
"Nyesel aku berangkat sama kalian kalau akhirnya jadi babu," ucap Fatih dan segera keluar dari dalam mobil. Setelah membeli obat yang dibutuhkan Ghina dan air mineral, ia kembali ke dalam mobil dan mendapati Kakaknya tengah tersenyum jahil padanya.
"Terimakasih adikku tersayang," ucap Nafisah dan mengacak rambut Fatih gemas.
"Minggir, rusak nanti rambutku," dengus Fatih sambil menepis tangan Nafisah dari kepalanya.
"Rambut lepek aja bangga, sampe kiamat juga nggak bakal bisa jadi duta shampo lain," ejek Nafisah
"Innalillah, ngidam apa ummi ngelahirin anak sepertimu," kesal Fatih dan menatap Kakaknya jengkel. Jika saja tidak ada Ghina, mungkin ia akan memaki dan mencubit Kakaknya.
"Minum Na," ucap Nafisah dan menyerahkan obat sakit kepala pada calon adik Iparnya. Ghina tersenyum samar, tangannya menerima obat itu dan seketika meminumnya.
"Terimakasih Mbak," lirih Ghina sembari memijat kepala dan menyenderkan tubuhnya pada kursi mobil.
Fatih kembali menjalankan mesin mobil. Mereka kembali hening. Namun, Nafisah kembali memecah kesunyian.
"Fath, Ghina di sekolah gimana?" tanya Nafisah.
"Aku nggak pengen komentar," balas Fatih sekenanya.
"Ih, nyebelin. Pasti saking anggun dan alimnya sampe tenggorokanmu kering, bingung mau tajasus apa tentang Ghina haha." Nafisah tertawa sampai gigi putih bersihnya terlihat. Tapi, saat menengok ke arah Ghina yang memejamkan mata, ia memelankan suara tawanya.
Fatih memarkir mobil tepat di halaman sebuah butik yang sudah tidak asing lagi baginya. Dari brandnya yang terpampang menggantung di atas pintu kaca saja menunjukkan siapa pemiliknya. Nafisah Boutique.
"Ini Mbak sendiri yang ngelola?" tanya Ghina begitu mereka masuk ke sebuah bangunan minimalis bernuansa cream itu.
"Di bantu karyawan lah," ucap Nafisah sembari menggandeng tangan Ghina.
"Kok sepi?" tanya Ghina yang membuatnya mencubit pelan pipi Ghina.
"Ya iyalah adikku sayang, ini hari minggu. Ya kali, aku tega sama karyawan. Biarin mereka full time," balas Nafisah dengan senyuman. Ia menuntun Ghina ke arah beberapa menekin yang di badannya sudah terpasang gaun pengantin yang cantik dengan model yang elegan.
Ghina terkekeh pelan.
"Berdiri sejak kapan?" tanya Ghina lagi. Ia menyentuh salah satu gaun, lalu kembali melepasnya. Sebenarnya ia kurang tertarik, mungkin karena pernikahan yang akan ia jalani adalah keterpaksaan.
"Lima tahun. Alhamdulillah, pelantun nasyid Islami Ceng Ridho pernah ke sini untuk fitting baju pengantin loh." Nafisah berucap bangga, ia mengelilingi beberapa menekin, lalu mengusap-usap kain yang melekat.
"Beneran Mbak?" tanya Ghina antusias. Siapa yang tidak tahu dengan pelantun terkenal se-provinsi itu? teman-teman Rohisnya sering menyebut-nyebut namanya bahkan berlomba-lomba untuk mendo'akan semoga Ceng Ridho adalah jodoh mereka.
"Iya, diantara banyak butik terkenal di Banjarmasin, dia malah milih ke sini,' jelas Nafisah.
"Pegel kakiku," celetuk salah seorang yang berbeda gender sendiri. Ia sedari tadi hanya mengamati Ghina dan Nafisah yang berbincang.
"Ya duduk lah," ucap Nafisah cuek. Matanya masih mengitari gaun-gaun rancangannya. Ia begitu kagum dengan ciptaannya sendiri.
"Langsung aja, aku males buang waktu," kesal Fatih yang dibalas dengan cekikikan oleh Nafisah. Sedangkan Ghina, mengabaikan kehadiran Fatih dan melihat-lihat gaun yang ada.
"Ciye nggak sabar." Nafisah mengerling nakal pada sang Adik yang menatapnya malas. "Bentar ya, aku mau ambilkan gaun yang lain. Limited pokoknya," ucap Nafisah, beralih pada Ghina yang hanya mengangguk pelan. Setelah kepergian Nafisah menuju ruang pribadinya, tinggallah Fatih dan Ghina yang saling terdiam.
"Udah mendingan sakit kepalamu?" tanya Fatih dan mendekat ke arah Ghina yang memegang renda-renda di salah satu gaun. Ghina menoleh dan mendapati Fatih tengah menatapnya lekat. Segera saja, Ghina membuang muka ke arah lain.
"Iya," balas Ghina singkat. Ia sedikit menjauh dan beralih ke dekat gaun lain.
"Fatih," panggil Ghina. Fatih yang tengah menatap ke luar jendela hanya bergumam membalas Ghina.
"Hm."
"Kamu nggak ngasih tau teman-teman kita 'kan kalau kita nikah?" tanya Ghina. Entah mengapa, ia belum siap jika seseorang mengetahui tentang pernikahan mereka. Cukup pihak guru di sekolahan saja. Tapi, jika kabar tetap beredar, ia juga tidak bisa menampiknya. Bukan suatu hal yang tidak mungkin, tiba-tiba satu sekolahan tahu jika dirinya sudah menikah.
__ADS_1
"Untuk apa? toh ini pernikahan tertutup," balas Fatih santai.
"Baguslah." Ghina menghela nafas lega.
"Kamu nggak mau, kalau satu sekolah tahu?" tanya Fatih yang membuat Ghina menoleh ke arahnya. Mereka kini berdiri dalam jarak aman.
"Bukan itu masalah-" ucapan Ghina terpotong saat Fatih menyela.
"Kamu takut seseorang tahu kalau kamu nikah?" tanya Fatih lagi. Ghina menelan ludah, ia merutuki kebodohannya sendiri, ia menyesal tidak mengiyakan saja perkataan Fatih. Ia justru malah meralatnya dan membuat Fatih menduga bahwa dirinya memang tidak ingin jika seseorang yang amat penting baginya mengetahui perihal pernikahannya dengan Fatih.
Ghina jadi bertanya-tanya apakah Fatih tahu bahwa ada seseorang yang ia sukai? atau jangan-jangan, laki-laki itu memang sudah mengetahuinya?
"Fatih, Ghina!" panggilan dari Nafisah membuat Ghina selamat dari pertanyaan intimidasi dari Fatih. Matanya pura-pura senang saat melihat calon Kakak Iparnya membawa dua gaun pengantin dan setelah jas yang begitu indah dan bisa Ghina pastikan, harganya mahal.
"Fath, kamu pilih jas yang kamu rasa cocok," ucap Nafisah sembari menyerahkan dua setelan jas pada Fatih. Laki-laki itu menerimanya dengan pasrah.
"Makai apapun, aku cocok," ucap Fatih yang bingung mau memilih yang mana. Ia suka semua, menurutnya apapun yang melekat pada tubuhnya sudah pasti otomatis terlihat bagus di badannya.
"Diliat dulu!" pekik Nafisah kesal dan membuat Fatih mendengus.
"Na, kamu suka yang mana?" tanya Nafisah sambil menyodorkan dua gaun.
"Atau kamu suka yang di pajang ini?" tanya Nafisah menunjuk beberapa gaun yang terpasang di menekin.
"Ehm, aku nggak terlalu tahu style gaun pernikahan sih Mbak, jadi minta saran aja dari Mbak, yang mana bagusnya," ucap Ghina, karena toh menurutnya semuanya bagus. Hanya saja, suasana hatinya yang sedang tidak bagus, membuatnya tidak begitu antusias untuk pemilihan gaun pengantin.
"Coba yang ini." Nafisah menyerahkan salah satu gaun yang katanya limited. Ghina menerimanya.
"Nanti kamu yang nilai Fath, gimana?" tanya Nafisah sembari memperlihatkan gaun yang di pilih Ghina
"Ogah, mataku kotor nanti," ucap Fatih membalik badan menuju ke ruang tengah meninggalkan dua orang perempuan yang saling memandang.
"Ya iyalah, kami belum halal masa udah saling memandang," ketus Fatih. Ia bersender di sofa. Memijat kepalanya tanpa mencoba jas yang tadi di sodorkan Nafisah.
"Haha, Na. Fatih idaman banget ya. Sebelum nikah udah menjaga banget dia," puji Nafisah pada sang Adik, "ya udah, sana kamu masuk, ganti pakai gaun ini. Khimarnya gapapa nggka usah di ganti," intruksi Nafisah dan mendorong pelan bahu Ghina memasuki ruang ganti.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Ghina. Ia segera keluar dengan balutan gaun menjuntai ke bawah dengan wajah tidak menentu. Entah kenapa, ia merasa gugup jika Fatih akan menilai penampilannya. Ah, untuk apa juga ia merasa begitu?
Nafisah menarik tangan Ghina pelan ke ruang tengah. Mata Fatih yang memejam terbuka begitu mendengar keributan.
"Gimana Fath?" tanya Nafisah dengan wajah ceria. Ia berharap, penilaian adiknya tidak mengecewakan. Fatih hanya melirik malas ke arah gaun yang di kenakan Ghina. Sedangkan Ghina, berusaha untuk berbalik ke ruang tengah, demi menjauhi pandangan Fatih. Sayang, tangan Nafisah menahannya.
"Fath! malah bengong!" hardik Nafisah begitu sang Adik tidak meresponnya.
"Semua gaun di sini cantik," komentar Fatih sekenanya dan membut mata Nafisah melebar.
"Ih kamu ini, maksudnya Ghinanya bagus nggak pakai ini?!" geram Nafisah. Fatih mendengus dan kembali memejamkan mata.
"Aku suka aja," ucap Fatih dan menepiskan tangannya untuk mengusir dua perempuan yang tiba-tiba membuatnya kesal. Toh, setelah meminta pendapatnya, perempuan pasti memilih yang lain yang sesuai dengan hati mereka. Ya, Fatih tahu itu, karena ketika ia mengikuti Nafisah belanja pakaian, pasti Kakaknya itu meminta pendapatnya, tapi memilih yang lain.
"Suka sama gaun apa orangnya?" goda Nafisah dan membuat Fatih rasanya ingin melempar Kakaknya dengan sepatunya. Tapi, ia urungkan.
"Ck, diliat aja belum. Ya sudahlah, menurutku ini cantik dan pas buat kamu yang masih unyu-unyu," ucap Nafisah gemas dan mencubit pipi Ghina gemas.
"Terimakasih Mbak," ucap Ghina tulus.
Usai melakukan fitting gaun pengantin, mereka memutuskan untuk langsung balik ke rumah Kyai Zhafran.
"Mbak, aku mau langsung pulang aja ya," cegat Ghina sebelum mobil Fatih berjalan ke arah pesantren. Fatih melihat dua perempuan di jok belakang dari kaca spion tengah.
__ADS_1
"Nggak ke pesantren dulu?" tanya Nafisah kecewa.
"Nggak Mbak," tolak Ghina.
"Yah, padahal masih pengen ngobrol sama kamu. Pahadal nggak papa juga main di pesantren, 'kan hari minggu."
"Pengen istirahat Mbak, maaf ya. Lain kali aja." Ghina mencari alasan walau ia merasa tidak nyaman. Tapi, ia tidak ingin berlama-lama satu frame kehidupan dengan Fatih.
"Ya udah nggak papa, masih banyak waktu juga untuk ketemu kamu." Nafisah mencubit hidung Ghina. "Jaga kesehatan ya sampai hari H," katanya. Ghina hanya mengangguk.
"Insyaa Allah Mbak."
"Kalau aku bisa." batin Ghina sesak. Bagaimana pun, masalah pernikahanlah yang beberapa waktu belakangan mengusik pikiran dan hatinya. Apalagi, ketika menyadari kenyataan bahwa dirinya akan semakin 'mustahil' untuk bersanding bersama seseorang yang sudah mengisi hatinya.
Ghina turun di depan halaman rumahnya. Ia melambaikan tangan pada Nafisah, namun mengabaikan Fatih. Toh, laki-laki itu juga tidak mempedulikannya.
Ponselnya berbunyi, membuat Ghina merogoh benda persegi empat itu dari tas selempang yang dibawanya.
Ilham Pradipta
Nama itu selalu menghadirkan debaran tak biasa. Ghina tidak dapat memungkiri, bahwa walau pun ia seperti menjauhi Ilham atau tidak menyukai kehadiran laki-laki itu, tapi diam-diam ia menaruh rasa. Mungkin hal tersebut adalah munafik, tapi setidaknya, hanya dirinya dan Allah yang tahu perasaannya pada laki-laki yang berhasil meluluhkan hatinya itu. Semenjak menjadi ketua rohis.
Ilham Pradipta :
Jangan tersibukkan oleh sesuatu yang tak bisa kita ubah. Fokuslah terhadap sesuatu yang mampu kita ubah
Sebuah pesan chat berupa quotes penyemangat dari Ilham. Memang, hal itu selalu Ghina dapatkan walau seringnya Ghina hanya membaca dan tak membalas. Tapi, kali ini jemarinya tak tahu malu. Mengetik sesuatu di sana, ia ingin sebenarnya mencurhatkan isi hati pada seseorang itu, tapi ia sadar, dirinya belum layak untuk itu.
Ghina : Gimana, kalau sesuatu yang nggak bisa kita ubah, justru menyakiti kita?
Imran : Bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal Allah membencinya. Bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menyukainya. Allah mengetahui, sedang kamu tidak.
Balasan berupa kutipan salah satu ayat qur'an dari Ilham, membuat bulir bening itu menetes. Ilham tidak tahu, betapa sesuatu yang tidak di sukai Ghina saat ini harus mengorbankan rasa sukanya pada Ilham.
Ilham : Ada masalah?
Ghina : Nggak. Kadang, terjadi yang kayak gitu. Posisi dimana, kita sangat benci sesuatu, nggak pernah nginginkan itu. Tapi, mau nggak mau. Harus kita lakukan.
Ilham : Kalau itu perkara yang baik, maka, jangan ragu untuk ngejalanin. Bisa jadi, Allah sedang nguji kamu lewat masalah itu. Menyalahkan keadaan, justru ngebuat diri kita merutuk takdir Allah.
Ghina : Makasih ustadz
Ilham : Tersipu aku
Ghina : Ketua rohis, kok lebai.
Ilham : Hak asasi manusia dong. Hm, kamu bisa hubungin Renata nggak? untuk pemateri, divisinya belum nyetor namanya. Khawatir, mereka blm ngontak ustadznya.
Inilah yang Ghina suka dari Ilham. Dia bisa bercanda, namun tidak berlebihan dan juga bisa serius di saat bersamaan. Tidak pernah basa-basi terlalu lama. Walau, rasa sukanya seperti ia tujukan terang-terangan, tetap saja laki-laki itu mampu menjaga jarak untuk tidak terlalu dekat dengannya.
Ghina : Nanti aku kasih tau dia.
Ilham : Oke
Setelahnya, percakapan terhenti. Namun, ada satu chat masuk dan membuat wajah Ghina mendadak kesal dan rasanya ingin memaki laki-laki itu jika ada di hadapannya.
Kelinci Nyebelin : Aku pastikan, dia yang pertama tau pernikahan kita 😜
"Apa coba maksud dia?" batin Ghina.
__ADS_1
"Jangan-jangan, dia tau?" Ghina menutup mulutnya.