
"Kalau kamu udah selesai mata kuliah, telpon aku ya," ucap Fatih, saat kendaraannya sudah menepi, tepat di depan gerbang kampusnya.
Ghina mengangguk, tersenyum tipis. Pipinya masih saja panas, padahal hanya memeluk pinggang Fatih.
"Kenapa mukamu merah gini? demam?" tanya Fatih khawatir, reflek tangannya jatuh tepat di dahi sang istri. Ghina menepisnya pelan.
"Nggak, cuma kepanasan di jalan, sinar mataharinya cerah banget," kilah Ghina. Ia membuang wajah, lebih memilih mendongak dan telapak tangannya menghalau sinar mentari pagi. Fatih mengangguk saja.
"Jangan lirik cowok lain," pesannya dengan nada bercanda. Ghina mendecih pelan.
"Iya, suami. Tenang aja," balas Ghina. Fatih tersenyum, ia mengusap pelan kerudung istrinya.
"Bagus, istri penurut," pujinya, lalu tangannya beralih mencubit pipi Ghina gemas.
"Ih, apaan coba," ucap Ghina risih, padahal ia tersipu dengan kelakuan suaminya.
"Ya udah, sana masuk, aku akan ngawasin dari sini hingga kamu sampai ke fakultas kamu dengan aman," terang Fatih, Ghina mengangguk dan melambaikan tangannya sebelum benar-benar berbalik. Masih ada sisa panas di pipinya, entah mengapa akhir-akhir ini, tepatnya setelah ia berbaikan dan berdekatan dengan Fatih, ia merasa kulit wajahnya sangat sensitif.
Sesampainya di kampus, Ghina bertemu dengan Mira, temannya. "Gimana keadaan kamu?" tanya Mira langsung, ia begitu khawatir dengan keadaan Ghina. Sudah terbiasa wanita itu menginap di rumahnya, tiba-tiba ikut suaminya, membuat Mira mendadak kesepian.
"Sehat, kamu nggak liat? seger buger gini," ucap Ghina dengan kekehan di mulutnya, ia merentangkan tangan.
"Oh, syukurlah. Habisnya, wajahmu merah gitu, badanmu anget? demam?" tanya Mira beruntun. Ghina reflek memegang pipinya sendiri.
"Enggak kok, ini efek sinar matahari kayanya, belakangan aku sensitif bila wajahku kepanasan," ujar Ghina meyakinkan. Ia menekan-nekan pipinya sendiri. Mira menganggukkan kepalanya.
"Pagi tadi, aku ketemu Ilham, dia nanyain kmau," ucap Mira bercerita tentang pertemuannya dengan Ramdan pagi tadi.
"Terus?"
"Ya dia nanyain kamu, nayariin gitu, kok kamu belum datang ke kampus. Aku jawab aja, mungkin kamu lagi sibuk sama suamimu. Tetus, aku liat wajahnya cemberut. Em, yakin banget deh, kalau dia itu cinta banget sama kamu Na," jelas Mira, mmebuat Ghina menggelengkan kepala. Ia kembali mengingat kejadian kemarin, saat Ilham berkunjung menemui Fatih yang sedang sakit. Padahal, Ghina sudah tegas bahwa akan bersama Fatih, tapi kenapa pria itu malah terus-terusan mengejarnya.Sebagai orang yang faham agama dan tahu cara mengeskpresikan cinta yang benar, seharusnya Ilham tidak sepeeti ini.
"Ya udahlah, biarin aja. Hak dia dengan perasaannya," balas Ghina, ia tidak ingin memperpanjang percakapan tentang Ilham. "Btw, kamu mau nggak aku undang makan malam di kos? hari ini, aku sekalian adakan syukuran kecil, untuk rumah tanggaku," jelas Ghina. Mendengar hal itu, mata Mira berbinar.
"Beneran? wah boleh tuh "
"Sekalian, mau aku tunjukin green house pemberian dari Fatih," ucap Ghina dengan matanya yang berbinar.
"Uh, suamimu diam-diam sosweet juga ya. Jadi pengen punya juga," ucap Mira gemas. Ghina tertawa dibuatnya.
"Banyakin doa, minta di dekatkan jodohnya hihi," bisik Ghina ke dekat telinga Mira.
__ADS_1
"Pasti itu. Semoga aja ya," sahut Mira berbisik pula. Percakapan mereka harus terhenti akrena dosen mata kuliah dijam ini telah tiba.
Setelah mata kuliah selesai, Ghina dan Mira keluar dari kelas dengan semangat. "Mau aku anter Na?" tawar Mira.
Ghina menggeleng seraya tersenyum. "Nggak usah, aku minta Fatih jemput aku," balas Ghina.
Mira tersenyum menggoda. "Uh, makin manis aja kalian," ucapnya.
Ghina memanyunkan bibirnya, "wajar 'kan suami istri?" tanya Ghina. Ia merasa malu digoda seperti itu.
Mira tertawa. "Ya iyalah wajar, ngapa-ngapain aja udah halal kok hehe," ringis Mira, tangannya membentuk v ke atas.
"Ck, kayaknya otakmu mirip banget deh sama Renata, aku jadi inget dia," ucap Ghina, ia kembali mengingat teman lamanya. Ah, ia rindu Renata.
"Masa sih? mukanya mirip aku juga?" tanya Mira. Ghina menggeleng.
"Beda lah, cuma karakternya aja yang mirip," balas Ghina.
"Na..." seseorang terdengar memanggil. Ghina menoleh, mendapati Sella yang menatapnya entah.
"Sella, ada apa?" tanya Ghina seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Wajah Sella terlihat sembab, tidak baik-baik saja sepertinya.
"Mir, aku duluan ya. Kamu hati-hati dijalan," pesan Ghina kepada Mira. Wanita itu mengangguk mantap, dan menjabat tangan Ghina sebelum mengucap salam.
"Ada apa Sel, kenapa wajahmu begitu?" tanya Ghina, begitu mereka duduk di atas kursi panjang yang terletak di taman kampus. Sella mengeluarkan isaknya.
"Maafkan aku ya Na, untuk masalah kemarin. Aku khilaf. Itu kulakukan karena aku nggak tau lagi gimana caranya agar Fatih bisa bersamaku," jelas Sella, air matanya bercucuran deras.
"Ya allah Sel. Aku udah maafin kok, yang penting semuanya udah baik-baik aja. Bagus lagi, kamu udah nyesalin perbuatan kamu. Masa lalu itu, untuk dijadikan pelajaran, bukan untuk kita sesali hingga berlarut-larurt tanpa perubahan yang pasti," jelas Ghina, sembari mengusap pundak Sella yang naik turun.
"Na, kamu baik banget sih. Aku padahal ydah ancam kamu, hampir ngehancurin keluarga kamu, tapi kenapa kamu masih baik sama aku?" tanya Sella, menatap Ghina dengan nata merahnya.
"Baik itu nggak perlu syarat. Walau kita mendapat perlakuan kurang baik dari orang, tapi jangan sampai hal itu justru membuat kita berubah menjadi jahat," terang Ghina. "Kamu kenapa bisa sampai nangis begini Sel?" tanya Ghina lagi.
"Melani... dia jauhin aku semenjak itu," ungkap Sella. "Aku nggak tau kalau dia ternyata semarah itu sama aku, aku harus gimana Na?" tanya Sella.
"Tenang aja, aku nanti bicara sama Melani. Hei, kita itu teman, masalah jangan sampai membuat hubungan kita renggang," ucap Ghina lembut.
Sella menyeka air mata, ia memeluk tubuh Ghina erat. "Makasih ya Na, kamu baik banget."
"Iya, udah, nanti kita bicarakan dengan Melani. Oh ya, nanti kamu mau aku undang acara makan-makan di kosku nggak? buat syukuran biasa," ajak Ghina. Sella melepaskan pelukan.
__ADS_1
"Emang boleh?"
"Bolehlah. Aku juga undang temenku Mira. Datang ya?"
"Oke, makasih udah undang aku."
"Sayang!" panggil seseorang, membuat Sella dan Ghina menoleh. Ternyata, ada Fatih yang baru saja menepikan motornya di pinggir taman, ia sudah berkeliling mencari Ghina namun tidak ia temukan, ternyata malah di taman kampus.
"Fatih, maaf ya, aku nggak bilang dulu sama kamu, kalau mau ketemuan sama Sella duku," ucap Ghina.
"Mau apa kamu ketemu istriku Sel? mau memfitnah aku lagi?" tanya Fatih dingin, begutu ia sudah mendekat. Sella yang mendengar itu terlihat murung.
"Fath, jangan gitu ah. Sella ke sini, dia minta maaf atas semua yang terjadi, dia bener-bener nyesel udah lakuin itu. Dia kesini bilang, pengen deket lagi sama Melani, soalnya Melani marah banget sama Sella gara-gara peristiwa kemarin," jelas Ghina, ia mendekat ke arah suaminya. Memberi penjelasan.
"Kamu percaya sama dia?" tanya Fatih dengan mata tajam ke arah Sella.
"Dia temen kita Fath. Ya jelas aku percaya, apalagi dia udah minta maaf. Aku undang dia ke acara syukuran kita, nggak papa ya? kita rayakan sama temen-temen, biar sekalian reunian gitu," terang Ghina dengan senyuman, ia meraih telapak tangan Fatih, untuk digenggamnya. Mendapat perlakuan begitu, mendadak hati Fatih cair, ia meleleh dengan perlakuan Ghina.
"Maafkan aku Fath, kalian hampir saja..." belum selesai Sella bicara, Fatih memotongnya.
"Iya, lain kali, jangan seperti itu. Kita teman, dan sekarang,punya kebahagian masing-masing, tidak perlu pakai cara licik untuk rebut kebahgiaan orang lain," jelas Fatih, yang membuat sella tertohok hatinya. Bulir bening kembali mengalir di pipinya. Melihat itu, Gjina segera mendekat ke arah Sella dan mengusap pundaknya.
"Tenang aja, kami udah maafin kamu kok," ucao Ghina. Sella hanya mengangguk.
"Kalau gitu, aku pamit. Makasih atas kebaikan kalian." Sella undur diri, berjalan menjauhi dua orang pasangan suami istri itu.
"Kamu kenapa sewot gitu sama Sella? kasian dia, tambah sedih," ungkap Ghina.
Fatih menunduk untuk menatap netra istrinya. "Kamu nggak tau betapa gedegnya aku sama dia, semenjak fitnah aku. Hampir aja aku kehilangan kamu. Coba kalau Melaninnggak ngasih tau yg sebenarnya, pasti kamu nggak akan percaya," jelas Fatih, kembali mengibgat peristiwa itu, membuatnya merasa begitu sakit.
"Iya tapi, itu semu udah berlalu Fath. Nyatanya, aku sekarang sama kamu. Maafin dia ya? dia teman kita juga," jelas Ghina.
"Asal dia nggak ngulangin perbuatannya, aku maafin. Tapi, kamu harus jaga-jaga Na, kalau dia berbuat macam-macam, aku kurang percata lagi sama dia," jelas Fatih. Ghina terkekeh.
"Bukannya kebalik? seharusnya aku yang bilang kamu harus jaga hati, biar gak jatuh ke dia 'kan?" tanya Ghina, membuat Fatih mendadaj gemas.
"Kamu cemburu aku deket sama dia?" tanya Fatih dengan senyumnya. Ghina menggeleng.
"Entahlah... dah ayo kita pergi ke minimarket, perutku lapar dan pengen cepet-cepet masak." Ghina mengalihkan pembicaraan, ia berlalu begitu saja meninggalkan Fatih yang senyum-senyum sendiri dibuatnya.
Yuhuuuu,. YMM back, mon maaf, bagi yg udh nunggu2, coz otor baru sembuh dr sakit. Gejalanya kayak omicron, tp gak aku tes, jdi ya berharapnya cuma krn cuaca pancaroba ini, duh hati2 ya guys, jaga kesehatan kalian semuaa.... biar bisa terus baca, LIKE KOMEN ceritaku😁😁 selamat membaca...
__ADS_1