap-usap dagunya. Lalu, mata suaminya menatap ke arah bibir miliknya. Ia segera menutup mulutnya.


"Cepet bilang!" desak Ghina karena merasa tak nyaman dilihat seperti itu.


"Kenapa tutup mulut?" tanya Fatih. "Tenang, aku gak bakal cium kamu."


Ghina mendesah lega, namun saat membuka telapak tangan, wajah Fatih justru mendekat secara mendadak hingga nafas laki-laki itu dapat ia rasakan. Bahunya di cekal Fatih, sehingga ia tidak bisa mundur lagi.

__ADS_1


"Fatih, jangan macem-macem!" ancamnya dengan mata mendelik. Jantungnya tiba-tiba berpacu begitu cepat. Apalagi bertatapan dengan jarak sedekat ini dengan sang suami. Ini bukan cinta, tapi kaget, batin Ghina.


Fatih tersenyum, ia menarik kepalanya lagi. "Leherku pegel semalaman tidur di sofa, bisa kamu pijitin?" pinta Fatih.


Ghina mendengus. "Jadi, ini ya syaratnya?"


"Iya, cukup pijitin, gugur udah syaratnya."


Ghina berdiri, lalu meraih bahu Fatih, memijatnya pelan. Lalu tangannya beralih ke leher, melakukan hal yang sama. Akhirnya, pagi itu hanya terjadi pijat memijat saja.


Seminggu berlalu, Ghina merasa bebas karena tidak ada orang yang membuatnya harus berdecak sebal selalu. Apalagi, dua malam Imran menginap di rumah, walau tidak ada sang suami, ia merasa biasa saja. Tidak ada rindu-rindunya.


"Kapan suamimu pulang?" tanya Imran saat mereka makan malam.


"Besok katanya."


"Bu, aku mau bicarain hal yang serius," ucap Imran, dan beralih menatap sang Ibu lembut.


Ghina yang mendengarnya, ikut penasaran apa yang ingin dibicarakan sang Kakak.


"Aku mau khitbah wanita pilihan aku."


"Wah, beneran?" Ghina terlonjak dengan mata membesar. Namun, mendengar kabar itu ia senang bukan main.


"Alhamdulillah bagus Nak. Rencananya mau kapan?"


"Minggu depan, aku udah bilang juga sama dia. Untuk konsep pernikahan nantinya, insyaa Allah, katanya dia nggak mau banyak merepotkan Bu. Orangnya emang sederhana, nggak neko-neko."


"Syukurlah, Ibu jadi pengen cepet ketemu calon mantu Ibu. Terus, apa yang harus Ibu persiapkan Nak, apakah nanti saat khitbah sekalian ada acara hantaran gitu?"


"Nggak Bu. Itu pas resepsinya aja sekaligus akad nanti."


"Selamat ya brotherku," ucap Ghina sambil memeluk Imran dari samping. Ia merasa senang sekali, akhirnya sang Kakak akan segera melepas masa lajang.


"Iya, do'akan dong sayang."


Imran mengelus rambut adiknya sayang. Ia juga mempercepat pernikahannya salah satu tujuannya agar sang adik tidak merasa risau lagi karena tidak ada yang menemani Ibunya. "Kamu yang bener kuliahnya nanti, kalau butuh sesuatu, bilang Kakak. Kalau ada waktu luang, berkunjung ke rumah Ibu."


"Pasti Kak."


Hari yang dinantikan Ghina dan sang Ibu telah tiba. Setelah proses khitbah yang dilakukan Ilham terhadap calon Kakak Iparnya yang bernama Najwa, Ghina menjadi orang supersibuk karena harus membantu menyiapkan acara walimatul urs sang Kakak. Ia sering berkunjung ke rumah Najwa untuk membantu persiapan di sana.


Hingga malam menjelang. Ghina menatap langit-langit kamar. Beberapa hari ini, ia mengabaikan sang suami. Tapi memang Fatih juga terlihat sibuk dengan pekerjaannya di depan laptop. Bahkan beberapa hari yang lalu harus pergi ke Banjarmasin selama tiga hari. Perjalanan bisnis katanya.


Setelah hampir sebulan hidup bersama-sama dan hampir setiap saat bertemu, Ghina jadi paham apa kebiasaan Fatih. Selain hobi bermusik, suaminya juga hobi berlama-lama di depan Laptop. Entah itu sekedar main game atau bekerja.


Tapi, hubungan mereka masih sama. Tidak ada kemajuan, mereka saling memutuskan untuk sekedar menjalin pertemanan. Sesulit itukah jatuh cinta?


Malam ini saja, Fatih sudah mengatakan padanya tidak menginap. Karena di pesantren ada acara khataman bil ghaib. Ghina sebenarnya diajak untuk ikut, tapi ketika Fatih melihat raut kelelahan dari sang istri, akhirnya ia hanya menyuruh Ghina berisitirahat saja.


Hingga hari pernikahan Imran tiba, semua orang berbahagia. Apalagi Ghina yang seolah tak mau lepas menatap sang pahlawan pertamanya di sana. Untunglah, Imran seorang pria, sehingga tidak memerlukan seorang wali untuk melangsungkan akad nikah. Jika Ayahnya sampai hadir di sini, mungkin Ghina akan memilih pergi saja.


Ah, apa kabar pria itu? entahlah, Ghina bahkan tak mau menanyakan kabarnya seperti apa. Seolah lenyap di telan bumi. Menyisakan trauma yang mungkin sulit untuk disembuhkan seumur hidupnya.


"Nangis kamu?" tanya Fatih yang sedari tadi diam-diam memperhatikan Ghina yang duduk di sampingnya sambil terus menatap ke arah pelaminan.


Ghina mengiyakan, jujur. Ia menoleh ke arah Fatih. "Emang kamu nggak sedih, pas Mbak Nafisah atau Mas Aziz nikah?" tanyanya.


Fatih terkekeh. "Iya sih, rada sedih. Kehilangan gitu. Biasanya bisa ejek dia setiap hari, tapi setelah dibawa suaminya, nggak bisa lagi."


"Tapi, yang terpenting, pas aku jauh dari Ibu, ada istri Kak Imran di rumah ini."


"Kalau setiap minggu kamu mau berkunjung, gampang aja. Kita bolak balik Banjarmasin-Jorong gak jauh-jauh banget juga Na."


"Iya, tapi 'kan kalau udah kuliah pasti sibuk. Belum lagi sama bisnis kita, dan hal-hal lain, apalagi kalau masuk organisasi. Ya, intinya berat aja sih bayangin bakal jarang pulang."

__ADS_1


"Woi suami istri!" Riki melambaikan tangan. Di sana juga ada Renata yang tersenyum pada Ghina. Seperti sudah ditakdirkan, mereka berdua selalu datang bersama-sama ke acara pernikahan.


"Apa kabar kalian?" tanya Riki girang, setelah memeluk Fatih lalu mengecup pipinya kilat.


"Kotor!" Fatih memaki dan menggesek pipinya pelan. Jijik dengan kelakuan temannya sendiri.


"Hehehe, rindu aku tuh," rengut Riki. Ia menatap Fatih dengan tatapan memuja, membuat Ghina yang memperhatikan juga ikut risih. "Semenjak udah nggak sekolah, grup fanbase gak kamu urusin."


"Udah ada kamu juga," balas Fatih santai.


"Ya tapi 'kan kamu idolnya."


"Iya, kamu balasin aja satu-satu mereka. Tenang aja, gaji bakal lancar jaya, mengalir. Tapi, kalau mereka mau stop ngefans sama aku, nggak papa sih. Jadi, aku nggak harus gaji kamu."


"Ih, lumayan tauk. Biar Ayahku punya kebon seluas dutamall pun, tetep aja aku juga pengen ngasilin duit sendiri." Riki merajuk dengan bibir monyong.


Fatih tertawa, "Iya, gampang aja. Nanti kita bisnis pas udah masuk kuliah. Jadi karyawanku nanti."


"Ouh beneran?"


"Iya."


"Enaknya ya yang pada kuliah," sindir Renata yang sedari tadi ikut menyimak. Ghina hanya menggenggam tangan Renata.


"Mau kuliah juga Ren? bisa kok, aku bayarin. Tapi, harus jadi istri aku dulu." Riki berkata dengan percaya diri.


"Astaga, ogah aku. Diberi semua kebun jeruk Bapakmu, gak bakal mau nikah sama kamu, kepedean!"


"Ren, udah." Ghina melerai.


"Na, aku rindu ih. Btw, aku kaget pas kamu sebar undangan Kakakmu, kirain aku bakal diberi kesempatan eh." Renata menutup mulutnya sendiri saat Fatih dan Riki menatapnya dengan tatapan yang 'amit-amit banget nih cewek'.


"Kakakku bukan tipe poligami Ren."


Renata mendesah, membuat Riki memelototkan matanya. "Kamu mau jadi istri kedua Ren?" tanya tak percaya.


Renata balik menatap tajam. "Ya nggak lah, ya kali aku setega itu. Mending nggak laku sampai tua, daripada rebut suami orang."


Riki tertawa keras mendengarnya sedangkan Ghina menyenggol lengan Renata. "Omongan do'a Ren."


"Hihi, peace!"


Tidak terasa, kini Ghina dan Fatih bersiap untuk pergi merantau ke kota. Mereka sudah mengepak barang-barang. Renata juga ikut melepas kepergian dua teman sekelasnya itu.


"Na, sering pulang ya, biar nggak rindu banget akunya." Renata berucap sedih, matanya berkaca-kaca. Tangannya memeluk Ghina erat, seolah tidak mau terlepas begitu saja.


"Iya Ren."


Ghina juga berpelukan lama dengan sang Ibu, juga Kakaknya dan Najwa yang sudah menjadi Kakak Iparnya.


"Aku titip adikku Fath," ucap Imran sambil menepuk bahu Fatih. Suami Ghina itu hanya mengangguk dengan senyuman.


"Kamu serahkan ke siapa bisnis fotocopyanmu?" tanya Ghina, begitu mereka sudah sampai di depan kosan yang Fatih sewa.


Mereka menggunakan jasa mobil pick up yang bisa sekalian membawa barang-barang.


Perjalanan selama dua jam, membuat mereka cukup lelah, sehingga rasanya ingin langsung istirahat saja. Padahal, di jalan tadi Ghina merasa sangat mengantuk, karena meminum Antimo, tapi harus ia tahan karena tidak mau kalau tidurnya macam-macam dan malah bersender di bahu suaminya. Sempat juga seperti itu tadi, tapi Ghina segera sadar dan lebih memilih melebarkan matanya kuat-kuat.


"Sudah ada Alim di sana. Aku percayakan sama dia," balas Fatih sambil mengangkat koper milik Ghina. Sedangkan sang istri, sudah nampak terhuyung karena beban berat ransel di pundaknya.


"Aku cuma bisa menyewa kos ini." Fatih memandang lurus ke depan. Menaruh koper dan memperhatikan halaman kos mereka yang tidak bisa dikatakan luas. Di sebelahnya ada tiga kosan dengan bentuk yang sama. "Kalau nanti aku udah buka bisnis di sini, kita bisa pindah ke yang lebih luas dari ini."


"Ini sudah cukup," ucap Ghina.


"Yakin? tapi kamarnya cuma satu. Kemarin 'kan kamu mintanya dua?"

__ADS_1


"Hah!"


__ADS_2