
Ghina tak berniat membalas pesan Whatsapp dari Fatih, walau pikirannya tiba-tiba kalut. Ia merasa cemas jika laki-laki itu mengetahui seseorang yang saat ini tengah diam-diam Ghina kagumi.
Setelah mengucap salam, Ghina masuk ke dalam rumah dengan muka di tekuk dan tentunya Imran yang sedang asyik menonton televisi, menyadari raut wajah adiknya.
"Kenapa mukanya kaya keset gitu?" tanya Imran, matanya masih fokus ke arah layar segi empat di hadapannya yang tengah menampilkan berita.
Ghina hanya mendengus pelan mendengar pertanyaan Kakaknya. Ia sedang malas meladeni laki-laki yang umurnya enam tahun lebih tua darinya itu.
"Ibu mana?" Ghina balik bertanya, kini gantian Imran yang mendengus karena sang Adik mengabaikan pertayaannya.
"Ditanya sama orang ganteng tu ya di jawab. Kenapa? nggak seru ya tadi fitting baju pengantennya?" tebak Imran.
Ghina mendudukkan diri di sofa sebelah Imran.
"Ya gitulah, capek," balas Ghina, ia menyandarkan kepala pada kepala sofa. "Ibu kemana?" tanyanya lagi.
"Ada di kamar, kelelahan habis jamu calon besan," balas Imran.
"Kak, kalau aku nikah, siapa yang bantu ibu di rumah?" Ghina menatap Imran serius, wajahnya berubah sendu. Benar, jika ia telah menikah dan hidup bersama Fatih, bagaimana nanti Ibunya yang sendirian di rumah?
Imran menoleh, menatap adiknya lekat. "Kakak akan segera nikah, biar Ibu ada temennya."
"Hah? beneran?" tanya Ghina tak percaya, ia menegakkan badannya.
"Iya, setelah kalian sah. Kakak harus segera ngelamar calon kakak Ipar kamu," balas Imran santai.
"Kak, yakin udah siap?" Bukannya meragukan sang Kakak. Hanya saja, ia khawatir Imran tergesa menikah karena agar Ibu tidak sendirian di rumah.
"Untuk Ibadah, apa yang nggak? Kakak juga nggak mungkin biarin Ibu sendirian di rumah setelah kepergian kamu."
Ghina menghela nafas berat, lantas beranjak meninggalkan Imran. Setidaknya, ada kelegaan dalam hati, bahwa nanti ketika sudah saatnya ia tinggal bersama Fatih, Ibunya tidak kesepian.
Usai salat Zuhur, Ghina menghubungi Renata, namun gadis itu tidak aktif. Berkali-kali jarinya mengetik pesan. Ranjangnya sedikit berderit karena gadis itu membanting tubuh di atasnya.
To Renatul :
Ren
Uy
Kemana kamu?
Eh?
Ada apa?
"Kemana dia? tumben nggak aktif?" tanya Ghina pada diri sendiri.
__ADS_1
Ghina menatap langit-langit kamarnya. Entah mengapa ia tiba-tiba kepikiran bagaimana caranya Imran menyeret Sella dan Lukman ke BK. Omong-omong tentang Sella, setelah gadis itu di panggil ke BK, tidak pernah lagi menegur Ghina. Ah, masa bodoh dengan itu, Ghina tidak ingin memikirkannya.
Ingin tidur siang, tapi rasanya tidak bisa. Ghina berjalan ke arah jendela, ia mengamati tanaman bunga matahari yang menyembul hampir ke dalam kamar. Di bawahnya ada deretan bunga Lily yang mulai layu karena sengatan cahaya surya.
Di atas meja belajarnya yang menghadap ke jendela, ada sebuah goal yang ingin segera ia wujudkan.
"Flower Love Story"
Ghina ingin mengelola sebuah toko bunga dengan nama yang tertera. Ia ingin menjadikan usahanya sebagai jalan bagi orang-orang mengemukakan cinta dan kasih sayang untuk orang-orang terdekatnya. Ah, sepertinya menyenangkan.
Matanya melirik ke arah kalender yang seperti menatapnya. Lalu, beralih ke sebuah tanggal yang dimana ia dan Fatih akan melangsungkan pernikahan.
"Dua puluh Maret. Berarti tiga puluh hari dari sekarang," gumam Ghina pelan. Tangannya merogoh salah satu pulpen warna pink, ia menyilang tanggal itu. Tapi, tidak memberinya keterangan.
"Untuk pertama kalinya aku ingin tanggal ini hilang dari kalender," ucapnya lirih.
"Sunflower, kamu tau." Ghina menjulurkan tangan untuk menyentuh kelopak bunga kuning itu.
"Hidup itu memang pilihan. Dan ternyata, aku memilih mengiyakan untuk menikah dengan dia. Bisakah aku ikhlas meninggalkan rasa yang terlanjur singgah? gimana kalau aku nggak bisa?" tanyanya.
"Hidup itu lucu ya. Kerap mempermainkan manusia. Bukan untuk menyiksa, tapi justru ngajarin mereka untuk tersenyum. Iya nggak?" Ghina berbicara pada diri sendiri dengan senyum miris. Ia merasa dunia tengah mempermainkan hatinya. Entah sampai kapan ia pun tidak tahu. Benarkan dunia akan mengajarkannya tersenyum suatu saat nanti? lagi-lagi entah.
Senin selalu menjadi momok yang menakutkan bagi beberapa siswa. Pasalnya, mereka yang terlambat hari itu tidak segan untuk berdiri di tengah lapangan. Selain ajang pameran hukuman bagi yang telat, juga bagi murid yang selama minggu kemarin tertangkap tangan membawa ponsel tanpa alasan, membawa alat rias, dan merokok di sekolah.
"Hai nana bobo!"
"Fatih?" batinnya.
Ghina cuek bebek, ia memilih untuk duduk di ujung yang berseberangan dengan tempat duduk laki-laki itu.
Angkot pagi ini lumayan banyak penumpang dan beberapa kali berhenti. Ghina memutuskan berzikir sepanjang perjalanan, ia berdoa dalam hati semoga tidak terlambat.
Selang dua puluh menit, angkot menepi di depan toko ATK milik Fatih. Dengan segera, Ghina turun dan melirik ke samping kiri dan kanan, namun tidak ia dapati siswa lain yang berlarian. Itu berarti, dirinya lah yang terakhir datang. Ia sedikit berlari, namun dari arah belakang terdengar seseorang yang seperti mengejarnya.
"Nana bobo!" panggil laki-laki dengan wajah berseri itu. Dan panggilan apa tadi? Ghina merasa kesal sekali dengan panggilan yang entah darimana laki-laki itu dapatkan.
"Kamu penasaran 'kan aku tahu dari mana tentang seseorang itu?" tanya Fatih, ia tetap berlari pelan. Namun langkahnya lebih beberapa meter di depan Ghina
"Bodo amat. Nggak yakin kamu tahu orang itu," balas Ghina.
"Tuh 'kan berarti emang ada seseorang. Padahal aku cuma nebak-nebak aja lho kemarin," ucap Fatih yang merasa tebakannya kemarin memang benar. Ada seseorang yang Ghina sukai diam-diam.
"Ih bukan urusanmu Fath. Cepet lari, nanti telat lagi," ucap Ghina kesal dan berusaha membalap Fatih yang sudah berada di depannya, tapi laki-laki itu sengaja geser ke kanan dan ke kiri untuk menghalangi laju larinya.
"Biar aja telat, nanti kita berdiri di tengah lapangan berdua," goda Fatih dan membuat Ghina rasanya ingin memukulnya kalau bisa. Tapi, nyatanya tidak bisa.
Mendengar perkataan Fatih, Ghina melotot tajam.
__ADS_1
"Minggir Fath, atau aku tendang kakimu!" ancam Ghina yang membuat Fatih tertawa.
"Tendang aja kalau bisa," tantang Fatih.
Ghina tak membalas lagi, memilih diam daripada lelah meladeni Fatih. Dari jaraknya saat ini, ia bisa melihat Pak Samson sudah menggerakkan gerbang perlahan.
"Fath, cepetan! itu gerbangnya mau di tutup!" teriak Ghina dan membuat Fatih berlari lebih cepat.
Hanya tinggal beberapa meter gerbang tertutup, namun tangan Fatih mampu menahannya.
"Pak Samson! kami belum telat 'kan?" tanya Fatih ngos-ngosan
"Hampir, minggir," usir Pak Samson yang kesal karena aktivitasnya terhenti.
"Pak bentar dong, tungguin cewek itu dulu, biar masuk," cegat Fatih yang masih berdiri di tengah-tengah gerbang.
Ghina berlari dengan nafas tersengal, ia berterimakasih kepada Pak Samson yang memberi kesempatan padanya untuk masuk. Sedangkan Fatih, ia sudah berdiri dengan santai sambil melipat tangan di depan dada.
"Ayo cepet," kata Fatih seperti nada memerintah.
"Ini gara-gara kamu Fath," kesal Ghina seraya masih menjongkokkan badannya.
"Loh kok nyalahin aku sih. Siapa juga yang kayak kura-kura? kebanyakan bobo sih kamu," cibir Fatih.
Ghina melirik sinis,
"Dasar kelinci sombong," cibirnya balik.
"Kelinci?" senyum Fatih mengembang namun dengan alis tertaut. Kelinci? apakah itu gelar terbaru dari Ghina untuk dirinya?
Ghina meninggalkan Fatih di belakang. Ia merogoh tasnya, memasang dasinya dengan asal di dalam kerudung.
"Hei calon istri! tunggu aku!"
Ghina terhenyak sesaat, mengatur nafasnya yang memburu. Ia celingukan, semoga tidak ada yang mendengar Fatih memanggilnya seperti itu.
"Apa sih maunya dia, mau ngumumin kalau aku calon istrinya ke seluruh penduduk sekolah?" batin Ghina kesal. Tapi, ia tetap melanjutkan langkah, tidak ingin di hukum di tengah lapangan karena memilih meladeni Fatih.
Saat Ghina berbelok dari lorong antara kelas TKR kelas 1 dengan Lab komputer, ia dikagetkan dengan kehadiran Ilham yang sudah rapi dengan topi dan dasinya. Sepertinya laki-laki itu sedang berpatroli untuk mengecek apakah ada siswa yang masih berkeliaran di luar.
"Baru datang Na?" tanyanya dengan wajah serius. Ghina yang masih ngos-ngosan mengangguk. Ia berusaha mengatur nafas agar tenang di depan Ilham.
"Ya udah langsung gabung aja, sebentar lagi upacara mau di mulai. Oh ya, taruh aja tasmu di teras depan Lab besar," ucap Ilham.
"Jadi pemimpin upacara?" tanya Ghina sesaat. Ilham menganguk.
Sedangkan Fatih yang melihat percakapan keduanya, tersenyum penuh arti.
__ADS_1